
NOT WRONG DESTINY_episode 20_
Kebersamaan itu Indah _ (II)
Assalaamu’alaikum
warahmatullah…… Assalaamu’alaikum
warahmatullah
Ucapan salam diakhir shalat
Isya berjamaah di mesjid Al- Ikhlas Poka, menandakan hari telah berakhir sehari
lagi, dan berjalan menuju hari baru berikutnya- esok.
Keluarga Arman kecuali
ibu dan neneknya sudah selesai shalat di mesjid dan bergegas untuk balik ke
rumah.
“Kapan rencananya kamu
dan Ana mau lamaran yang resmi?” tanya Jamaludin pada Karman anak tertuanya
saat dalam perjalanan pulang.
“Ingat, Ana perlu ayah
dan ibu lamar secara resmi dari orang tuanya.” Ucap Jamuludin lanjut.
“Iya yah. Karman tahu,
makanya Karman dan Ana ada cari waktu yang tepat. Lagi pula kedua orang tua Ana
masih ada di Belanda. Belum tahu kapan kembali ke Ambon.” Jawab Karman.
“Loh kok gitu,
seharusnya kak Ana ngasih tahu orang tuanya kalau kak Ana mau menikah sama
kakak. Supaya orang tuanya datang mengurusi pernikahan kalian.” Nimbrung Agnes.
Dan Arman hanya
mengangguk menyetujui ucapan adiknya Agnes.
“Sudahlah, sampai di
rumah baru bahas! Ini masih di jalan, nggak enak bila di dengar orang.” Ucap kakek.
“Tapi kek…..”
“Agnes! Jangan melawan!”
ucap kakek tegas memotong ucapan Agnes.
Yang lainnya pun
terdiam, kakek memang pria yang baik dan penyayang. Namun beliau juga orang
yang tegas yang tidak suka di bantah perkataannya.
--------------------------
Arman dan yang lainnya
sudah sampai di rumah, kini mereka tengah duduk bersantai di ruang nonton
keluarga.
Rencana awal Arman yang
ingin curhat pada ibunya saat selesai shalat magrib- batal. Kerena selesai
shalat magrib ia, Agnes dan Karman melanjutkan untuk mengaji sampai waktu isya
menjelang.
Semua itu adalah permintaan
kakaknya Karman, entah mengapa malam ini suasana hati Karman terasa sendu. Laki-laki
yang selalu umbar seyum riang dan jail itu terlihat tampak penuh beban pikiran.
Hingga al- qur’an lah yang menjadi tempat pelarian dengan melantunkan ayat di
dalamnya sebagai pelampiasan keresahan hati.
“Nek, Agnes putar tv
nya yah?” pinta Agnes merajuk pada nenek.
“Nonton cukup pada
waktu siang, malam harus mengaji dan belajar.” Itulah jawaban nenek setiap ada
permintaan dari keluarga di rumah Arman untuk nonton tv saat malam.
“Tapi Agnes udah
belajar di sekolah tadi nek, ngga ada tugas rumah, ngaji juga udah tadi di
mesjid bareng kak Arman sama kak Karman. Jadi semuanya udah beres. Mohon ijinkan
Agnes nonton malam ini!” pinta Agnes masih merajuk panah nenek.
“Agnes, kalau udah
beres semuanya lebih baik adek beristirahatlah di kamar!” suru Angelina.
“Betul, lebih baik adek
pergi tidur dari pada nonton yang nggak jelas.” Celetuk ayah.
Hah….
Mata Agnes terbelalak-
heran, tidak ada yang membelanya. Semua menyalahkan dirinya yang hanya ingin
nonton. Padahal hanya malam ini saja ia ingin nonton, tapi mereka malah
menyuruh dirinya untuk pergi tidur tanpa ada rasa kantuk di matanya.
“Sebal sama semua.” Ucap
Agnes kesal seraya memanyunkan bibirnya.
“Agnes, anak gadis ngga
boleh gitu!” ucap Angelina mengingatkan.
“Bu, kenapa malam ini
ibu ngga bela Agnes? Malah menyakiti Agnes?” tanya Agnes- memelas.
Rasanya mereka yang
berada di ruang nonton itu ingin tertawa terbahak-bahak, namun dengan sekuat
tenaga mereka tahan, takut Agnes akan menggila bila di ketawain.
“Agnes, dari pada kamu
nonton acara tv yang ngga jelas, lebih baik kamu belajar mengenai kenapa
seorang anak bisa ngompol saat tidur di malam hari bahkan setelah ia sudah SMP
kelas delapan?” ucap Arman yang mulai menjaili adiknya itu.
Dengan tatapan maut,
Agnes menatap Arman dengan tajam. “Tunggu saja ya kak Arman, tunggu adek cari
tahu kelemahan kak Arman. Dan akan adek buat kak Arman mohon-mohon ampun sama
adek.” Serunya pada Arman dan Agnes pun berdiri- berjalan masuk ke kamarnya dengan kesal.
“Selesai.” Celetuk Arman.
Dan semuanya pun
tertawa dengan tangan yang menutupi mulut agar suara tawa mereka tak terdengar
Agnes.
“Gila kamu Man, si
Agnes kesal banget tuh sama kamu. Perang deh perang.” Celetuk Karman masih
dalam tawa yang di tahan-tahan.
“Udah- udah, jangan
bicarain Agnes lagi. Kalau dia dengar, bisa tambah runyem.” Ucap Jamaludin.
“Oh iya Karman, sekarang
kita harus bicarakan lanjutan percakapan kita di jalan tadi!” ucap Jamaludin
lanjut yang membuat tawa semuanya reda dan mulai focus pada Karman.
“Percakapan tentang
apa?” tanya Angelina
“Iya, percakapan apa yang
mau kalian lanjutkan sampai suasanya mulai tegang gini?” tanya nenek.
__ADS_1
“Tentang Karman dan Ana
bu.” Jawab Jamaludin
“Memang mereka kenapa?”
tanya nenek.
“Kita harus pastikan
kapan kita akan melamar Ana pada orang tuanya secara resmi. Karman sudah cukup
umur dan juga sudah punya usaha dan penghasilan yang baik, dia juga sudah melamar Ana
secara pribadi dan Ana menerimanya. Jadi, untuk apa kita berlama-lama
menjadikan Ana menantu. Lebih baik cepat menikah, jangan sampai timbul fitnah. Kita
tidak tahu kan mulut orang luar, apalagi Ana dan Karman sangat dekat dan Ana
juga sudah sering berkunjung ke rumah kita sampai menginap.” Tutur Jamaludin.
“Betul, lagian pacaran
lama-lama tidak guna. Hanya menamba dosa, lebih baik menikah menjalankan sunah
Allah.” Ucap kakek menamba.
Angelina dan nenek
hanya mengangguk-angguk kepala, menandakan mereka setuju dengan penuturan
Jamaludin dan kakek.
Sedangkan Karman hanya
dapan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan dengan pikiran yang
melayang.
Arman memandangi
kakaknya itu, sepertinya ada beban berat di pundaknya. Padahal baru semalam
Karman terlihat penuh kebahagiaan, kekasih yang sudah lima tahun menemani
dirinya telah menerima lamarannya dengan bahagia. lalu apa yang menjadi beban
pikiran Karman sekarang?
“Kak, kalau ada kendala
atau masalah, cerita saja sama kami! Membagi beban akan lebih meringankan kakak
dari pada memikulnya sendiri.” Ucap Angelina yang tengah menatap Karman yang
matanya terlihat tak menentu melayang entah ke mana.
“Kak!” ucap Arman
dengan berbisik dan menyiku pinggang kanan Karman dengan siku kirinya. Yang membuat
Karman tersadar dari lamunanya.
“Ahh..” Pekik Karman
dan menatap keluarganya yang sudah menatapnya- lekat.
“Maaf, maafkan kakak! Kakak
tidak sopan, telah melamun tadi.” Ucap Karman bersalah.
“Ada masalah apa? Coba ceritakan
pada kami!” ucap lagi Angelina- lembut.
Karman menatap ibunya
itu, dan beralih ke nenek, ayah, kakek, dan Arman. Setelah beberapa menit
menatap tanpa berkata, akhirnya Karman mulai bersuara.
“Ana telah dijodohkan
oleh ke dua orang tuanya bu.” Ucap Karman lirih.
“Di jodohkan? Sejak kapan?”
tanya Angelina yang berusaha sabar- tak terpancing emosi.
“Entalah, tapi tadi
siang Ana memberitahu kakak bahwa orang tuanya tidak setuju dia menikah dengan
kakak karena ia sudah di jodohkan dengan anak kolega bisnis ayahnya di
Nederland. Bu, apa yang harus kakak lakukan?” tanya Karman lirih.
Karman dan memeluk anaknya itu dengan lembut. Ia tahu bagaimana sayangnya
Karman pada wanita yang bernama Ana itu. Mereka dulu pernah cekcok yang membuat
Ana pergi ke Nederland selama sebulan, setelah kepergian Ana, Karman sangat
frustasi dan menyesal berkepanjangan. Ia tak henti- hentinya shalat sunah dan
mengaji, berdoa semoga Ana memaafkan khilafnya, berdoa semoga Ana dapat
menerimanya kembali.
Dan sekarang, berpikir
bahwa ia akan kehilangan Ana selamanya. Pasti sangat hancur dan sedih hatinya.
“Berdoalah minta
petunjuk pada Allah SWT! beliau maha mengetahui, dan pemberi takdir. Jika Ana
memang jodoh yang tercipta dari tulang rusuk kakak maka bagaimanapun rintangan
menghalang, kalian akan tetap bersama. Tetapi jika Ana bukan jodoh kakak, kakak
harus ikhlas dan sabar untuk merelakan Ana lepas dari dunia kecil kakak. Jangan
mengikuti nafsu, yang hanya akan membuat neraka anakku sayang.” Ucap Angelina
masih dalam pelukkan.
“Bu, kakak sakit. Kakak
benar-benar takut kehilangan Ana.” Ucap Karman yang kini telah berderai air
mata.
“Anakku, lalu bagaimana
dengan Ana sekarang? Dimana Ana? Apa Ana setuju di jodohkan?” tanya Jamaludin.
“Ana ke Nederland siang
itu juga, saat selesai mengatakan semuanya. Ia ingin bertemu langsung dengan
kedua orang tuanya untuk membahas tentang kami. Ana juga tidak menyetujui
perjodohan itu yah.” Jawab Parman masih dengan air mata yang tak berhenti
mengalir.
“Arman, kami tidak
melarang kamu untuk mengenal sosok wanita lebih dalam bahkan untuk sampai
kalian pacaran. Tapi jangan terlalu memakai hati, sampai sayang yang berlebihan
seperti kakakmu ini. Allah akan sedih, bila umatnya lebih mencintai dunia dari
pada dirinya. Maka Ia akan memberi sedikit guncangan hidup, agar umatnya sadar
bahwa dunia itu fana. Cinta manusia itu tak kekal, ada masanya semua akan
berakhir. Entah kematian yang menjemput atau perpisahan yang menghampiri.” Ucap
Nenek.
Arman hanya dapat menatap
neneknya dalam diam. Memang benar ucapan sang nenek. Terlalu mencintai sesama manusia
juga akan berdampak buruk bila kita dipaksakan harus melepas cinta itu. Namun,
kini ia juga tak tentu arah. Hatinya telah bergejolak pada seorang wanita. Entalah,
hanya takdir yang tahu akhir ceritanya kelak.
“Bu, jangan berkata
seperti itu. Karman masih terguncang sekarang.” Ucap Jamaludin.
“Ucapan ibumu itu benar
ayahnya Karman. Karman harus sadar, dia salah terlalu mencintai Ana sampai lupa
akan takdir Allah. Pacaran belum tentu jodoh. Shalat dan mengajilah, berdoa
minta yang terbaik pada Allah. Mohon ampunlah karena terlalu mencintai manusia tanpa
kita sadari telah mengkhianati Allah.” Ucap Kakek.
Karman melepas pelukkan
Angelina dan menatap kakeknya.
__ADS_1
“Tapi bukankah hati ini
Allah yang cipta, cinta dan rasa ini Allah yang beri. Terus selama ini kakak
dan Ana selalu taat dalam perintah Allah. Shalat, mengaji dan tidak pernah
melanggar norma serta aturan Allah. Kenapa Allah memberikan cobaan ini pada kami?”
ucap Karman lirih.
Kakek terseyum mendengar
ucapan Karman, “Itulah kesalahnmu Karman. Kesalahanmu yang membuat Allah
memberi cobaan ini. Sebenarnya kamu beribadah untuk apa?” ucap kakek.
Ucapan kakek sangat
membingungkan, maksudnya apa yang mengatakan ‘kita beribadah untuk apa?’
bukankah ibadah itu kewajiban bagi umat yang mempercayainya.
“Bukankah kita
beribadah karena kewajiban.” Jawab Arman.
“Lalu kenapa saat
Karman mendapat cobaan, ia mencari pembenaran dari setiap ibadah yang
dikerjakan? Apa Karman ibadah hanya takut mendapat cobaan? Apa Karman ibadah
supaya bisa dipersatukan dengan Ana?” tanya kakek.
Karman pun menundukkan
kepalanya mendengar berbagai pertanyaan yang seperti pernyataan dari kakek.
“Cucu ku, kakek tahu
kamu mencintai Ana ikhlas dan tulus karena Allah. Oleh sebab itu, percayakan cintamu
pada Allah. Allah akan memberi jalan terbaik untukmu. Tapi jangan pernah menuntut
cintamu dengan dalil telah beribadah dan bertakwa pada Allah. Karena munusia
itu penuh dosa, ibadah bukan untuk menyucikan dosa tapi karena kewajiban dari
Allah. Dan hanya Allah lah yang dapat menghapus dosa serta menentukan mana
umatnya yang suci.” Nasehat kakek.
Kini Karman mulai
menaikkan kepalanya dan menatap sang kakek, “Kek, lalu apa yang harus Karman
lakukan?” tanyanya kemudian.
Kakek mendekati Karman
dan memegang pundak kanan Karman seraya berucap, “Ikhlaskan pada Allah, lagi
pula Ana juga sedang berjuang untuk cinta kalian dengan menemui orang tuanya di
Nederland. Maka, kamu juga harus berjuang. Buktikan bahwa kamu layak untuk Ana,
dari segi iman, sikap dan juga materi di hadapan ke dua orang tuanya. Kamu harus
lebih bekerja keras, agar usahamu lebih berkembang. Dan jangan pernah
tinggalkan shalat dan mengaji. Tidak menikah sekarang bukan kiamat, kakek yakin
akan takdir indah Allah itu ada pada umatnya yang bersabar dan berusaha.”
“Amin.” Ucap nenek,
Jamaludin, Angelina dan Arman mengamini ucapan kakek pada Karman.
Karman memeluk kakek
dan berucap, “Makasih kek, terima kasih karena telah menyadarkan Karman yang
salah. Terima kasih karena menguatkan hati Karman yang lemah. Terima kasih
karena telah menjadi kakek Karman. Teima Kasih karena Allah menakdirkan kakek
untuk Karman.”
Kakek mengelus belakang
Karman dengan cepat dan kuat seraya berkata, “Cucu kakek kuat, Bismillah Allah
kasih jalan.”
Kebersamaan keluarga
adalah seseuatu yang indah, bersama kita dapat menyelesaikan masalah yang rumit
menjadi gampang dengan saling bertukar pendapat. Bersama kita dapat menguatkan
dalam kesedihan yang dapat di bagikan dan disemangati dengan cinta. Bersama kita
dapat kebahagian dan kehangatan dalam hidup yang singkat ini.
------------------------------------
Percakapan yang
panjang, hingga tak terasa sudah pukul satu dini hari. Arman beserta keluarganya
pun mengakhiri percakapan itu dan mengistirahatkan diri di kamar masing-masing.
Arman yang berbaring di
ranjang, masih menatap langit-langit kamar, matanya masih enggan untuk
terpejam. Pikiranya masih terbisik tentang nasehat kakek dan neneknya tadi, ‘jangan
mencintai manusia melebihi cintamu pada Allah, karena Allah akan sedih dan
cemburu.’
Apa iya Allah akan
sedih dan cemburu?
Lalu bagaiman dengan
hatinya yang sudah tergerak oleh seorang wanita ini? apakah ia juga harus
melupakan cinta yang belum sempat mekar ini?
Jika saja tadi Karman
tak punya masalah yang lebih berat, ia sangat ingin menceritakan kisahnya pada
keluarga.
Arman ingin mendapat
pencerahan sebelum ia melangkah lebih jauh. Karena ia tahu sifatnya, sifat yang
sangat entah bisa di katakan bagus atau kebodohan. Ia adalah laki-laki yang
jika sudah menyukai sesuatu maka ia akan menyimpannya dalam hati, menyukainya
dengan berlebihan sampai terluka sendiri hatinya karena terlalu sayang.
Ia pernah memelihara
seekor kucing laki-laki yang di pungut dari jalanan dulu. Kucing kecil yang kotor
dan penuh luka itu di peliharanya dengan telaten. Sampai kucing itu sehat dan
dewasa. Arman sangat menyayangi kucingnya, namun suatu ketika, kucing itu
terserang penyakit dan mati. Karena kesedihan dan merasa kehilangan Arman sampai tak mau makan dan
akhirnya sakit. Butuh waktu yang sangat lama untuk dirinya dapat menerima
kepergian kucingnya itu.
Dan sekarang, apakah
cintanya pada Nur Asyifa akan salah?
Bagaimana jika cinta
itu akan menyakiti Allah dengan sifat Arman yang seperti itu?
Dilema menyelimuti
pikirannya, jalan satu-satunya adalah keluarga. Biar bagaimanapun, sebelum
melangkah untuk mengenal Nur Asyifa lebih dalam. Ia harus bertanya pada
keluarganya dulu. Mendapat nasehat yang baik agar nanti tak salah arah.
Semoga cintanya
bukanlah kesalahan. Semoga Allah meridhoi hati dan cintanya.
(bersambung)
*********
*********
Hai Sahabat Mangatoon, terima
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.
__ADS_1