NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 26_ Masih Bersamanya _ (II)


__ADS_3

Semua memiliki caranya sendiri dalam mengungkapkan sayang, itu juga berlaku padaku.


Ketika, kata sulit terucap karena sudah sering dan tak terdengar.


Aku memakai tindakan yang keluar dari nalar, menghancurkan hati untuk untuk mengajari.


Kerasanya hidup, jangan terlalu lemah. Tidak ada yang melihat dan membantu.


Kamu sendiri, aku sendiri, walau seberapa dekat diri ada waktu kesendirian menyelimuti.


Ingat sahabat, kerasnya hidup perlu di tantang. Busungkan dada dan teriaklah !


“Aku tidak lemah!! Kamu yang meremehkan adalah lemah!! Karena iri mencari jalan menyakiti. Namun itulah kesalah, karena kelemahan itu sudah terlihat. Dan aku akan tertawa bangga!”


 


 


 


NOT WRONG DESTINY_episode 26_ Masih Bersamanya _ (II)


 


 


 


 


"Apa yang kau harapkan Fa? Dunia itu kejam?! jangan naif sahabat! Kenaifan hanya akan menjadikanmu manusia rendah yang akan gampang tersakiti!" Seru Nike.


 


 


“Pandang aku Ke! Katakan apa yang hatimu ingin katakana padaku?” suru Nur Asyifa.


 


 


Nike menatap Nur Asyifa, kini tatapannya telah berubah lirih. “Aku ingin kau jadi wanita yang seperti ini Fa! Bila di hina orang lain kau harus melawan! Tak masalah jika memakai kekerasan. Yang penting harga dirimu tidak di injak-injak Fa.” Ucap Nike menggebu-gebu.


 


 


“Menurutmu apa itu harga diri?” tanya Nur Asyifa menatap Nike dalam.


 


 


“Bagiku, harga diriku adalah kamu Fa! Kamu menyatukan perbedaan kita tanpa memandangku rendah, keluargaku saja tak menyukai diriku yang barbar ini. Tapi kamu yang orang lain saja, malah merangkulku dalam keterpurukkan. Asal kamu tahu Fa, aku sangat sedih dan sakit hati melihat kau di hina dan disakiti oleh Aryan. Aku juga sangat tak suka dengan tatapan mahasiswa lainnya yang seakan merendahkan dirimu.” Ucap Nike lirih.


 


 


Nur Asyifa terseyum simpul, ia mendekatkan diri pada Nike dan mengibaskan tangannya membersihkan tubuh Nike dari pasir pantai yang menempel.


 


 


“Fa! Kamu marah pada tindakanku?” tanya Nike lirih.


 


 


“Menurutmu?” Tanya Nur Asyifa balik.


 


 


“Walaupun kau marah, aku tak peduli. Aku hanya ingin memberitahu dan mengajarimu untuk membalas orang yang menyakiti hatimu dengan caraku.” Ucap Nike lirih.


 


 


“Aku tahu. Kamu selalu seperti itu. Ucapanmu selalu bertolak belakang dengan hati, Kebaikkan yang terucap dengan kasar menjadikan kesalah pahaman bagi orang yang tak paham.” Ucap Nur Asyifa.


 


 


Setelah Nur Asyifa meresa tubuh Nike sudah tidak terlalu di penuhi pasir, ia kembali merapikan rambut Nike yang telah acak-acakkan karena perbuatannya itu.


 


 


“Kenapa kamu tak marah dan membenciku seperti orang lain? Kenapa kamu tak salah paham seperti yang lain? Kenapa dulu kamu mau berteman dengan gadis barbar yang di benci seluruh sekolah?” tanya Nike meminta jawaban.


 

__ADS_1


 


Nur Asyifa kembali tersyum simpul, “kenapa bertanya? Apa bersahabat denganmu butuh alasan?” tanya Nur Asyifa balik.


 


 


“Tapi kita kan berbeda? Apa kamu tak merasa risih di guncing karena berteman dengan orang yang berbeda kepercayaan dengamu dan juga merupakan wanita liar?” tanya Nike balik.


 


 


“Apa yang mengguncing itu tahu, kalau wanita liar dan barbar itu orang yang penuh perhatian padaku? Apa mereka tahu juga, bahwa wanita barbar dan gila itu sangat menyayangiku dan memperlakukanku sebagai ratu. Tak perduli betapa aku membuatnya kesal, pergi tak memberi kabar sampai menghitung tahun, namun perhatian dan kasih sayangnya tak pernah hilang dan selalu menganggapku yang terpenting. Semua itu belum tentu bisa di berikan orang yang mengguncing itu padaku.” Tutur Nur Asyifa.


 


 


“Kamu mau aku memberitahu alasanku mendekatimu dan menjadikanmu sahabatku dulu?” tanya Nur Asyifa kemudian.


 


 


“Ya.” Jawab Nike cepat.


 


 


Nur Asyifa mendekatkan bibirnya ke telinga Nike dan berbisik, “Karena kau terlihat kesepian. Aku melihat semuanya, di balik kejahatan dan kekasaran yang kamu perlihatkan dulu, ada sosok tersembunyi disana untuk mencari suatu perhatian. Makanya aku selalu mendekatimu, dan kamu terlihat kesal tapi tak menghindar ataupun mengusir.”


 


 


Nur Asyifa kembali menjauh dari telinga Nike, “Malah kamu terlihat senang dalam kekesalan itu. benar-benar gadis naïf.” Ucap Nur Asyifa menggoda.


 


 


Wajah Nike seketika memerah malu, “Siapa bilang? Aku sangat kesal saat kamu dengan terseyum mendekatiku. Selalu mengikutiku dan perhatian, sungguh mengganggu. Tapi aku tak bisa mengusirmu karena kasihan.” Elak Nike.


 


 


“Ya… ya… ya… terserah apa kata Nike aja deh. The important thing is that Nike is happy, Nur Asyifa will also be happy.” Ucap Nur Asyifa dengan seyuman.


 


 


 


 


“Iya benar, tidak bisa mengusir karena kasihan yang bahagia karena ada sahabat yang perhatian.” Seru Nur Asyifa seyum.


 


 


“Ya, kamu menang. Aku memang bahagia kamu perhatian padaku. Tak perduli seberapa sering aku kasari dan membentakmu, kamu terus terseyum tulus padaku. Memberikan perhatian kecil terus menerus sampai aku terbiasa, dan sulit meninggalkanmu. Benar-benar menyebalkan.” Ucap Nike kesal tapi terlintas kebahagiaan.


 


 


“Ya, karena walaupun kamu gadis barbar dan liar. Tapi kamu kaya. Walau sering memarahiku, kamu tak mempermasalahkan gadis miskin ini untuk mengambil jajananmu yang enak-enak itu. jadi, aku tak perduli bila kamu marahi aku. Yang penting makanan enak.” Ucap Nur Asyifa dengan ekspresi ngiler yang dibuat-buat.


 


 


“Dasar, gadis matre!” seru Nike seyum.


 


 


“Ya, aku matre sama kamu aja. Karena kamu gadis bodoh, yang senang di beri perhatian murah tapi memberikan imbalan mewah padaku.” Ucap Nur Asyifa menggoda.


 


 


---------------------------------


 


 


“Man, apa yang terjadi di dalam?” tanya Angga.


 

__ADS_1


 


“Maaf, sudah membuatmu susah.” Ucap Arman tanpa menjawab pertanyaan Angga.


 


 


“Tak Apa, tapi apa yang sudah terjadi padamu? Kenapa kamu jadi kerasukan setan kaya tadi? Ngga bisa kontrol emosi dan menggila memukuli Aryan sampai membabi buta.” Ucap Angga.


 


 


Arman menatap langit siang yang biru bersih tanpa ada awan yang terlihat. “Entahlah, aku juga bingung dengan perasaanku sekarang. Apa aku akan seperti dulu lagi? Menyukai sampai menyayangi lebih.” Ucap Arman ngelantur.


 


 


“Menyukai? Kamu menyukai Nur Asyifa?” tanya Angga menatap Arman dalam.


 


 


Arman menurunkan pandangannya dari menatap langin dan mulai menatap setiap kendaraan yang melintas di jalan raya.


 


 


“Apa aku menyukai Nur Asyifa Ngga?” tanya Arman tanpa menjawab pertanyaan Angga.


 


 


Huss…


 


 


Angga mendengus keras, “Kamu sungguh menyukai Nur Asyifa ya. Aku harap dia wanita baik yang tak akan membuat sahabatku ini sakit hati. Karena bila itu terjadi, aku sendiri yang akan membuat perhitungan dengannya.” Ucap Angga.


 


 


“Ternyata kamu memang sangat mengerti aku. Angga, apa Nur Asyifa wanita yang baik?” tanya Arman yang kembali menatap langit.


 


 


“Dia tipemu, jadi aku rasa dia wanita yang baik. Mengajinya juga sangat indah, menenangkan hati yang mendengar. Makanya, itu pasti yang membuatmu tertarik padanya.” Tutur Angga.


 


 


“Iya, ngajinya sangat menenangkan hati. Dan juga kebaikkannya sangat tulus pada orang lain. Wanita yang sangat mengasihi anak yatim, bukan hanya karena memberi sedikit uang. Tapi kasih sayang dalam bentuk perhatian diberikan dengan tulus.” Ucap Arman dengan seyum yang mengembang di bibirnya.


 


 


“Wah, aku tak pernah melihat dan mendengar kau memuji seorang wanita sampai seperti itu. Nur Asyifa benar-benar telah mengubahmu.” Ucap Angga menggoda.“Dia bisa memainkan emosimu, kadang marah, kadang terseyum bodoh.” Ucapnya menggoda lagi.


 


 


“Kamu udah liat manusia melayang ke jalan raya tidak?” tanya Arman kesal yang sudah memandang Angga seperti harimau lapar.


 


 


“Hahahhaa…. Maaf bro, bercanda.” Seru Angga dan berdiri dari duduknya. “Rujak yuk! Natsepa.” Ajak Angga sembari menaikkan alisnya.


 


 


“Ok.” Ucap Arman setuju dan berdiri dari duduknya.


 


 


Mereka berdua memakai helem dan menaiki sepeda motor masing-masing menuju Natsepa untuk menikmati pemandangan pantai seraya ditemani rujak Natsepa yang menggugah selerah.


 


 


 

__ADS_1


 


(Bersambung)


__ADS_2