NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
WRONG DESTINY_episode 28_ Pertemuan Manis yang Tidak Terencana _ (II)


__ADS_3

WRONG DESTINY_episode 28_ Pertemuan Manis yang Tidak Terencana _ (II)


 


 


 


 


Degg…….


Degup jantung berbunyi kuat, kala mata ini bertemu mata dengan dirinya sang penaklut hati.


Bulat coklat mudah, dengan bulu mata panjang lurus menghiasai matanya, yang seakan mampu memalingkan dunia.


Akh,,


Risau hati, memikirkan dia belum halalku. Hingga pandangan cinta ini menjadi dosa.


Tuhan, kasihku tulus dengan mengharap ridho Mu.


Dekatkan dirinya bila ia jodoh hamba, tukarkan jodohnya dengan hamba bila ia bukan jodoh hamba.


 


 


“Sorry ya Nur!” Seru Angga yang berjalan mendekati Arman, Nike dan Nur Asyifa.


 


 


Seruan Angga masih belum membuyarkan tatapan antara Arman dan Nur Asyifa. Keduanya masih saling menatap- dalam dengan segala pemikiran masing-masing di benak.


 


 


Angga sudah sampai di samping Arman, “Maaf Nur, Sebenarnya itu salahku. Bola itu aku yang tendang, tapi sumpah! Aku ngga ada niatan untuk menendang kearah kamu.” Ucap Angga yang belum enggah dengan suasana yang tercipta.


 


 


Untuk beberapa detik setelah selesai berucap, Angga terdiam. Ia mulai memperhatikan keadaan. Tatapannya pun diarahkan pada Nike dengan kepala dan kedua alis yang terangkat pertanda untuk bertanya, apa yang telah terjadi.


 


 


Nike yang juga sedang menatap Angga, mendekatkan telunjuknya ke bibir, memberi tanda agar Angga diam dan tidak usah berbicara lagi.


 


 


Satu detik, dua detik, tiga detik sampai sepulu detik berlalu tapi ke dua sejoli itu masih belum ada yang berpaling.


 


 


----------


----------


----------


 


 


(Arman Pov)


 


 


Bukannya pandangan pertama belum termasuk dosa, maka sebelum mataku lelap menatap dan kelopak mata berkedip pertama. Aku akan terus memandangnya.


 


 


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


"Wahai Ali, jangan ikuti pandangan (pertama) dengan pandangan berikutnya. Bagimu yang pertama, namun (pandangan) berikutnya sudah bukan hakmu lagi." (HR. Tirmizi, no. 2701. Dihasankan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 7953)


 


 


---------


--------


--------


 


 


(Nur Asyifa Pov)


 

__ADS_1


 


Aku bukan tipe wanita yang mudah tertarik oleh seorang pria. Namun, untuk pertama kali aku seperti tertarik dalam pandangan pria di depan ku ini. Matanya yang bulat, di hiasi bola hitam yang pekat- menatapku penuh arti. Aku merasakan ada getaran aneh di dada. Yang aku sendiri tak tahu itu apa.


 


 


Menatap tanpa berkedip untuk beberapa saat. Sebenarnya apa yang ku harapkan dalam arti tatapan itu? Mengapa saat diri berusaha berpaling, tapi hati menghianati.


 


 


--------


-------


--------


 


 


(Author pov)


 


 


“Kakak, kenapa lama sekali!” seru seorang bocah yang tadi bermain bola bersama Angga dan Arman saat mendekati Arman, Angga, Nike dan Nur Asyifa.


 


 


Seketika Arman dan Nur Asyifa saling memalingkan pandangan mendengar seruan bocah itu dan lagi karena mata keduanya sudah mulai perih.


 


 


“Hahahha… sabar dong adik kecil.” Seru Angga yang kemudian membungkukkan badannya untuk mengambil bola di bawah kaki Nur Asyifa yang tadi terjatuh dari tangannya saat menatap Arman.


 


 


Setelah bola di tangan, Angga menegakkan badan. “Aku kesana duluan ya bro.” bisiknya pada Arman dan mulai berjalan mendekati bocah itu untuk bergabung dengan yang lainnya. Sedangkan Arman masi tersipu malu, pipinya memerah, dan mulut sudah tak sanggup berkata karena malunya.


 


 


Nike yang melihat Angga pergi, juga ikut berlari mengikuti Angga, “Aku ikut!” seru Nike.


 


 


 


 


Sama seperti terdiam saat saling menatap, kini Arman dan Nur Asyifa terdiam dengan saling berpaling. Nur Asyifa masih asyik menunduk, entah apa yang di pandangnya di bawah hingga betah terus menatap. Sedangkan Arman, juga tak kalah kikuk. Pria itu hanya menatap laut dengan kosong.


 


 


Aa aa aa aa aa aa, kabhi khushi kabhi gham


Na judaa honge hum, kabhi khushi kabhi gham


Aa aa aa, aa aa aa, aa aa aa aa


 


 


Lantunan lagu dari drama lawas India yang liris tahun 2001 itu terdengar dari hp Arman yang ada di saku celananya. Namun keduanya tak memperdulikan dan masih terdiam menikmati alunan music yang terdengar.


 


 


Meri saanson mein tu hai samaaya


Mera jeevan to hai tera saaya


Meri saanson mein tu hai samaaya


Mera jeevan to hai tera saaya


Teri pooja karoon main to har dam


Yeh hai tere karam, kabhi khushi kabhi gham


Na judaa honge hum, kabhi khushi kabhi gham


Meri saanson mein tu hai samaaya


Mera jeevan to hai tera saaya


Teri pooja karoon main to har dam


Yeh hai tere karam, kabhi khushi kabhi gham

__ADS_1


Na judaa honge hum, kabhi khushi kabhi gham


 


 


Pertengahan lagu, Arman tersadar bahwa lagu itu merupakan nada dering hpnya yang baru saja jam 11 siang lalu di aturnya sebagai nada panggilan masuk. Ia pun segera meraih hp di sakunya dan mengangkat panggilan itu yang ternyata dari sang kakak.


 


 


“Man, semuanya berakhir.” Ucap lirih dari seberang membuka percakapan pertama.


 


 


“Assalamu’alaikum kak, apanya yang berakhir?” Tanya Arman ambigu.


 


 


“Dia bukan jodohku Man. Ana bukan tercipta dari tulang rusuk ku.” Jawab Karman lirih.


 


 


“Jangan bicara seperti itu kak. Ucapan itu doa!”


 


 


“Itu kenyataannya. Kakak tak bisa bahagia, diatas penderitaan banyak orang. Terlalu sakit bila harus mempertahankan hubungan yang rapuh ini. Apa gunanya lima tahun bersama, bila terpisah juga. Kenapa harus bertemu bila tak bisa bersama. Sungguh lucu kan dek? Hubungan yang tanpa status halal, hanyalah layangan yang akan putus juga bila talinya telah rapuh. Bantu kakak melupakan dia dek. Hilangkan rasa ini, yang menusuk jiwa.” Ucap dari seberang dengan panjang lebar. Mencurahkan isi hati dan kesedihannya.


 


 


Arman tidak tahu apa yang telah terjadi pada hubungan kakaknya dengan Ana sekarang. Apa mungkin kak Ana menerima perjodohannya dan meninggalkan kakaknya? Entalah, semua masih tanda Tanya. Yang terpenting sekarang, kakaknya butuh dia. Maka ia harus segera menemui sang kakak.


 


 


“Dek, maaf. Kakak harus segera pergi. Assalamu’alaikum.” Ucap Arman dan berlalu meninggalkan Nur Asyifa.


 


 


-----------------------------


 


 


Memandang punggungnya yang tegap berlari menjauh dariku, membuat hati sedikit terusik.


Ada getar dan tanda Tanya, karena dirinya pergi tanpa tahu kata. Aku menunggu ucapan sedari tadi.


Tetapi hanya salam perpisahan yang aku terima.


Apa salah bila hati menuntut? Ingin lebih di perhatikan dan terprioritas.


Lucu, hati! Kamu yang bermain api melawan tubuh. Maka kamulah yang akan terbakar dan merasakan sakitnya.


Camkan itu!


 


 


“Fa! Armand an Angga mau kemaba?” Tanya Nike yang sudah kembali ke tempat Nur Asyifa berdiri sedari tadi, yang membuat lamunan Nur Asyifa lenyap.


 


 


“Bukan urusanku.” Jawab Nur Asyifa datar.


 


 


Nike hanya menatap Nur Asyifa heran. Apa yang terjadi pada mereka berdua setelah kepergiannya dan Angga. Kenapa Nur Asyifa bisa begitu datar menanggapi Arman yang terlihat kebingungan saat pergi tadi.


 


 


Tak ada yang bisa menjawab isi pikirannya selain Nur Asyifa dan Arman sendiri. Tapi jika menanyakan tentang itu pada Nur Asyifa sekarang, tasanya kurang pas. Hanya akan mendapat tanggapan dingin darinya.


 


 


“Kita kembali yuk! Udah jam setengah empat, entar lagi bakal Ashar.” Ucap nur Asyifa dan berjalan tanpa menunggu jawaban Nike.


 


 


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2