
NOT WRONG DESTINY_episode
11_Keajaiban Puisi_ (I)
Setelah bergelut dengan
berbagai pekerjaan dan masalah yang yarus di selesaikannya sedari pagi sebagai
ketua dewan mahasiswa Poknik Negeri Ambon- Arman akhirnya dapat beristrirahat
di rumahnya setelah pulang selepas Isya.
Perjalanan ke rumah
tidak memerlukan waktu lama menggunakan sepeda motornya. Setelah sampai depan
pintu rumahnya- Arman pun memberi salam.
“Assalamu’alaikum, nek,
kek, ma, pa Arman pulang.”
“Wa’alaikum salam my
boy love’u.” jawab ayahnya- Jamaludin dengan riang.
“Ayah kelihatan senang
banget?” tanya Arman mendekati Jamaludin yang tengah duduk sendiri di sofa
ruang tamu.
Wajah Jamaludin sekilas
memerah- mendengar pertanyaan anaknya itu. Ia memang laki-laki yang gampang
ketahuan tingkahnya mau senang ataupun sedih.
“Weh…. Weh…. Weh…..
berjalan lancer nih proses minta maafnya.” Ucap Arman menerka- sembari ikut
duduk di sofa.
Sekali lagi wajah
Jamaludin kembali memerah. Tebakan Arman sangat benar. Ia sudah mendapat maaf
sang istri setelah mengikuti instruksi anaknya Arman siang tadi melalui
messagenya.
Jamaludin menganggukkan
kepalanya sembari berucap, “He.. he.. he, iya may boy.”
“Wah….. ceritakan dong
ayah proses minta maafnya!” pinta Arman dengan antusias.
“Kamu ngga lelah may boy?
Istirahat aja sana!” ucap Jamaludin mengalihkan topic pembicaraan.
Ia yang mengetahui
bahwa anaknya Arman adalah tipe orang yang penasaran. Maka jika, ia
menginginkan sesuatu untuk di ketahui tetapi tidak ada yang memberitahunya, ia
akan penasaran sampai memohon-mohon untuk di ceritakan. Oleh sebab itu,
Jamaludin ingin sedikit menggoda anaknya itu. “Kamu harus ayah goda dikit yah
my boy, soalnya tadi kamu sempat nolak permintaan ayah. Hehehe.” Batin
Jamaludin.
“Haa… apaan sih yah,
Arman ngga lelah, ngga cape sama sekali. Ayo caritakan yah! Please!”
Seperti yang Jamaludin
harapkan. Anaknya itu akan memohon padanya.
“My boy, kamu masuk
kamar dan istirahatlah! Kapan-kapan ayah akan ceritakan kisahnya padamu.” Ucap
Jamaludin sok berwibawa.
Arman tersenyum simpul
melihat tingkah ayahnya itu. “Mau main tarik ulur rupanya ayah denganku. Ok,
ngga mau kasi tahu aku, maka aku buat untuk cerita sendiri tanpa aku minta.”
Batin Arman. Arman ternyata telah mengetahui rencana ayahnya itu.
“Yah udah ayah. Aku tanya
ibu saja. Bagaimana proses ayah minta maaf pakai puisi buatanku itu.”
Yes…
Ngena deh Jamaludin.
Ucapan Arman
membalikkan keadaan,
“Apaan sih my boy? Mau
bikin ayah di ngambekin ibu lagi?” ketus Jamaludin.
“Udah tau ayah gampang
di kalahin, ngapain ngotot mau main tarik ulur denganku.” Ucap Arman bangga.
Jamaludin pun memasang
wajah cemberut yang di buat-buatnya, sebenarnya ia juga tahu bahwa ia tidak
akan bisa menang jika menandingi kecerdikan anak ke duanya itu.
“Yah udah, ayah ngaku
kalah deh. Ayah akan ceritain kisahnya.”
-------------------------
__ADS_1
Pada
tengah hari yang panas dalam kekuasaan sang surya, ayah mengayunkan ‘rindu’
(nama sepeda kumbang Jamaludin) menyusuri jalanan panjang dari Poka (desa
tempat tinggal mereka) menuju Rumah Tiga (nama desa lain yang terdapat pasar
dan toko-toko).
Terik
kala itu membuat dahaga tak tertahan…..
“Kenapa ayah ngga
mampir beli minum?” tanya Arman memotong cerita ayahnya yang baru pembukaan
awal.
“Ampun, makanya
dengarin dulu ceritah ayah sampai selesai baru nanya. Ayah pergi beli minum
tau.” Ketus Jamaludin.
Arman hanya terseyum
simpul, alasan ia sangat ingin ayahnya sendiri yang menceritakan proses meminta
maaf pada ibunya adalah karena semua ini. Ayahnya pasti akan membuat cerita
karangannya yang indah sendiri, dan Arman sangat senang untuk mendengar itu
sedari kecil. Apalagi melihat ekpresi ayahnya yang kesal jika ia bertanya di
sela cerita. Dan saat ayahnya sudah mulai bercerita, maka bagaimana caranya pun
ayahnya itu harus dapat menyelesaikan ceritanya dan harus di dengar sampai
selesai olehnya. Hal itu yang membuat Arman tambah menggebu-gebu aliran
darahnya untuk menggoda ayahnya.
“Ayah lanjut yah.”
Terik
kala itu membuat dahaga tak tertahan, hingga ayah memutuskan untuk membeli
sebotol aqua dingin di warung bu Tin.
“Aqua
sebotol berapa bu Tin?”
“Lima
ribu bapak Karman (panggilan Jamaludin di luar rumah, di ambil dari nama anak
pertamanya- Karman).”
“Wah,
jaman sekarang udah pada mahal-mahal yah. Sebotol air aja udah lima ribu. Dulu ,jaman
saya belasan tahun, lima ribu tuh udah bisa beli emas sepuluh gram yang dua
puluh tiga karat. Hahahhahha…”
jamankan terus maju pak. Dulu nyari duit serupiah aja susa. Pantaslah nilai
uang berharga. Sekarang, nyari duit udah sedikit lebih gampang, duduk aja di
jalanan pasar udah dapat duit dari yang lewat-lewat. Makanya nilai uang juga
jadi ngga terlalu berharga.
“Benar
bu Tin, dulu dan sekarang sangat berbeda.”
“Wah, dulu seberharga
itukah uang? Lima ribu udah dapat emas, luar biasa.” Ucap Arman kagum memotong
cerita ayahnya.
Jamaludin melihat
anaknya dengan mata yang melotot dan kembali melanjutkan ceritanya. Dan Arman
hanya dapat terseyum simpul.
“Mau
pergi kemana bapak Karman tengah hari bolong gini?”
“Mau
menunjukkan perjungan cinta. Saya kembali jalan dulu yah bu Tin.”
Ayah
kembali melanjutkan perjalan itu dengan mengayuh Rindu kembali. Bermeter-meter
ayah tempuh, berton-ton keringat bercucuran. Ini perjungan cinta,
mendapatkannya butuh perjuangan, mempertahankannya penuh perjuangan.
Mobil-mobil
dan sepeda motor yang berlalu lalang seperti mengejek rindu yang bijaksana…...
“Apa hubungannya rindu
di ejek mobil dan motor sama perjuangan perjalanan ayah?” tanya Arman bingung.
“Kalau di potong lagi
cerita ayah, ayah akan berhenti cerita yah.” Ketus Jamaludin.
“Iya, maaf ayah. Kan
hanya penasaran.” Celetuk Arman seyum-seyum masang.
“Ayah lanjutkan
ceritanya lagi nih.”
Mobil-mobil
__ADS_1
dan sepeda motor yang berlalu lalang seperti mengejek rindu yang bijaksana,
mereka membunyikan kenalpot dengan bising,
“Rindu,
kamu adalah istimewa. Jangan sedih karena tak ada kenalpot bising terpasang di
tubuhmu. Kamu ramah lingkungan, kamu sehat dan tak bikin polusi udara. Ingat
itu.” Ucap ayah menguatkan rindu dan kami melanjutkan kembali perjalanan itu.
Dan
setelah berjuang akhirnya berhasil. Kami telah sampai di pasar rumah tiga. Ayah
memarkirkan rindu di depan toko bunga indah. Setelah itu ayah masuk ke dalam
toko.
“Asslamu’alaikum
bos…. Bunga lili sengar ada ngga?” tanya ayah pada seorang laki-laki- karyawan
sekaligus pemilik toko bunga indah.
“Wa’alaikum
salam bos, bunga lili yang segar banyak bos. Mau berapaan?”
“Mau
sebuket cantik dong, untuk my honey halalku bos.”
“Ok,
siap.”
“Tunggu
bentar yah bos. Di tata dulu bunganya.”
“Ok
bos, dan tolong di masukin sama kertas pesan berisi ‘keajaiban puisi’ ini yah!”
“Siap
bop. Istrinya pasti klepek-klepek deh.”
“Hahahhahahhaha…”
tawa kami bersama.
Tak
lama kemudian buket bunga liliku siap. Dan oh no! di luar sang surya sedang
terseyum. Jika ayah keluar, maka layulah kesegaran lili ini.
Tuhan…..
“Kenapa
tak terpikirkan untuk memakai mobil tadi.” Gerutu ayah yang ternyata di dengar
sang pemilik toko bunga indah.
“Santai
bos, saya antarkan pakai mobil toko. Gratis, untuk pelanggan tetap.”
“Benarkah?
Thanks bos.”
Dan
akhirnya ayah di antar dengan mobil bak terbuka toko bunga indah. Rindu di
tarus di belakang dan ayah duduk di depan.
Mabil
melaju dengan gesitnya dan tak lama kami sampai di depan rumah sesuai arahan
jalan yang ayah berikan. Ucapan terima kasih ayah sempaikan dengan seyum.
“Bos,
terima kasih yah udah atar saya.”
“Sama-sama
boa. Semoga sukses. Saya balik dulu yah bos, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum
salam.”
Setelah
mobil itu melaju, ayah memarkirkan rindu kembali ke parkiran rumah. Setelah itu
ayah masuk ke dalam rumah.
Di
ruang nonton terlihat kakek dan nenek sedang asyik menunton filem Indian. Nenek
terlihat menggebu-gebu marahnya ketika sang pemeran utama di tindas. Tak lama
nenek menangis, melihat pemeran utama bersedih. Dan kakek hanya
menggeleng-geleng kepala melihat ekspresi nenek yang sedang nonton itu.
Ayah
melewatkan ke harmonisan orang tua ayah, dan melaju ke kamar ayah dan ibu. Ayah
menaruh buket bunga lili itu di depan pintu kamar sembari mengetuk pintu. Dan
sialnya ternyata ibu tidak ada di kamar melainkan sudah ada tepat di belakang
ayah…….
(bersambung)
*********
*********
__ADS_1
Hai Sahabat Mangatoon, terima
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.