NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 8_Cinta dan Penghianatan_ (II)


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila


ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon


kebijaksanaannya dalam membaca yah…


Cerita ini mengandung unsur dewasa,


tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para


pembaca sekalian.


NOT WRONG DESTINY_episode 8_Cinta


dan Penghianatan_ (II)


(Author pov)


Senja telah mendekap


sang surya dalam pelukkannya walau belum sepenuhnya memudar. Namun Nur Asyifa masih meratap dalam sedihnya di


tanah gusuran- enggan untuk kembali pulang.


Tak lama kemudian


Suhadi Kusuma- paman Nur Asyifa telah berjalan di tanah gusuran. Dengan


samar-samar ia melihat anak gadisnya itu yang sedang duduk bertengger- termenung


di bukit-bukit kecil dekat jalanan.


“Ngapain disitu Ifa?”


panggilnya.


“Ayah.” Batin Nur


Asyifa tersentak saat mendengar namanya di panggil.


Nur Asyifa pun berdiri


dari duduknya- menengok kearah suara yang memanggilnya tadi. Seketika seyum


manis tersungging di bibir tebalnya. Gadis itu segera berlari mendekati


pamannya.


“Ayah!” teriaknya senang


sembari memeluk Suhadi.


Suhadi membalas pelukan


anak gadisnya itu sembari mengecup puncuk kepala Nur Asyifa.


“Ngapain kamu disini?”


tanyanya kemudian.


“Nungguh ayah.” Jawab


Nur Asyifa manja.


“Kan bisa tunggu di


rumah. Udara malam tidak baik untuk kesehatan. Nanti Ifa sakit.”


“Ayah….. Ifa nggak


bakal sakit.” Ucap Nur Asyifa merajuk sembari menguatkan pelukkannya pada


Suhadi.


Suhadi menarik nafas


panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia memang tidak bisa menang beradu


argument dengan anak-anaknya bila mereka telah menampakkan wajah merajuknya.


“Yah udah. Terima kasih


sudah menunggu ayah di sini. Ayo kita pulang! Ayah ada bawakan nasi padang


untuk Ifa dan Parman.”


Nur Asyifa sungguh tak


ingin pulang, ia semakin memeluk Suhadi dengan lebih erat. Pelukkan dengan


adanya rasa ketakutan akan kehilangan.


--------


--------


--------


Suhadi merasakan ada


yang aneh dari sikap Nur Asyifa. Gadis itu memang manja padanya, tetapi tak


sampai seperti ini. Apalagi ia merasakan dingin di dada bagian kanannya- air mata


Nur Asyifa yang tengah menagis dalam dekapannya.


Suhadi mengelus kepala


Nur Asyifa dengan lembut,


“Ceritakan ke ayah


kalau Ifa ada masalah! Ayah akan selalu membatu, memaafkan, menyayangi dan


menjaga Ifa.”


Kata-kata Suhadi


membuat tangis Nur Asyifa pecah. Air mata yang sedari tadi di tahan- mengalir


deras. Nur Asyifa melepas pelukkannya pada Suhadi dan terduduk lemas. Isakan


demi isakan keluar dari mulutnya.


----------


---------


---------


(Nur Asyifa Pov)


Bagaimana bisa aku


memberitahu paman semua kejadian dan penglihatan yang aku alami. Di kampus, aku


di hina, di rumah aku melihat hal yang memalukkan. Paman, apakah saat


mengetahui kejadian di rumah paman akan memaafkan bibi?


Aku dilema dan


frustasi, kehausan kasih sayang ayah membuatku buta- menutup mata akan


pengkhianatan bibi- sungguh dosa besar yang membebani hati.


Tuhan!


Maafkan aku sekali


lagi!


Hanya sekali!


Biarkan aku menjadi


anak jahat!


Untuk ayah keduaku ini!


--------


--------


--------


(Author pov)


Suhadi tambah bingung


melihat anak gadisnya itu yang telah terisak dalam tagisnya. Namun apa yang


bisa dilakukannya, Nur Asyifa tak menjawab pertanyaannya. Nur Asyifa hanya


terus menangis dan memendam kesedihannya sendiri. Ia merasa gagal menjadi


seorang ayah, padahal ia sudah sangat berusaha agar Nur Asyifa mau


menganggapnya sebagai ayahnya sendiri. Hingga Nur Asyifa juga mau menceritakan


kesedihannya pada Suhadi.


Suhadi membungkukkan


badan dan membantu Nur Asyifa berdiri. Di peluknya kembali anak gadisnya itu


seraya berucap,


“Jangan menangis


anakku, air mata sedihmu adalah derita ayah. Ayah tidak masalah di caci dan


dimaki, di pukuli atau di khianati sekalipun. Namun ayah akan sedih dan tak


berdaya jika anak gadis ayah bersedih dan ayah tak bisa membantu apa-apa.


Sungguh anakku air matamu bagai pisau yang menikam jantung ayah.”


“Maaf ayah. Ifa sayang


ayah, Ifa tak ingin ayah bersedih.” Ucap Nur Asyifa dengan masih terisak.


“Maka berhentilah


menangis malaikat ayah!”


Suhadi melepas


pelukkannya dan mengusap air mata anak gadisnya itu. Nur Asyifa pun memegang


tangan Suhadi dan bersama-sama ikut mengusap air matanya.


“Ayo kita pulang!” ajak


Suhadi dengan seyum kebapakannya.


----------------------------


‘Rumah ku adalah


istanaku’ ‘keluargaku adalah hidupku’ kedua istilah itu adalah gambaran dari

__ADS_1


sosok Suhadi. Pria berprawakan tinggi tegap namun kurus itu sangat mencintai


keluarganya. Kenyamanannya hanya ia rasakan di rumah. Dan kebahagiaannya hanya


ia rasakan bersama keluarganya.


Memiliki istri yang


sangat di cintainya, seorang anak laki-laki yang sangat di banggakannya dan


seorang anak perempuan yang sangat di kasihinya adalah kebaikkan tiada tara


yang dari Allah SWT. berikan padanya.


Setelah sampai di


rumah, Suhadi dan Nur Asyifa memberi salam dan masuk ke dalam rumah. Di dalam


ada Parman seorang diri yang duduk termenung di degu-degu (tempat duduk yang


seperti rumah panggung) ruang tamu.


“Lagi apa nak? Kenapa tidak


jawab salam kami?” tanya Suhadi pada Parman sembari mengelus kepala anak


laki-lakinya itu dengan lembut.


Parman yang duduk


membelakangi pintu masuk akhirnya tersadar dari lamunannya saat merasakan


kepalanya di belai lembut.


“Ah ayah, sudah


pulang.” Ucapnya kemudian sembari membalikkan badan.


“Sudah…  untuk cukup melihat kau melamun.” Ejek Suhadi


pada anaknya itu


“Apaan sih ayah, aku


nih lagi lamunin ayah……”


“Ngapain lamunin ayah?


Boong aja, lamuni ayah atau yang lainnya?” goda Suhadi memotong ucapan Parman


yang belum selesai terucap.


“Ayah apaan sih, nggak


lucu deh.” Ucap Parman dengan wajah sedih.


Suhadi sekali lagi merasa


ada yang aneh dengan kedua anaknya itu, tidak seperti biasanya. Mereka anak


yang ceria, setiap ia pulang kerja pasti di sambut mereka dengan seyum sayang


dan manja. Apalagi jika ia membawa pulang nasi padang sebagai buah tangan,


mereka berdua sudah pasti akan berebutan sampai rampas-rampasan dan berteriak


merajuk padanya jika salah satu hanya dapat makan sedikit.


Dan malam ini yang


terlihat hanya kegundahan, kemurungan dan kegusaran yang nampak dari raut wajah


mereka.


Ayah mana yang tak akan


kepikiran melihat itu semua?


Apalagi ayah itu adalah


Suhadi. Pria baik hati yang menyerahkan jiwa dan raganya untuk keluarga


tercintanya. Tak masalah ia bersedih, sakit atau kelaparan, asalkan jangan


untuk kedua anak dan istrinya.


---------------------


Suhadi menarik nafas


panjang dan menghembuskannya perlahan, kemudian ia berucap dengan seyum agar


anak-anaknya bisa senang juga,


“Makan dulu ! ayah


membawakan kalian nasi padang.”


“Berikan padaku saja!”


seru Fatmawati- istri Suhadi dari dapur.


Wanita berumur tiga


puluh tujuh tahun itu, mendekati suaminya dan mengambil bungkusan nasi padang


itu.


“Untuk anak-anak kita


saja lah bu!” ucap Suhadi dengan lembut.


suaminya- tak suka.


“Apa bedanya aku yang


makan sama anak-anak yang makan?” sahutnya ketus.


Sungguh wanita egois,


Ibu dan istri yang tidak punya hati.


Suhadi hanya terdiam-


tak menjawab sahutan istrinya itu. Karena jika ia kembali menjawab maka akan


terjadi cecok dan pertengkaran lagi antara dia dan istrinya- hal itu yang


paling di bencinya.


------


------


------


Fatmawati adalah wanita


yang keras kepala, Ia tak pernah suka di bantah, apalagi di pertanyakan


perbuatannya. Menikah di usia belia, membuat wanita isi tidak puas bujang. Dan


akhirnya mengikuti pergaulan anak muda- lainnya. Membuat Suhadi harus bekerja


keras demi menyokong keinginan sang istri.


Dari pertama


pernikahannya dengan Suhadi- ia selalu yang memegang kendali. Menjadi kasar dan


tukang perintah adalah kepribadiannya. Untuk memasak, mencuci dan bersih-bersih


saja, ia lakukan suka-sukanya. Jika ingin- dikerjakan. Jika malas- biarkan


Suhadi yang melakukannya sendiri. Hingga sampai sekarang, dimana anaknya Parman


sudah menginjak kepala dua puluh tahun.


-------


-------


-------


Setelah mengambil


bungkusan nasi- Fatmawati kembali ke dapur. Nur Asyifa, Parman dan Suhadi hanya


menatap kepergiannya tanpa kata.


(Nur Asyifa Pov)


Aku melihat bibi


sekilas- entah mengapa ada rasa jijik terselubung dalam hatiku. Aku hanya diam-


sedih meratapi nasib batin ini.


Aku juga melihat mata


paman yang sayup, pria paru baya itu hanya dapat terdiam dan tak dapat melawan


istrinya. Paman adalah laki-laki idamanku. Aku selalu berdoa- jika Allah SWT.


Memberikan ku jodoh- aku berhadap laki-laki itu berkepribadian seperti paman.


Lembut, baik dan penyayang.


Aku juga melihat


Parman- sepupuku itu. Terbesik kesedihan di pelupuk matanya. Entah apa yang


sedang di sedihkannya itu.


“Paman, aku masak air


panas yah, untuk paman mandi?” tanyaku pada paman untuk memecahkan kesunyian


dan kesedihan di ruang tamu ini.


“Iya nak.” Ucap paman


setujuh.


Aku kemudian pergi ke


dapur, menata kayu bakar di tungku dan menyalakan api kemudian manaruh dandang


di tungku (kompor jaman dulu yang memakai kayu bakar untuk memasak) untuk memasak


air panas untuk paman mandi. Di dapur, bibi sedang nikmat menyantap nasi padang


yang paman bawa tadi. Tanpa memikirkan orang lain. Aku hanya


menggeleng-gelengkan kepalaku- heran. Dunia sangat berwarna, manusia tercipta


dengan setiap warna kepribadian yang berbeda.


Bibi.


Warna kepribadian hitam

__ADS_1


dan merah: pemalas, murahan, egois dan pemarah.


Aryan.


Warna kepribadian merah


dan ungu” Pemarah dan narsis.


(Warna kepribadian


menurut ‘version’ Nur Asyifa)


Kedua orang diatas yang


sangat aku benci. Dan berharap saat bibi pergi berekreasi ke pantai Liang (pantai Liang adalah wisata pantai yang terkenal di kota Ambon, Maluku)-


bisa di makan ikan paus dan tidak perlu kembali.


Untuk Aryan, semoga saat ia ke


hutan, ia bisa di terkam harimau dan mencabik-cabik tubuhnya berkeping-keping


dan di telan sampai habis. Biar tak perlu kembali ke kampus.


“Kamu gila ya Fa?”


Pertanyaan bibi


menyadarkanku dari fantasi anehku. Yang membuat diriku seyum-seyum dan terkekeh geli


sendiri.


Aku menggeleng kepala


pelan, memberi tanda tidak dari pertanyaan bibi, yang sudah memanyunkan


bibirnya sendiri dengan dahi yang mengkerut.


Beberapa menit kemudian


air panasku mendidih. Aku sengaja masak air tidak banyak-banyak- hanya sebagai


campuran air dingin yang akan paman pakai mandi supanya hangat dan nyaman di


kulit.


-----------------------


Aku duduk di dalam


kamar sembari merapikan perlengkapan OSPEK hari keduaku esok. Tentu masih


dengan perasaan yang sedih, hingga membuatku tak bisa menelan makanan. Alhasil,


aku hanya dapat menahan lapar, karena tak berselera makan.


Krekk……


Pintu kamarku terbuka


dari luar, dan Parman pun masuk setelahnya.


Laki-laki itu menatapku


yang juga sedang menatapnya- beberapa detik. Kemudian tatapannya beralih


pelukan padaku. Tentu saja aku di buat bingung dengan tingkahnya yang tiba-tiba


memelukku.


Aku dan Parman hanya


berbeda usia dua hari. Aku yang lahir hari jumat, dan Parman hari minggu.


Setelah ibuku meninggal setelah melahirkanku, ayahku jadi sedih dan sebulan


kemudian ayah ikut meninggal dunia. Di saat itulah paman menjadikanku anaknya,


aku dijadikan kembaran Parman dan sekali-kali di susui bibi. Hanya sekali-kali,


karena bibi yang masih muda jarang meyusui aku dan Parman. Itulah sepenggal


kisah yang aku dengar dari almarhum nenekku. Ibu dari bibi dan mamaku.


“Ada apa?” tanyaku


kemudian pada Parman.


Tak ada jawaban yang


aku terima darinya, aku hanya merasakan bahu kananku- yang Parman tenggelamkan


wajahnya di sana mulai basah.


Hatiku tersentak, “Ahh,


dia menangis.” Bantinku.


Setiap detik aku merasa


bahuku semakin basah. Parman masih tetap menangis dalam dekapanku.


“Ceritakan padaku? Apa yang


sedang membuatmu sedih?” tanyaku lagi dengan lembut.


Akhirnya Paman melepas


pelukkannya padaku- dan aku juga demikian. Ia menatapku dengan matanya yang


sayup dan bengkak.


“Apa yang terjadi pada


Parman, kenapa dia menangis sampai seperti ini?” batinku bertanya-tanya.


“I…i..i.bu jahat kak.”


Ucapnya pelan dan terbata-bata.


Mataku terbelalak,


hatiku tersentak dan jantungku berdegup kencang. Akhirnya aku paham pokok


kesedihan Parman. Namun, yang membuatku gugup dan bingung, dari mana ia bisa


mengetahui itu semua?


“A…apa yang kamu


maksud?” tanyaku gugup dan pura-pura tidak tahu.


“Ibu selingkuh.”


Jawabnya pelan dengan derai air mata.


Laki-laki berusia dua


puluh tahun, sudah di katakana dewasa. Hingga jika air mata sedih telah


berlinang dari matanya, maka perkara itu sudah tak sanggup di pikul lagi. Hanya


air mata yang dapat tersalurkan.


“Aku melihatnya saat


pulang dari kampus tadi jam empat, ibu lagi bermesraan di kamar ayah dengan


pria jahat dan kurang ajar itu. Membuat sangat kecewa dengan ibu dan aku pergi


meninggalkan rumah setelah itu.” Ucapnya lagi masih tetap menangis.


Pantasan pintu terbuka


lebar. Pasti karena Parman pergi begitu saja. Anak ini pasti sangat terluka,


aku saja yang hanya ponakan sudah sedih dan menggila. Apalagi Parman yang anak


kandung?


Hancur?


Sudah pasti.


Terlihat jelas di mata


laki-laki ini.


Kekecewaan, kesedihan


dan amarah terbalut ketidak berdayaan. Entah apa yang ada di benaknya,


sepertinya Parman mengenal selingkuhan ibunya itu. Entalah, aku aku bukan


paranormal, hatiku sendiri saja masih gusar.


Aku sangat takut, paman


benar-benar akan meninggalkan kami setelah mengetahui perselingkuhan bibi.


“Tolong beritahu ayah


tentang ibu!”


What!!


Mataku kembali


terbelalak dan nalarku tak bekerja. Ucapan Parman menggetarkan tubuhku, ‘tolong


beritahu ayah tentang ibu’ ucapan yang memiliki beribu resiko yang sangat ingin


aku hindari.


“Kamu gila Parman!”


bentakku padanya dengan suara pelan namun kasar.


“Bukan gila kak, tapi


aku ingin memberi ayah keadilan! Aku ingin ayah tahu kelakuan bejatnya ibu! Aku


ingin ayah marah dan menampar ibu! Aku ingin melihat ibu hidup tanpa ayah! Aku ingin


lihat seberapa mampunya ibu bertahan dengan lelaki kasar selingkuhannya itu! Aku


ingin lihat penderitaan ibu dengan orang jahat itu! Aku ingin lihat penyesalan


ibu yang menyakiti hati ayahku! Aku ingin melihat dan tertawa dari penderitaan


ibu!”


(Besambung)


****************


****************


Hai Sahabat Mangatoon, terima


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M

__ADS_1


__ADS_2