Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 8 --- Pertunangan


__ADS_3

Ballroom Royal Hotel di daerah Jakarta Selatan adalah tempat di mana dilangsungkan acara pertunangan Harris dan Aira. Ruangan dengan luas 2 kali lapangan bola itu di dekorasi indah. Kursi dan meja di tata rapi berbentuk lingkaran untuk beberapa tamu, keluarga, rekan kerja dan beberapa wartawan dari media ternama.


Para wartawan yang khusus diundang tidak diperkenankan memberi pertanyaan, cukup meliput dengan merekam video atau foto saja acara sakral tersebut.


Abimana sebagai ayah dari Aira sudah mengklarifikasi isu yang beredar di publik soal perjodohan anaknya dan beliau membenarkan isu itu. Selanjutnya acara pertunangan yang disimbolkan dengan tukar cincin antara kedua calon.


Alexa hanya mengamati dari tempat duduknya selama acara berlangsung. Aira sempat memaksanya untuk ikut bersama ayah ibu berdiri di depan mendampinginya, tapi Alexa menolak.


Harris tengah memasangkan cincin ke jemari Aira, dapat Alexa lihat kakaknya itu tersenyum bahagia. Lalu giliran Aira yang memasangkan cincin di jemari Harris, senyum pun terukir di wajah pria itu.


Lampu blize dari kamera wartawan seakan berlomba untuk mengambil foto terbaik dari mereka. Harris dan Aira kini sama-sama memamerkan jemari yang sudah tersemat cincin putih bertahtakan berlian sebagai tanda pertunangan.


Memang tidak semua perjodohan berakhir baik, selalu saja ada penolakan, semoga ini tidak terjadi pada Aira dan Harris. Semoga mereka berdua bahagia. Hanya menonton dari jauh saja, Alexa ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan kakaknya.


"Seandainya yang di depan lagi tukeran cincin itu lo sama gue, gimana perasaan lo?" Tiba-tiba saja sebuah suara yang berasal dari samping mengganggu kenyamanan Alexa. Sontak Alexa menoleh dan mendapati Juna duduk tepat di sebelahnya.


Sejak kapan pria ini di sini? Batin Alexa. Di lihatnya Juna tersenyum seraya menggerakkan alis, menggodanya.


Alexa memutar bola matanya, ucapan Juna barusan juga bikin telinganya mendadak gatal. "Jangan mimpi ya, kamu bukan tipe aku. Lagipula aku nggak mau menikah muda, bikin repot aja kalau ada anak nanti."


Alexa kembali mempusatkan perhatiannya pada Aira dan Harris yang masih berdiri di depan memamerkan senyum bahagia. Tak mau mempedulikan Juna yang senyum-senyum penuh arti. Alexa tidak menyadari jawabannya soal tidak mau punya anak malah memicu Juna untuk terus menggodanya.


"Ya udah. Gue juga nggak mau cepat-cepat punya anak. Ribet. Gue mau nikmatin hidup berdua sama lo dulu, kebayangkan kalau ada anak, mau ngapa-ngapain sama lo nggak bisa, giliran mau minta jatah, ehh ada yang ganggu. Gue juga belum siap jadi ayah." Juna berkata tepat di daun telinga Alexa membuat gadis itu geli sekaligus ngeri. Juna sepertinya melakukan dengan sengaja. Dasar pria mesum.


"Telinga aku mendadak tuli. Jadi jangan ngomong, aku nggak akan dengar."


"Kalau gue udah nikah sama lo, jangan harap lo bisa lepas dari gue, setiap gue lagi pengen, lo nggak boleh nolak, dan pakaian kurang bahan kayak gini, jangan pernah di pakai kalau ketemu orang lain. Gue nggak suka. Kecuali lagi sama gue, lo nggak pakai baju juga nggak apa-apa. Gue lebih suka."


Pakaian kurang bahan? Nggak salah tuh? Bukannya seorang Juna memang suka lihat cewek pakai baju terbuka? Lagipula Alexa memakai baju seperti itu karena dia suka bukan buat menggoda para pria apalagi Juna.


"Nggak dengar, percuma." Alexa berkata tanpa menoleh Juna.


"Buat pengetahuan lo, punya gue gede dan kuat. Jadi siap-siap aja lo bakalan teriak sepanjang permainan. Saran gue, kalau teriak lebih baik nyebut nama gue, gue bakal tambah bergairah. Juga, gue suka daleman warna pink, jadi lo..."


BUG


"Anj*r, sakit tau." Juna meringis seraya mengusap belakang kepalanya yang di pukul Alexa dengan tas tangannya. Keras. Padahal dia belum selesai bicara.


"Salah sendiri nggak bisa diam. Kayaknya otak kamu tuh harus di cuci, biar nggak berpikiran mesum terus."


"Gue kepikiran gitu juga karena ngelihat lo." Juna memandang setiap inci tubuh Alexa yang kini berada sangat dekat dengannya.

__ADS_1


"Ya kalau gitu jangan lihat. Mata tuh lihat ke arah lain aja." Dengan kedua tangannya, Alexa memutar kepala Juna secara paksa supaya melihat ke arah lain.


Namun bukan Juna namanya kalau mudah diatur oleh orang lain. Dia kembali menatap Alexa, bahkan kini mendekatkan wajahnya pada wajah putih mulus itu.


"Lo seksi. Melihat lo bikin Juno menegang dan minta dielus," Ujar Juna dengan seringaian.


"Juno?" Tanya Alexa dengan raut bingung tercetak jelas di wajahnya.


Wajah kebingungan itu semakin membuat Juna semangat untuk memperkenalkan siapa Juno dan di mana keberadaannya.


"Juno itu jagoan gue." Juna melihat ke bagian bawahnya lalu melihat Alexa. "Lo mau kenalan?"


BUG


"Dasar mesum." Lagi Alexa memukul kepala Juna lebih keras, satu tangan Alexa cepat membekap mulut Juna agar ringisan pria itu tak menarik perhatian. Akan jadi masalah kalau mereka ketahuan sedang bertengkar.


"Lo apaan sih?" Juna berhasil melepas tangan Alexa yang membekapnya.


"Diam ihh!" Kata Alexa dengan tatapan mengancam yang di mata Juna malah terlihat sangat menggemaskan.


"Kalau gue diam, lo mau ngasi gue imbalan apa?" Juna tak pernah kehilangan akal untuk membuat Alexa bertekuk padanya. Lihatlah, dia bahkan memanfaatkan situasi demi sebuah imbalan, minimal sebuah ciuman. Ckck. Dasar otak mesum.


Alexa, tak pernah di sangka, dia malah menyeringai kearah Juna. Satu tangannya kembali terjulur menunjal dahi pria itu.


 


⭐⭐⭐


 


Juna memandang malas ke depan di mana abangnya sedang menyematkan cincin di jari manis seorang perempuan. Kedua keluarga yang akan menjadi besan itu tersenyum bahagia. Sungguh tontonan yang sangat membosankan. Menurut Juna, akan lebih menarik jika tiba-tiba seorang gadis lain datang dan mengaku sebagai kekasih abangnya. Pasti suasana mendadak heboh, tentu saja para wartawan itu tak mau melewatkan berita yang bisa bikin Jakarta lebih gempar.


Tiba-tiba Juna menyadari, matanya tak menangkap sosok Alexa di depan sana.


Di mana dia?


Juna mendapati Alexa duduk sendirian lalu diam-diam mendekati. Gadis itu dengan pakaian terbukanya membuat siapa saja ingin menjadi pacarnya. Cuma pacar? Terlalu naif. Bagi Juna, Alexa lebih cocok jadi teman tidurnya. Leher jenjang itu, sangat mengundang Juna untuk segera membenamkan wajah di sana, menciumnya, menggigit hingga menimbulkan kissmark.


Kenapa dia selalu berpakaian seperti itu? Menggodaku saja, gumam Juna.


Juna mendekatkan dirinya pada Alexa, mencium harum parfum gadis itu yang begitu menggoda. Jika bukan sedang berada di keramaian, anggaplah di depannya hanya ada Dito dan Hendri, pasti Juna sudah menyerang Alexa.

__ADS_1


Namun, Juna sendiri tau, Alexa bukan gadis sembarangan. Tidak seperti gadis lain yang akan dengan mudah jatuh ke pelukannya, Alexa akan sangat sulit ditaklukkan. Tapi, itu pula yang bikin Juna penasaran.


Akhirnya, setelah membiarkan Alexa bernafas lega dengan berhenti mengganggunya, acara ini selesai. Para tamu satu persatu menyalami Harris dan Aira memberi ucapan selamat lalu pulang.


Juna tidak ikut Alexa untuk memberi selamat pada pasangan yang sudah resmi bertunangan itu. Dia menyandarkan tubuh di dekat pintu keluar dengan kedua tangan terlipat ke dada. Menunggu Alexa.


Juna sudah melihat Alexa berjalan kearahnya. Kearahnya? Yang benar saja. Posisinya yang berada di dekat pintu keluar membuat seolah-olah Alexa berjalan kearahnya padahal Alexa mau pulang. Ya ya, Juna tau itu. Namun dia punya rencana. Juna lalu menghitung mundur ketika Alexa hampir mendekatinya.


4... 3... 2...


"Heh, apaan sih? Hobi banget ya narik-narik orang."


"Bukan narik orang, tapi narik lo."


"Aku juga orang."


"Iya tau, tapi lo kan istri gue."


"Mimpi."


"Terserah lo aja, yang penting sekarang ikut gue."


"Kemana ih?"


"Ketemu sama Juno."


"Bangs*t."


"Maksudnya sahabat-sahabat gue. Ckckck." Juno tertawa puas.


 


❤❤❤


 


 


Hai gaes, makasih ya udah baca cerita absurd aku. Jangan lupa tekan Like, Rate5, Vote juga berikan Komentar kalau kalian suka ceritanya🙏


Salam Sayang dari Author

__ADS_1


Nurhayatie Shabilla💕💕💕


__ADS_2