Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 35


__ADS_3

Astaga, kegilaan apa lagi yang sedang pria ini lakukan? Dia sengaja banget. Tapi aku kok tergoda ya?


Kembali Alexa menelan saliva, susah payah juga dia menetralisir degup jantungnya yang berpacu 2 kali lebih cepat.


Perempuan mana yang tidak tergoda, jika disuguhkan tubuh bertelanj*ng dada pria dengan perut kotak-kotaknya. Tadi Alexa juga sudah melihatnya, ia juga tidak munafik kalau dia pernah melihat tubuh pria tanpa baju secara langsung maupun dari majalah, tapi kok tak se-menggoda ini. Apa karena ini Juna? Atau karena tubuh dan rambut yang masih basah itu membuat Juna tampak lebih seksi?


"Santai aja dong lihatnya. Gue tau kok, lo ngiler kan?"


Alexa mengerjap matanya, menyadarkan diri dari keterpesonaannya pada suaminya itu. Ah, suami? Aneh bin ajaib memang, mengingat seharusnya yang menikah adalah kakaknya dengan abang Juna, tapi malah ia dan Juna yang kini berstatus sebagai suami istri.


"Apaan sih? Siapa juga yang ngiler?" Alexa menampik, menundukkan pandangan dengan bibir mengerucut.


Juna terkekeh geli. Ia sudah hapal betul bagaimana perubahan wajah perempuan jika melihatnya dalam kondisi tanpa busana.


"Nggak usah bohong kali, Lex." Juna kembali menarik dagu Alexa agar mendongak melihatnya. "Wajar dong lo ngiler, lagipula kita kan udah sah suami istri. Mulai sekarang, seluruh tubuh gue yang seksi ini cuma milik lo. Lo puas mau lihat yang mana aja. Begitu pun sebaliknya."


Alexa sudah tak bisa menyembunyikan wajahnya yang bersemu. Juna kalau bicara memang tak disaring dulu, tapi yang dibilang prianya itu memang benar.


"Iy – iya udah deh. Cepetan masuk baju, kita turun cari makan, aku lapar." Alexa mengalihkan pembicaraan seraya membuang pandangannya ke sembarang arah, yang penting tidak menatap Juna. Ada gelenyar aneh jika lama-lama melihat tubuh prianya itu. Semacam ingin segera menerkam dan meninggalkan cakaran sensual di sana.


"Ngapain masuk baju? Gue kan mau kenalin lo sama Juno. Ck." Namun Juna selalu bisa membuat Alexa kembali memandangnya.


"Tapi aku lap–"


Belum sempat Alexa menyelesaikan ucapannya, Juna sudah lebih dulu membungkam gadisnya dengan sebuah ciuman. Juna tak bisa lebih lama menahan hasratnya. Sejak tadi dia menahan dengan terus menggoda Alexa, hingga tertawa geli melihat wajah bersemu istrinya.


Ciuman lembut ia daratkan di bibir yang sejak tadi terus menggodanya. Posisi gadisnya yang mendongak sementara ia berdiri dengan sedikit membungkuk membuat Juna tak bisa berbuat banyak, selain memagut lembut bibir atas dan bawah milik Alexa bergantian. Rasanya manis dan memabukkan. Tangannya yang bebas, terangkat naik untuk menangkup pipi Alexa agar bisa memperdalam ciuman. Senangnya Juna, karena Alexa pun membalasnya.


Cukup lama saling berbalas pagutan dan bertukar saliva, Alexa merasakan nafasnya hampir habis memaksa melepas bibirnya.


"Humfft, aku bisa mati kehabisan nafas kalau gini." Alexa berujar sendiri seraya meraup udara banyak-banyak untuk mengisi paru-parunya.


Mendengarnya Juna terkekeh geli. "Gue nggak pernah dengar ada orang meninggal karena ciuman, Lex. Ciuman itu nikmat, juga bikin sehat loh. Lo aja yang belum terbiasa."


Alexa menyadari ucapannya dan tersipu malu, ia memang tak bisa melihat wajah sendiri, tapi ia yakin pasti sekarang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Lex, lo udah siap ketemu Juno, kan?" Tangan Juna membelai lembut pipi gadisnya, matanya menatap intens ke manik mata Alexa mencari jawaban. Juna tau gadisnya terlalu malu untuk mengiyakan, padahal dia juga menginginkannya. Hehe. Juna seperti cenayang yang banyak taunya. Ia dapat merasakan itu dari cara Alexa membalas ciumannya dan dari degup jantung mereka yang berpacu sama cepatnya.

__ADS_1


"Hmm, tapi pelan-pelan ya."


"Kalau itu, gue nggak janji. Gue udah terlalu lama nahan nafsu buat nggak nyentuh lo, Lex." Tentu Juna tak ingin menunda hasratnya hanya karena permintaan Alexa itu. Tidak pelan-pelan bukan berarti melakukan dengan cara kasar, kan?


Juna mengambil ponsel di tangan Alexa, meletak sembarangan di kasur. Ponsel itu akan jadi pengganggu untuk gadisnya berekspresi nanti. Perlahan Juna merangkak naik ke kasur diikuti Alexa yang juga memundurkan tubuhnya hingga posisi keduanya kini sudah berada di tengah ranjang.


Juna menarik senyum sekilas kemudian mulai menyerang Alexa. Kecupan, hisapan dan ******* yang diberikan Juna di bibirnya membuat Alexa mau tak mau mengeluarkan desahan. Tangannya juga sontak mencengkram erat pundak Juna saat jemari pria itu mengelus lembut pahanya. Dari paha, Juna beralih menyusup tangannya masuk ke dalam kemeja tipis yang di pakai Alexa, menari-narikan jemarinya pada permukaan perut tipis di sana.


Oh God! Tubuh Alexa semakin bergetar hebat, saat tangan Juna bergerilya dan berhasil menemukan dua gundukan kembar miliknya dan meremasnya. Alexa kembali menggelinjang deng


an deru nafas yang tak beraturan.


"Ouhh—" desahan panjang lolos keluar dari bibir Alexa semakin menyulut gairah Juna. Bahkan Juno di bawah sana sudah menegang sejak awal. Tidak sabaran ingin bertemu pemilik barunya.


Ting. Juna memejam mata dan menghentikan aksinya ketika mendengar bunyi bel berasal dari depan kamar. Rahangnya mengeras.


Ting. Bel kembali berbunyi hingga kalimat umpatan keluar dari mulut Juna.


"Anj*r, siapa sih gangguin aja."


Alexa yang juga mendengarnya, menyuruh Juna untuk mengecek. "Lihat deh, siapa tau penting, atau mungkin itu mama."


"Itu kan hadiah dari Hendri."


“Iya. Tadi tu pelayan hotel yang mengantar, katanya takut kita lupa terus tertinggal. Padahal bilang aja kalau mau ganggu. Dasar." Muka Juna masam.


"Ya udah deh, gitu aja kok marah."


"Untung pelayannya cewek, kalau cowok udah pasti gue tonjok."


Giliran Alexa yang membuat muka cemberut. Jika benar pelayan yang mengantar kotak tadi seorang cewek, berarti pelayan itu juga melihat tubuh telanj*ng Juna. Mendadak dia kesal.


Tanpa mempedulikan wajah kesal Alexa, Juna kembali melanjutkan aksinya. Kali ini dia tak mau berlama-lama. Satu persatu kancing kemeja Alexa dibukanya, hingga terpampanglah bra merah yang menjadi penutup buah dada gadisnya. Mata Juna berkilat. Tangannya lincah bermain di belakang punggung Alexa, meraba-raba pengait bra lalu melepasnya. Kemeja dan bra malang itu pun berakhir terlempar ke lantai.


Alexa hanya bisa pasrah, apalagi yang harus dia lakukan, bukankah Juna punya hak atas tubuhnya?


Juna tersenyum menyeringai setelah melihat tubuh bagian atas Alexa tanpa sehelai benang. Benar dugaannya selama ini, meskipun kecil, tubuh Alexa ternyata lumayan seksi. Begitu juga buah dadanya, walau tak sebesar perempuan lain yang pernah tidur dengannya, tapi punya Alexa pas lah di tangannya.

__ADS_1


Tangan Juna memang sangat lihai mencari celah sensitif gadisnya. Tangan itu bergerak kembali ke bawah, pada bagian celana pendek Alexa lalu jemarinya memaksa masuk tanpa membuka kancingnya terlebih dulu.


Di dalam sana, jemari Juna bisa merasakan rumput halus yang tumbuh rapi. Dia lalu menekan jemari di sana, hingga Alexa menjerit tertahan.


"Ouhh, Juna–"


Suara jeritan Alexa membuat Juna tak sabaran. Dengan gerakan terburu-buru, Juna membuka kancing celana Alexa. Ia semakin yakin, milik Alexa di dalam situ sudah basah.


Ting. Ting. Ting. Bunyi bel bersahut-sahutan kembali mengusik pendengaran keduanya.


"Siapa lagi sih?" Untuk kedua kalinya Juna harus menahan gairahnya karena bunyi bel sialan. Dan yang lebih sial lagi, adalah orang yang berada di balik pintu itu, yang berani-beraninya mengganggu.


Ting ting ting. Bel kembali berbunyi. Tapi tidak ada tanda-tanda keduanya ingin membuka pintu.


Semoga tidak lagi, batin Juna.


Juna dan Alexa sama-sama menahan nafas, berharap tidak akan ada lagi bunyi bel untuk ketiga kalinya.


Bel memang tidak lagi berbunyi, namun ponsel Alexa giliran berdering, Alexa yang terkaget cepat meraih ponselnya, panggilan dari ibu Giana.


"———"


"Oh iy–iya bu, kami akan turun."


Juna memandang Alexa dengan tatapan mematikan. Seolah tatapan itu bisa membunuh siapa saja yang telah mengganggu kesenangannya. "Ibu menyuruh kita ke bawah, mereka sudah menunggu untuk makan malam bersama." Alexa mengatakannya perlahan, karena tau Juna akan bertambah kesal.


"Ah ****." Juna mengusap kasar wajahnya. "Pakai baju lo, terus turun duluan, ntar gue nyusul." Juna turun memungut pakaian Alexa yang tadi dilemparnya.


"Kok nggak barengan aja?"


"Lo duluan aja, tadi katanya lo laper banget. Bilang mama sama ibu, gue telat bentar."


"Iya deh."


Setelah Juna masuk kamar mandi dengan menutup pintu keras, Alexa memakai kembali bajunya dan turun menemui keluarganya untuk makan malam.


Dia mau ngapain di kamar mandi?

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2