
Juna harus bertanggung jawab melayaninya sepanjang hari ini, karena ulah prianya itu sepertinya Alexa kesulitan untuk sekedar berjalan.
Di atas ranjang king size dengan berselimutkan kain tebal itu, seorang perempuan dengan tubuh polosnya sedang berbaring dengan posisi meringkuk. Perempuan tersebut tidak sedang tidur. Dia sudah bangun beberapa menit lalu, hanya saja dia masih terlalu lemah untuk bergerak.
Perempuan itu tak lain adalah Alexa. Sekujur tubuhnya pegal seperti habis berlari keliling lapangan 100 kali putaran. Di tambah lagi bagian intinya yang terasa pedih, karena prianya melakukan itu dengan sangat kuat dan bersemangat. Juna selalu menepati ucapannya soal menghabiskan malam panjang.
Alexa meremas kuat selimut setelah mencoba menggerakkan tungkai kakinya tapi malah perih pada bagian intinya. Dia yakin, seharian ini akan dia habiskan dengan tidur-tiduran di kasur saja dengan Juna yang melayani semua keperluannya.
Ingatan Alexa tiba-tiba membawanya terbang pada adegan panas tadi malam. Iya panas, bahkan sekarang saja Alexa merasa pipinya masih memerah.
"So, lo udah siap untuk malam yang panjang ini, Lex?"
Alexa memejamkan matanya lebih dulu dengan bibir terangkat naik membuat senyuman nakal. Hal itu bagai pemantik gairah Juna untuk segera ******* habis bibir pink merekah istrinya.
Ciuman bibir yang semula lembut perlahan lebih agresif merambat ke ceruk leher, menggigitnya hingga menimbulkan kesan memerah, menjalar lagi ke kuping memberikan hembusan nafas nakal di sana membuat sekujur tubuh Alexa merinding sempurna.
Dengan tangan kokohnya, Juna mengangkat tubuh mungil Alexa, melepas kaos baju melalui kepala lalu membaringkannya. Tangan Juna bergerak sangat lincah, karena dalam sekelip mata, Alexa sudah melihat prianya itu juga tanpa busana. Alexa tak bisa untuk tak melalakkan matanya, melihat Juno yang selama ini selalu di puji puja oleh sang empunya.
Besar, panjang, berotot dan pastinya kuat.
Alexa meringis saat tangan Juna bekerja keras merobek penghalang terakhir miliknya. Bayangan liar merasuk otaknya. Bagaimana jika Juno yang kokoh itu membobol masuk miliknya? Sepertinya bukan sekedar gol dan berdarah, melainkan sobek di mana-mana dan dapat dipastikan seharian besok dia tidak akan mampu berjalan.
Krek, kain penghalang terakhirnya sobek dan melayang ke sembarang arah. Juna menyeringai melihat milik Alexa yang hanya bisa di rabanya kemarin malam. Rumput halus tumbuh rapi di sana, sepertinya Alexa selalu merawat dengan baik. Nafas Juna sudah memburu tak sabar ingin mengenalkan Juno dengan pemilik barunya.
Alexa memejamkan mata ketika Juna mulai menyatukan milik mereka.
Sementara Juna yang sudah tak sabar, langsung menghujam keras miliknya. Anj*r, rapat banget lagi, Juna membatin. Dia terus melakukannya, mendorong sekuat tenaga.
BLESH
Sesuatu mengalir di bawah sana, yang dapat dipastikan oleh Juna adalah darah keperawanan istrinya. Juga setelah melihat air mata itu menetes dari manik mata Alexa.
"Auhh— Juna, sakit banget." Tangan Alexa menahan Juna. Dia meringis menahan sakit.
"Sorry Lex, gue nggak bisa nahan lagi." Mengacuhkan tatapan memelas Alexa, Juna mulai memaju mundurkan Juno dalam lubang kenikmatan Alexa yang sangat sempit.
Desahan demi desahan bersahutan menjadi musik paling indah bagi keduanya. Alexa tidak lagi menitikkan air matanya, mulai membiasakan diri dan mengimbangi permainan Juna. Prianya itu tak mampu menahan senyum mendapati Alexa mulai membalas permainannya.
Malam panjang? Ya, Juna memastikan malam itu akan jadi malam paling bersejarah bagi Alexa dan bagi dirinya sendiri setelah sekian lama. Dia juga akan memastikan setelah ini Alexa akan tergila-gila pada Juno-nya.
"Gue sayang lo, Lex." Juna mengatakannya tepat di telinga Alexa saat gadisnya itu sedang menggelinjang menahan gairah dengan nafas menggebu.
"Bukan cuma sayang, gue sangat mencintai lo, Alexa, lo milik gue selamanya."
Dengan gairah menggebunya, Alexa hanya bisa mengangguk kepala lalu detik berikutnya dia balik mencium rakus bibir Juna, menggigitnya. Begitulah, tidak ada yang bisa menghentikan kegilaan itu saat gairah membuncang Alexa bertemu dengan sentakan kenikmatan Juna membuat ledakan demi ledakan di dalam sana. Hawa kamar yang ber-AC terasa panas oleh erangan kenikmatan kedua insan yang sedang memadu cinta. Lagi dan lagi, mereka mencapai puncak bersama-sama.
Suara langkah kaki Juna mendekati ranjang menarik kembali ingatan Alexa agar menjauhinya dan kembali pada kenyataan. Alexa buru-buru mengeratkan selimutnya. Rasa kesal sekaligus malu membuatnya enggan untuk menampakkan muka.
__ADS_1
"Belum mau bangun juga? Apa lo nggak lapar?" Suara Juna tepat di depannya.
Tidak menggubris pertanyaan Juna, Alexa hanya bergumam sendiri di balik selimut.
Kenapa mesti nanya sih? Ya aku laparlah. Kapan terakhir aku makan? Sekarang juga udah jam berapa? Dasar, nggak pengertian amat.
"Gue udah lapar banget nih. Ayo bangun, kita makan bareng. Gue udah masakin yang enak."
Ih, nggak peka banget sih jadi suami. Itu aku kan masih sakit, mana bisa aku bangun dan mandi sendiri. lagi pula, gara-gara siapa aku kayak gini?
"Sayang, kalau nggak makan nanti sakit, gue yang repot loh."
Sayang? Mendengar Juna yang memanggilnya dengan suara lembut membuat pertahanan Alexa yang dia bangun atas dasar kesal pada pria itu yang telah membuat area intimnya perih, akhirnya runtuh. Perlahan, Alexa menyibak selimut hingga memunculkan kepalanya saja. Namun wajah dan bibirnya masih bekerja sama menampilkan raut cemberut.
"Iya." Alexa menyahut pelan.
"Giliran di panggil sayang aja cepat banget nyahutnya. Ck." goda Juna kemudian mengambil duduk di sisi ranjang. Tangannya terulur mencubit pipi Alexa. Matanya menatap penuh pesona pada Alexa. Gadisnya itu sungguh menggemaskan di balik sikapnya yang sok galak.
Alexa hanya mencebik.
"Masih sakit ya?" tanya Juna kemudian.
Wajah Alexa sontak bertambah merah, marah. Bukankah seharusnya seorang suami yang baru berhasil membobol gawang paham bagaimana sakitnya bagian inti sang istri? Nggak harus diberitahu dulu, kan?
"Sakit banget, lah." rutuk Alexa lalu memalingkan wajah dari Juna. Jika saja rasanya tidak seperih ini, mungkin Alexa tidak akan berdiam di balik selimut, dia pasti sudah memberi pelajaran pada prianya itu.
"Kamu mau ngapain?" sentak Alexa.
"Mandiin lo lah," jawab Juna dengan senyuman. "Ini kenapa di tutupin sih? Gue udah lihat semuanya tadi malam."
"Malu, tau." Jawaban polos Alexa membuat Juna terbahak, hingga dadanya yang menempel dengan tubuh Alexa bergoncang.
Gadisnya ini ternyata pandai melucu juga ya. Malu saat tubuhnya dilihat oleh suami sendiri, sementara ketika tadi malam mereka melakukan itu, malah menampilkan wajah bergairah dan sangat menikmati.
Dasar istri, malu-malu meong. Juna membatin.
"Mau mandi sendiri apa di mandiin?" tanya Juna setibanya di kamar mandi lalu mendudukkan Alexa di closet duduk yang bersebelahan dengan ruang mandi.
"Aku masih bisa mandi sendiri. Tutup pintunya, jangan berani ngintip kalau nggak mau mata itu bintilan."
Setelah Juna keluar, Alexa segera melakukan ritual mandinya. Niatnya ingin cepat selesai tapi langkah kakinya sungguh tidak bersahabat. Dia sudah seperti nenek tua yang melakukan sesuatu dengan mengesot di lantai.
Setengah jam kemudian, Alexa baru selesai mandi. Dia baru hendak meneriaki Juna ketika sosok itu muncul sendiri dari balik pintu. Sontak Alexa tersenyum sumringah seraya menggerakkan kaki dan tangannya ke depan ke arah Juna. Ia ingin Juna menggendongnya kembali ke kamar.
Saat mandi tadi, Alexa memikirkan banyak hal. Terutama sikapnya yang malu-malu saat Juna melihat tubuh tanpa busananya. Sementara Juna, prianya itu sama sekali tak malu saat tubuh polosnya terpampang jelas di depan matanya. Bukankah suami istri harus saling terbuka? Melakukan itu juga bukan saat malam pertama saja, kan? Malam-malam selanjutnya, jika Juna menginginkannya, sebagai istri yang baik Alexa harus melayaninya. Lalu bagaimana kalau dia terus-terusan malu?
Alexa menarik nafas lalu menghembusnya perlahan. Baiklah Alexa, mari bersikap selayaknya seorang istri. Tapi, sebagai gantinya karena dia sudah membuatku tak bisa jalan, hari ini dia harus melayani semua kebutuhanku. Ckck. Alexa bergumam sendiri sembari mengangguk.
__ADS_1
"Katanya masih sakit? Itu bisa gerak tangan kaki lo?"
"Aku gerakinnya pelan-pelan kok." Alexa mengalungkan tangannya ke leher Juna, membiarkan Juna membawanya kembali ke kamar. Dengan gaya manjanya yang dibuat-buat, Alexa menunjuk ke lemari pakaian.
Setelah lemari di buka, Alexa menunjuk pakaian yang akan dia gunakan siang hari ini, tugas Juna adalah mengambilnya dan memakaikannya.
Tentu saja Juna melakukannya dengan senang, walaupun dalam hatinya bertanya-tanya dengan perubahan sikap Alexa yang sangat drastis. Alexa juga tidak malu lagi saat Juna melihat tubuh polosnya.
Selesai berganti pakaian, Juna kembali menggendong Alexa menuju dapur.
"Nggak sakit, tapi kok bisa goyang-goyang gini kaki lo?" Raut curiga terpancar di wajah Juna. Bagaimana kalau Alexa hanya bohong soal sakitnya demi mengelak Juna minta jatah lagi.
"Kan aku goyangnya sambil di gendong kamu. Jadi nggak terlalu berasa sakitnya."
Benar juga, pikir Juna. Dia lalu membawa Alexa ke meja makan kecil yang bersebelahan dengan pantri. Mereka makan dalam diam. Juna selesai makan lebih dulu, dia lalu menuju sofa meninggalkan Alexa menghabiskan makannya sendirian.
Beberapa menit berlalu, Alexa sudah beres dengan kegiatan makannya. Kini pandangannya jatuh pada Juna yang asyik tertawa di sofa sambil menonton TV. Saking asyiknya, Juna tak mengindahkan Alexa yang sudah dua kali sengaja berdehem demi menarik perhatiannya.
"Sayang, aku kan juga mau duduk di sana," ujar Alexa manja sembari menggoyang-goyang kakinya.
Saat panggilan sayang keluar dari mulut Alexa, seketika Juna menoleh dan menghampiri. Senyum sumringah pula tergambar jelas di wajah prianya itu.
"Iya sayang, kenapa itu kakinya goyang-goyang terus, nanti nggak hilang sakitnya, kasian gue dong."
"Kamu sih, dari tadi aku kodein nggak nangkep-nangkep. Kan aku juga mau nonton di sofa bareng kamu." Demi apa, Alexa merasa harga dirinya yang selalu dia jaga citranya melesat turun dari angka 10 ke angka 1. Tidak apa-apa Alexa. Dia suamimu sekarang.
Juna terkekeh geli melihat sikap manja Alexa, menggendongnya lalu mendudukkan di sofa. Juna pun kembali merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Alexa sebagai bantalnya.
"Kok kita nonton ini sih? Nggak ada yang lain apa? Kasihan tau lihat mereka saling cakar gitu. Kamu malah ketawa."
"Ini tuh seru, Lex. Gue nggak suka tontonan romantis yang menye-menye versi anak ABG gitu, kalau mau nonton romantis sekalian aja nonton film biru," ucap Juna dengan wajah mesumnya.
"Apaan sih?" Alexa memberengut kesal seraya mengacak-ngacak rambut Juna. Di matanya, saat Juna menyebut film biru, ada maksud terselubung dalam ucapan dan wajah mesum itu. Jangan lagi, batin Alexa.
"Jangan jutek terus dong mukanya, jelek. Gue lebih suka lihat muka lo merek-melek keenakan kayak tadi malam. Ckck," ledek Juna yang sontak membuat Alexa melotot.
"Juna!" Teriakan Alexa membahana.
Juna segera bangkit karena tidak mau menerima amukan istrinya. Dia berlari menjauh dengan senyuman meledek karena yakin Alexa tak bisa mengejarnya. Namun, di luar dugaan, Alexa malah ikut bangkit dan berlari kearahnya. Mereka pun kejar-kejaran seperti kucing dan anjing sampai Juna mengingat sesuatu dan berhenti. Wajahnya memandang Alexa meminta penjelasan.
Alexa yang terlambat menyadarinya, segera berhenti dan bergerak salah tingkah.
"Lo udah bisa lari? Berarti nggak sakit lagi dong? Kalau gitu, gue boleh minta lagi ya?"
Heh? Minta lagi? Nggak-nggak. Ini masih sakit kok. Alexa menjerit dalam hati.
Kini, giliran Juna yang berbalik mengejar Alexa.
__ADS_1
❤❤❤