NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 33_ Mendapat Pekerjaan _ (II)


__ADS_3

NOT WRONG DESTINY_episode 33_ Mendapat Pekerjaan _ (II)


 


 


 


 


Rambut hitam panjang dan lurus itu sedikit susah di sisir karena terjuntai sampai sebetis.


 


 


“Sini aku bantu!” ucap Parman dan langsung menyisir rambut Nur Asyifa tanpa persetujuan Nur Asyifa terlebih dahulu.


 


 


“Maaf, aku terbawa emosi tadi.” Ucap Nur Asyifa lirih dan menundukkan kepalanya.


 


 


“Maaf kan aku juga, yang telah membuatmu salah paham.” Sahut Parman menimpali.


 


 


----------


----------


---------


 


 


Sudut ruangan yang lain dengan waktu yang sama dan tempat yang berbeda, Arman tengah di landah keresahan. Khayal serta pikirannya tak bisa lepas dari Nur Asyifa. Kesedihan wanita itu sangat menyakiti hatinya. Namun, dekapan keduanya tadi sangat terasa. Harum alami tubuh wanita itu yang bahkan tak menggunakan parfum jenis apapun sangat menyengat penciumannya. Bauh yang sama seperti ibunya. Bauh yang membuatnya tak bosan dan selalu kengen untuk terus menciumnya.


 


 


Tot… tok… tok….


 


 


Suara pintu kamarnya di ketuk.


 


 


“Masuk aja! Ngga ke kunci.” Seru Arman yang masih enggan beranjak dari kasurnya.


 


 


“Assalamu’alaikum kak.” Salam Agnes yang masuk di dalam kamar.


 


 


“Kenapa dek?”


 


 


“Kakak sibuk ngga?” Tanya Agnes ragu-ragu yang tengah mematung di depan pintu.


 


 


Arman menggelengkan kepalanya, “Tidak dek.” Ucapnya seyum.


 


 


Agnes pun menutup pintu kamar, dan segera pergi duduk di kasur dekat kakanya itul.


 


 


“Ada apa dek?” Tanya Arman perhatian.


 


 


“Apa kakak ada masalah?” Tanya Agnes menatap manik mata Arman dengan lembut.


 


 


Arman terseyum simpul, “Emangnya kenapa?” Tanya Arman yang berubah menyeringai jail.


 


 


Agnes memutar bola matanya malas, baru saja ia mau perhatian pada sang kakak yang di rasanya sedang gundah. Namun tingkat ke jailannya telah kembali dalam sepersekian detik. Membuat Agnes jengkel jika berurusan dengan Arman yang seperti itu.


 


 


“Ngga! Aku hanya asal bicara.” Seru Agnes jengah. “Aku mau ke tempat ibu aja.” Ucapnya lanjut, ia berbalik dan bermaksud berdiri untuk pergi keluar dari kamar Arman. Namun terhenti oleh dekapan sang kakak dari belakang.


 

__ADS_1


 


“Terima kasih dek, sudah mengkhawatirkan kakak.” Ucap Arman lirih.


 


 


“Apa kakak ada masalah?” Tanya Agnes lagi mengulang pertanyaan awalnya.


 


 


“Iya.”


 


 


“Karena cinta?” Tanya Agnes menebak.


 


 


“Ya.”


 


 


“Apa dia menolak kakak?”


 


 


“Sangat baik, jika dia menolak.”


 


 


“Lalu Apa dia menerima kakak?”


 


 


“Selalu berdoa semuga itu benar.”


 


 


Agnes mengerutkan dahinya sampai kedua alisnya bertaut. Apa-apaan jawaban kakaknya itu, sebenarnya dia di terima atau di tolak.


 


 


Hus…


 


 


 


 


“Iya.”


 


 


“O M G!” Pekik Agnes tak dapat menyembunyikan rasa gemasnya.


 


 


“Dek, jangan teriak-teriak dong. Budek ni kuping kakak.” Oceh Arman seraya menutup telinganya dengan telapak tangan.


 


 


“Hahahahhahahaaa….. maaf kak, soalnya kak Arman gemasin banget sih.” Celetuk Agnes dengan tawa renyahnya. Gadis dengan suara soprannya yang melengkin tinggi itu telah menggemakan tawanya hingga seisi rumah dapat mendengarnya.


 


 


Segera Arman membekap mulut Agnes, “Ampun dek, jangan berisik. Kamu bakal bikin masa kumpul.” Bisik Arman kesal.


 


 


Namun usaha Arman sudah terlambat. Masa yang di pikirnya telah berkumpul dan membuka pintu kamarnya.


 


 


“Kenapa kalaian rebut banget?” Tanya Ayah.


 


 


“Ini udah malam. Jangan tertawa keras-keras. Malu sama tetangga.” Ucap ibu.


 


 


“Kalian berdua ini, udah gede tingkahnya masih kaya bocah TK.” Gerutu kakek.


 


 

__ADS_1


“Kamu tertawain apa Nes? Apa ada hal menarik?” Tanya nenek antusias. Hingga tatapan tajam masa yang lainnya telah mengarah pada nenek. Namun nenek tak perduli dan malah masuk bergabung dengan kedua cucunya yang menjadi biang masalah saat ini.


 


 


“Berhenti membekap mulut adikmu!” sergap nenek pada Arman. Dengan pasrah Arman melepas tangannya dari mulut Agnes. Ia sudah pasrah akan di olok-olok Agnes setelahnya. Mengapa ia dengan bodohnya malah kecoplosan menceritakan perasaan cintanya pada Agnes. Benar-benar kebodohan yang fatal.


 


 


“Nenek!” pekik Agnes dan menghamburkan tubuhnya ke pelukkan sang nenek. “Nek, kak Arman lagi jatuh cinta loh.” Serunya histeris yang mendapat tatapan kaget dari masa yang mendengar.


 


 


Ibu, ayah, kakek dan nenek membelalak, mendengar ucapan Agnes barusan. Arman mencintai seorang wanita? Itu sangat langkah, dan mungkin terdengar aneh di telingah. Laki-laki pemilih dan dingin tentang wanita itu, sangat mustahil bila menyukai wanita sembarangan. Apalagi mencintai. Entah wanita seperti apa yang telah menaklukkan hati pemuda itu.


 


 


“Benar Man?” Seru ayah bertanya.


 


 


“Yah Allah! Anakku sudah besar rupanya.” Histeris Ibu.


 


 


“Alhamdulillah ada juga wanita yang bisa menggerakkan hatimu.” Ucap Kakek.


 


 


“Siapa nama gadis itu Man? Tinggal dimana? Dia teman kampusmu atau tidak? Anak SMA atau tidak? Bertemu dimana? Kapan kamu mulai menyukai dia sampai timbul cinta? Apa kamu serius dengan dia? Kapan mau melamar? Jangan lama-lama! Kalau cinta langsung lamar saja!” cerocos nenek dengan bertubi-tubi pertanyaan


 


 


Arman hanya terseyum masam, dengan dahi berkerut. Kehebohan ini, sungguh sangat memalukan. Apanya yang melamar dan menikah? Mengunggapkan perasaan saja belum. Benar-benar membuat frustasi nih keluarga.


 


 


“Hahahhaha…..” kini tawa terkekeh Agnes lepas lagi dan semakin nyaring membuat mereka yang di dalam kamar menutu telinga dan menatapnya melotot.


 


 


“Maaf, maf.” Seru Agnes yang menghentikan tawa menggelegar dan tawa kecil yang di pasang.


 


 


“Nek, bagaimana kak Arman mau melamar gadis itu menjadi istrinya? Kalau mengungkapkan rasa sukanya saja tidak pernah ia ungkapkan. Yang ada hanya rasa merana yang menyelimuti jiwa hingga pikiran selalu terbayang wajahnyadan membuat kesedihan terpasang di raut wajah.” Cerocos Agnes dengan bahasa di buat puitis kerana Arman yang suka puitis.


 


 


Kini ia merasa menang telak. Arman sudah tak berkutik lagi dan ia bisa membalas kejahilan sang kakak selama ini padanya.


 


 


Masa kembali terbelalak menatap Arman intens. Ada seyum jail yang tersungging di bibir masing-masing yang membuat Arman merinding seketika dan merasakan firasat tak enak akan terjadi padanya.


 


 


---------------------------


 


 


“Yah, maafkan aku. Sepatu yang baru ayah belikan kemarin telah rusak lagi.” Ucap Nur Asyifa lirih tertunduk sedih yang tengah duduk di degu-degu ruang tamu rumah mereka.


 


 


“Sepatunya memang murahan. Jadi gampang rusak. Maafkan ayah ya! Nanti ayah belikan lagi setelah mendapat gaji minggu depan.” Ucap Suhadi seraya memegang wajah Nur Asyifa dan menegakkannya.


 


 


“Jangan bersedih! barang yang sudah rusak. Memang sudah waktunya harus di ganti.” Ucap Suhadi lagi dengan seyum lembutnya.


 


 


Manik mata Nur Asyifa tak dapat menahan krital bening yang telah keluar dengan sendirinya tanpa menunggu perintah.


 


 


“Jangan menangis bayi kecil ayah. Setiap air matamu adalah racun untuk jantung ayah. Jadi jangan selalu menangis! Jika kamu masih ingin melihat jantung ayah sehat.” Ucap Suhadi lirih dan menyeka air mata yang telah membanjiri pipih Nur Asyifa kini.


 


 


“Ayah. Aku akan selalu membahagiakanmu.” Ucap Nur Asyifa yang telah meleburkan tubuhnya dalam dekapan Suhadi. “Ayah, aku akan bekerja. Dan aku akan membahagiakan ayah.” Batinnya.


 


 

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2