NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 11_Keajaiban Puisi_ (I)


__ADS_3

NOT WRONG DESTINY_episode


11_Keajaiban Puisi_ (I)


Setelah bergelut dengan


berbagai pekerjaan dan masalah yang yarus di selesaikannya sedari pagi sebagai


ketua dewan mahasiswa Poknik Negeri Ambon- Arman akhirnya dapat beristrirahat


di rumahnya setelah pulang selepas Isya.


Perjalanan ke rumah


tidak memerlukan waktu lama menggunakan sepeda motornya. Setelah sampai depan


pintu rumahnya- Arman pun memberi salam.


“Assalamu’alaikum, nek,


kek, ma, pa Arman pulang.”


“Wa’alaikum salam my


boy love’u.” jawab ayahnya- Jamaludin dengan riang.


“Ayah kelihatan senang


banget?” tanya Arman mendekati Jamaludin yang tengah duduk sendiri di sofa


ruang tamu.


Wajah Jamaludin sekilas


memerah- mendengar pertanyaan anaknya itu. Ia memang laki-laki yang gampang


ketahuan tingkahnya mau senang ataupun sedih.


“Weh…. Weh…. Weh…..


berjalan lancer nih proses minta maafnya.” Ucap Arman menerka- sembari ikut


duduk di sofa.


Sekali lagi wajah


Jamaludin kembali memerah. Tebakan Arman sangat benar. Ia sudah mendapat maaf


sang istri setelah mengikuti instruksi anaknya Arman siang tadi melalui


messagenya.


Jamaludin menganggukkan


kepalanya sembari berucap, “He.. he.. he, iya may boy.”


“Wah….. ceritakan dong


ayah proses minta maafnya!” pinta Arman dengan antusias.


“Kamu ngga lelah may boy?


Istirahat aja sana!” ucap Jamaludin mengalihkan topic pembicaraan.


Ia yang mengetahui


bahwa anaknya Arman adalah tipe orang yang penasaran. Maka jika, ia


menginginkan sesuatu untuk di ketahui tetapi tidak ada yang memberitahunya, ia


akan penasaran sampai memohon-mohon untuk di ceritakan. Oleh sebab itu,


Jamaludin ingin sedikit menggoda anaknya itu. “Kamu harus ayah goda dikit yah


my boy, soalnya tadi kamu sempat nolak permintaan ayah. Hehehe.” Batin


Jamaludin.


“Haa… apaan sih yah,


Arman ngga lelah, ngga cape sama sekali. Ayo caritakan yah! Please!”


Seperti yang Jamaludin


harapkan. Anaknya itu akan memohon padanya.


“My boy, kamu masuk


kamar dan istirahatlah! Kapan-kapan ayah akan ceritakan kisahnya padamu.” Ucap


Jamaludin  sok berwibawa.


Arman tersenyum simpul


melihat tingkah ayahnya itu. “Mau main tarik ulur rupanya ayah denganku. Ok,


ngga mau kasi tahu aku, maka aku buat untuk cerita sendiri tanpa aku minta.”


Batin Arman. Arman ternyata telah mengetahui rencana ayahnya itu.


“Yah udah ayah. Aku tanya


ibu saja. Bagaimana proses ayah minta maaf pakai puisi buatanku itu.”


Yes…


Ngena deh Jamaludin.


Ucapan Arman


membalikkan keadaan,


“Apaan sih my boy? Mau


bikin ayah di ngambekin ibu lagi?” ketus Jamaludin.


“Udah tau ayah gampang


di kalahin, ngapain ngotot mau main tarik ulur denganku.” Ucap Arman bangga.


Jamaludin pun memasang


wajah cemberut yang di buat-buatnya, sebenarnya ia juga tahu bahwa ia tidak


akan bisa menang jika menandingi kecerdikan anak ke duanya itu.


“Yah udah, ayah ngaku


kalah deh. Ayah akan ceritain kisahnya.”


-------------------------

__ADS_1


Pada


tengah hari yang panas dalam kekuasaan sang surya, ayah mengayunkan ‘rindu’


(nama sepeda kumbang Jamaludin) menyusuri jalanan panjang dari Poka (desa


tempat tinggal mereka) menuju Rumah Tiga (nama desa lain yang terdapat pasar


dan toko-toko).


Terik


kala itu membuat dahaga tak tertahan…..


“Kenapa ayah ngga


mampir beli minum?” tanya Arman memotong cerita ayahnya yang baru pembukaan


awal.


“Ampun, makanya


dengarin dulu ceritah ayah sampai selesai baru nanya. Ayah pergi beli minum


tau.” Ketus Jamaludin.


Arman hanya terseyum


simpul, alasan ia sangat ingin ayahnya sendiri yang menceritakan proses meminta


maaf pada ibunya adalah karena semua ini. Ayahnya pasti akan membuat cerita


karangannya yang indah sendiri, dan Arman sangat senang untuk mendengar itu


sedari kecil. Apalagi melihat ekpresi ayahnya yang kesal jika ia bertanya di


sela cerita. Dan saat ayahnya sudah mulai bercerita, maka bagaimana caranya pun


ayahnya itu harus dapat menyelesaikan ceritanya dan harus di dengar sampai


selesai olehnya. Hal itu yang membuat Arman tambah menggebu-gebu aliran


darahnya untuk menggoda ayahnya.


“Ayah lanjut yah.”


Terik


kala itu membuat dahaga tak tertahan, hingga ayah memutuskan untuk membeli


sebotol aqua dingin di warung bu Tin.


“Aqua


sebotol berapa bu Tin?”


“Lima


ribu bapak Karman (panggilan Jamaludin di luar rumah, di ambil dari nama anak


pertamanya- Karman).”


“Wah,


jaman sekarang udah pada mahal-mahal yah. Sebotol air aja udah lima ribu. Dulu ,jaman


saya belasan tahun, lima ribu tuh udah bisa beli emas sepuluh gram yang dua


puluh tiga karat. Hahahhahha…”


jamankan terus maju pak. Dulu nyari duit serupiah aja susa. Pantaslah nilai


uang berharga. Sekarang, nyari duit udah sedikit lebih gampang, duduk aja di


jalanan pasar udah dapat duit dari yang lewat-lewat. Makanya nilai uang juga


jadi ngga terlalu berharga.


“Benar


bu Tin, dulu dan sekarang sangat berbeda.”


“Wah, dulu seberharga


itukah uang? Lima ribu udah dapat emas, luar biasa.” Ucap Arman kagum memotong


cerita ayahnya.


Jamaludin melihat


anaknya dengan mata yang melotot dan kembali melanjutkan ceritanya. Dan Arman


hanya dapat terseyum simpul.


“Mau


pergi kemana bapak Karman tengah hari bolong gini?”


“Mau


menunjukkan perjungan cinta. Saya kembali jalan dulu yah bu Tin.”


Ayah


kembali melanjutkan perjalan itu dengan mengayuh Rindu kembali. Bermeter-meter


ayah tempuh, berton-ton keringat bercucuran. Ini perjungan cinta,


mendapatkannya butuh perjuangan, mempertahankannya penuh perjuangan.


Mobil-mobil


dan sepeda motor yang berlalu lalang seperti mengejek rindu yang bijaksana…...


“Apa hubungannya rindu


di ejek mobil dan motor sama perjuangan perjalanan ayah?” tanya Arman bingung.


“Kalau di potong lagi


cerita ayah, ayah akan berhenti cerita yah.” Ketus Jamaludin.


“Iya, maaf ayah. Kan


hanya penasaran.” Celetuk Arman seyum-seyum masang.


“Ayah lanjutkan


ceritanya lagi nih.”


Mobil-mobil

__ADS_1


dan sepeda motor yang berlalu lalang seperti mengejek rindu yang bijaksana,


mereka membunyikan kenalpot dengan bising,


“Rindu,


kamu adalah istimewa. Jangan sedih karena tak ada kenalpot bising terpasang di


tubuhmu. Kamu ramah lingkungan, kamu sehat dan tak bikin polusi udara. Ingat


itu.” Ucap ayah menguatkan rindu dan kami melanjutkan kembali perjalanan itu.


Dan


setelah berjuang akhirnya berhasil. Kami telah sampai di pasar rumah tiga. Ayah


memarkirkan rindu di depan toko bunga indah. Setelah itu ayah masuk ke dalam


toko.


“Asslamu’alaikum


bos…. Bunga lili sengar ada ngga?” tanya ayah pada seorang laki-laki- karyawan


sekaligus pemilik toko bunga indah.


“Wa’alaikum


salam bos, bunga lili yang segar banyak bos. Mau berapaan?”


“Mau


sebuket cantik dong, untuk my honey halalku bos.”


“Ok,


siap.”


“Tunggu


bentar yah bos. Di tata dulu bunganya.”


“Ok


bos, dan tolong di masukin sama kertas pesan berisi ‘keajaiban puisi’ ini yah!”


“Siap


bop. Istrinya pasti klepek-klepek deh.”


“Hahahhahahhaha…”


tawa kami bersama.


Tak


lama kemudian buket bunga liliku siap. Dan oh no! di luar sang surya sedang


terseyum. Jika ayah keluar, maka layulah kesegaran lili ini.


Tuhan…..


“Kenapa


tak terpikirkan untuk memakai mobil tadi.” Gerutu ayah yang ternyata di dengar


sang pemilik toko bunga indah.


“Santai


bos, saya antarkan pakai mobil toko. Gratis, untuk pelanggan tetap.”


“Benarkah?


Thanks bos.”


Dan


akhirnya ayah di antar dengan mobil bak terbuka toko bunga indah. Rindu di


tarus di belakang dan ayah duduk di depan.


Mabil


melaju dengan gesitnya dan tak lama kami sampai di depan rumah sesuai arahan


jalan yang ayah berikan. Ucapan terima kasih ayah sempaikan dengan seyum.


“Bos,


terima kasih yah udah atar saya.”


“Sama-sama


boa. Semoga sukses. Saya balik dulu yah bos, assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum


salam.”


Setelah


mobil itu melaju, ayah memarkirkan rindu kembali ke parkiran rumah. Setelah itu


ayah masuk ke dalam rumah.


Di


ruang nonton terlihat kakek dan nenek sedang asyik menunton filem Indian. Nenek


terlihat menggebu-gebu marahnya ketika sang pemeran utama di tindas. Tak lama


nenek menangis, melihat pemeran utama bersedih. Dan kakek hanya


menggeleng-geleng kepala melihat ekspresi nenek yang sedang nonton itu.


Ayah


melewatkan ke harmonisan orang tua ayah, dan melaju ke kamar ayah dan ibu. Ayah


menaruh buket bunga lili itu di depan pintu kamar sembari mengetuk pintu. Dan


sialnya ternyata ibu tidak ada di kamar melainkan sudah ada tepat di belakang


ayah…….


(bersambung)


*********


*********

__ADS_1


Hai Sahabat Mangatoon, terima


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.


__ADS_2