Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 21 --- French Kiss


__ADS_3

Tak pernah terpikirkan oleh Alexa, dia masuk bahkan menginap di apartemen orang lain apalagi seorang pria. Alexa merasa tidak punya harga diri jika hal itu terjadi. Tapi lihatlah sekarang, dia berada di kamar Juna. Menjilat ludah sendiri, begitulah perumpamaannya. Apakah harga dirinya serendah itu?


Oh ayolah, aku hanya menunggu dia pulang, makan lalu memintanya mengantar pulang, Alexa berbicara sendiri meyakinkan dirinya kalau yang ia lakukan ini bukan kesalahan besar.


Alexa kini mematung. Foto Juna berukuran besar yang terpajang di dinding kamar tepat di atas ranjang tidur, menarik perhatian. Kemarin malam, ia tak melihat karena kekesalan yang begitu besar pada pria itu menguasainya.


Foto yang menampilkan Juna berwajah tirus, rahang tegasnya menggambarkan dia sosok yang keras dan berpendirian, mata elang dengan garis alis yang menonjol sangat tajam yang hanya dengan melihat foto saja anak kecil akan menangis atau pipis di celana. Hidung runcing namun besar ke bawah. Gaya rambut ala aktor Korea pendek lurus tapi bervolume dengan poni depan terbelah. Kumis tipis sebagai pemanis juga menambah kesan badboy seksi dan jangan lupakan bibir merah kehitaman yang sangat seksi itu. Secara keseluruhan Juna memang terlihat sangat tampan bahkan dengan bibir seksi itu Juna pernah menciumnya 2 kali. Alexa kembali teringat adegan manis yang memalukan itu.


Ahh, apaan sih Lex. Otak ini sepertinya benar ketularan Juna, mesum. Alexa menggerutu pada dirinya sendiri.


Dia mengerjap mata berulangkali, berharap foto itu berubah dari pose elegan yang terkesan dingin dan hot menjadi Juna yang tersenyum tulus dan hangat. Bagaimana bisa? Itu hanya sebuah foto. Alexa terlalu berharap.


Tapi tunggu dulu deh. Kenapa wajah dingin cuek ini seperti tak asing? Alexa mengingat-ingat. Sepertinya dia sudah melihat wajah ini jauh sebelum bertemu Juna pertama kali di pesawat. Apa memang sebelumnya mereka pernah bertemu atau...


"Apa jangan-jangan...?" Alexa menggantung kalimatnya lalu buru-buru membuka email mengirim pesan pada sahabatnya Michelle. Ia harus memastikan sesuatu.


"Celle, apa mungkin kau masih ingat wajah dan nama pria mesum yang waktu itu?" Begitu bunyi pesan email yang ditujukan pada sahabatnya di Paris itu. Alexa duduk di sisi ranjang dengan menggigit-gigit kukunya, kebiasaan buruknya kalau lagi gugup menunggu sesuatu keputusan atau kabar.


1 jam kemudian, Michelle membalas pesannya dan isi pesan itu sukses membuat Alexa tertunduk lesu di ujung ranjang dengan sebelah tangan meremas ponsel dan sebelah lagi meremas kuat seprei.


"Mana mungkin aku lupa, Lex. Aku sudah pernah bilang kan? Namanya Alberto, tapi aku yakin itu hanya namanya selama di sini saja, aku pernah dengar orang menyebutnya Arjuna. Pasti itu nama aslinya dan paling penting dia juga berkebangsaan Indonesia, sama denganmu."


Selain isi pesan itu, Michelle juga mengirimi foto.


Alexa tak mampu berkata lagi. Dia terduduk dengan wajah menunduk ke lantai, meremas ponsel dan seprei kuat-kuat sebagai pelampiasan.


Sepertinya takdir begitu mudah mempermainkannya. Takdir macam apaan ini? Saat ia mulai menyadari ada gelenyar aneh dan perasaan yang berbunga setiap dekat dengan Juna dan ingin mencoba membuka hati, takdir lain membawanya pada suatu kenyataan bahwa Juna adalah orang yang sama yang pernah tidur seranjang dengannya malam itu yang sudah membuatnya kesal untuk waktu cukup lama.


Ahh, baru kali ini Alexa dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Takdir mana yang akan ia pilih? Takdir yang membawanya semakin dekat atau malah menjauh dari Juna?

__ADS_1


Dalam keheningan yang melanda, bunyi bel apartemen menjadi pemecah sunyinya. Bel berbunyi beberapa kali. Siapa yang datang? Kalau yang datang itu Juna, kenapa dia harus membunyikan bel?


Alexa memaksa langkah gontai menyeretnya keluar kamar dan berjalan pelan menuju pintu. Setelah pintu terbuka, muncul wajah Juna di sana dengan senyum jahilnya.


"Kamu bisa buka sendiri pintunya, kenapa bunyiin bel segala?" protes Alexa langsung membalikkan badannya, ada rasa lain saat melihat Juna, jadi lebih baik tidak melihat saja.


"Sengaja, Ckck." Juna cengengesan. "Gue cuma mau pastiin lo nggak kabur dari sini." sambung Juna lagi kemudian secepat kilat menarik Alexa kembali menghadapnya. Kini Juna bisa menatap Alexa dari dekat setelah sejak tadi di kantor pikirannya selalu saja terbayang wajah itu tanpa bisa melihatnya langsung.


Juna menelusup kedua tangannya ke pinggang Alexa, merapatkan tubuhnya dengan gadis itu. Juna semakin menyinggung senyumnya karena Alexa tak menolak perlakuannya.


"Gue nggak perlu minta izin buat nyium lo kan?"


Diamnya Alexa berarti persetujuan bagi Juna. Dia yakin, gadis ini juga menginginkannya. Juna janji akan melakukannya secara perlahan dan lembut.


Kedua tangan Juna kini berpindah dari pinggang beralih merengkuh leher hingga pipi Alexa memberikan usapan hangat di sana. Juna memiringkan wajahnya guna mendekatkan bibirnya kemudian CUP. Kecupan singkat namun hangat ia berikan sebagai permulaan. Juna menarik wajahnya agar bisa melihat reaksi Alexa. Gadis itu memejam mata, membuat Juna segera melanjutkan aksinya.


Juna menepati janjinya melakukan secara perlahan dan lembut. Walaupun dia sangat ingin melakukan lebih tapi dia masih memikirkan reaksi Alexa nantinya. Tangan Juna perlahan meraih tengkuk Alexa, menekannya agar mendapatkan ciuman lebih dalam dan lebih nikmat.


Alexa sendiri membiarkan Juna menciumnya. Merasakan manis dan hangat ketika bibir saling menyatukan. Entah takdir mana yang akan dia pilih nanti, saat ini dia hanya ingin menikmati ciumannya. Mungkin saja setelah ciuman nanti dia menemukan jawaban atas perasaan yang sebenarnya.


Ciuman Juna kali ini juga dirasakan berbeda dari pertama kalinya, tidak terlalu agresif malah perlahan dan punya ritme. Alexa memang pasiv dalam hal ciuman, meski lumrah baginya dengan pemandangan itu. Perlahan dia mengikuti gerakan lidah Juna, saling membelit hingga terdengar kicapan keduanya.


Meski perlahan dan lembut, tetap saja berlama-lama dengan ciuman membuat Alexa kehabisan nafas. Dia menarik bibirnya menjauh lalu menghirup udara segar untuk mengisi paru-paru juga untuk mendinginkan wajahnya yang terasa memanas. Alexa memalingkan wajahnya dari Juna.


Ahh, aku tidak boleh merah di depan Juna, tidak boleh!! Alexa menjerit dalam hati.


"Gue udah lihat kok, nggak perlu malu." Juna menarik dagu Alexa agar kembali menoleh padanya. Gadis sok angkuhnya ini sangat cantik kalau sedang malu. Iya, malu-malu tapi mau. Juna tersenyum lebar, ada rasa hangat yang menjalar merambat ke dalam hatinya. Entah apa artinya.


"Gue senang lo balas ciuman gue. Tapi, gue saranin, lo lebih sering nonton film yang ada adegan kissing-nya atau lo lihat di youtube deh tutorial ciuman biar nggak terlalu kaku."

__ADS_1


Pletak!!


Dengan gerakan cepat, Alexa memukul belakang kepala Juna hingga pria mesum itu mengaduh. Pria ini, baru saja membuat Alexa terhanyut dalam ciuman manis, eh sekarang malah membuat darah Alexa kembali memanas. Membuatnya marah.


"Apa kau bilang? Kaku? Aku bukan wanita lain yang seenaknya berciuman dengan pria, bukan sepertimu juga yang mungkin ratusan kali berciuman dengan wanita. Bibirku ini masih perawan, kau yang pertama menodainya, dan sekarang kau bilang ciuman ku kaku? Heh?" Alexa menjauhkan tubuhnya guna melihat Juna yang sudah meremehkannya, matanya menatap tajam Juna tak terima. Ia sepertinya menemukan dirinya kembali, Alexa dengan sifat yang angkuh dan percaya diri tinggi. Mana mau dia direndahkan oleh pria seperti tadi.


"Oke oke, anggap aja lo setuju saran gue. Nggak perlu ketus gitu juga kan ngomongnya? Kan kita udah sah pacaran."


Sontak Alexa menaikkan alisnya, tak terima. Pacaran?


"Aku nggak bilang kita pacaran."


"Iya'in aja. Capek tau ngomong negang urat begitu, gue aja capek lihatnya. Lo itu sebenarnya lembut, cuma lo jaga image aja depan gue kan??"


Ngomong apaan sih dia? Jaga image sama dia? Buat apa?


"Ya udah deh, gue malas berdebat, gimana kalau kita pesan makan aja, gue lagi malas masak. Lo mau apa?" Juna melembutkan suaranya, tak mau karena suara itu Alexa kembali tersulut emosi. Juna menarik lengan Alexa menuju sofa lalu keduanya duduk di sana.


Tanpa sepengetahuan Juna yang berjalan di depan, Alexa menyinggung senyum. Sepertinya ia sudah menemukan jawaban. Untuk apa mengingat masa lalu yang telah lewat, lebih baik jika memperjuangkan masa depan yang ada di depan mata.


Apa itu berarti aku sudah jatuh cinta padanya? Alexa kembali berpikir.


❤❤❤


Hai gaes, makasih udah baca ceritaku yang absurd ini. Jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga tinggalkan Komen kalau kalian suka ceritanya🙏🙏🙏


Author Receh


Nurhayatir Shabilla💕

__ADS_1


__ADS_2