NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 32_ Cinta? Keberadaannya Tak Terduga _ (II)


__ADS_3

NOT WRONG DESTINY_episode 32_ Cinta? Keberadaannya Tak Terduga _ (II)


 


 


 


 


Seminggu sudah Nur Asyifa telah berkulaih, hari-hari yang dilewatinya masih sama. Menjadi terasing di kelas bahkan satu kampus.


 


 


Hari pertama di jaili dengan dirinya yang di suru duduk di kursi yang kanyanya sudah rusak, alhasil ia terjatuh dan kesakitan. Hari kedua, di kunci di wc yang joroknya minta ampun. Ia bahkan sampai muntah-muntah dan pingsan. Sampai akhirnya Parman dan Nike menemukannya dan membantunya. Hari ketiga, ia di siram dengan lumpur di sekujur tubuhnya secara tiba-tiba dan tak bisa dihindarinya. Hari keempat sepatunya di rusak sampai tak bisa di pakai lagi. Hari kelima, tasnya hilang dan tak pernah di temukannya dimanapun.


 


 


Ada apa dengan semua ini? Penyiksaan ini terjadi karena dirinya dianggap sebagai wanita jalang. Wanita yang telah menjual tubuhnya dan mengguna-guna Arman dan Parman. Dua pria terpopuler di Poknik.


 


 


Namun semua kejadian yang menimpanya, tidak ia permasalahkan. Tetapi hari ini adalah peristiwa yang paling menyakitinya. Hari senin, hari pertama kembali memasuki kuliah setelah sabtu dan minggu libur.


 


 


Sepatu baru yang diberikan pamannya, dari uang gaji lemburannya selama seminggu kemarin kembali di rusak oleh orang yang tak di ketahuinya.


 


 


Wanita itu terduduk lemas, tubuhnya bergetar menahan amarah dan kesedihan yang telah memuncak. Ditatap dengan senduhnya sepatu yang telah terpotong-potong itu.


 


 


Dengan memukul-mukul dadanya sendiri, ia menahan sesak yang menghantam. Air mata tanpa diperintah telah mengalir. Di depan mushola itu ia telah terisak dengan pilu dan tidak memikirkan lagi tatapan orang- yang menatapnya mengejek.


 


 


--------


--------


--------


 


 


(Arman pov)


 


 


Hari ini aku lagi-lagi bekerja sampai lupa waktu, waktu zuhur hampir berlalu. Aku segera melangkahkan kaki secepat mungkin untuk dapat melaksanakan kewajiban singkatku itu.


 


 


Namun kenapa di depan mushola tumben-tumbennya banyak mahasiswa yang berlalu lalang dengan tawa-tawa mengejek tersungging di bibir mereka. Apa ada kejadian lucu?


 


 


Aku penasaran sih, tapi yang lebih penting aku harus melaksanakan shalat dulu. Dengan pasti aku melangkahkan kaki menuju mushola.


 


 


Deg…


 

__ADS_1


 


Jantungku berdegup kencang dan mata ini terbelalak. Aku dengan sangat jelas melihat sosok yang ku rindukan selama seminggu ini. Namun, bukannya bahagia, hatiku malah terasa di tusuk-tusuk oleh pedang tajam. Begitu sakit dan menyiksa. Air mata kesedihan, isak tangisnya, dan tubuhnya yang bergetar membuatku membeku- menatapnya sedih.


 


 


Kesakitannya terasa pada diriku, dia adalah Nur Asyifa. Gadis yang telah mencuri hatiku dan mengubah duniaku hanya ada untuknya kini telah menangis pilu di hadapanku.


 


 


Entah setan apa yang merasuki, aku segera mendekati dan mendekapnya dalam dekapanku. Membiarkan air matanya membasahi dadaku. Dekapanku membuat tangisnya pecah, mungkin dia memang sedang menanti tempat untuk menyalurkan kesedihannya ini. Untuk beberapa detik berlalu menjadi menit, aku tetap membiarkannya mengeluarkan semua kesedihan itu.


 


 


---------


---------


---------


 


 


(Nur Asyifa pov)


 


 


Ya Allah, apa salah dan dosaku pada mereka yang tega merusak sepatu ini. Sepatu yang di beli dari darah ayah, sepatu yang penuh dengan keringat ayah. Sepatu yang ada dengan ayah menahan lapar.


 


 


Kini semua itu sia-sia. Siapa yang bisa aku salahkan? Bagaimana dengan ayah? Bagaimana perasaan ayah melihat sepatu ini telah di rusak?


 


 


 


 


Aku begitu frustasi dan hancur, hanya air mata yang dapat aku teteskan. Namun, tak beselang lama aku merasakan kehangatan dekapan seseorang. Begitu hangat, dan teduh. Dadanya begitu membuat nyaman. Aku seperti di perintahnya untuk menumpahkan kesedihan itu dalam dekapannya. Dan sedetik kemudian, air mata itu jebol dari bendungannya membanjiri dada itu.


 


 


Aku merasakan elusan kasih yang hangat di belakang kepala. Sama seperti elusan kasih yang sering ayah berikan padaku saat sedih. Begitu nyaman membuatku terasa dihipnotis untuk lebih tenang.


 


 


“Apakah sudah lebih?” suara baritone itu terdengan bertanya dengan penuh perhatian dan lirih padaku.


 


 


Aku hanya mengangguk pelan dan tak berniat beranjak dari dada itu. aku masih menikmati harum mint yang terhendus penciumanku. Benar-benar membuat rileks.


 


 


---------


---------


---------


 


 


Kebersamaan Arman dan Nur Asyifa berakhir setelah Parman dengan suara bassnya memekik kaget melihat Nur Asyifa yang telah barada dalam dekapan Arman.


 

__ADS_1


 


“Ya Allah Fa! Pekik Parman.


 


 


Arman segera melepas tangannya yang membelai rambut Nur Asyifa, dan Nur Asyifa segera melepas dekapan Arman.


 


 


Mata Nur Asyifa terbelalak melihat kenyataan bahwa yang di pelukkan tadi adalah Arman bukan Parman. Pantas harum tubuh dan suaranya sedikit berbeda.


 


 


Kemudian dengan segera ia memalingkan pandangannya pada Parman yang telah menatapnya intens.


 


 


“Apa yang terjadi Fa?” tanya Parman setelah Nur Asyifa menatapnya dan dengan jelas ia melihat mata Nur Asyifa yang bengkak dengan hidung yang memerah, air mata juga masih penuh di pipinya.


 


 


Laki-laki itu segera membungkuk dan memeluk saudaranya itu. kini amarahnya telah menjadi kesedihan. Betapa sangat murkanya bila ia melihat gadis yang sangat di kasihinya ini mengeluarkan air mata. Apa lagi sudah sampai parah seperti ini.


 


 


Masih mendekap Nur Asyifa, Parman menatap Arman dengan tatapan membunuh. Arman menggeleng, memberi jawaban bahwa bukan dirinya penyebab kesedihan Nur Asyifa sekarang ini.


 


 


Mendapat jawaban dari Arman, Parman melepaskan dekapannya pada Nur Asyifa, laki-laki itu menahan kedua pipi Nur Asyifa, “siapa yang membuatmu menangis?” tanyanya lirih namun dengan amarah yang ditahan.


 


 


Nur Asyifa kembali meneteskan air matanya, “sepatuku rusak Man.” Ucapnya lirih tanpa menjawab pertanyaan Parman.


 


 


“Itu adalah sepatu baru pemberian ayah kemarin.” Lanjutnya lirih.


 


 


Parman dan Arman menatap sepatu itu, sepatu kets itu telah terpotong menjadi sepuluh bagian.


“Siapa yang berani melakukan ini!” seru Parman geram.


 


 


Arman juga terlihat geram dan kesal, tangannya mengumpal menahan amarah. Ia berjanji akan mencari dalam dari semua perbuatan ini. Dan akan di beri hukuman berkali-kali lipat, hingga dia sendiri merasa malu telah terlahir di dunia ini.


 


 


Kedua yang perhatian pada Nur Asyifa, dan kekesalah serta amarah melihat wanita itu teraniaya, membuat beberapa pasang mata yang mengintai merasa semakin kesal dan menggila.


 


 


‘TUNGGU SAJA SERANGAN YANG LAINNYA, WANITA JALANG’


 


 


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2