NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 7_Cinta dan Penghianatan_ (I)


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila


ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon


kebijaksanaannya dalam membaca yah…


Cerita ini mengandung unsur dewasa,


tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para


pembaca sekalian.


NOT WRONG DESTINY_episode 7_Cinta


dan Penghianatan_ (I)


Hai dear, hari ini aku akan


menceritakan kisah tentang keluarga angkatku. Yaitu paman dan bibiku. Keluarga


yang sangat aku sayangi melibihi diriku.


----------------------------------------


Hari yang sudah berlalu waktu asar


dan kini akan mengisi waktu magrib- namun sang surya masih tetap menampakkan


cahayanya enggan untuk beristirahat. Hingga terik masih terasa di jalanan tanah


gusuran- jalan menuju rumahku. Jalan yang terhampar luar pasir gunung dan tak


ada pepohonan yang tumbuh di sekitar- membuat dahaga dan rasa lelah


menguras energi yang sudah 1% ini hingga lobet.


Dengan berjalan sempoyongan aku


memasuki rumah dan langsung menuju dapur menumpahkan air di cerek ke dalam


gelas dan meneguknya tanpa ampas... aku kembali mengisi gelas dengan air dan


langusng meneguknya kembali.


Dua gelas air benar-benar membantuku


-mengisi 2% batereiku. Aku harus istirahat sejenak dan makan untuk dapat


mengisihi 100% batereiku ini.


"Ahh...."


"Ahh..."


Aku sekilas mendengar erangan nikmat


samar-samar ditelingaku.


Membuatku tersadar bahwa aku masuk


ke rumh tanpa memberi salam. Habisnya pintu ke buka lebar begitu aja, aku kan


jadi masuk nyelonong gitu ajah. Soalnya lagi kesetanan kehausan super sih. Jadi


gagal fokus. Wkwkkwkw... apalagi aku sedari pagi harus hidup dengan buruk di


hari yang panjang ini.


"Ahh...."


"A..A...A..AAAHH..."


Aku kembali mendengar erangan yang


sedikit lebih kuat dari sebelumnya.


Hatiku kembali gundah. Ada apakah


gerangan? Apa bibi sakit? Kenapa ada suara desahan aneh dari kamar bibi?


Pikirku polos,


Aku akhirnya memutuskan mendekati


kamar bibi, bukan maksud untuk menguping sih, tapi aku kepo sekaligus khawatir.


Jangan sampai ada hal buruk yang terjadi pada bibi.


Aku berjalan perlahan supaya tidak


membuat bibi terganggu, tapi sebelum itu aku melihat-lihat sekeliling- mencari


pakaian kerja paman. Tapi tak tergantung di dapur- tempat biasa paman


menggantung pakaian kerjanya setelah pulang dari bangunan.


"Ahh..."


"A.. a.... a....


aaah..." 


"Lebih kuat lagi mas.."


Kali ini erangan yang ku dengar di


ikuti kalimat dari seorang wanita yang seperti meminta lebih kenikmatan itu


lagi- yang membuatku lebih bingung dengan apa yang telah terjadi.


Aku mendekati sumber suara, dan

__ADS_1


berhenti di depan kamar paman dan bibi.


"Suaranya berasal dari kamar


paman dan bibi? Tapi pamankan belum pulang?" Batinku bertanya-tanya.


Untuk lebih jelasnya aku harus


memastikan bahwa paman sudah pulang atau belum. Aku ke beranda rumah untuk


melihat sepatu boot kerja paman, namun tidak ada. Setiap paman pergi kerja,


paman selalu memakainya karena kaki paman akan terkelupas dan luka-luka dimakan


sadisnya semen dan campuran beton bangunan tempat paman mengais rejeki untuk


kami.


Aku juga kembali ke dapur untuk


melihat tempat makan paman, kalau sepatu bisa saja di pakai Parman ke luar atau


di pinjam tetangga. Namun kalau tempat makan pasti akan ada di tempat cuci


piring atau di rak piring kalau paman sudah pulang kerja. Dan ternyata nihil-


tidak ada tanda-tanda paman sudah pulang kerja.


Terus.!


 Siapakah yang berada di dalam


kamar paman dan bibi?


Aku bukanlah anak kecil yang tidak


mengerti setelah mendekati pintu kamar paman dan bibiku tadi. Suara erangan


nikmat yang tercipta dari nafsu dan cinta pasangan suami istri. Namun, jika


paman belum pulang, berarti yang ada di kamar itu bukan paman.


Lalu siapa?


Aku begitu bimbang, aku tak mau


lancang dan kurang ajar mengintip ke kamar paman dan bibi. Namun nalarku tidak


mengijinkan bila aku tidak pergi mengintip.


Dan langkah pelan dan ragu- ragu


tapi pasti aku lakukan juga, berjalan kembali ke depan pintu kamar bibi dan


paman- membuka perlahan-lahan pintu yang ternyata tidak terkunci itu.


" Benar-benar bodoh nih yang di


dalam. Melakukan hal senonoh tapi nggak hati-hati, bisa-bisanya nggak kunci


Dekkk......


Detakan jantungku yang berdetak


kencang bahkan bisa terdengar sampai ke tetangga. (Itu perumpamaan).


Kakiku seketika melemah dan tak


mampu menopang tubuhku. Lidahku kelu, aku bahkan tak bisa memekik atau sekedar


untuk berkata a.


Hatiku pilu, seperti teriris pisau


bahkan tersayat-sayat juga


Di sayat-sayat sampai berkeping-keping.


"Ahh...."


"Mas cepetan....."


"Jangan sampai suamiku pulang."


"Benar-benar fuck kalian


berdua, manusia berkelakukan binatang...." masih banyak kata-kata makian


yang batinku lontarkan.


Aku hampir tak bisa mempercayai


penglihatanku ini.


Kejam...


Wanita yang begitu kejam.


"Ahh...


aa...aa....aaaa..aaaaah." suara erengan keduanya bersatu dan terpecah


sampai titik puncak setelah lahar itu tertumpahkan hingga sunyi menghampiri.


Hari yang benar-benar melelahkan dan


panjang, hidup yang seperti di permainkan takdir.


Lucu….


Cinta dan penghianatan- terlihat

__ADS_1


jelas dalam hidupku. Apa aku tidak bisa hidup tenang?


------------------


Aku berlari meninggalkan rumah


dengan bertelanjang kaki, aku sudah tak menghiraukan diri ini lagi. Yang ada di


benak hanyalah seyum paman. Seyum kasih tulus seorang ayah dan suami yang


bertanggung jawab. Namun dengan kejam dikhianati oleh istri yang teramat di


cintainya.


“Akkkkkkkkkhhh……”


“Akkkkkkkkkhhh……”


“Akkkkkkkkkhhh……”


Teriakku sekencang-kencangnya


menumpahkan kekecewaan dalam dadaku saat sampai di tanah gusuran. Setidaknya aku


dapat berteriak disini tanpa perlu mengkhawatirkan orang lain terganggu karena


jauh dari pemukiman.


Wanita jahat!!


Tahukah dia, bahwa dia, aku dan


anaknya telah makan daging dan meminum darah paman.


Pria itu tanpa memikirkan dirinya,


bekerja keras dari buruh bangunan sampai berkebun hanya untuk kami. Bahkan saat


ia sakit, tak pernah ada waktu untuk memperdulikan dirinya sendiri.


Lalu??


Pengorbanan yang demikian itu. Apa seperti


ini cara membalasnya?


Benar-benar terkutuk kamu bibi.


Jika saja bibi bukan bibi kandungku,


aku sudah masuk ke dalam kamar tadi dan mendepaknya keluar rumah, mengusirnya


dan mencacinya sampai puas. Namun, aku yang sekarang hanya manusia munafik. Aku


takut bibiku menjadi janda, dan yang lebih ku takutkan jika aku harus


kehilangan sosok ayah lagi.


Walaupun bibi adalah bibi kandungku,


namun bibi selalu menjahatiku, memarahi dan memukuliku dengan kasar.


Tapi paman berbeda, lelaki berumur


lima puluh tahun itu mengasuhku dari bayi dengan cinta dan kasihnya seperti


anak kandungnya sendiri. Paman tak pernah membeda-bedakanku dengan anaknya


Parman. Cinta seorang ayah pada putrinya yang membuatku kuat dan bertahan untuk


hidup dari kejamnya dunia.


Hingga saat ke lulusan SMK (sekolah


menengah kejuruan) ku dua tahun lalu. Bibi dengan teganya memisahkanku dengan


paman. Menyuruhku bertani di dusun bekas ayahku di pulau Seram tepatnya di kampong


Gadong.


Paman menetang semua itu, paman


menginginkan aku langsung melanjutkan studiku bersama Parma. Namun bibi


bersikeras, dengan dalih tak mampu menguliahkan dua orang anak.


Tapi aku tahu, bibi hanya ingin


mengusirku dari kehidupan mereka. Aku mengiyakan permintaan bibi, namun aku


berjanji dalam hati akan mengumpulkan uang dan kembali lagi menemui paman yang


telah menjadi ayahku.


Dan sekarang banyangan akan


kehilangan ayah lagi membuat batinku hancur.


Tuhan!


Apakah sesingkat ini??


(bersambung)


****************


****************


Hai Sahabat Mangatoon, terima


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.

__ADS_1


 


 


__ADS_2