
Mobil yang dikendarai Harris terparkir mulus di depan kantor Aira. Sudah beberapa menit berlalu, namun Aira belum juga turun dari sana. Sebenarnya perempuan itu sudah bersiap membuka pintu, tapi suara Harris menginterupsi membuat tangan Aira berhenti bekerja.
Sejak keluar dari Cafe, Harris bungkam. Pikirannya terlalu banyak sampai-sampai dia mengabaikan Aira yang duduk di kursi penumpangnya. Kini Harris merasa ingin menjelaskan sesuatu, tentang diamnya dia dan tentang pertanyaan adik Aira tadi padanya.
"Ra, kamu pasti memiliki pikiran yang sama kan seperti adikmu tadi?" Harris membuka suara dengan pertanyaannya. Sungguh, dia tak pandai berbasa-basi meskipun berbicara dengan tunangan sendiri. Ia sedikit kaku, wajar sih karena ini pertama kali mereka keluar berdua.
Sebelum perjodohan hingga sekarang mereka resmi bertunangan, Harris dan Aira memang belum pernah bertemu bertatap muka apalagi sampai pergi makan siang berdua seperti ini. Mereka berbeda kantor. Tidak menyangka juga kalau mereka dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Harris pernah beberapa kali datang ke kantor Aira untuk menghadiri rapat, karena perusahaan mereka berkerja sama. Begitu pula Aira juga pernah ke kantor Harris. Mereka juga sesekali saling berpapasan dan bertukar senyum, hanya sebatas itu.
"Maksud kamu?"
"Soal aku yang menerima perjodohan ini dan alasan disebaliknya, karena jelas kita belum terlalu dekat satu sama lain," ujar Harris.
Tentu, batin Aira. Diam-diam dia bersyukur karena Alexa menanyakan itu, setidaknya dia tau sedikit banyak alasan Harris menerima dijodohkan dengannya. Aira bukan gadis cantik dan seksi yang selalunya diidam-idamkan kaum adam. Dia juga kalah cantik dibanding wanita itu.
Manik mata Aira bertemu dengan milik Harris, dari sana perempuan itu bisa melihat kalau Harris tengah menimbang sesuatu, semacam ingin menyampaikan tapi ragu-ragu.
"Ada yang ingin kamu jelaskan? Aku masih punya waktu untuk mendengarnya. Katakan saja!" Aira memberikan senyum sehangat mungkin, seolah mengatakan kalau dia bersedia mendengar cerita dari Harris, apapun itu.
Harris diam sejenak, yang akan dia sampaikan ini pasti akan membuat Aira terkejut, jadi dia harus bisa menjelaskan dengan tenang. Senyum hangat dari Aira sedikit memberi ketenangan.
"Kau tau Luna?"
Aira memiringkan wajahnya, seperti mengingat sesuatu. "Dia model itu, bukan?"
__ADS_1
Harris mengangguk. "Dia pacarku."
DEG. Jantung Aira seperti mau copot mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Harris. Kaget? Bukan, lebih tepatnya tak menyangka Harris akan mengakui di hadapannya kalau sudah memiliki pacar. Aira sudah tau itu, Aira tau Harris memiliki pacar seorang model walaupun tak ada gosip tentangnya. Namun Aira tetap menerima perjodohan.
"Kami sudah lama menjalin hubungan, bahkan mungkin sebelum ide perjodohan ini dibuat. Hehe." Harris menertawakan dirinya juga ide konyol perjodohan yang langsung dia terima saat pertama kali papanya memberitahu. Anggap saja dia gila waktu itu.
"Jujur saja, aku sangat mencintai Luna. Kami bahkan sudah beberapa kali berhubungan badan dan aku berjanji untuk menikahinya." Harris berhenti sejenak, ingatan tentang Luna yang manis dan manja itu berputar di kepalanya. Dulu Luna adalah gadis manis yang polos, semenjak karir modelnya menanjak, perlahan sikap Luna mulai berubah. Jadi lebih agresif dan posesif. Luna yang sekarang tidak malu-malu lagi untuk memeluk bahkan menciumnya didepan umum seolah mengatakan kalau Harris miliknya, juga mulai sering mengatur, tidak boleh ini itu kesini kesitu. Harris merasakan Luna terlalu banyak berubah.
"Aku harus backsreet karena tidak disetujui kedua orangtuaku. Tapi melihat perubahan Luna yang sekarang, aku berpikir dua kali untuk menikah dengannya. Kau bisa anggap ini sebagai pelampiasan atau pelarian, tapi aku akan berusaha menerima dan menjadi pria baik untuk mu. Mungkin tidak akan mudah, Luna pasti tidak akan tinggal diam." Harris tau pasti kalau Luna akan melakukan sesuatu dan itu bisa sangat membahayakan bagi dia dan Aira.
Aira terdiam seribu bahasa. Bagaimana perasaannya sekarang? Setelah Harris mengakui semuanya tentang pacarnya bahkan tak malu untuk bilang kalau mereka telah berhubungan badan.
Sementara Aira tidak pernah pacaran. Dalam pikirannya, jika nanti suatu hari dia bertemu seseorang, dia ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya bagi orang itu. Lalu kenyataan apa ini? Bahkan pria yang sudah menjadi tunangannya mengaku tidak perj*ka lagi.
"Aku sudah berkata jujur, Ra. Sekarang kembali lagi sama kamu, apa masih mau melanjutkan pertunangan ini? Seperti kata adikmu, belum terlambat untuk membatalkannya."
Aira lalu membalikkan badannya, menghadap Harris. Ia agak malu untuk mengucapkan kalimat yang sudah berada di ujung mulutnya, hingga turun dari mobil dan berbicara dari posisi seperti ini rasanya lebih baik.
"Kamu sudah dengar dari adikku kan kalau aku menyukaimu?" ucap Aira dengan wajah bersemu merah. "Aku akan tetap lanjutkan, aku juga tidak ingin membuat ayahku kecewa."
Harris kemudian tersenyum lega. Perkiraannya salah tentang Aira yang menolaknya.
"Terima kasih Aira." Ya, Harris juga tak ingin membuat Ayah dan ibunya kecewa.
__ADS_1
"Aku masuk dulu ya Ris, sampai ketemu lagi."
"Ya, sepertinya kita akan sering ketemu Ra, aku akan datang saat jam makan siang kalau ada waktu, kita harus pendekatan lebih lagi biar tak kaku dan terbuka satu sama lain." Harris mengusahakan senyum lebar 3 jarinya.
"Oke, aku tunggu ya." Begitu pun Aira menampilkan senyum manisnya. Setelah itu Aira pun berbalik dan melangkahkan kakinya masuk ke gedung perkantorannya.
Setelah punggung Aira tidak terlihat lagi oleh pandangannya, Harris segera mengemudi mobilnya keluar dari halaman kantor yang luas. Ia mengemudi dengan santai di jalan raya yang lengang.
Harris mengemudi sambil pikirannya melayang pada Luna, yang masih berstatus sebagai pacarnya. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakan perempuan yang kita sayangi, apalagi masa pacaran sudah 4 tahun. Tapi perubahan sikap dan sifat Luna membuat Harris berpikir balik, belum tentu kedua orangtuanya setuju jika dia bersama Luna, lalu belum tentu juga dia bahagia jika semakin hari Luna bertingkah posesif dan suka mengatur seenaknya.
Jika saja dulu Harris lebih tegas melarang Luna menjadi seorang model, pasti sekarang Luna masihlah gadis manis yang polos dengan kesederhanaannya.
Kabar pertunangannya yang tiba-tiba ini akankah menyakiti perasaan Luna? Harris juga tidak yakin, karena semenjak Luna berubah, perempuan itu juga sering kedapatan keluar masuk hotel bersama pria yang berbeda-beda tiap kalinya. Harris mengetahui itu dari seseorang yang di bayar buat mengikuti Luna, mematainya.
Lamunan Harris buyar karena deringan ponselnya yang tiba-tiba.
SMS dari Luna.
"Sayang, hari ini aku libur pemotretan, temani aku di rumah ya, lagi nggak mau jalan-jalan, kangen kamu, jangan telat, aku tunggu dalam 15 menit."
❤❤❤
Hai gaes, makasih ya udah baca cerita absurd aku, jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga tinggalkan Komentar kalau kalian suka ceritanya, makasih🙏
__ADS_1
Author Receh
Nurhayatie Shabilla💕