NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 9_Aku Tahu tapi Tidak Tahu_ (I)


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila


ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon


kebijaksanaannya dalam membaca yah…


Cerita ini mengandung unsur dewasa,


tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para


pembaca sekalian.


NOT WRONG DESTINY_episode 9_Aku


Tahu tapi Tidak Tahu_ (I)


Ucapan pelan namun


mengikis hatinya sendiri. Parman sampai memejamkan matanya dan membungkuk


lemah. Aku tahu, semua itu pasti terasa sangat sulit baginya. Aku tahu, semua


keinginannya yang terucap dari mulutnya tadi mengandung banyak resiko yang


sudah di timbangnya berulang kali. Aku tahu, kesedihan itu sulit terlupakan.


Apalagi saat yang


menjadi target kesedihan itu adalah pamanku- Pria istimewa kami berdua. Tentu akan


sulit dan menakutkan bagi kami.


Aku menarik nafas


panjang dan menghembuskannya- kasar. Setidaknya, hal itu dapat menjadi bantuan


untuk kelegahan hati walau tak terkikis sedikitpun dugah itu.


“Kamu yakin?” tanyaku


kemudian- untuk lebih memastikan.


Parman kembali


menegakkan badannya, dan menatapku.


“Tolong beritahu ayah! Aku


sudah cukup menahan.” Ucapnya serak- masih dalam tangisnya yang tertahan-tahan.


Takdir?


Hidup?


Manusia?


Siapa yang mengetahui?


‘aku’?


‘kamu’?


Atau


‘dia’?


Tak ada yang dapat


manjawab, tak ada yang dapat menebak.


Kematian?


Sungguhkah setelah


kematian semua di dunia akan berakhir?


Bila demikian,


Apakah ayah dan ibuku


sungguh beruntung?


Melahirkan anak dan


meninggalkan.


Membuatnya menjalani


takdir yang menyedihkan.


Aku juga pernah membaja


suatu kata bijak di sebuah situs, di mana tertulis:


‘Daun yang jatuh tak pernah menyalahkan angin. Kenapa manusia yang putus


asa selalu menyalahkan takdir?’[1]


Tulisan yang menggurui,


tapi apakah ia pernah menjadi daun? Tahukah dia daun kering itu tak bersedih


setelah terlepas dari batangnya dan terjatuh di tanah? Tahukah dia daun kering


itu tak menyalahkan angin setelah tubuhnya jatuh dan tak terbutuhkan lagi, bahkan


diinjak-injak oleh manusia tanpa ampun dan hanya dapat menerima tanpa bisa


mengeluh?


Manusia?


Kembali lagi hanya bisa


berpendapat?


Karena mereka bukan,


Tuhan pencipta alam semesta.


“Aku mohon kak!”


Aku tersadar dari


lamunanku setelah Parman sekali lagi memohon dengan paraunya.


Apa aku mampu?

__ADS_1


Sama seperti Parman,


aku juga anak ayah.


Apakah seorang anak


mampu menyakiti hati ayahnya?


Parman membuatku dilema.


“Demi ayah kita. Jangan


biarkan ayah terus dikhianati dan di bohongi oleh wanita itu.”


Kembali Parman memohon


parau padaku.


Yah?


Sepertinya egoku harus


aku buang.


Jangan hanya untuk


kebahagianku, aku membohongi laki-laki berhati malaikat itu.


“Baik… akan aku katakana


semuanya pada ayah.” Ucapku tegas setelah banyak berfikir dan menimbang.


“Tidurlah?”


Aku menyuruh Parman


untuk berbaring di kasurku, laki-laki itu butuh merilekskan badannya. Setelah ia


berbaring aku menyelimuti badannya dengan selimut dan mencium keningnya.


“Tidurlah! Jangan membebani


dirimu sendiri. Kakak akan mengurus sisanya.”


Hanya itu yang dapat ku


katakana sebagai seorang kakak untuknya. Setidaknya aku berharap kata-kata itu


dapat membuatnya bisa lebih tenang.


------------------------------


Parman telah menutup


matanya walaupun belum terlelap, aku pun berdiri dan keluar dari dalam kamarku.


Aku melangkahkan kaki ke


pintu masuk utama rumah kami untuk menuju paman yang aku tahu tengah berada di


tempat duduknya setiap salat isya berakhir.


Setelah pintu ku buka,


dan melihat keluar, seperti yang sudah ku ketahui. Paman tengah asyik mengisap


bisah juga untuk tidur.


“Paman.” Sapaku.


Pamanpun mengentikan


kegiatannya dan membalikkan badan kearahku.


“Ifa? Belum tidur toh


anak ayah?” tanya paman dengan lembut.


Aku mengangguk


mengiyakan pertanyaan paman sembari berjalan mendekati paman.


Setelah sampai di dekat


paman, aku pun ikut duduk di degu-degu kecil yang bisa memuat enam orang itu.


Aku menyandarkan


kepalaku di pundak paman sembari menghirup aroma tubuh ayah yang tak tercium


wangi sabun mandi yang paman pakai untuk mandi tadi.


“Apa ayah


membangunkanmu?”


“Tidak, aku bahkan tak bisa mendengar suara


nafas ayah dari dalam.”


“Lalu kenapa belum


tidur?”


“Aku kangen, aku hanya


ingin lebih lama bersama ayah.”


Yah, jawaban yang benar


aku rasa. Aku memang merindukan ayah. Baru sebulan aku pulang dari seram, namun


dalam sebulan itu aku jarang bercengkrama dengan paman dengan waktu yang lama. Karena


sibuk mengurusi urusan kampus sebagai calon mahasiswa baru, yang sangat menyita


waktuku. Apalagi paman juga sibuk dengan kerjanya, biasanya lembur sampai malam


dan saat pulang aku sudah tertidur.


Paman mematikan


rokoknya, dan menaruh sisa puntungnya yang masih tersisa cukup panjang ke dalam


bungkusannya lagi.


Paman memang seperti

__ADS_1


itu, paman tidak pernah merokok di depan kami. Beliau selalu mencari tempat


yang sunyi untuk merokok. Karena beliau tahu rokok tidak baik bagi kesehatan,


beliau tak ingin orang lain sakit hanya karena rokok yang di isapnya. Namun,


beliau juga tak bisa berhenti merokok walau tahu akibatnya. Karena setidaknya


rokok dapat menghangatkan hatinya yang selalu di sakiti bibi dengan ucapannya


yang kasar dan keterlaluan.


---------------------


“Maafkan ayah yang


terlalu sibuk dengan pekerjaan, sampai lupa waktu untuk sekedar bersantai


denganmu anakku.” Ucap paman sembari mengelus-elus puncuk kepalaku lembut.


Tangan paman terasa


sangat kasar, entah pekerjaan seperti apa yang membuar tangan itu tabal dan


kasar bagai sikat. Sungguh pria yang luar biasa.


“Tidak ayah, ayah


adalah yang terbaik. Maafkan aku jika telah menyakiti hati ayah dengan


perkataanku.” Ucapku.


“Tidak sayang, kamu


tidak menyakiti hati ayah. Ayah malah bersyukur bisa memilikimu dan Parman di


sisi ayah. Kalian anak ayah yang luar biasa. Pemberi semangat ayah untuk


bekerja keras.” Ucap paman sembari mendekapku dalam pelukkannya.


Aku bisa merasakan


degup jantung paman, dan membuat hatiku lebih tenang.


“Ayah jangan tingglkan


aku!” ucapku dalam dekapan paman. ‘Jangan tinggalkan aku jika mengetahui bibi telah


selingkuhi paman.’ Batinku lanjut.


“Tidak sayang, ayah


berjanji tidak akan meninggalkanmu atau membiarkanmu pergi ke Seram lagi.”


“Bukan hanya ke Seram


ayah. Tapi jangan tinggalkan aku selamanya. Biarkan aku hidup dengan ayah dan


Parman sampai tua. Biarkan aku merawat ayah di masa tua ayah nantinya.”


“Iya sayang, ayah janji,


ayah tidak akan meninggalkanmu sendiri.” Ucap paman lembut sembari kembali


mencium kepalaku.


"Ayah sangat mencintai bibi?"


"Sayang dan Cinta hanya karena Allah SWT. ayah tak ingin bibi kesusahan dalam bentuk apa pun. Bibi di amanahkan oleh ke dua orang tuanya untuk ayah sayang, jaga dan lindungi. Maka ayah harus menjaga amanah itu sampai maut menjemput ayah suatu hari nanti."


"Paman,


Bibi selingkuh paman.”


Akhirnya aku


mengucapkan kalimat itu juga, kalimat yang sudah aku tahan untuk ku ucap. Kalimat


yang ingin membuat bendungan air mataku kembali cebol.


Paman diam- tak


menjawab dan berkata sedikitpun setelah mendengar pernyataanku itu. Nafasnya


masih teratur detak jantungnya masih teratur dan tidak ada gerak-gerik untuk


marah atau yang lainnya.


“Paman……”


“Sudahlah…. Jangan membebani


pikiranmu. Yang kamu lihat bersama bibi itu adalah paman. Kamu hanya salah


lihat.” Ucap paman memotong perkataanku.


Deg….


Apakah paman sudah


mengetahui semua ini. Apa ini artinya ***‘aku tahu tapi tidak tahu’***?


(bersambung)


****************


****************


Hai Sahabat Mangatoon, terima


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.


 


 


 


 


 


 


[1]


http://www.juproni.com/2019/05/kata-kata-mutiara-tentang-takdir.html

__ADS_1


__ADS_2