Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 7 --- Pertengkaran


__ADS_3

Alexa dan Juna pulang sendiri-sendiri setelah memesan taksi online. Sebenarnya Juna menawarkan untuk naik taksi bersama, tapi Alexa menolak.


Pukul 01.00 dini hari ketika Alexa melirik jam tangannya. Pasti semua penghuni rumah sudah tidur, jadi dia bisa masuk tanpa mengganggu.


Alexa sedikit heran mendapati lampu ruang tamu masih menyala dan bertambah kaget ketika dilihatnya ayah, ibu dan Aira masih berada di sana, sofa ruang tamu, sedang menunggunya. Ibu dan Aira duduk, sementara ayahnya berdiri memunggungi.


"Anggita, kamu sudah pulang nak?" Suara ibunya. Ada bekas airmata di pipi. Sepertinya perempuan paruh baya itu baru selesai menangis.


"Dek, kamu kemana aja sih? Kakak telpon berkali-kali kok nggak di angkat?" Giliran Aira yang bertanya dengan raut kecemasan.


"Maaf kak, aku nggak dengar tadi ada telpon." Ujar Alexa lirih, merasa sedikit bersalah dengan kakaknya itu. Mana mungkin Alexa mendengar suara ponselnya berdering, musik di club malam terdengar 10 kali lebih nyaring.


"Dari mana saja kamu? Anak gadis keluyuran. Apa hidup seperti ini yang kamu jalani selama di Paris? Memalukan!"


"Apaan sih? Memalukan dari mananya? Aku hanya pergi minum, bosan seharian di rumah aja. Apa itu salah?" Alexa menjawab enteng, seolah bukan masalah. Tapi dia sedikit kesal dengan kata memalukan.


Aira bangkit untuk menenangkan adiknya. Aira tau Alexa sangat bosan di rumah saja, tapi bukan begitu juga caranya, minum-minum di club malam dengan seorang pria. Aira janji akan menasehati adiknya nanti.


Abimana melempar beberapa lembar foto hasil jepretan yang di kirim seseorang padanya. Alexa memungut foto itu dan sedikit terkejut, tapi dia tak mau menunjukkannya karena rasa marah lebih mendominasi.


"Kau tau kan, kakakmu besok akan bertunangan dengan Harris, anak teman ayah. Kenapa kamu malah keluyuran dengan adiknya Harris? Bagaimana kalau foto ini sampai tersebar di internet? Mau ditaruh di mana wajah ayah?" Abimana bicara dengan muka merah padam.


"Kenapa repot? Ayah kan bisa nyogok orang yang mengirim foto itu untuk menghapus fotonya dan tidak menyebarkan ke media. Bereskan?" Lagi-lagi Alexa menjawab enteng. Bukankah ayahnya sudah terbiasa sogok menyogok orang. Kenapa cuma minum saja dipermasalahkan?


"Dasar, anak tidak tau sopan santun. Kalau seperti ini kelakuanmu, lebih baik kamu tidak pulang saja kemarin."


JLEB. Sudah cukup Alexa kesal dengan kata memalukan, sekarang ayah menyebutnya lagi tidak sopan santun dan lebih baik tidak pulang saja. Ahh, Alexa sudah tidak tahan.


"Ayah tenang aja, setelah kak Aira menikah nanti, aku akan segera pulang ke Paris. Aku juga tidak mau berlama-lama di sini."


"Anggita, jangan bicara begitu Sayang. Ibu sayang kamu, ibu ingin kamu tinggal di sini." Giana hendak meraih pundak Alexa untuk memeluknya namun secepat kilat Alexa menepis.


"Sampai kak Aira menikah, setelah itu aku akan pergi." Tegas Alexa pada ibunya kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya di lantai atas.

__ADS_1


"Anggita." Giana luruh bersama airmatanya yang tumpah, tidak sanggup menahan perlakuan anak gadisnya.


Aira tidak tega melihat ibunya menangis, coba menenangkan.


"Bu, Aira minta maaf atas sikap Gita, dia begitu pasti karena emosi pada ayah. Aira akan bicara baik-baik padanya. Ibu jangan menangis lagi ya." Aira mengusap lembut punggung ibunya, "Aira antar ibu ke kamar ya."


⭐⭐⭐


Alexa menghempas tubuhnya ke ranjang setelah lebih dulu mendobrak pintu kamarnya dan menutup keras, menimbulkan bunyi BRUK.


"Menyebalkan. Untuk apa aku kembali kalau mau ini itu tidak boleh. Lihat saja, setelah kak Aira menikah, aku akan kembali ke Paris." Alexa mengomel sendiri dengan muka merah padam.


Alexa tiba-tiba terpikir dengan Juna. Apa pria itu juga mendapati hal yang sama dengannya? Apa Om Gideon juga memarahi Juna?


Ahh, buat apa aku memikirkannya, Alexa menguap merasakan kantuk yang mulai menyerang. Ia memejam mata dan tidur. Alcohol akan membuatnya tidur dengan nyenyak.


Alam bawah sadar Alexa membawanya pada titik kesadaran terendah, tapi suara ketukan mengusik indra. Sepertinya seseorang dari luar mengetuk pintu kamarnya.


Mungkin kak Aira, batin Alexa.


Benar saja. Aira yang datang di depan pintu kamarnya, tapi Alexa malas.


"Aku lelah kak, mau istirahat dulu. Ngomongnya besok saja." Alexa berkata dengan mata terpejam.


"Baiklah." Suara Aira pun tak terdengar lagi dari arah pintu, Alexa kembali menenggelamkan pikirannya dan tidur nyenyak. Kalau bisa Alexa ingin tidur panjang sampai besok malam, jadi tak perlu pergi ke acara pertunangan kakaknya.


Keesokan harinya, Alexa tersadar ketika cahaya masuk lewat jendela kamarnya. Hari sudah siang. Alexa mengerjap seraya meraba ponselnya, melihat jam. Pukul 11 siang.


Tiba-tiba tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Aira masuk ke kamar Alexa dengan muka menganga.


"Kamu baru bangun, Gita?"


Dengan malas Alexa menjawab. "Hmm. Kakak nggak kerja?"

__ADS_1


"Kamu kebanyakan minum tuh sampai lupa, hari ini acara pertunangan, jadi kak libur untuk persiapan nanti malam."


"Oh." Alexa hanya menjawab singkat. Masih mengumpulkan kembali nyawanya.


"Sekarang giliran kakak yang tanya sama kamu, kamu kenal adiknya Harris?"


Harris? Siapa dia? Alexa mengerjap matanya mengumpulkan nyawa sekaligus mengingat siapa pria yang disebut kakaknya.


"Memangnya siapa Harris? Lalu adiknya?"


"Kau lupa? Harris itu calon tunangan kakak, adiknya adalah pria yang minum denganmu tadi malam. Masa kamu lupa?"


"Oh, Juna. Kami hanya kebetulan bertemu saat pulang dari Paris," jelas Alexa. Dia menyebut nama Juna seolah sudah akrab, nyatanya hanya mendengar nama itu disebut oleh Tom kemarin juga karena melihat artikel. Alexa dan Juna bahkan tak pernah berkenalan secara langsung.


"Begitu ya." Aira akhirnya mengangguk. Aira sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi sedikit malu dan gugup. "Gita, aku sangat gugup untuk acara nanti malam. Memang sih, semuanya sudah di urus sama ayah dan keluarga di sana, aku hanya perlu datang dengan berdandan, dan menerima cincin pertunangan, akan ada beberapa kamera yang memotret kearah ku. Ya, meskipun terbiasa dengan rapat yang dihadiri banyak orang, tapi kali ini aku merasakan gugup yang berbeda."


"Kakak sedang curhat ya?"


"Gita..." Aira bersuara malu-malu. "Jangan gitu dong. Kakak beneran gugup. Ini pertama kalinya."


"Kayaknya kakak senang dengan pertunangan ini. Kakak suka ya sama si Harris itu?"


"Siapa sih yang nggak suka sama dia." Aira berkata dengan binar di matanya. Dapat Alexa lihat, kalau kakaknya benar-benar serius. "Harris orangnya baik, ramah, dia juga nggak neko-neko seperti kebanyakan pria, nggak jelalatan juga kalau lihat cewek cantik. Dia tipe pekerja keras, pasti dia bertanggung jawab. Kakak tentu tidak mau jika menikah dengan pria yang hanya mengandalkan harta dari orangtua."


Ada benar juga apa yang dibilang Aira. Semua wanita pasti menginginkan pria dengan sifat seperti itu. Jika Aira menyukai pria bernama Harris, semoga saja kali ini dia tidak membuat keputusan yang salah.


"Semoga kak Aira bahagia ya." Hanya itu yang terlontar dari mulut Alexa. Tidak ada keinginan lain dari seorang adik kecuali ingin kakaknya bahagia.


Mereka berdua, Alexa dan Aira saling bertukar senyum hangat dengan hati yang meng'amin'kan ucapan Alexa tadi. Ya, semoga Aira bahagia.


❤❤❤


Hai gaes, makasih ya udah baca ceritaku, jangan lupa tekan Like, Rate5, Vote, juga tinggalkan Komennya ya kalau kalian suka ceritanya, makasih🙏

__ADS_1


Salam Sayang dari Author


Nurhayatie Shabilla


__ADS_2