NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 24_ Bersama Sahabat Seharian _ (II)


__ADS_3

NOT WRONG DESTINY_episode 24_


Bersama Sahabat Seharian _ (II)


(Nur Asyifa POV)


Untuk pertama kalinya


aku memaki saat melihat bibi berselingkuh dengan pacarnya di kamar paman, dan


untuk pertama kalinya aku di maki oleh Aryan karena kesalahan yang tak ku


lakukan. Apakah ini rasanya? Sakit terasa amat di dalam dada.


Mungkin kebanyakkan orang


akan menganggap ku alay atau lebay, hanya kerena makian aku sampai terpuruk.


Tapi yang orang anggap ‘hanya’ itu, sangat menusuk hati bagi ku.


Memaki saja terasa


keluh di lidah dan sakit di hati, apalagi di maki. Seharusnya aku berdiri dan


melabrak Aryan. Yah, aku harus melakukannya. Menjadi baik, bukan berarti harus


di injak harga dirinya. Karena aku hanya punya diri ini yang dapat ku beri


harga, jadi setidaknya aku harus menghadapi orang-orang yang tega memaki ku.


Aku menguatkan diri,


dengan paksa aku berdiri dari duduk dan melangkah berjalan keluar kantin untuk


menemui Aryan.


Namun suasana di sana


riuh, terlihat kerumunan mahasiswa laki-laki yang tak ku kenal. Ada juga


beberapa perempuan yang melihat dari jauh. Dari pendengaran singkat ku melalui


penuturan seorang wanita pada teman wanitanya  yang baru datang juga dan langsung kepo, yang tak jauh dari tempat ku


berdiri bahwa Aryan ternyata sedang di pukuli oleh kak Arman.


Tapi aku tak perduli


tentang mengapa kak Arman memukili Aryan, yang aku pedulikan saat ini, adalah


di kerumunan laki-laki itu ada Aryan disana. Aku segera melangkah maju dan


memasuki kerumunan. Saat aku melihat Aryan, tanpa basa basi aku langsung


menamparnya.


PLAKK..


Tamparan hangat ku


sematkan pada pipi Aryan, laki-laki itu kemudian menatap ku tajam. Ia menahan


pipinya bekas tamparan ku, dan dengan cepat ia mau membalas menampar ku. Namun


tertahan tangannya oleh kak Arman yang ku lihat menatapnya tajam.


“Jangan berani kau


sentuh dia!!!” bentak Kak Arman pada Aryan.


Aku memalingkan pandang


ku lagi pada Aryan. Mukanya terlihat penuh amarah dan kekesalan.


“Kamu bisa menghina


atau merendahkan ku! Tapi jangan pernah memaki ku Aryan! Aku tak akan


membiarkan mulut kotormu itu untuk dapat memaki ku sesukamu!” ucap ku lirih


yang tak dapat menahan amarah hingga derai air mata membasahi pipi.


“Dasar lemah, kenapa


tak bisa marah tanpa air mata? Kalau begini, mereka akan memandang remeh dirimu


Nur Asyifa.” Batinku menggerutu pada diri sendiri.


----------------------------------


(Author POV)


Nike yang kalut pergi


meninggalkan Nur Asyifa yang dipikirnya sudah berubah. Ia kecewa dengan sikap


Nur Asyifa yang terang-terangan membela Aryan yang sudah merendahkan Nur Asyifa


sendiri.


“Dasar bodoh, kenapa


sifatmu itu tidak pernah berubah!” gumam Nike kesal.


Yah, walaupun ia


mengatakan Nur Asyifa telah berubah, tapi nyatanya tidak. Ia tahu sahabatnya


itu memiliki hati yang terlalu lemah dan baik. Hingga terlihat bodoh dan


gampang di buli.


Huss…


Nike mendengus, ia


menarik nafas berat dan menghembuskannya kasar. Setidaknya ia perlu melakukan


hal itu beberapa kali, untuk dapat menenangkan hati dan pikirannya.


“Seharusnya aku tidak


pergi begitu saja?” batinnya berkata saat pikirannya mulai tenang.


Nike pun memutuskan


untuk kembali ke kantin menemui Nur Asyifa, “semoga Ifa belum balik.” Ucapnya


lirih.


Dengan melangkahkan


kaki sedikit berlari kecil, ia berjalan kembali menuju kantin. Namun tak jauh


dari gedung kantin, ia melihat sosok Nur Asyifa yang ada di kerumunan


laki-laki. Di sampingnya juga ada Arman yang tengah memegang tangan seorang


laki-laki yang hanya dapat ia lihat belakangnya.


“Apa yang telah


terjadi?” batinnya bertanya, dan ia segera mendekati Nur Asyifa.


--------


--------


--------


“Kenapa?! Kamu siapanya


dia sampai memerintah ku untuk tidak menyentuhnya?! Jangan kau pikir karena


dirimu ketua dewan mahasiswa, hingga kamu bisa seenaknya memukul orang! Seru


Aryan kesal.


Arman menatap Aryan


penuh amarah dan berucap keras, “Dia wanita ku, akan ku bunuh dirimu bila


mengusiknya!!


Aryan menatap Arman


juga dengan Amarah, “hahahha…. Wanitamu? Lucu!” ucap Aryan dengan sinis dan


tatapan merendahkan.


Bukk….


Arman dengan cepat


meninju muka Aryan untuk ke dua kalinya.


-------


-------


-------


Semua menatap Arman tak


percaya, ucapan yang di lontarkan Arman bahwa Nur Asyifa adalah wanitanya


mengagetkan dan menggemparkan jagat raya. Kamus Poknik itu.


Begitu juga dengan Nur


Asyifa yang matanya terbelalak kaget, “Apa yang kak Arman lakukan? Seharusnya


dia tak perlu sampai mengatakan seperti itu.” Batin Nur Asyifa risih.


Sedangkan Angga yang


sebagai sahabat Arman pun seperti tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya. Namun


saat itu, belum ada tanggapan berarti darinya karena suasana sudah mencekam.


Arman dengan cepat kembali meninju Aryan. Hingga Angga sebisa mungkin segera


menghentikan Arman.


Dia tak bisa percaya


melihat Arman yang hari ini. Benar-benar seorang lain, dan mungkin betul semua


kerena Nur Asyifa. Arman jadi aneh dan tak dapat berpikir jernih. Hingga


melakukan kekerasan yang akan membuat wibawanya hilang di mata mahasiswa


lainnya. Dan mungkin, akan berdampak buruk juga bagi karir dewannya.


“Hentikan Man!! Sudah


cukup!!” seru Angga sembari memeluk tubuh Arman- menahannya untuk tidak kembali


meninju Aryan.


Aryan yang sedikit


terdorong mundur akibat pukulan Arman, ingin balas meninju Arman yang kemudian


terhentikan oleh pagangan dari mahasiswa laki-laki yang lainnya yang segera


melerai mereka.


“Lepaskan aku!! Hai


Arman, kalau berani mari kita duel dan buktikan siapa yang paling jago di sini!!


Seru Aryan marah.


“Apa yang harus

__ADS_1


dibuktikan dari laki-laki pengecut sepertimu?!” seru Arman tak kalah marah.


“Hahahha….. setidaknya


aku tak buta dan di buat bodoh oleh wanita murahan seperti dia.” Seru Aryan


sembari menatap Nur Asyifa.


Arman tersulut emosi


dan mulai meronta untuk di lepaskan Angga dan yang lainnya agar ia dapat


kembali meninju Aryan. Namun usahanya gagal, walaupun tubuhnya atletis, tapi ia


di kekang oleh empat orang laki-laki yang tidak kurang darinya.


“Kenapa?! Marah?! Kesal?!


Hahahhaha…. Makan tu wanita pelacurmu!” seru Aryan dengan ucapan yang mulai


menggila untuk membuat Arman kesal.


Arman mulai menggila


dan berteriak untuk di lepaskan, “Sial!! Lepaskan aku!! Aku akan menghajarnya


sampai mati!!”


Nur Asyifa hanya dapat


melihat dan mendengar semua kejadian di depan mata dengan kebingungan.


“Apa-apaan semua ini? Kenapa semua jadi begini?” batinnya lirih.


Ia menatap Arman dan


lanjut Aryan, tak dapat di mengerti dengan amarah yang tersulut dari ke duanya.


-----------------------------


“Apa yang kalian


lakukan disini!!” bentak seorang dosen laki-laki dari belakang Aryan.


Pria dengan perawakkan


tinggi dan besar dengan perut yang sedikit buncit itu mendekati kerumunan


mahasiswa. Mahasiswa yang menonton memberi jalan untuk Pak Budiman- nama


dosen tersebut- masuk ke dalam lingkaran yang mereka buat.


Pak Budiman menatap


Aryan dan lanjut Arman. Budiman menggeleng-geleng kepalanya kesal, “Kalau kedua ketua


yang menjadi panutan dan tuntunan mahasiswa saja sudah seperti preman, mau jadi


apa kelak mahasiwa di Poknik ini!” seru Budiman kesal.


 


Sebagai Kepala Bagian Kemahasiswaan, pak Budiman merupakan pria keras dan bertanggungjawab. Pak Budimana juga sangat di segani oleh seluruh mahasiswa Poknik. Hingga Arman, Aryan, Angga dan


mahasiswa lainnya terdiam. Kini Arman dan Aryan sudah tidak di penuhi emosi.


“Kalian berdua ikut


saya! dan juga di tambah dengan kamu (tunjuk Budiman pada Nur Asyifa)! Perintah


Budiman.


“Dan yang lainnya


silahkan bubar! Pertunjukkannya sudah berakhir!” seru Budiman lanjut.


Semuanya pun bubar,


kemudian Arman, Aryan dan Nur Asyifa mengikuti Budiman ke ruang kemahasiswaan.


--------------------------


“Ifa!”


Nur Asyifa membalikkan pandangannya


kearah suara yang memanggilnya.


“Nike.” Gumamnya


setelah melihat bahwa yang memanggilnya ternyata adalah Nike yang tengah


berlari kecil mendekatinya.


“Apa yang terjadi di


dalam? Apa Aryan di hukum?” tanya Nike yang sudah berada di samping Nur Asyifa.


Nur Asyifa menatap


Nike,


“Aku yang memberitahu pada Pak Budiman.” Ucap Nike yang mengetahui arti


dari tatapan Nur Asyifa.


“Jadi kamu tidak marah


padaku lagi?” tanya Nur Asyifa lirih.


“Apa aku bisa


belama-lama marah padamu? Kalau memang bisa, aku ingin sekali.” Ucap Nike.


“Jangan! Aku mungkin


akan membenci diriku seumur hidup, bila kamu membenciku karena ulahku sendiri.”


Ucap Nur Asyifa lirih.


Nike mendekap Nur


itu. tapi aku lupa, karena kebaikkan itulah aku tidak bisa membencimu dan


selalu ingin menjadi sahabatmu." Ucap Nike lirih.


Kemudian ia melepas


dekapannya pada Nur Asyifa, “Lalu apa yang terjadi di dalam?” tanyanya


penasaran.


“Entalahlah, kacau


semua. Kamu memang benar, seharusnya aku jangan telalu sok baik dan bijaksana.


Akhirnya hanya menjadi mala petaka untuk semua.” Ucap Nur Asyifa lirih.


Nike menatap Nur


Asyifa, terlihat ada beban berat yang memenuhi pikirannya. Jadi, Nike tidak


ingin lebih memaksa Nur Asyifa untuk menceritakan tentang apa yang terjadi di


ruang Kemahasiswaan tadi bersama pak Budiman, Aryan dan Arman.


“Mau makan rujak? Ke


Natsepa yuk!” ajak Nike untuk mengalihkan pikiran Nur Asyifa.


Nur Asyifa menatap


Nike, “Rujak? Mau.” Ucapnya setuju.


Yah, mungkin dengan


makan rujak Natsepa kesukaannya itu membuat hati akan lebih tenang. Itulah yang


dipikirkan oleh Nur Asyifa. (Natsepa adalah tempat rekreasi pantai di Ambon


yang memiliki jajanan khas rujak Natsepa yang sangat di gemari masyarakat Ambon


dan wisatawan lainnya.)


“Yuk ke parkiran!” ajak


Nike seyum.


“Untuk?” tanya Nur


Asyifa bingung.


“Ngambil motor ku lah


Fa. Masa mau makan rujak.” Celetuk Nike bercanda.


“Ooooo.”


“Bulat.”


“Tahu. Basic, nagging grandmother. Most


workshop, I want to hug.” Ucap Nur Asyifa.


Nike menatap Nur Asyifa penuh selidik, “ Apa artinya?”


tanyanya curiga


Nur Asyifa terseyum simpul, “Thank you for being my jutek


friend. I love you Nike. I love you so much.” Ucap Nur Ayifa seraya memeluk


Nike.


“Hmm, walaupun aku hanya tahu artinya kata se kata. Tapi


aku yakin sih, ucapanmu untuk memujiku. Jadi, aku akan gembira dan memaafkanmu


kali ini.” Ucap Nike menggoda.


“Thanks Nike ku.” Ucap Nur Asyifa.


“Ya udah, ayo kita melancong, let’s go Netsepa!” seru Nike


bersemangat.


Nur Asyifa melepas pelukkannya pada Nike dan menggandeng


tangan Nike. Kemudian keduanya berjalan menuju parkiran motor.


“Hanya ada satu helem?” tanya Nur Asyifa yang hanya melihat


satu helem yang ada di motor Nike.


“Iya.” Jawab Nike singkat.


“Yah, ngga bisa ke Natsepa dong. Kita naik angkot aja!”


ucap Nur Asyifa murung.


“hahhhaaa…. Emang kenapa?” tanya Nike lucu.


Nur Asyifa memutar bola matanya kesal, “Kamu mau di tilang


polisi.” Gerutunya kemudian.


“Oooooo.”


“Bulat.” Kini Nur Asyifa membalas Nike.


“hehehheheh, santai bos. Kita pakai jalan mouse saja.” Ucap


Nike seyum dengan menaik turunkan alisnya memberi kode.


“Gimana? Mua beraksi tidak?” tanya Nike dengan maksud lain.

__ADS_1


“Ok.” Jawab Nur Asyifa mantap yang sudah tahu maksud Nike.


Mereka berdua pun pergi ke Natsepa tanpa menggunakan helem,


dan sialnya, siang itu ada polisi yang sedang merazia kendaraan bermotor di jalanan PLN Poka.


Pegemudi dan penumpang motor yang tidak menggunakan helem di suru berhenti dan di


tilang.


“Sial, ada razia.” Seru Nike kesal.


“Tu kan, kamu sih bandel.” Gerutu Nur Asyifa.


“Peluk erat-erat Fa. Tutup mata, jalan lagi kosong nih.


Kita bakal terbang.” Seru Nike dengan seyum menantang.


Hah…


Nur Asyifa mendesah, “ajal deh kita.” Batinnya.


“Ok.” Ucap Nur Asyifa mengiyakan. Ia juga membutuhkan


sesuatu yang dapat memacu adrenalin. Agar beban di pundak dapat terangkat.


“Satu, dua, tiga…..”


Ngang… ngangg… nganggggggggggg…..


Hitung Nike memberi aba-aba dan mulai menggas motornya dan


melaju dengan kencangnya. Motor merek Honda yang sudah di rancang dengan


kenalpot rancing itu berbunyi nyaring dan melesat laju.


Polisi yang berada di jalan menggeleng-gelengkan kepala-


sedih melihat Nike memacu motornya laju. Sedangkan, ada juga polisi yang sedang


menaiki motor segera mengikuti mereka dari belakang.


Percuma, Nike wanita gila yang tak takut mati. Melihat


polisi mengikutinya, membuat adrenalinnya tertantang untuk adu balap dengan


polisi.


“Hentikan motornya!!” teriak polisi.


Menyuruh Nike berhenti, sama saja seperti buang garam di


air laut. Tak ada gunanya. Nike malah akan lebih menggila dan berulah. Apalagi


baru saja terjadi masalah di kampus. Ia akan bermain gila untuk menghilangkan


kesal ataupun sedihnya.


Nganggg…..


Suara nyaring motornya di permainkan, Nike sampai


mengeluarkan asap motor yang menggumpal dari kenalpotnya.


Polisi yang berumur kisaran kepala dua itu terlihat kesal,


“Mau main-main dia. Ok, aku ladeni.” Batin polisi.


Polisi itu pun melajukan motornya dengan cepat.


“hahahha…. Belum nyerah juga si doi. Asyik sih, main sama


polisi. Tapi tidak sekarang, aku lagi mau nyenengin Ifa dulu. Polisi, maaf ya.


Kita sudahi sampai disini dulu.” Batin Nike seraya terseyum simpul.


Tanpa lama-lama lagi Nike menggas motornya dan melaju


dengan kecepatan dua kali lipat.


O M G. Nike si gila membawa motor sudah seperti terbang.


Untung jalanan lenggang, tak banyak kendaraan yang melintas. Kalau tidak?


“Shit!!” umpat Polisi itu dengan kesal dan kecewa karena


tak dapat mengejar Nike dan Nur Asyifa yang sudah menjauh dan tak terlihat


lagi. Akhirnya polisi itu kembali ke tempat razia.


Saat meresakan bahwa polisi itu sudah tidak lagi mengejar,


Nike mulai menurunkan kecepatan motornya. Walau begitu Nur Asyifa masih enggan


untuk membuka matanya. Ia masih tetap memeluk erat Nike dengan mata tertutup.


Sampai di jalanan Passo, mereka memasuki lorong-lorong kecil. Kalau melewati


jalan besar, itu tidak mungkin. Karena ada kantor polisi di sana, dan juga


terlalu ramai kendaraan yang berlalu lalang. Sehingga akan sulit untuk melaju


menghindari polisi.


“Ke, berhenti sejenak dong.” Pinta Nur Asyifa saat mereka


berada dalam lorong.


“Ada apa Fa?” tanya Nike.


“Berhenti dulu. Cepat!!” seru Nur Asyifa.


“Iya.. iya..”


Nike menghentikan motornya dan Nur Asyifa segera turun dari


motor dan,


Hoek…..


Nur Asyifa memuntahkan hampir semua isi perutnya.


“Astaga Ifa!” seru Nike khawatir.


Nike segera menepikan motornya dan mendekati Nur Asyifa.


Nike mengelus-elus punggung Nur Asyifa untuk menenangkan. “Kamu sakit Fa?”


tanya Nike khawatir.


Nur Asyifa menatap Nike, “Ya, sakit karena ulahmu.” Ucap


Nur Asyifa kesal.


“Hah… kok karenaku sih?” tanya Nike tak terima.


“Ya karenamu. Aku udah lama ngga gila-gilaan kaya tadi.


Rasanya aku hampir mati.” Gerutu Nur Asyifa lirih.


Nike terkekeh, walaupun merasa sedih melihat Nur Asyifa


yang muntah. Tapi ada kelucuan tersendiri yang menggelitik hatinya.


“Kamu ya, bahagia di atas penderitaan teman.” Ucap Nur


Asyifa kesal.


“Sorry… sorry, habisnya aku ngga percaya. Kalau Nur Asyifa


yang suka dan tertawa riang kalau aku membawa motor laju-laju dulu, sekarang


malah muntah-muntah saat aku membawa motor laju.” Ucap Nike.


“Udah dua tahun aku ngga pernah naik motor Ke. Pas pulang


ke Ambon, aku naik sepeda sama Parman kalau ke kampus. Kalau engga aku naik


angkot. Jadi udah ngga terbiasa.” Gerutu Nur Asyifa.


“Iya maaf, janji ngga lagi-lagi deh. Mau lanjut jalan


tidak?” tanya Nike.


“Mau lah.” Jawab Nur Asyifa.


“Udah mendingan?” tanya Nike.


“Udah dikit sih.” Jawab Nur Asyifa.


“Jalan lanjut yuk, tapi pelan-pelan aja bawa motornya.”


Ucap lanjut Nur Asyifa.


“Iya bos.” ucap Nike.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Natsepa. Dan tak


butuh waktu lama dari Passo (nama daerah) mereka akhirnya sampai juga di


Natsepa.


Pemandangan laut yang indah, dimana ombak menggulung di


pantai dengan lembut membuat mata enak memandang. Apalagi mereka duduk di bawah


pohon yang rindang, udara yang terhirup sungguh segar walau sudah siang.


“Nih teh angat untuk memanaskan perutmu!” ucap Nike sembari


meberikan teh yang tadi di belinya di tenda.


“Thanks Ke.” Ucap Nur Asyifa sembari mengambil gelas teh


tersebut dan meminumnya perlahan.


“Gimana, udah enakan?” tanya Nike Khawatir.


“Udah Ke. Terima kasih atas perhatiannya.” Ucap Nur Asyifa


sembari terseyum simpul.


“Syukurlah…. Habiskan tehnya! Setelah itu baru kita


ngerujak.” Ujar Nike dengan seyum.


“Thanks Nike. Makasih sudah menemaniku.” Ucap Nur Asyifa


lirih.


“Kalau masih bilang terima kasih lagi, aku pulang ninggalin


kamu nih.” Gerutu Nike.


Nur Asyifa terseyum simpul, “Iya. Aku cuman senang aja dan


bersyukur ada kamu sebagai sahabatku. Walaupun sudah dua tahun lebih terpisah.


Kamu masih tetap sama. Masih Nike yang gila dan baik seperti dulu.” Ucap Nur


Asyifa tulus.


“Aku tahu. Aku memang selalu waw di mata kamu.” Ucap Nike


membanggakan dirinya.


“Hah, dasar. Di puji dikit, besar kepala.” Ucap Nur Asyifa.


Dan mereka berdua pun terkekeh bahagia.


(bersambung)


*********


*********

__ADS_1


Hai Sahabat Mangatoon, terima


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.


__ADS_2