NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 3_Arman_Pov (I)


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila


ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon


kebijaksanaannya dalam membaca yah…


Cerita ini mengandung unsur dewasa,


tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para


pembaca sekalian.


NOT WRONG DESTINY_episode


3_Arman_Pov (I)


Kata orang-orang, aku


dulu adalah laki-laki romantic. Selalu ada syair indah menuju setiap fajar dan


senjaku. Karena bagiku kata-kata adalah doa dengan keindahannya sendiri di setiap


kalimat pengucapnya.


Aku yang memiliki


keluarga lengkap yang masih hidup, dari nenek, kakek, ayah, ibu, kakak


laki-laki dan adik perempuan merasa nikmat Allah SWT sungguh tiada tara pada


hidupku. Kebahagiaan yang tidak dapat terlukis dengan kata-kata.


Di kampus aku juga


memiliki kedudukan yang bagus, aku berhasil menjadi ketua dewan mahasiswa


selama dua periode berturut-turut dari tahun 2012-2013.


Hingga, takdir


mempertemukanku dengan seorang wanita yang salah. Wanita yang….. jujur- aku


mencintainya- karena akhlak serta sifatnya yang penuh perhatian. Namun,


kekejamannya menghancurkan hatiku hingga melululantahkan kemanusiaanku.


Laki-laki yang


romantic- hilang. Kini yang terlihat, hanya laki-laki arogansi dan kejam pada


setiap wanita. Aku tahu, mereka nggak salah. Tapi aku sudah terlalu buta oleh


kesakitan yang ditanam wanita itu.


Dan inilah awal kisahku……………………..


-----------------------------------


Tok.. tok… tok….


“Assalamu’alaikum…”


terdengar ketokkan pintu diikuti suara salam dari seseorang yang kemudian


membuka pintu itu sendiri.


“Maaf


mengganggu ketua dewan, tetapi bisakah anda pergi ke ruangan auditorium?” Tanya


pria itu padaku yang sedang duduk di kursiku- langsung saat ia masuk ke dalam


ruangan dewan mahasiswa. Pertanyaan yang seperti permintaan darinya.


“Siapa


kamu?”


Belum


sempat aku menjawab, Arianti- sekretaris dewan mahasiswa sudah bertanya perihal


siapa dirinya.


“Saya


mahasiswa semester empat jurusan akuntansi.” Jawab pria itu.


“Ada


perlu apa memanggil ketua ke ruang auditorium? Kamu bukan anak HMJ kan?” Tanya


lagi Arianti.


“Saya


bukan anak HMJ, tetapi saya juga senior di kampus ini. Dan saat saya melihat


suatu kesalahan senior yang lainnya, maka saya perlu melaporkannya pada ketua.


Karena hanya ketua yang mampu mengurus anak-anak HMJ yang berlaku seenaknya.”


“Kamu


jangan finah yah. Ini kampus kita, mahasiswa-mahasiswa yang berada disini.


Orang-orang berpendidikan, mana mungkin berlaku yang tidak sepantasnya.” Seru


Arianti kesal.


“Kalau


kamu tidak percaya, silahkan mengecek sendiri. Dan kamu bisa lihat


manusia-manusia berpendidikanmu itu.” Tantang pria itu pada Arianti.


“Kamu


berani sama saya!! Bentak Arianti kesal.


“Saya


cuman takut sama Allah SWT. Bukan manusia, manusia hanya perlu di hormati.


Namun tergantung pribadi manusia itu sendiri.”


Aku


melihat wajah Arianti sudah nampak murka, namun malu juga sih. Karena kata-kata


pria itu benar adanya. Ngapain takut sama manusia, kita tuh hanya perlu takut


sama Allah SWT. Tuhan pencipta langit dan bumi dengan segala isinya, termasuk

__ADS_1


manusia. Akhirnya aku angkat bicara- agar mereka tidak berdebat hingga


suasananya lebih memanas.


“Maaf


saya memotong percakapan kalian.” Ucapku pada mereka.


“Saya


ingin bertanya pada kamu,” aku menunjuk pria itu. “Coba ceritakan dengan


seditailnya padaku tentang apa yang kamu lihat di ruangan auditorium itu?


Karena setahuku, senior yang bukan HMJ atau dewan, dilarang masuk ke sana saat


masa OSPEK berlangsung.” Ucapku lanjut padanya.


“Ketua


tidak perlu mendengar ocehan laki-laki tidak jelas ini. Ia hanya mengarang


indah saja ketua.” Arianti masih bersekukuh dengan pemikirannya sendiri.


Aku


memandangi Arianti dengan tatapan mengintimindasiku- membuat wanita itu


tertunduk- diam. Aku adalah tipe pemimpin dan laki-laki yang tidak suka di


bantah perkataannya jika aku ingin mendengar pendapat orang lain. Bagiku,


setiap orang berhak berpendapat, menjawab atau bertanya sesuai keinginannya.


Dan mereka juga tidak harus, bersikukuh jika pendapat, jawaban ataupun


pertanyaan mereka di bantah atau tidak di jawab oleh orang yang mendengar.


-----------------------------------


Pria


itu pun mulai menceritakan kejadian di ruang auditorium itu sesuai penglihatan


dan pendengarannya.


“Awalnya saya main ke ruang auditorium itu


hanya untuk mengecek sepupu saya. Ia juga masuk jurusan akuntansi, sama seperti


saya. Namun, karena sepupu saya yang memiiki rupa yang standar tapi bagi mereka


sepupu saya sangat jelek. Hingga mereka menghinanya. Kata-kata tidak pantas


mereka katakana padanya.


“Hai


dekil, berdiri kamu!”


“Hai


kamu, maba perempuan terjelek di tahun ini- apa kamu tuli!”


“Kamu


tuli!! Aku manggil kamu dari tadi!!


“Kamu


Kata-kata itu membuat saya ingin


menegur ketua HMJ akuntansi yang berkata. Namun, saya urungkan niat itu. Saya


tidak punya kuasa disana, jika saya melawan hanya akan mempersulit sepupu saya.”


“Makanya,


saya membutuhkan bantuan ketua. Ketua orang yang bijak, pasti akan


menyelesaikan masalah ini tanpa memihak.” Tuturnya padaku setelah menyelesaikan


ceritanya itu.


“Siapa


namamu?” tanyaku padanya.


“Parman.”


“Baik


Parman, sesuai permintaanmu saya akan pergi ke ruang auditorium itu. Namun,


saya tidak akan langusung percaya kata-katamu seutuhnya. Saya akan memastikan


kebenaran di setiap ucapanmu. Jika kamu terbukti benar, maka saya akan menegur


ketua HMJ itu. Namun, jika kamu berbohong, maka kamu akan mendapat hukumanmu


sendiri dari saya. Ucapku tegas.


“Aku


siap dengan hukuman apapun yang nanti aku terima, jika memang semua yang aku katakan


adalah kebohongan.” Jawabnya tegas.


Aku


bisa melihat kejujuran dari mata laki-laki itu, bagaimana kekhawatiran pada


sepupunya,  dan kesedihannya karena


ketidak berdayaannya hingga nekat menemuiku.


“Biarkan


saya yang pergi kesana ketua?” pinta Arianti padaku.


“Saya


akan pergi melihatnya sendiri.” Ucapnya lagi.


Aku


melihat wajah wanita itu, kejengkelan masih nampak jelas di raut wajahnya. Aku menarik


nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


“Biarkan


saya yang pergi kesana, kamu urus urusan yang disini saja.” Ucapku padanya.

__ADS_1


“Tapi


laki-laki ini yang menantang saya ketua, saya akan membuktikan omong kosongnya


itu adalah kebohongan. Dan dia akan merasakan akibatnya nanti.” Lirikkan sinis


dilontarkan Arianti pada Parman.


“Kamu


jangan mendahulukan jawabanmu dulu dari masalah yang belum kamu ketahui


kebenarannya. Karena jika jawabanmu itu salah, dan kebenarannya adalah


perkataan saya- kamu sendiri yang akan malu.”


Jlebb….


Ucapan Parman bagai tamparan hangat yang langsung meleset pada pipi Arianti. Wanita


itu makin kesal dan ingin rasanya melumat pria itu dengan matanya yang melotot


tajam.


Huff,,


mereka berdua ini, baru saja ketemu udah seperti Tom and Jerry. Mungkin, ini


awal jodoh kali yah. Wkwkwkkw…


Aku


yang melihat mereka berdebat, malah merasa sangat terhibur. Seorang wanita dan


seorang laki-laki yang tidak ingin mengalah dan dikalahkan. Saling beradu argument,


menunjukkan kemapuan-kemampuan terbaiknya.


“Emang


kenapa kalau saya sudah punya jawabannya sebelum melihat. Kamu jangan sok


pintar, asal kamu tahu yah saya ini sekretaris dewan mahasiswa.”


Parman


terseyum mengejek, “Kamu kalau ngomong jangan pakai otot, tapi pakai otak dong.


Saya tidak sok pintar yah, karena kalau saya pintar. Maka saya tidak perlu


belajar dan menjadi mahasiswa di kampus ini. Saya akan langsung jadi dosen. Dan


mahasiswa seperti kamu,” ucapnya sambil menunjuk Arianti. “langsung akan saya


kasih nilai TL dimata kuliah saya.” Ucapnya kembali.


“Kamu


kurang ajar. Kamu tuh manusia atau bukan sih?!” bentak Arianti.


“Kamu,


jangan pakai urat dong. Santai aja, slow- kaya dipantai.”


Wahhh…


anjret, kata-kata Parman santai tapi bikin si Arianti naik pitam. Wanita berparas


cantik dengan lesung pipi di kedua pipinya itu langsung melemparkan pena yang di pegangnya ke


badan Parman.


Gokil,


aku yakin nih, si Parman emang ada unsur kesengajaan buat bikin si Arianti


marah. Soalnya wanita itu kalau marah, bikin laki-laki tambah senang untuk


ngerjain dia. Wkwkwkwk, aku ngomong udah kaya playboy cap kadal yang banyak


pasangannya aja nih. Padahal satupun belum. Bukannya nggak laku, tapi malas


pacaran, pengennya kenal langsung nikah. Supaya pacaran pas nikah kan lebih


asyik, mau gimana-gimana pun nggak takut dosa.


Wuusss…


aku udah ngelantur samapai mana nih… balik Man, balik. Jangan mikir kejauhan. Mikirin


dulu nih dua sejoli yang pada berantem. Sejoli bukan cinta sih, wkwkwkwk.


“Ehmm.”


Aku berdehem dengan kuat.


Pas,


saat mendengar aku berdehem keduanya berhenti berargumen.


“Kalian


berdua menganggap saya yang disini itu apa?” yah… aku nanya sok berwibawa. Supaya


ni dua orang nggak lanjutin cecok yang nggak jelas.


Mereka


menundukkan kepala- diam.


“Kalau


kalian merasa benar, pintar dan hebat. Tidak perlu kuliah disini. Ini kampus


bukan pasar. Kalau mau tawar menawar ke pasar sana.” suru ku pada mereka.


“Maaf


ketua.” Jawab mereka bersamaan.


Tuh


kan, mereka tuh pasti jodoh yang belum bertemu. minta maaf aja bisa barengan.


(bersambung)


***********


***********


Hai Sahabat Mangatoon, terima


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.

__ADS_1


__ADS_2