
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila
ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon
kebijaksanaannya dalam membaca yah…
Cerita ini mengandung unsur dewasa,
tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para
pembaca sekalian.
NOT WRONG DESTINY_episode 9_Aku
Tahu tapi Tidak Tahu_ (I)
Ucapan pelan namun
mengikis hatinya sendiri. Parman sampai memejamkan matanya dan membungkuk
lemah. Aku tahu, semua itu pasti terasa sangat sulit baginya. Aku tahu, semua
keinginannya yang terucap dari mulutnya tadi mengandung banyak resiko yang
sudah di timbangnya berulang kali. Aku tahu, kesedihan itu sulit terlupakan.
Apalagi saat yang
menjadi target kesedihan itu adalah pamanku- Pria istimewa kami berdua. Tentu akan
sulit dan menakutkan bagi kami.
Aku menarik nafas
panjang dan menghembuskannya- kasar. Setidaknya, hal itu dapat menjadi bantuan
untuk kelegahan hati walau tak terkikis sedikitpun dugah itu.
“Kamu yakin?” tanyaku
kemudian- untuk lebih memastikan.
Parman kembali
menegakkan badannya, dan menatapku.
“Tolong beritahu ayah! Aku
sudah cukup menahan.” Ucapnya serak- masih dalam tangisnya yang tertahan-tahan.
Takdir?
Hidup?
Manusia?
Siapa yang mengetahui?
‘aku’?
‘kamu’?
Atau
‘dia’?
Tak ada yang dapat
manjawab, tak ada yang dapat menebak.
Kematian?
Sungguhkah setelah
kematian semua di dunia akan berakhir?
Bila demikian,
Apakah ayah dan ibuku
sungguh beruntung?
Melahirkan anak dan
meninggalkan.
Membuatnya menjalani
takdir yang menyedihkan.
Aku juga pernah membaja
suatu kata bijak di sebuah situs, di mana tertulis:
‘Daun yang jatuh tak pernah menyalahkan angin. Kenapa manusia yang putus
asa selalu menyalahkan takdir?’[1]
Tulisan yang menggurui,
tapi apakah ia pernah menjadi daun? Tahukah dia daun kering itu tak bersedih
setelah terlepas dari batangnya dan terjatuh di tanah? Tahukah dia daun kering
itu tak menyalahkan angin setelah tubuhnya jatuh dan tak terbutuhkan lagi, bahkan
diinjak-injak oleh manusia tanpa ampun dan hanya dapat menerima tanpa bisa
mengeluh?
Manusia?
Kembali lagi hanya bisa
berpendapat?
Karena mereka bukan,
Tuhan pencipta alam semesta.
“Aku mohon kak!”
Aku tersadar dari
lamunanku setelah Parman sekali lagi memohon dengan paraunya.
Apa aku mampu?
__ADS_1
Sama seperti Parman,
aku juga anak ayah.
Apakah seorang anak
mampu menyakiti hati ayahnya?
Parman membuatku dilema.
“Demi ayah kita. Jangan
biarkan ayah terus dikhianati dan di bohongi oleh wanita itu.”
Kembali Parman memohon
parau padaku.
Yah?
Sepertinya egoku harus
aku buang.
Jangan hanya untuk
kebahagianku, aku membohongi laki-laki berhati malaikat itu.
“Baik… akan aku katakana
semuanya pada ayah.” Ucapku tegas setelah banyak berfikir dan menimbang.
“Tidurlah?”
Aku menyuruh Parman
untuk berbaring di kasurku, laki-laki itu butuh merilekskan badannya. Setelah ia
berbaring aku menyelimuti badannya dengan selimut dan mencium keningnya.
“Tidurlah! Jangan membebani
dirimu sendiri. Kakak akan mengurus sisanya.”
Hanya itu yang dapat ku
katakana sebagai seorang kakak untuknya. Setidaknya aku berharap kata-kata itu
dapat membuatnya bisa lebih tenang.
------------------------------
Parman telah menutup
matanya walaupun belum terlelap, aku pun berdiri dan keluar dari dalam kamarku.
Aku melangkahkan kaki ke
pintu masuk utama rumah kami untuk menuju paman yang aku tahu tengah berada di
tempat duduknya setiap salat isya berakhir.
Setelah pintu ku buka,
dan melihat keluar, seperti yang sudah ku ketahui. Paman tengah asyik mengisap
bisah juga untuk tidur.
“Paman.” Sapaku.
Pamanpun mengentikan
kegiatannya dan membalikkan badan kearahku.
“Ifa? Belum tidur toh
anak ayah?” tanya paman dengan lembut.
Aku mengangguk
mengiyakan pertanyaan paman sembari berjalan mendekati paman.
Setelah sampai di dekat
paman, aku pun ikut duduk di degu-degu kecil yang bisa memuat enam orang itu.
Aku menyandarkan
kepalaku di pundak paman sembari menghirup aroma tubuh ayah yang tak tercium
wangi sabun mandi yang paman pakai untuk mandi tadi.
“Apa ayah
membangunkanmu?”
“Tidak, aku bahkan tak bisa mendengar suara
nafas ayah dari dalam.”
“Lalu kenapa belum
tidur?”
“Aku kangen, aku hanya
ingin lebih lama bersama ayah.”
Yah, jawaban yang benar
aku rasa. Aku memang merindukan ayah. Baru sebulan aku pulang dari seram, namun
dalam sebulan itu aku jarang bercengkrama dengan paman dengan waktu yang lama. Karena
sibuk mengurusi urusan kampus sebagai calon mahasiswa baru, yang sangat menyita
waktuku. Apalagi paman juga sibuk dengan kerjanya, biasanya lembur sampai malam
dan saat pulang aku sudah tertidur.
Paman mematikan
rokoknya, dan menaruh sisa puntungnya yang masih tersisa cukup panjang ke dalam
bungkusannya lagi.
Paman memang seperti
__ADS_1
itu, paman tidak pernah merokok di depan kami. Beliau selalu mencari tempat
yang sunyi untuk merokok. Karena beliau tahu rokok tidak baik bagi kesehatan,
beliau tak ingin orang lain sakit hanya karena rokok yang di isapnya. Namun,
beliau juga tak bisa berhenti merokok walau tahu akibatnya. Karena setidaknya
rokok dapat menghangatkan hatinya yang selalu di sakiti bibi dengan ucapannya
yang kasar dan keterlaluan.
---------------------
“Maafkan ayah yang
terlalu sibuk dengan pekerjaan, sampai lupa waktu untuk sekedar bersantai
denganmu anakku.” Ucap paman sembari mengelus-elus puncuk kepalaku lembut.
Tangan paman terasa
sangat kasar, entah pekerjaan seperti apa yang membuar tangan itu tabal dan
kasar bagai sikat. Sungguh pria yang luar biasa.
“Tidak ayah, ayah
adalah yang terbaik. Maafkan aku jika telah menyakiti hati ayah dengan
perkataanku.” Ucapku.
“Tidak sayang, kamu
tidak menyakiti hati ayah. Ayah malah bersyukur bisa memilikimu dan Parman di
sisi ayah. Kalian anak ayah yang luar biasa. Pemberi semangat ayah untuk
bekerja keras.” Ucap paman sembari mendekapku dalam pelukkannya.
Aku bisa merasakan
degup jantung paman, dan membuat hatiku lebih tenang.
“Ayah jangan tingglkan
aku!” ucapku dalam dekapan paman. ‘Jangan tinggalkan aku jika mengetahui bibi telah
selingkuhi paman.’ Batinku lanjut.
“Tidak sayang, ayah
berjanji tidak akan meninggalkanmu atau membiarkanmu pergi ke Seram lagi.”
“Bukan hanya ke Seram
ayah. Tapi jangan tinggalkan aku selamanya. Biarkan aku hidup dengan ayah dan
Parman sampai tua. Biarkan aku merawat ayah di masa tua ayah nantinya.”
“Iya sayang, ayah janji,
ayah tidak akan meninggalkanmu sendiri.” Ucap paman lembut sembari kembali
mencium kepalaku.
"Ayah sangat mencintai bibi?"
"Sayang dan Cinta hanya karena Allah SWT. ayah tak ingin bibi kesusahan dalam bentuk apa pun. Bibi di amanahkan oleh ke dua orang tuanya untuk ayah sayang, jaga dan lindungi. Maka ayah harus menjaga amanah itu sampai maut menjemput ayah suatu hari nanti."
"Paman,
Bibi selingkuh paman.”
Akhirnya aku
mengucapkan kalimat itu juga, kalimat yang sudah aku tahan untuk ku ucap. Kalimat
yang ingin membuat bendungan air mataku kembali cebol.
Paman diam- tak
menjawab dan berkata sedikitpun setelah mendengar pernyataanku itu. Nafasnya
masih teratur detak jantungnya masih teratur dan tidak ada gerak-gerik untuk
marah atau yang lainnya.
“Paman……”
“Sudahlah…. Jangan membebani
pikiranmu. Yang kamu lihat bersama bibi itu adalah paman. Kamu hanya salah
lihat.” Ucap paman memotong perkataanku.
Deg….
Apakah paman sudah
mengetahui semua ini. Apa ini artinya ***‘aku tahu tapi tidak tahu’***?
(bersambung)
****************
****************
Hai Sahabat Mangatoon, terima
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.
[1]
http://www.juproni.com/2019/05/kata-kata-mutiara-tentang-takdir.html
__ADS_1