Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 4 --- Juna


__ADS_3

Arjuna mendengkus sambil sesekali melirik jangan tangannya. Pasalnya, 2 bocah tengik yang sudah janji untuk menjemput di Bandara belum juga menampakkan batang hidung.


2 bocah itu siapa lagi kalau bukan sahabatnya, Dito dan Hendri. Mereka adalah 3 sekawan yang sudah kenal sejak masuk SMA hingga menamatkan kuliah S1 Bisnis di Universitas Negeri Jakarta. Namun harus berpisah karena Juna memutuskan untuk pergi dari rumah dan melancong ke Paris.


Memang, pertama kali dia ke Paris adalah tujuan melancong. Mendapati Paris dengan segala kebebasannya, Juna jadi betah di sana. Hampir 2 tahun sudah ia tinggal di sana.


Kini ia kembali hanya untuk menghadiri pertunangan abangnya. Kesal. Tapi Juna terpaksa pulang demi mamanya.


Kesalnya semakin bertambah mengingat beberapa menit tadi, seorang gadis memanfaatkan ketampanannya untuk menjadi suami pajangan dan di kenalkan kepada seorang pria pengganggu. Ya Juna tau, gadis itu seperti merasa terganggu dengan kehadiran pria paruh baya berkepala botak.


Gadis itu memang menyebalkan karena sikapnya yang angkuh. Tapi Juna tak bisa memungkiri, kalau jiwa seorang pria sejatinya tergiur oleh kemolekan tubuhnya. Apalagi bibir sexy berwarna pinknya. Memikirkannya saja membuat Juna menelan saliva.


"Nggak salah lihat nih. Kok lo makin tampan aja." Suara Dito memuji. Akhirnya kedua bocah tengik yang bermetamorfosis menjadi pria tengik itu datang juga. Mendengar penuturan Dito, Hendri pun ikut menimpali.


"Jangan bilang lo masih ngelanjutin ritual nidurin cewek perawan biar kelihatan awet muda." Sebuah toyoran melayang ke kepala Hendri. Juna pelakunya.


"Bangke lo. Lama banget sih? Lumutan gue nunggunya." Juna protes menampilkan wajah masamnya yang tetap terlihat tampan.


"Yaelah, lo bilang pesawat sampai jam 4 sore, baru lewat 1 jam aja." Lagi, toyoran itu mendarat di kepalanya. Hendri sontak mengaduh, mengusap kepala. Mimpi apa dia semalam, belum juga 10 menit ketemu Juna sudah dapat 2 hadiah toyoran dari pria itu. Dasar Setan.


"1 jam aja lo bilang? Kalau di ranjang gue udah bisa 2 ronde tau." Juna menegaskan seraya mendengkus kesal.


"Udah deh." Dito menyela untuk menengahi. Sebagai yang paling tua, dia harus jadi penengah yang baik buat juniornya. "Sebagai gantinya lo mau kita traktir apa? Scorpio Zone mau?" Cepat Juna mendelik mendengar nama tempat favoritnya disebut. Apalagi kali ini ditraktir. Penengah yang baik? Bikin sesat iya.


"Setuju. Dri, bawa nih barang, gue capek." Juna menunjuk kopernya.


"Siap Boss." Sahut Hendri tanpa bisa menolak.


⭐⭐⭐


Memang tak ada hal menarik di otak Arjuna Dwi Putra selain club malam, alkohol dan sex. Obat dari segala jenis penyakit adalah ketiganya. Maka di sinilah keberadaannya sekarang, Scorpio Zone. Tempat di mana kebebasan bisa dibeli dengan uang.


Juna, Dito dan Hendri duduk di sofa melingkar di lantai 2 ruangan yang dipenuhi dengan pria wanita bebas. Dentuman musik yang bagi orang lain memekakkan telinga, bagi mereka yang masuk di sini adalah lagu terenak di dunia. Pria wanita bebas bergoyang meliuk-liuk, menampilkan lekuk tubuh, pakaian kurang bahan, saling *****-***** bahkan tak sungkan ciuman di tengah keramaian. Penampakan yang lumrah bagi ketiganya.


"Gimana brother, lo kangen nggak sama tempat ini?" tanya Dito disela menenggak Vodka-nya.


"Ya jelas lah." Hendri mewakili Juna menjawab, seolah tau isi kepala sahabatnya itu. "Apalagi ruang VVIP, lo ingat berapa cewek yang udah dia giring ke sana buat ditidurin?"

__ADS_1


"Mana gue ngitung, ****!" Sahut Dito dengan tatapan meledek. Namun Hendri menanggapinya dengan tawa.


"Oh ya brother, soal pertanyaan gue tadi, lo masih lanjutin ritual nidurin perawan nggak?" Soal Hendri setelah tawa mereda.


"Lo sengaja **** apa **** beneran sih Dri? Namanya aja club malam, pasti isinya cewek-cewek yang udah kebobolan semua. Ibarat nyari jarum ditumpukan jerami bro, langka." Jelas Dito.


"Nah, itu pinter." Juna akhirnya bersuara.


Di tempat duduknya sekarang, mereka juga masing-masing ditemani wanita. Semacam triple date begitu, tapi hanya saat di sini saja. Keluar dari sini ketiga pria itu kompak tak mengingat seperti apa wajah bahkan nama dari wanita yang pernah mereka tiduri. Sungguh penjahat kelamin sejati.


Seperti kata Dito tadi, namanya juga club malam, pasti isinya cewek yang udah kebobolan alias nggak perawan. Tentu tujuan mereka datang ke sini hanyalah mendapatkan kesenangan.


Sebuah tepuk tangan menjadi pengganggu ketika Juna sedang asyik memagut kasar bibir lawan mainnya, lidahnya juga cukup kuat menerobos masuk lalu bergumul di dalam sana hingga menimbulkan decakan. Ia tau wanita yang bersamanya kewalahan akibat permainan kasarnya, tapi peduli amat. Bukankah itu yang mereka inginkan?


"WOW!" Orang itu bersorak ria. "Lihatlah siapa yang datang. Rajanya club malam."


Juna menyeringai mendapat sambutan disaat yang kurang tepat, tapi ada bagusnya juga, karena dirasanya lawan mainnya tadi kurang ahli dalam memuas nafsunya.


"Kapan lo pulang dari Paris?" Orang itu yang bertanya pada Juna adalah Manajer Scorpio Zone, tempat mereka berada sekarang. Tommy Duke. Pria blasteran Indo - Jerman berusia sekitar 37 tahun.


"Baru aja, Tom. Lo nggak mau kasih hadiah buat gue?"


"Gue langsung datang kemari setelah terbang dari Paris loh."


"Iya, anak durhaka nih. Di suruh pulang bukannya langsung ke rumah ketemu orangtua sungkeman dulu, malah keluyuran di sini." Celetuk Hendri dengan sedikit menjauhkan kepalanya, waspada. Bisa saja Juna menjitaknya.


"Hehe." Dito menyumbang tawa meledek, tak tahan dengar omongan Hendri yang benar 100 persen.


"Oh itu," Tommy berpikir sejenak, lalu bicara lagi, "Mungkin ada, tapi nanti aku pastikan dulu."


"Sip. Ditunggu ya Tom." Dito dan Hendri yang menyahut kompak.


"Kampret, lo berdua."


⭐⭐⭐


Pukul 10 pagi, Juna baru pulang ke rumah orangtuanya. Setelah menghabiskan waktu di club tadi malam, ia ikut pulang sama Hendri dan tidur di rumah sahabatnya itu.

__ADS_1


Juna berdiri di depan pintu rumahnya yang tegap dan tertutup. Ada rasa gugup di hatinya jika mendapati pintu terbuka dan muncul wajah mamanya di sana.


Setelah beberapa kali membunyikan bel, pintu dibuka dari dalam oleh Bi Tuti, wanita berumur kisaran 50'an yang sudah 30 tahun mengabdi bekerja di rumah keluarganya. Tampak Bi Tuti tersenyum sumringah.


"Den Juna, kapan pulang? Ayo masuk, Nyonya pasti senang ini."


"Kemarin Bik. Kan aku kangen sama Bi Tuti," jawab Juna dengan nada menggoda.


Bi Tuti sudah Juna anggap seperti ibu sendiri, wanita kedua yang dia sayang setelah mamanya. Bi Tuti lah yang sudah membantu mamanya merawat dan membesarkan Juna. Walau brengsek begini, Juna masih punya ketulusan untuk orang yang disayangnya. Duh, tak disangka, seorang Juna bisa berhati hello kitty.


"Masuk Den, Bibik mau panggilkan Nyonya dulu, pasti dia senang. Nyonya udah nunggu Den Juna dari kemarin."


"Oke Bik." Juna membawa kopernya menuju ruang tamu rumah yang sangat luas. Ada tangga besar melingkar menuju lantai atas, dan Bi Tuti sedang berada di sana memanggil Nyonya besar alias mama Juna.


Mama Juna sepertinya sudah mendengar kehebohan di lantai bawah hingga dia menilik dan mendapati wajah putra keduanya yang sangat dia rindukan.


Tergopoh Mama Juna menuruni tangga, tak sabar hendak memeluk putranya itu.


"Juna. Kamu akhirnya pulang juga, Mama udah tunggu dari kemarin, Mama hampir berpikir kamu nggak pulang, Sayang." Mama Juna menangis dalam pelukan anaknya, membuat hati hello kitty Juna terpanggil untuk mengelus punggung sang mama.


"Jangan nangis dong Ma, kan anaknya yang tampan ini udah pulang." Juna mencoba menenangkan.


Mamanya melepas pelukan kemudian berkata. "Kamu bau alcohol, ya sudah mandi dan istirahat dulu gih, ntar malam kita ada pertemuan."


Alis Juna mengkerut.


"Pertemuan dengan siapa Ma?" Juna melupakan sesuatu.


"Calon besan lah." Jawab sang Mama menepuk bahu Juna.


Ok, Calon besan. Nggak apa-apa. Asal bukan aku yang jadi pengantinnya, doa Juna.


❤❤❤


Haii gaes, mampir yuk ke ceritaku, jangan lupa tekan Like, Rate5, Vote juga beri Komentar yaa kalau kamu suka dengan ceritanya🙏🙏🙏


Salam Sayang dari Author

__ADS_1


Nurhayatie Shabilla💕


__ADS_2