
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila
ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon
kebijaksanaannya dalam membaca yah…
Cerita ini mengandung unsur dewasa,
tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para
pembaca sekalian.
NOT WRONG DESTINY_episode 7_Cinta
dan Penghianatan_ (I)
Hai dear, hari ini aku akan
menceritakan kisah tentang keluarga angkatku. Yaitu paman dan bibiku. Keluarga
yang sangat aku sayangi melibihi diriku.
----------------------------------------
Hari yang sudah berlalu waktu asar
dan kini akan mengisi waktu magrib- namun sang surya masih tetap menampakkan
cahayanya enggan untuk beristirahat. Hingga terik masih terasa di jalanan tanah
gusuran- jalan menuju rumahku. Jalan yang terhampar luar pasir gunung dan tak
ada pepohonan yang tumbuh di sekitar- membuat dahaga dan rasa lelah
menguras energi yang sudah 1% ini hingga lobet.
Dengan berjalan sempoyongan aku
memasuki rumah dan langsung menuju dapur menumpahkan air di cerek ke dalam
gelas dan meneguknya tanpa ampas... aku kembali mengisi gelas dengan air dan
langusng meneguknya kembali.
Dua gelas air benar-benar membantuku
-mengisi 2% batereiku. Aku harus istirahat sejenak dan makan untuk dapat
mengisihi 100% batereiku ini.
"Ahh...."
"Ahh..."
Aku sekilas mendengar erangan nikmat
samar-samar ditelingaku.
Membuatku tersadar bahwa aku masuk
ke rumh tanpa memberi salam. Habisnya pintu ke buka lebar begitu aja, aku kan
jadi masuk nyelonong gitu ajah. Soalnya lagi kesetanan kehausan super sih. Jadi
gagal fokus. Wkwkkwkw... apalagi aku sedari pagi harus hidup dengan buruk di
hari yang panjang ini.
"Ahh...."
"A..A...A..AAAHH..."
Aku kembali mendengar erangan yang
sedikit lebih kuat dari sebelumnya.
Hatiku kembali gundah. Ada apakah
gerangan? Apa bibi sakit? Kenapa ada suara desahan aneh dari kamar bibi?
Pikirku polos,
Aku akhirnya memutuskan mendekati
kamar bibi, bukan maksud untuk menguping sih, tapi aku kepo sekaligus khawatir.
Jangan sampai ada hal buruk yang terjadi pada bibi.
Aku berjalan perlahan supaya tidak
membuat bibi terganggu, tapi sebelum itu aku melihat-lihat sekeliling- mencari
pakaian kerja paman. Tapi tak tergantung di dapur- tempat biasa paman
menggantung pakaian kerjanya setelah pulang dari bangunan.
"Ahh..."
"A.. a.... a....
aaah..."
"Lebih kuat lagi mas.."
Kali ini erangan yang ku dengar di
ikuti kalimat dari seorang wanita yang seperti meminta lebih kenikmatan itu
lagi- yang membuatku lebih bingung dengan apa yang telah terjadi.
Aku mendekati sumber suara, dan
__ADS_1
berhenti di depan kamar paman dan bibi.
"Suaranya berasal dari kamar
paman dan bibi? Tapi pamankan belum pulang?" Batinku bertanya-tanya.
Untuk lebih jelasnya aku harus
memastikan bahwa paman sudah pulang atau belum. Aku ke beranda rumah untuk
melihat sepatu boot kerja paman, namun tidak ada. Setiap paman pergi kerja,
paman selalu memakainya karena kaki paman akan terkelupas dan luka-luka dimakan
sadisnya semen dan campuran beton bangunan tempat paman mengais rejeki untuk
kami.
Aku juga kembali ke dapur untuk
melihat tempat makan paman, kalau sepatu bisa saja di pakai Parman ke luar atau
di pinjam tetangga. Namun kalau tempat makan pasti akan ada di tempat cuci
piring atau di rak piring kalau paman sudah pulang kerja. Dan ternyata nihil-
tidak ada tanda-tanda paman sudah pulang kerja.
Terus.!
Siapakah yang berada di dalam
kamar paman dan bibi?
Aku bukanlah anak kecil yang tidak
mengerti setelah mendekati pintu kamar paman dan bibiku tadi. Suara erangan
nikmat yang tercipta dari nafsu dan cinta pasangan suami istri. Namun, jika
paman belum pulang, berarti yang ada di kamar itu bukan paman.
Lalu siapa?
Aku begitu bimbang, aku tak mau
lancang dan kurang ajar mengintip ke kamar paman dan bibi. Namun nalarku tidak
mengijinkan bila aku tidak pergi mengintip.
Dan langkah pelan dan ragu- ragu
tapi pasti aku lakukan juga, berjalan kembali ke depan pintu kamar bibi dan
paman- membuka perlahan-lahan pintu yang ternyata tidak terkunci itu.
" Benar-benar bodoh nih yang di
dalam. Melakukan hal senonoh tapi nggak hati-hati, bisa-bisanya nggak kunci
Dekkk......
Detakan jantungku yang berdetak
kencang bahkan bisa terdengar sampai ke tetangga. (Itu perumpamaan).
Kakiku seketika melemah dan tak
mampu menopang tubuhku. Lidahku kelu, aku bahkan tak bisa memekik atau sekedar
untuk berkata a.
Hatiku pilu, seperti teriris pisau
bahkan tersayat-sayat juga
Di sayat-sayat sampai berkeping-keping.
"Ahh...."
"Mas cepetan....."
"Jangan sampai suamiku pulang."
"Benar-benar fuck kalian
berdua, manusia berkelakukan binatang...." masih banyak kata-kata makian
yang batinku lontarkan.
Aku hampir tak bisa mempercayai
penglihatanku ini.
Kejam...
Wanita yang begitu kejam.
"Ahh...
aa...aa....aaaa..aaaaah." suara erengan keduanya bersatu dan terpecah
sampai titik puncak setelah lahar itu tertumpahkan hingga sunyi menghampiri.
Hari yang benar-benar melelahkan dan
panjang, hidup yang seperti di permainkan takdir.
Lucu….
Cinta dan penghianatan- terlihat
__ADS_1
jelas dalam hidupku. Apa aku tidak bisa hidup tenang?
------------------
Aku berlari meninggalkan rumah
dengan bertelanjang kaki, aku sudah tak menghiraukan diri ini lagi. Yang ada di
benak hanyalah seyum paman. Seyum kasih tulus seorang ayah dan suami yang
bertanggung jawab. Namun dengan kejam dikhianati oleh istri yang teramat di
cintainya.
“Akkkkkkkkkhhh……”
“Akkkkkkkkkhhh……”
“Akkkkkkkkkhhh……”
Teriakku sekencang-kencangnya
menumpahkan kekecewaan dalam dadaku saat sampai di tanah gusuran. Setidaknya aku
dapat berteriak disini tanpa perlu mengkhawatirkan orang lain terganggu karena
jauh dari pemukiman.
Wanita jahat!!
Tahukah dia, bahwa dia, aku dan
anaknya telah makan daging dan meminum darah paman.
Pria itu tanpa memikirkan dirinya,
bekerja keras dari buruh bangunan sampai berkebun hanya untuk kami. Bahkan saat
ia sakit, tak pernah ada waktu untuk memperdulikan dirinya sendiri.
Lalu??
Pengorbanan yang demikian itu. Apa seperti
ini cara membalasnya?
Benar-benar terkutuk kamu bibi.
Jika saja bibi bukan bibi kandungku,
aku sudah masuk ke dalam kamar tadi dan mendepaknya keluar rumah, mengusirnya
dan mencacinya sampai puas. Namun, aku yang sekarang hanya manusia munafik. Aku
takut bibiku menjadi janda, dan yang lebih ku takutkan jika aku harus
kehilangan sosok ayah lagi.
Walaupun bibi adalah bibi kandungku,
namun bibi selalu menjahatiku, memarahi dan memukuliku dengan kasar.
Tapi paman berbeda, lelaki berumur
lima puluh tahun itu mengasuhku dari bayi dengan cinta dan kasihnya seperti
anak kandungnya sendiri. Paman tak pernah membeda-bedakanku dengan anaknya
Parman. Cinta seorang ayah pada putrinya yang membuatku kuat dan bertahan untuk
hidup dari kejamnya dunia.
Hingga saat ke lulusan SMK (sekolah
menengah kejuruan) ku dua tahun lalu. Bibi dengan teganya memisahkanku dengan
paman. Menyuruhku bertani di dusun bekas ayahku di pulau Seram tepatnya di kampong
Gadong.
Paman menetang semua itu, paman
menginginkan aku langsung melanjutkan studiku bersama Parma. Namun bibi
bersikeras, dengan dalih tak mampu menguliahkan dua orang anak.
Tapi aku tahu, bibi hanya ingin
mengusirku dari kehidupan mereka. Aku mengiyakan permintaan bibi, namun aku
berjanji dalam hati akan mengumpulkan uang dan kembali lagi menemui paman yang
telah menjadi ayahku.
Dan sekarang banyangan akan
kehilangan ayah lagi membuat batinku hancur.
Tuhan!
Apakah sesingkat ini??
(bersambung)
****************
****************
Hai Sahabat Mangatoon, terima
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.
__ADS_1