
NOT WRONG DESTINY_episode 29_ Bukan
Jodoh Bukan Kiamat (I)
Adzan Ashar yang telah
berkumandang di pertengahan jalan Arman dan Angga, tepatnya di desa Waiheru,
membuat keduanya berhenti berkendara. Mereka memilih untuk melaksanakan shalat
Ashar berjamaah di mesjid dekat jalanan itu, dengan memarkirkan motor di
halaman depan mesjid, keduanya pun bergegas menuju tempat wudhu.
Selesai melaksanakan
shalat, ada sebuah pemberitahuan dari pengurus mesjid. Bahwa akan ada ceramah
singkat dari seorang ustad.
“Bagaimana? Apa kita
mau balik atau mendengar ceramah?” Tanya Angga berbisik pada Arman yang berada
disamping kanannya.
Arman berfikir sejenak,
ia masih memiliki hutang untuk menemui kakaknya sesegera mungkin, tetapi ia
juga merasa perlu mendengarkan ceramah ustad itu. beberapa detik ia berfikir, “Kita
dengar aja dulu ceramahnya.” Ucapnya yakin kemudian.
Anggapun mengangguk
mengerti dan juga setuju dengan usulan Arman untuk tetap tinggal dan
mendengarkan ceramah ustad tersebut.
“ASSALAMUALAIKUM
WAARAHMATULLAHI WABARAKAATUH.” Salam Pembuka dari ustad
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatu.” Jawab
para jamaah bersamaan.
Kemudian ustadpun mulai membuka ceramahnya.
“Terima kasih bagi bapak-bapak, ibu-ibu dan
adek-adek sekalian yang telah berkenan mengijinkan saya untuk menyampaikan
ceramah singkat ini. Alhamdulilahi rabbil
‘alamin, Was sholatu wassalamu ‘ala, Asyrofil ambiyaa iwal mursalin, Sayyidina
wa maulana Muhammadin, Wa ‘alaa ‘alihi wa shohbihi ajmain. Ama ba’du.
ALHAMDULILLAHI ROBBL ALAMIIN, NAHMADUHU WANASTAIINU
WANASTAGHFIRUHU,,,WANA UUDDZU BILLAHI MIN SYURURI ANFUSINA WAMIN SAAYYIATI
A`MALINA…MAYAHDILLAHU FALA MUDHILLALAH WAAMAYUDDHLILHU FALA HAADIYA LAHU..
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASHADU ANNA MUHAMMADARRASULULLAH
ALLAHUMMASALLI ALA SSAAYIDINA MUHAMMAD WA ALA ALI SAYIDINA MUHAMMAD… AMMA
BA`DU.
Sebagai hamba Allah
yang beriman marilah kita panjatkan puji dan syukur ke haddirat Allah SWT yang
telah memberikan kekuatan kesehatan lahir dan batin kepada kita semua,
sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini dalam rangka menghambakan diri
kepada Allah SWT.
Salawat dan salam
tidak lupa kita kirimkan kepada junjungan kita nabi Allah Muhammad SAW yang
telah mengantarkan umat manusia dari peradaaban hidup yang jahiliyah menuju
pada peradaban hidup yang modern, yang penuh dengan kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi seperti yang kita rasakan pada saat ini. Semoga kita semua
termasuk hambanya yang taat, yang berhak mendapatkan syafaatnya di hari akhir
kelak..
Perkenankanlah saya
pada kesempatan ini untuk menyampaikan topik yang berjudul: Cinta Buta.”
-----------------------------
Dari panjang lebarnya
__ADS_1
ceramah ustad tadi, ada kalimat yang terus terngiang dalam benak Arman,
Cinta Buta. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan tentang
penyakit cinta buta ini di dalam kitab Zadul Ma’ad, beliau mengatakan bahwa
Allah Ta’ala menyebutkan dua cinta yang terlarang di dalam Al-Qur’an dalam dua
kisah. Yang pertama, kisah tentang kecintaan istri Al-‘Aziz kepada Yusuf
‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman:
حُبّاً شَغَفَهَا قَدْ
“Sesungguhnya cintanya kepada (Yusuf) itu adalah sangat
mendalam.”
Yang kedua adalah kisah cintanya kaum Nabi Luth ‘alaihis
salam kepada sesama laki-laki. Dua kisah ini merupakan kisah terlarang yang
Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an. Dan Kedua kisah terlarang ini dapat tumbuh
dikarenakan hati seseorang itu kosong dari ma’rifatullah dan karena berpaling
dari ajaran Allah Ta’ala.
Bila mencitai dalam
adalah terlarang dalam al- qu’an, lalu apa kabar dirinya?
Apa ia harus meninggalkan
cinta yang bahkan belum ia ungkapkan ?
Memikirkannya saja
Namun, bila di ingat
kembali tentang cinta itu, apakah akan terbalas? Bagaimana jika bertepuk
sebelah tangan?
Dan apa yang akan
terjadi pada hatinya?
Tuhan bila, rasa ini
salah. Sadarkanlah hamba yang bodoh, tuli dan buta ini.
“Man!” seru Angga
sembari menepuk lengan kanan Arman, “Ngelamunin apa? Ayo cepat ikat tali
sepatunya!” ucapnya lagi kemudian.
Arman pun sedikit
tersentak dengan tepukkan dan seruan Angga yang membuatnya sadar dari lamunan. Hanya
ekspresi datar yang terlihat pada raut wajah Arman, tanpa menjawab atau
tersinggung dengan Angga. Arman kembali mengikat tali sepatunya.
“Balik yuk!” ajak Arman
pada Angga setelah selesai mengikat tali sepatu, “Kak Karman udah nunggu aku di
mesjid Al-Ikhlas Poka nih.” Ucapnya lanjut dan melangkahkan kaki- berjalan
duluan tanpa menungguh sanggahan Angga menuju sepeda motornya.
Angga pun berdiri dan
juga berjalan menuju motornya, kemudian keduanya berkendara menuju mesjid
Al-Ikhlas.
--------------------------------
Nur Asyifa dan Nike
telah sampai di rumah Nur Asyifa. “Assalamu’alaikum.” Salam keduanya sembari
membuka pintu yang tidak terkuci.
__ADS_1
“Assalamu’alaiku.” Salam
Nur Asyifa lagi sembari masuk ke ruang tamu.
“Sepi, pada kemana
orang rumah Fa?” tanya Nike yang melihat rumah Nur Asyifa tidak berpenghuni
sore itu.
“Tu ada di dinding, dan
di tungku (kompor yang memasak menggunakan kayu bakar) dapur.” Ucap Nur Asyifa
asal.
Nike melongo menatap
Nur Asyifa, ia belum mencerna arti ucapan Nur Asyifa.
Nur Asyifa yang melihat
wajah heran Nike- hanya terkekeh geli di dalam hatinya, “Belum nyadar dia.” Batinnya.
Tak selang berapa lama,
Nike mengerutkan dahinya. Nampaknya ia sudah enggah dengan ucapan Nike. Gadis itu
seketika meluncurkan pekikkan kekesalannnya. “Iiii, dasar wanita gilaaaaa…”
“Hahhahaha…” Nur Asyifa
terkekeh geli dan segera berlari memasuki kamarnya.
“Jangan lari kamu!!”
seru Nike yang juga mengejar Nur Asyifa sampai kamar.
Di dalam kamar, Nike
melancarkan aksinya menggelitik pinggang Nur Asyifa sampai wanita itu
memohon-mohon pengampunan sampai air mata tawa keluar dari matanya. Nike selalu
merasa puas dan bahagia jika melawan Nur Asyifa, pasalnya ia akan selalu menang
jika beradu otot.
Setelah puas membinasakan
Nur Asyifa, Nike dan Nur Asyifa membaringkan diri di kasur yang berisi kapuk.
Nur Asyifa memiringkan
badan kearah Nike, dengan tangan yang menyanggah kepalanya ia mulai menatap
Nike, “Tidur disini malam ini kan? Tanyanya lirih.
Nike memiringkan kepalanya
kearah Nur Asyifa, “Iya.” Jawabnya singkat.
“Apa tidak masalah? Di
kamarku kasurnya kasar. Tak seempuk kasur di kamarmu.”
“Apa kamu mengusirku
dengan lembut?” tanya Nike dengan mengkerutkan dahinya tidak suka.
“Tidaklah. Aku hanya
basa basi aja.” Celetuk Nur Asyifa dan kembali berbaring tegak.
Mereka terdiam sejenak
dengan hanyal masing-masing. Nur Asyifa, memikirkan tentang Parman dan Nike
nantinya. Apa yang akan pria dan wanita itu lakukan nanti, setelah keduanya
bertemu pandang di rumah ini. Wanita dan pria pertama yang telah mencuri hati,
bahkan sampai sekarang Nur Asyifa masih melihat cinta itu di mata keduanya. Belum
ada seorang wanita atau pria lainnya yang dapat merebut cinta itu dari keduanya
sampai sekarang. Cinta masa SMA yang terhalang dengan perbedaan kepercayaan. Membuat
keduanya memilih melupakan walau tak sanggup dan memaksakan.
Ia kembali teringat
kisah yang baru-baru ini di ketahuinya, cinta beda agama yang terjalin pada
pamannya dan suster Ete. Dan itu mungkin juga yang akan terjadi pada Parman dan
Nike.
Mencintai tapi tak bisa
memiliki dan hanya dapat menjalankan takdir. Karena bukan jodoh, bukan kiamat. Selalu
ada pelangi tercipta di setiap lepas hujan menghantam dunia. Begitulah hidup,
akan selalu ada bahagia selepas kepedihan yang menghatan jiwa. Kucinya hanya
sabar dan bersyukur. Karena Allah sayang, makanya di beri ujian. Agar manusia
__ADS_1
bisa lebih bersyukur akan nikmatNya.
(bersambung)