
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila
ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon
kebijaksanaannya dalam membaca yah…
Cerita ini mengandung unsur dewasa,
tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para
pembaca sekalian.
NOT WRONG DESTINY_episode 6_Author_Pov (II)
Nur Asyifa mendekati
Ayu Lestari- wanita yang tadi telah membelanya di depan ketua dewan hingga ia
tidak di ganjar hukuman mengisap permen seperti perintah Aryan padanya.
“Hai… Assalamu’alaikum….”
Sapa Nur Asyifa pada Ayu yang tengah berada di tempat wudhu mesjid kampus.
Ayu hanya membalas
sapaan Nur Asyifa dengan seyum paksa. Wanita itu kemudian berlalu meninggalkan
Nur Asyifa untuk ikut nimbrung dengan maba lainnya di teras mesjid.
Saat itu adalah waktu
salat zuhur, membuat maba yang muslim dapat terseyum lega di bawah ke mesjid
untuk menunaikan salat oleh para HMJ muslim. Setidaknya mereka punya waktu
istirahat sebelum kembali diteriak-teriaki senior HMJ.
Setelah selesai berwudhu,
Nur Asyifa dengan riangnya mendekati teman barunya itu untuk diajak salat
berjamaah. Namun bukannya mendapat tanggapan positif, ia malah di caci salah
satu teman barunya itu.
“Kita salat berjamaah
yuk!” ajak Nur Asyifa.
“Jangan sok akrab deh! kalau bukan karena kamu kita nggak
akan sial sampai harus mengisap permen bekas orang!” hardiknya ketus pada Nur
Asyifa- Aisya- salah satu maba baru akuntansi.
“Acuhkan saja dia!”
celetuk Ayu dengan wajah dingin.
“Kamu sih mau bantu
dia, kalau aku sih ogah. Udah jelek, belagu lagi.” Sindir Aisyah
“Sudahlah….. aku juga menyesal telah membantunya.”
Ucap Ayu.
Tatapan sinis mereka
layangkan untuk Nur Asyifa, tak terkecuali Ayu Lestari. Gadis pertama yang telah
membantunya tadi. Nur Asyifa akhirnya sadar, Rupa adalah keutamaan wanita untuk
memiliki teman. Jika rupamu kacau, dompetmu harus tebal agar memiliki banyak
teman. Jika tidak, maka menyendirilah hidupmu. Hidup yang seperti 'sinetron'.
Selama ini Nur Asyifa
hidup dalam banyang semu, mengucilkan dirinya karena terlahir jelek dan yatim
piatu sedari bayi. Kata-kata kasar dan menyakitkan sudah biasa di dengar,
tatapan sinis dan merendahkan sudah biasa di lihatnya. Hal itulah yang membuat
wanita itu terlalu takut untuk memperdulikan semuanya. Hanya saja, baru sekali
dalam hidupnya menjadi orang yang keras kepala adalah saat menantang Aryan. Mungkin,
seharusnya ia tetap menjadi wanita yang lemah, hingga tidak menimbulkan
kekesalah pada Aryan yang ternyata akan menghancurkan masa depannya.
-------------------
Waktu salat zuhur telah
usai, para maba yang muslim telah kembali ke auditorium. Kali ini mereka telah
kedatangan seorang dosen pembimbing Ospek. Ibu Fitriana- wanita berumur kisaran
kepala tiga yang nampak anggun dan cantik dengan wajah orientalnya. Kulit putih halus
bersih dengan mata sipit yang terlihat seperti wanita berumur kepala dua
puluhan.
__ADS_1
Ibu Fitriana memberikan wejangan kepada para
maba baru.
“Saya tanya kenapa kalian memilih masuk Poknik?”
tanya bu Fitriana
“Karena Poknik yang akan membantu saya mencari
kerja. Kampus yang berorientasi vokasi yang lebih mengedepankan praktek di
lapangan. Akan lebih membantu mahasiswa mengenal dunia kerja yang sesungguhnya.”
Jawab salah satu maba yang bernama Rati setelah mengangkat tangan dan
memperkenalkan diri sebelumnya.
“Jawaban yang bagus dari ibu Rati, apa ada yang
memiliki alasan yang berbeda dari ibu Rati?”
".........."
“Wah, ternyata ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian
masih canggung yah. Santai saja, yang berdiri di depan kalian sekarang ini,
bukanlah dosen kalian sekarang. Saya adalah teman kalian yang ingin sharing.”
“……”
“Pasti kalian bertanya-tanya kenapa saya
memanggil kalian disini sebagai ibu dan bapak? Jawabannya simple. Karena kita adalah
mitra. Kalian akan menjadi pekerja siap kerja yang akan di panggil kemudian
setelahnya.”
“………”
“Asal jangan belum sampai tiga tahun kuliah kalian
sudah menjadi ibu dan bapak dengan status istri dan suami. Ingat, menikah
penting. Tetapi menikah tanpa pekerjaan hanya akan menyusahkan kalian. Makan bukan
hanya modal cinta, tapi uang. Uang di dapat dari bekerja bukan bersantai. Kerja
di dapat dari bersekolah bukan bermain.”
“……….”
“Saya tahu, ibu dan bapak pasti ada yang
berasal dari jauh, dari pelosok-pelosok yang ke dua orang tuanya hidup dari
menyekolahkan kalian saja harus menahan diri untuk sekedar makan dan lebih
memelih menyimpan uangnya untuk dikirimkan kepada anaknya yang berkuliah.”
Banyak sekali wejangan yang disampaikan ibu
Fitriana- membuat maba baru ada yang sampai meneteskan air mata- memikirkan
orang tua mereka di kampung halaman. Seperti yang dikatakan Fitriana- banyak
mahasiswa universitas yang ada di Ambon berasal dari pelosok, dari SBB (Seram
Bagian Barat), SBT (Seram Bagian Timur) dan daerah-daerah terpencil lainnya di
provinsi Maluku.
Beberapa menit kemudian dilanjutkan dengan
pemberian materi tentang Poknik Negeri Ambon.
------------------
Apa
yang salah dengan wanita ini? Terlalu merendah diri hingga nyaris tak berharga.
Mata
yang lelah dan muak dengan kehidupan, kaki yang sulit melangkah menjalani
kehidupan.
Desiran
ombak membawa kelana tak terhiraukan, hanya penyesalan terlihat dipelupuk mata.
Topan
yang bergerilya porak poranda, hanya tinggal cairan bening hiasi mata.
Aku melihat
iba, namun tak ingin terlalu mengusik lebih dalam.
Mengenal
tidak, akan canggung bila terlalu mengkritik tanpa berita.
Dia……
__ADS_1
gadis aneh yang membuat penasaran. Pertama mengetuk keingintahuan.
Nur
Asyifa.... maba baru yang terlihat butuh perhatian.
Puisi diatas adalah gambaran perasaan Arman
saat melihat, mendengar dan berhadapan dengan Nur Asyifa di ruang dewan.
Gadis itu terlihat pasrah, ia yang tadi di ruang auditorium
berapi-api melawan perintah Aryan. Sekarang hanya memohon maaf, padahal sudah
jelas Aryan yang salah.
Nur Asyifa sudah lelah, menjadi keras kepala
bukanlah hal yang benar. Teman-teman barunya sudah membecinya, senior sudah tak
suka juga dengannya. Padahal ia hanya ingin kuliah dengan damai- menjadi gadis
yang tak terlihat sampai wisuda nanti.
Karena kuliah akan membuat ia mendapat
pekerjaan yang lebih baik, hingga mampu membantu paman yang sudah seperti ayah
kandungnya sendiri.
Namun semua itu tidak akan terjadi bila ia
memiliki musuh, kehidupan kampus akan sulit untuknya ke depan nanti untuk di jalani.
“Saya minta maaf pada ketua HMJ Aryan.” Ucap Nur
Asyifa saat Aryan, dirinya dan Arman berada di ruang dewan seperti perintah
Arman sebelum zuhur tadi.
“Kamu sudah mempermalukan saya! Membuat saya di
marahi oleh ketua dewan.” Seru Aryan kesal.
“Kamu yakin kalau kamu yang bersalah? Bukannya tadi
semuanya sudah jelas. Ketua HMJ Aryan yang berlaku kasar padamu.” Tanya Arman.
Nur Asyifa menarik nafas panjang dan
menghembuskannya dengan berat. Matanya mulai berlinang dan duduk memohon.
“Aku yang salah ketua dewan. Maafkan aku ketua
HMJ!”
Arman terbelalak- heram. Gadis itu berubah
drastis, seperti sudah menyerah dan lelah dengan segala yang ada.
“Kamu mempermainkan saya?! Kamu suka di pandang
hina?!” bentak Arman.
Aryan terlihat puas melihat Arman memarahi Nur
Asyifa. Ia sampai terkekeh di dalam hatinya- bangga. Dan lebih bersemangat
untuk menyerang Nur Asyifa.
“Kamu gadis munafik. Sok lugu dan polos hanya
untuk mendapat simpati orang. Sekarang mau bersiasat apa lagi?!” hardik Aryan.
Nur Asyifa terdiam- masih tetap pada posisinya.
Yang membuat Arman kesal. Ia sangat tidak suka dengan kebohongan, tetapi ia
lebih tidak suka orang yang plin-plan, lemah dan pasrah saja di tindas.
“Minta maaf di depan maba baru pada Aryan besok!
Karena kamu sudah menfitnahnya.” Perintah Arman.
Perintah yang diucapkan Arman membuat Aryan
besar kepala. Namun, Arman hanya ingin Nur Asyifa sendiri yang berinisiatif
untuk melawan. Ia akan mendukung Nur Asyifa jika wanita itu mengalami kesulitan
menghadapi Aryan nantinya.
“Baik ketau.”
Namun jawaban Nur Asyifa sungguh tak bisa di
mengerti oleh Arman. Mengapa wanita itu bisa berubah hanya dengan hitungan jam?
Pertanyaan yang sulit untuk ditanyakan Arman karena tak ingin terlalu mengusik
pribadi orang lain.
(Bersambung)
**********
**********
__ADS_1
Hai Sahabat Mangatoon, terima
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.