NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 12_Dia Yang Mengetuk Pintu Hati_ (I)


__ADS_3

NOT WRONG DESTINY_episode 12_Dia


Yang Mengetuk Pintu Hati_ (I)


Akhirnya Nur Asyifa


dapat bernafas lega. Proses Ospek telah berakhir- artinya ia juga tidak perlu


bertemu dengan Aryan dan senior HMJ lainnya. Ia memang sudah bertekad untuk


menghindari mereka. “Jangan bikin susah hidupmu sendiri Ifa.” Batinnya.


Selama dua hari Ospek


setelah insiden hari pertama Ospek- Nur Asyifa sudah banyak menahan egonya


untuk tidak melakukan atau pun keras kepala pada perintah seniornya yang tidak


masuk akal. Dan hari ini setelah lepas dari semua itu, ia harus menjadi


mahasiswa yang lebih baik. Jika ia menjadi senior kedepannya, ia tidak akan


seperti senior-seniornya yang sekarang.


“Assalamu’alaikum Fa.” Salam


Parman dari belakangnya.


Nur Asyifa yang tengah


duduk sendiri di bangku koridor pun sontak kaget dan tersadar dari lamunannya.


“Lagi ngelamunin apa?”


tanya Parman yang sudah duduk di sampingnya.


“Ah, kamu Man.”


“Assalamu'alaikum... Iya aku, emang kamu


pikir siapa?”


“Wa'alaikum salam, ngga, aku hanya sedang


mikirin urusan kampus aja.” Ucap Nur Asyifa sekenanya.


“Oh, udah ada pembagian


kelas atau belum?”


“Belum, katanya esok baru


akan di tempel di papan pengumuman.”


“Oh gitu. Kita ke


kantin yuk! Aku lapar nih. Tahu kan, suasana di rumah bikin bad mood. Ampe bikin


nafsu makan hilang.” Gerutu Parman mengingat suasana di rumah.


Yah, suasana di rumah


memang buruk. Ternyata pikiranku salah tentang paman yang sudah mengetahui


perselingkuhan bibi. Paman juga baru tahu saat aku meberitahunya malam itu. Namun paman hanya berpura-pura sabar dan mengetahuinya kala itu.


Beliau hanya tidak ingin menampakan wajah marah dan kesalnya di depanku. Paman ingin


menjaga perasaanku, agar tidak bersedih melihat kesedihannya itu dan sekaligus melihat


kemalangannya itu. Dan keesokan malamnya paman memanggilku beserta Parman untuk


mengutarakan niatnya berpisah dengan bibi. Aku sedikit terkejut, namun


juga bernapas lega. Setidaknya itu yang harus paman lakukan. Melindungi harga


dirinya sebagai laki-laki. Untuk apa memperjuangkan seorang wanita yang tidak


menghargai suatu ikatan. Hanya akan menjadi beban hidup pasangannya. Lebih baik


lepaskan dia- biarkan dia menikmati dunia bebas , sampai ia akan sadar sendiri


nantinya jika ia adalah wanita yang bodoh karena telah melepaskan surganya dan


lebih memilih neraka. Aku ingin sekali melihat bibi yang penuh penyesalah dan


memohon pada paman untuk kembali padanya. Aku sangat tidak sabar menunggu hari


itu.


 


 


“Hey, what are you dreaming about? let's go to cafetaria! I'm


hungry.” Seru Parman- menyadarkan Nur Asyifa dari pikiranya yang


melayang mengingat paman dan bibinya.


 


 


“What is it? I'm not hungry. You go to the cafeteria alone! Okey.”


Ketus Nur Asyifa yang kaget dengan seruan Parman yang tiba-tiba hingga


membuyarkan lamunannya.


“Sorry,


nggak akan keras-keras lagi deh aku ngomongnya nanti. So, temanin aku yah kak.”


Ucap Parman pelan dan manja. Ia sadar seruannya tadi cukup keras hingga membuat


Nur Asyifa sedikit tersentak- kaget dibuatnya.


Nur


Asyifa hanya dapat menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Ia sangat jengkel


dengan dirinya yang sangat cepat luluh hanya dengan ucapan manja Parman dan


sebutan kakak dari mulutnya.


“Yah


udah aku temanin. Tapi janji yah, jangan keras-keras kalau ngomong sama orang


lain. Tahu ngga, kalau orang yang kamu ajak omong itu punya penyakit jantung


bawaan bagaimana? ….”


“Ia


bisa langsung mati.” Celetuk Parman memotong ocehan Nur Asyifa.

__ADS_1


“Tu


Tahu.” Seru Nur Asyifa tak mau kalah.


“Udalah,


ayo pergi makan! Lapar nih.”


“Iya,


jangan manja gitu. Ini bukan di rumah. Malu di lihatin mahasiswa yang lain.”


“Bodo


amat. Do you think I care.”


Nur Asyifa


hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Tingka Parman sungguh mirip bocah


hari ini, manja banget. “Mungkin ini caranya untuk menyikapi frustasi dengan


keadaan rumah. Seharusnya aku juga bisa seperti itu. Dan lagi, untung ada dia


di kampus ini. Kalau tidak bakal bengong sendirian deh.” Batinnya sembari


diikuti seyum simpul yang tersungging dari bibir tebalnya.


-------------------------


Parman


memegang tangan kanan Nur Asyifa dan menarik wanita itu untuk segera berjalan


besamanya ke kantin.


Dan tanpa


mereka sadari ada beberapa pasang mata yang melihat keakraban mereka dengan


jengkel.


Mereka


yang sering di panggil trio angel yang terdiri dari tiga wanita cantik dan


seksi di kampus Poknik itu memiliki perasaan yang lebih pada Parman. Laki-laki berkulit sawo


matang, dengan tubuh tinggi 180 cm dengan hidung mancung dan bibir tebal membuat


Parman cukup di gemari dalam bentuk fisik. Apalagi ia juga memiliki kelebihan


dalam bidang akademis. Menjadi nomor satu di jurusan akuntansi dengan IPK


tertinggi menjadi nilai lebih untuk pesona Parman. Walau laki-laki itu tidak


ikut menjadi anggota HMJ atau dewan karena terlalu sibuk untuk membatu ayahnya


di rumah. Namun pamornya melebihi anak-anak HMJ atau dewan mahasiswa, walaupun


masih kala sedikit dari Arman.


Katiga


trio angel itu pun bergegas mengekori Nur Asyifa dan Parman. Mereka penasaran


ada hubungan apa antara Parman dan Nur Asyifa yang sangat terlihat akrab. Mereka


juga tidak rela bila Parman sampai terperangkap dalam pesona gadis sejelek Nur


Asyifa itu.


baru aja songong, pake acara ngedekatin Parman lagi.” Gumam Asmi- salah satu


personil trio angel- kesal.


“Mungkin


kenalannya kali.” Gumam Anti membuat prasangka baik- yang juga salah satu


personil trio angel.


“Cewe


jelek n genit gitu mana mungkin kenalan Parman yang ganteng mentereng dan anak


baik-baik itu.” Celetuk Kiki- yang juga personil trio angel- dengan ikut bergumam.


-------


-------


-------


“Dek,


kamu ngerasa ngga kalau kaya ada yang ngikutin kita dari tadi?” tanya Nur


Asyifa yang mulai sadar bila ada yang mengikuti mereka.


Ia pun berhenti berjalan dan membalikkan badanya untuk melihat ke belakang,


“Perasaanku


aja kali yah.” Ucapnya lagi setelah melihat kebelakangnya yang tak terlihat


orang yang mencurigakan.


“Udah


cepat jalan! Lapar nih, bodo amat sama orang-orang yang ngga jelas itu.” Oceh Parman


dan menarik tagan Nur Asyifa untuk kembali berjalan.


“Oh


God, dengar ngga tu omongan Parman? Dia udah terjerat pesona wanita jelek itu


sampai ngga peduliin kita yang jelas-jelas lebih cantik n kaya dari pada wanita


itu.”  Ucap Asmi histeris.


“Tu


kan Man, pasti mereka itu deh yang ngikutin kita.” Ucap Nur Asyifa pelan yang


mendengar ucapan histeris Asmi.


“Bodo


ama sama mereka. Mereka tu cewe-cewe ngga jelas. Males nanggepen mereka, bikin


bad mood. Cepat jalan aja, udah dekat kantin tu.” Ucap Parman malas.


---------------------------------


Adzan

__ADS_1


zuhur telah selesai berkumandang setengah jam yang lalu, Arman yang baru


selesai dari kewajiban dunianya sebagai ketua dewan mahasiswa merapikan meja


dan kursinya. Setelah rapi- ia langsung melangkahkan kaki ke musholah kampus


yang berada di lantai satu gedung tempatnya berada sekarang.


Dengan


langkah sedikit di percepat Arman menuruni tangga, hatinya juga sedikit


merasa gusar karena telah lebih mendahulukan kepentingan dunia dari pada akhirat.


Setibanya


di depan pintu mushola yang tengah terbuka kecil, terdengar suara seorang


wanita melantunkan ayat suci al-qur’an yang begitu indah namun terasa pilu di


hati. Tersirat kesedihan dan permohonan untuk menguatkan hati, menjadikan diri


lebih sabar dalam menjalani kehidupan. Hingga Arman pun menitikan air mata yang


ikut terhanyut masuk dalam perasaan sang qari’ (pembaca) al- qu’an itu.


“Subhanallah,


astagfirullah, innalillahi wa’innailahi rojiun. Begitu sedih kah dirimu hai


sang qari’?” batin Arman.


Laki-laki


itu pun penasaran dengan sosok wanita qari’ al-qu’an yang telah mengetuk pintu


hatinya. Ada perasaan ingin mengenal dan membantu menghilangkan kesedihan


wanita itu. Ia pun melihat kearah pintu masuk mushola dan terlihat ada sepasang


sepatu kets hitam dengan motif garis-garis putih bertengger di rak sepatu.


“Itu


pasti sepatu milik wanita itu.” Batinya lagi.


“Astagfirullah,


aku hampir lupa untuk shalat.” Gumam Arman yang tersadar dengan alasan awalnya datang


ke mushola dengan tergesa-gesa.


Arman


pun masuk ke ruangan tempat wudhu. Di mushola kampus, tempat wudhu hanya satu yang di gunakan


bersamaan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan untuk tempat shalat di


mushola ada pemisah antara laki-laki dan perempuan yang dipasangi dengan kain.


Arman


yang sudah selesai berwudhu ke luar dari ruangan wudhu dan ia sudah tak


mendengar lantunan indah ayat al-qu’an lagi yang tadi di dengarnya. “Sudah


pergikah?” batinya bertanya.


Arman


masuk ke dalam mushola- dan memang di barisan perempuan sudah tak ada orang


lagi. “Benar-benar sudah pergi rupanya.” Batinya lagi.


----------------------


“Udah


selesai shalat?” tanya Parman pada Nur Asyifa yang telah duduk di sampingnya.


“Menurutmu?


Nanya ngga pake mikir!” celetuk Nur Asyifa diikuti bibirnya yang di manyunkan.


“Hehehehhee…..


kan, basa basi dikit. Ngga seru ah kakak.” Ucap parman cengengesan dengan


mengeluarkan kata andalannya yang membuat hati Nur Asyifa luluh , apalagi kalau


bukan panggilan ‘kakak’.


Nur Asyifa


pun luluh, ia tak dapat berkata lagi dengan mulutnya untuk menanggapi ucapan


Parman yang telah mengeluarkan jurus pamungkasnya.


“Urusanku


udah selesai nih, kita mau pulang atau gimana?” tanya Parman memulai percakapan


lagi.


“Kita


ke panti asuhan Asih dulu. Udah dua tahun lebih ngga kesana. Kangen juga.” Jawab


Nur Asyifa.


“Ok,


adikmu ini siap menjadi ojek sepeda untuk mengantar kakak tercintaku.”


Ampun


deh,


Sedari


tadi Parman terus berkata ‘kakak’, ‘kakak’ dan ‘kakak’ terus.


Laki-laki


itu mencari penghiburan hati dengan bersikap manja dan kekanakan-nakan dengan


Nur Asyifa yang diketahui akan terus menyayangi dan berada di sampingnya. Ia tidak


perlu takut untuk kehilangan Nur Asyifa seperti pada ayahnya Suhadi.


(bersambung)


*********


*********


Hai Sahabat Mangatoon, terima

__ADS_1


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.


__ADS_2