
Alexa terbangun setelah merasa pergerakan seseorang di belakangnya. Tepatnya seseorang itu mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Alexa. Apakah Alexa pernah bilang, jika dia lebih mirip bantal guling jika dipeluk seseorang dari belakang?
Ya, sepertinya Alexa harus mulai terbiasa menjadi bantal guling. Ck.
Dengan gerakan perlahan, Alexa melepas tangan Juna yang entah dengan sengaja atau tidak masuk ke dalam bra-nya.
"Jangan bangun dulu, gue masih mau tidur." Juna menyelip kembali tangannya masuk ke dalam bra, hanya sekedar nyelip tanpa embel-embel meremas.
"Aku mau mandi. Kalau kamu mau tidur, ya tidur aja."
Juna berdecak kesal di belakangnya. Alexa tau, pasti karena tadi malam. Alexa bukan gadis kolot yang tidak tau bagaimana kesalnya seorang pria yang sudah di gulung gairah dengan ereksi yang mengeras, tiba-tiba harus menghentikan aksinya.
"Ya, makanya jangan pergi mandi dulu."
Menyuruh untuk tidak mandi dulu, apakah sama artinya dengan Juna ingin melanjutkan yang tertunda tadi malam?
Tapi pria itu bilang, dia mau tidur. Yang mana satu yang benar?
"Kenapa? Apa hubungannya aku mau mandi sama kamu mau tidur?" lanjut Alexa penasaran.
"Masalahnya, gue nggak bisa tidur kalau nggak pegang tet*k lo."
Sontak Alexa melongo, tak percaya. Memang ada yang seperti itu? Bukannya kedengaran mengada-ngada?
Namun, Alexa cepat maklum, karena hal konyol ini datang dari seorang Juna. Sepertinya ini menambah daftar kebiasaannya, setelah menikah dan hidup bersama pria itu.
"Sama satu lagi, kalau tidur malam, nggak perlu pakai bra, nggak baik buat kesehatan." tambah Juna.
Kalau yang itu, Alexa juga tau. Dia juga biasanya tak memakai bra saat tidur. Kemarin malam saja, karena dia belum terbiasa akan tidur bersama seorang pria. Rasanya aneh saja, jika baru menikah, suami melihat istri tak memakai bra, seolah sengaja menggoda untuk mendapatkan jatah malam pertama. Mana mungkin Alexa begitu. Memalukan.
Tapi, bukannya dengan tidak memakai bra nggak baik buat Alexa, ya? Sebab Juna akan terus memegang buah dadanya, sepanjang malam sampai bangun pagi, seperti sekarang.
Lalu ini menjadi kebiasaan Alexa selanjutnya.
Beberapa menit berlalu, Alexa diam membiarkan hening dan deru nafas Juna yang akan mendominasi ruangan. Dalam pikirannya, saat seseorang tidur karena sangat mengantuk dan lelah, seseorang tersebut akan tidur sampai mengorok. Tapi kenapa ini terlalu sepi? Alexa bertanya dalam hati. Bahkan nafas Juna tidak terdengar di kupingnya.
Apa dia tidur mati? Memangnya apa yang dia lakukan semalam sampai mengantuk berat begini?
Hati Alexa tergelitik untuk membalikkan badannya menghadap Juna. Perlahan dia mulai memutar posisi badan, tapi ia dibuat kaget oleh Juna yang dengan mata terpejam, memutar lagi badannya menghadap ke depan.
"Hadap depan aja. Gue susah mau pegang tet*k lo."
__ADS_1
"Ih, nyebelin banget sih."
Alexa menggerutu, tapi tak lama, ketika pandangannya jatuh pada tangan Juna yang nyelip di bra-nya, Alexa senyam-senyum sendiri.
"Dasar, begini nih, punya suami mesum tingkat akut." Alexa bersuara pelan, entah terdengar atau tidak di ruang dengar Juna.
Cukup lama Alexa hanya berdiam dalam pelukan Juna, yang entah pria itu benar tidur apa tidak. Tiba-tiba ponsel Juna bernyanyi sendiri, tanda ada orang yang sedang menelpon. Se-pagi ini. Siapa yang kerajinan nelpon orang lagi mau tidur?
Alexa hanya mendengarkan saja, dan rupanya Juna bergerak meraba ranjang mencari keberadaan ponselnya.
"Apaan sih Nyet? Lo pagi gini udah nelpon, kurang kerjaan banget."
"Gue cuma mau mastiin, obat yang gue kasih manjur apa nggak? Berapa ronde tadi malam? Rapat banget ya?"
"Anj*r lo emang."
"Loh? Kok sewot sih nada bicara lo? Kenapa? Ponakan gue belum berhasil dicetak ya? Lo gagal malam pertama?"
"Gue sumpahin lo nikah sama janda beranak 2 ya, Dri."
Begitulah, isi percakapan Juna dengan seseorang di seberang sana yang dapat di tebak Alexa adalah sahabat tiga serangkai Juna yang bernama Hendri.
Oh ya, soal kotak hadiah dari Hendri, Alexa belum membukanya.Namun, Alexa yakin, hadiah itu tak jauh-jauh dari isi kepala otak mereka yang mesum itu. Mungkin semacam celana dalam, bra atau baju tidur tembus pandang.
Gimana bro? Malam pertamanya berjalan, kan? Nggak sabar gue pengen dapat ponakan. From Dito.
Terdengar oleh Alexa, Juna meremas ponselnya dengan gigi menggertak hebat. Pria itu sangat gusar membaca pesan yang Alexa tebak pasti dari Dito. Siapa lagi.
"Bangk* lo berdua ya, sengaja banget ngerusuhin pagi-pagi gini."
Lengkap sudah, penderitaan Juna. Hendri dan Dito memang sahabat paling mengerti sekaligus paling menyebalkan baginya.
\*\*\*
"Udah selesai berberesnya?"
"Hmm"
Juna duduk bersandar di ranjang apartemennya dengan tangan terlipat ke dada dan kaki selonjoran. Sejak tadi, dia hanya menonton Alexa yang mondar-mandir membereskan barang yang dibawanya dari rumah.
Setelah check out dari hotel tadi pagi, Juna membawa Alexa kembali ke rumah orang tuanya. Di sana mereka menyempatkan makan siang bersama keluarga. Mama Miranda, mamanya Juna sepertinya sangat bahagia dengan pernikahan dadakan putra keduanya. Bersama sang papa, beliau merencanakan hari bulan madu untuk Juna dan Alexa. Papa Juna bahkan memberi izin untuk libur dari kerjaan di kantor selama 2 minggu lamanya. Sepertinya mereka sudah tidak sabar menerima cucu.
__ADS_1
Juna dan Alexa saling pandang, namun tak lama Juna memberikan pengertian pada orangtuanya kalau dia ingin berunding lebih dulu bersama sang istri.
Selesai dari rumah orang tua Juna, mereka juga pulang ke rumah Alexa untuk mengambil barang-barang istrinya itu.
Begitulah, hingga sepanjang sore menjelang malam, Alexa di sibukkan dengan menata barang bawaannya. Mulai dari perlengkapan pakaian, sepatu, aksesoris, perlengkapan dandannya, dan beberapa bingkai foto dirinya. Alexa bahkan memajang foto dengan ukuran paling besar miliknya bersanding dengan foto Juna di dinding di atas ranjang tidur.
Setelah semuanya selesai, baru lah Alexa menghampiri Juna. Sejak tadi dia terlalu asyik, hingga melupakan keberadaan pria tampan itu di kamarnya. Ups salah. Maksudnya kamar Juna yang sekarang menjadi kamar mereka berdua.
Kini Alexa sudah memposisikan dirinya duduk di pangkuan Juna.
"Apa kita perlu cari apartemen baru?" tanya Juna seraya mencolek ujung hidung Alexa yang runcing.
"Nggak perlu." Alexa menggeleng. "Aku suka kok di sini."
"Oh ya?"
"Hmm." Alexa menggerakkan kepalanya ke atas ke bawah. "Yang tadi malam itu—" Alexa menjeda kalimatnya, ada rasa malu untuk bertanya, takut Juna berpikiran aneh-aneh, tapi dia sungguh penasaran. "Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa gimana? Lo nggak tau sih, gimana sakitnya cowok waktu lagi tegang-tegangnya, tapi harus gagal dan kembali menahan gairah. Gue sampai harus basah-basahan di kamar mandi malam hari untuk lemasin si Juno. Terus gue juga nggak bisa langsung tidur. Nggak tau kenapa, waktu gue pegang tet*k lo, baru gue merasa ngantuk berat dan tidur. Itu pun udah subuh." jelas Juna panjang lebar.
Ingatan Juna kembali pada waktu ia dan Alexa kembali ke kamar hotel setelah makan malam bersama keluarga. Niatnya mau nyambung yang tadi sempat tertunda, tapi sampai saja di kamar, Alexa langsung tidur tanpa mengajaknya bicara sepatah katapun. Juna maklum, karena tau Alexa kelelahan setelah seharian memakai gaun yang berat. Dia juga tak tega membangunkan Alexa.
Jadilah dia berakhir di bawah kucuran shower di kamar mandi, lemesin si Juno yang sudah mengeras dengan otot menonjol sana sini. Malam hari, bisa bayangin kan gimana dinginnya dia? Deritanya nggak sampai di situ, balik ke kamar, Juna tetap tidak bisa tidur.
Waktu itu, posisi tidur Alexa membelakanginya. Dengan hati-hati, Juna memeluk Alexa dengan cara menyusupkan tangannya melalui ujung kemeja istrinya, menyusurinya setiap inci tubuh Alexa hingga tibalah dia di gunung kembar yang tertutup bra, lalu tangannya menyelip di sana.
Herannya, setelah tangannya menempel pada payudara itu, Juna baru merasakan matanya berat.
"Ooo—" Alexa ber 'oh' panjang dengan mulut membentuk huruf O. "Pantas tadi pagi kamu ngantuk berat." sambungnya.
"Iyalah, kalau nggak, pasti udah saat itu juga gue makan lo. Hehe." Juna tersenyum miring lalu mengecup lembut bibir Alexa. Hanya sebuah kecupan, tapi mampu membuat Alexa memerah.
"Emmm—" Alexa kembali menjeda kalimatnya, membuat Juna menatap intens padanya, seolah penasaran dengan pertanyaan yang akan di lontarkan. "Lebih sakit mana sama cewek yang baru pertama kali di bobolin gawangnya?" Malu-malu Alexa bersuara, dia sampai meniru ucapan Hendri 'bobolin gawang' demi menetralisir rasa malunya.
"Kalau itu sakitnya bentar aja, Lex. Nanti udah biasa juga nikmat. Bikin nagih malah. Haha." Juna menyeringai.
Melihat seringaian Juna, Alexa tambah yakin, kalau sebenarnya 'bobolin gawang' itu terasa sangat menyakitkan, pedih pada bagian inti, bahkan bisa membuatnya susah berjalan. Namun, pada akhirnya bikin ketagihan.
"So, lo udah siap untuk malam yang panjang ini, Lex?"
Entah setan mana yang merasuki, tanpa Alexa sadari, dia memejamkan matanya dengan tangan terulur melingkar di leher Juna.
__ADS_1
"Hmm." Alexa mengiyakan, senyum nakal menghias di wajah terpejamnya.
❤❤❤