
NOT WRONG DESTINY_episode
12_Keajaiban Puisi_ (II)
Dan
sialnya ternyata ibu tidak ada di kamar melainkan sudah ada tepat di belakang
ayah dan,
“Ayah
mau ngapain ngendap-ngendap?”
Bukannya
kaget, malah hanya mengumpat dalam hati, “Ahh.., sial. Batal deh kejutannya.”
Namun
tiba-tiba ayah langsung di berikan ilham oleh yang kuasa, dengan segera ayah
langsung aja menjulurkan sebuket bungan lili di hadapan ibu sembari berkata.
“Angelina
Khumairah Sidik, wanita halal pria bernama Jamaludin ini untuk dunia dan
akhirat. Maukah engkau memaafkan suamimu ini?”
Ibu
menatap ayah- lekat, dengan mata beningnya yang terlihat mulai bergumpal
kristal bening, ibu mengambil buket bunga itu.
Setelahnya
ibu langsung membaca kertas pesan yang ada di buket bunga, dan akhirnya kristal
bening yang awalnya hanya menggumpal- tertumpah ruah juga.
Ibu
meneteskan air mata harunya sembari berkata, “Jamaludin, pria halal Angelina
Khumairah Sidik. Aku sebagai istri memaafkan dan juga mencintaimu- lebih-
karena Allah SWT.”
Setelah
mendengar perkataan ibu, ayah pun berdiri dan langsung memeluknya.
“Janji,
ngga boleh ngerokok lagi setelah ini yah?” ucap ibu dalam dekapan ayah.
“Ayah
janji bu, ayah tobat menyakiti hati bidadari ayah ini.”
Dan
berakhirlah cerita sedih ayah. Sekarang ayah hanya punya cerita indah bersama
wanita ayah.
“Wah…. Cerita yang luar
biasa mengharukan yah ayah!”
Deg….
Arman dan Jamaludin
tersentak mendengar suara seorang wanita yang familiar dari belakang mereka.
Wanita itu kemudian berjalan dan berdiri di depan bapak anak tersebut.
“Eh, ibu.” Sapa Arman
cengengesan.
“Sudah selesaikah
kisahnya?” tanya Angelina sembari diikuti alis kirinya yang terangkat.
“Hehehehhe… udah bu.”
Ucap Jamaludin- malu-malu. Dan Arman hanya seyum-seyum tanpa suara.
“Ayah ini, kenapa duduk
menceritakan kisah pada anak. Arman capek yah baru pulang kampus, suru makan
dulu kek, tanya udah sholat apa belum kek, suru solat kalau belum. Atau suru
anak beristirahat kek.” Omel Angelina.
“Ibu... ayah….”
“Ibu, Arman lapar.
Berikan makan dong untuk anakmu ini.” Celetuk Arman manja memotong perkataan
ayahnya.
Jamaludin melihat
tingkah anaknya itu dengan ketus yang di buat-buat, “Dasar penjilat.” Batinnya
berkata sembari terkekeh geli.
“Aduh anakku sayang,
udah lapar ternyata. Ayo kita makan!” ucap Angelina denga kasih sembari
memasang wajah perang pada suaminya.
Arman berdiri dari
duduknya dan mendekap sang ibu dari belakang. Di hirupnya aroma tubuh sang ibu
yang sangat di sukainya. Ibunya tak suka memakai parfum, namun entah mengapa tubuh
ibunya memiliki aroma harum yang menyejukkan hati bila ia menghirupnya.
------------------------
Setelah selesai
menyantap makan malam dari sang ibu- Arman langsung pamit ke kamarnya untuk
beristirahat.
Di dalam kamar, Arman
menaruh tas di dalam lemari khusus tas, dan mengganti pakaiannya dengan baju
tidur. Ia juga pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan menggosok
__ADS_1
gigi. Setelah aktifitas bersih-memberisihkan selesai- di rebahkannya tubuh di
atas ranjang dan mengatur posisi senyaman mungkin untuk siap terlelap dalam
keheningan malam.
Namun matanya enggan
untuk terpejam, pikirannya kini melayang mengingat sosok wanita- Nur Asyifa.
Wanita
itu entah mengepa mengetuk pintu hati, melihat kesedihan di pelupuk matanya
membuat diri menjadi kacau.
Dia
wanita pertama yang menarik jiwa- ingin mengetahui lebih dalam.
Ketidak
berdayaannya menjadikan diri ingin memopangnya- menjadi tiang penguat dalam
dirinya.
Kasihan,
hal itu yang terbesik hari ini untuk meyakinkan diri bahwa karena kasihanlah
hingga jiwa ini menjadi sedih dengan kesedihannya.
Krek……
Pintu kamar Arman
terbuka dan diikuti sosok Karman yang masuk dari luar hingga membuat Arman
tersadar dari lamunannya.
“Belum tidur my younger
brother?” tanya Karman seraya menutup pintu kamar dan berjalan menuju Arman.
“Belum kak, masih belum
ngantuk.”
“Thanks yah My younger
brother. Makasih sudah memberi ide lamaran yang luar biasa. Makasih juga dengan
puisinya.” Ucap Karman sembari mendekap Arman dalam pelukkannya dengan lembut.
“Ihh, mellow banget
sih. Ngga cocok kale sama tipikal kakak yang songong.” Seru Arman- bercanda.
“Kamu nih aneh. Di jahilin
ngeyel, di baikin apalagi- lebih ngeyel.” Ketus Karman sembari melepas
pelukkannya.
“So, apa ada kabar
baik?” tanya Arman- menggoda- diikuti alisnya yang naik turun.
Wajah Karman memerah,
pria itu tak dapat menyembunyikan kebahagian serta kegugupannya saat ini.
Dan Arman yang sudah
bahwa hal baik kini telah terjadi.
“Lamarannya di terima.”
Ucap Karman- pelan dan malu-malu.
“Hahahhhaa… kak, kapan
kakak berubah jadi pria culun gini?” celetuk Arman tak dapat menahan tawa
melihat tingkah kakaknya yang menjadi pria pemalu.
“Sial kamu, tunggu aja
nanti saat kamu jatuh cinta. Kakak yakin kamu bakal lebih bodoh dari kakak
nantinya.” Ucap Karman ketus.
“Hahahhaha… ngga
mungkin kak, Arman ngga mungkin mencintai wanita sampai segitunya. Yang ada tu
wanita yang bakal mohon-mohon dengan bodohnya untuk aku cintai.”
“Kamu bukan Tuhan,
jangan mendahulukan ucapan dari takdir. Syirik tu namanya.”
“Ihh, apaan sih kakak
ini. Orang cuman bercanda doang.”
“Bercanda sih bercanda.
Tapi jangan lupa juga, setiap ucapan tu doa. Dan terkadang Tuhan suka
membalikkan setiap ucapan umatnya yang suka bercanda.”
“Iya pak ustad,
tau-tau. Maafkan muridmu ini yang telah salah dalam bertindak dan berucap.”
Ucap Arman sembari membungkukkan badan- menyembah.
“Hahahhahha….. gila
you.” Seru Karman- tertawa.
---------
--------
--------
Krekk…..
Pintu kamar Arman
terbuka dari luar dan sosok Agnes- adik perempuannya terlihat memasuki kamar.
“Kak Karman, ngapain
aja di sini. Kak Ana udah mau pulang.” Ocehnya dengan ketus.
“Ya elah, bohong aja
kamu. Kak Ana tuh mau nginap di sini. Di kamar kamu, tidur bareng kamu.”
__ADS_1
Celetuk Karman.
“hehehhe…. Habisnya kak
Karman masuk kamar kak Arman ngga ngajak-ngajak adek. Adek kan juga mau dengar
apa yang kakak-kakak bicarakan.” Ucap Agnes- cengir karena ketahuan bohong
namun dengan manja.
Agnes mendekati ke dua
kakaknya itu dan duduk diantara keduanya.
“Kak Karman sama kak
Arman lagi ngomongin apa?” tanyanya antusias.
Arman mendekati adiknya
itu dan berbisik di telinganya, “Kak Karman lagi ceritain adek yang suka
ngompol saat kecil bahkan sampai udah kelas delapan. Jadi, kak Karman takut,
jikalau saja nanti adek ngompol saat tidur bareng kak Ana. Kan nanti Kak Karman
bakal malu. Jadi, kak Ana ngga bakal mau nikah deh sama kak Karman yang punya
adek tukang ngompol.”
Karman yang bisa
mendengar bisikan Arman pada Agnes langsung melemparkan bantal pada wajah
Arman.
“Gila…..”
Belum sempat Karman
melanjutkan perkataannya, Agnes telah berteriak dan menangis.
“Ibu…… ibu…… ibu…...,
nga.a.a.a.a.aaa..aaa (suara menangis) kak Karman jahat.”
Agnes turun dari kasur
dan langsung berlari menemui sang ibu.
“Gila yah you? Masi
suka aja bikin nangis Agnes. Tu bocah adek you tauu.” Celetuk Karman- heran
melihat Arman yang sudah menjahili Agnes.
“Habisnya Agnes lucu, bikin
mewek tu anak gampang banget. Sudah tau sering di kerjai, masih aja percaya
omonganku.”
“Entar you tau rasa.
Pas ibu datang, habis you di jewer sampai tu kuping terlepas.”
“Hahahhaha…..” tawa
mereka bersama-sama.
-------------------------------
Dan tak menunggu waktu
lama, Angelina, Ana dan Agnes sudah berada di kamar Arman. Dengan tatapan marah
yang di buat-buat Angelina berkata,
“Senang yah ngerjain
adek kalian terus?”
“Sih Arman tu Bu.” Seru
Karman
“Arman apa kamu mas?”
tanya Ana
“Hah, ngga lah. Aku
mah, ngga ngapa-ngapain Agnes. Nih bocah yang ngedumel sembarangan tadi sama
Agnes.” Bela Karman
“Boong, kak Karman yang
cerita adek di belakang. Bilang adek tukang ngompol.” Seru Agnes kesal.
Angelina, Arman, Ana
dan Karman menahan tawa mereka sebisa mungkin. Agnes yang polos sangat gampang
di kerjai. Padahal anak itu udah kelas dua belas. Masih aja seperti bocah SD pola
pikirnya.
“Kakak-kakak harus
minta maaf sama Agnes bu. Kak Karman minta maaf karena sudah ceritain aib
Agnes. Dan kak Arman harus minta maaf karena sudah dengerin cerita aib Agnes.”
Ucapnya meminta keadilan.
Sekali lagi keempat
orang yang berada di dalam kamar bersama Agnes- berusaha menahan tawa mereka
mendengan ucapan Agnes barusan.
“Cepat kakak berdua
minta maaf sana!” suru Angelina yang sudah tak sanggup menahan tawa.
Dengan wajag angkuh
Agnes menatap ke dua kakaknya. Kini ia menang, ibu selalu ada di pihaknya.
Hingga ia tidak gampang di tindas ke dua kakaknya yang suka mengumbar aibnya
itu.
“Maafkan kami tuan
Putri Agnes.” Ucap Karman dan Arman bersamaan.
(Besambung)
Hai Sahabat Mangatoon, terima
__ADS_1
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.