NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 33_ Mendapat Pekerjaan _ (I)


__ADS_3

NOT WRONG DESTINY_episode 33_ Mendapat Pekerjaan _ (I)


 


 


 


 


Bila mengingat kejadian sedih yang menimpa Nur Asyifa di kampus dari seminggu lalu sampai tadi, manusia mana yang sanggup bertahan?


 


 


Namun apa yang bisa Nur Asyifa lakukan? Membalas? Pada siapa? Marah ? pada siapa? Menuntut? Pada siapa?


 


 


Bahkan dirinya tak tahu apa salahnya hingga di perlakukan seperti ini. Ini Negara Indonesia, HAM dijunjung tinggi, namun semua itu seperti tak berarti bagi dirinya.


 


 


Kini di dalam kamarnya, Nur Asyifa masih membisu dengan tatapan sendu menatap sepatu kets hitam yang sudah menjadi sepuluh bagian itu. Bagaimana perasaan Suhadi nanti jika melihat sepasang sepatu yang baru di belinya sehari sudah menajadi lima pasang dengan bagian-bagian kecil.


 


 


“Berhentilah menatap sepatunya Fa! Ayah juga ngga akan marah.” Ucap Parman yang sedang berdiri di depan pintu kamar Nur Asyifa.


 


 


Bukannya berhenti menatap, Nur Asyifa malah mengeluarkan air mata yang telah berderai membasahi pipinya. Dan isaknya pun terjadi, kala ia berusaha untuk menahan tangis itu untuk kembali pecah.


 


 


Hahhh…


 


 


Parman mendesah berat, melihat air mata gadis itu mengalir melemahkan hatinya. Ia pun masuk ke dalam kamar, dan duduk disamping Nur Asyifa. “Udalah Fa! Jangan nangis mulu! Matamu sudah cipit kayan orang China loh. Dalam semenit kamu terus nangis gini, lama-lama kamu ngga bisa lihat jalan lagi. Ketutup bengkaknya mata.” Ucap Parman bermaksud untuk bercanda- membuat Nur Asyifa tertawa.


 


 


Namun usahanya gagal, tak ada reaksi berarti yang berubah dari candaannya. Gadis itu masih dipenuhi linangan air mata yang tertumpah ruah, sungguh banyak stok yang dimilikinya.


 


 


Parman memengang tenkuknya kesal, laki-laki itu berdiri dari duduknya, “Fa! Kamu sampai kapan harus bersedih dan menangis seperti ini! Jangan selalu mengasihi dan menjadikan diri sebagai korban! Kamu benar-benar memalukan! Seharusnya dari pertama kamu diperlakukan tak layak kamu harus melawan! Bukan hanya menangis dan menangis seperti orang bosoh dan lemah! Kenapa kamu tak melawan?! Apa kamu ingin cari perhatian semua orang?! Apa kamu senang dikasihani?! Jangan….”


 


 


“Stop!” pekik Nur Asyifa menutup mata. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan menatap Parman tajam. “Jadi selama ini kasih sayangmu padaku hanyalah pengasihan? Aku tak butuh semua itu!” seru Nur Asyifa geram dengan tubuh yang telah bergetar.


 


 


Dengan gerakan cepat, ia memalingkan badan dan keluar dari kamar dan rumah tanpa mendengar dahulu sanggahan dari Parman.


 


 


----------


----------

__ADS_1


-----------


 


 


(Nur Asyifa pov)


 


 


Aku benar-benar kesal, marah dan paling sedih setelah mendengar beribu-ribu pernyataan kasar dari Parman. Tak pernah terbayangkan bahwa kasih sayangnya padaku selama ini adalah karena kasihan. Atau aku memang telah salah sangka dengan ucapannya barusan. Entahlah! Hatiku menolak untuk memikirkan segala kemungkinan, yang pasti bisa ku percayai hanyalah kasih sayang Parman tak pernah tulus padaku.


 


 


Tak terasa kaki tanpa alas ini telah melangkah asal sampai pada air bak (air bak adalah nama tampungan air yang di tamping dari mata air kecil di dalam bak penampungan yang digunakan untuk keperluan sehari-hari warga kampung Batu Pagar (Kampung Nur Asyifa) selain air ma’aji.


 


 


“Fa! Mau kemana?” tanya seorang yang sedang mencuci di sana padaku.


 


 


Aku mengangkat kepala yang dari tadi hanya tertunduk dan menatap kaki yang berjalan. Ternyata yang bertaya adalah Mama Bria, adalah tetanggaku yang baik walau agak sedikit cerewet.


 


 


Aku terseyum kecil- dengan paksaan. “Mau mandi.” Jawabku asal.


 


 


Wanita itu mengkerutkan dahi, “Loh, kok mau mandi ngga ada alat tempurnya?” tanyanya sambil melihat tanganku yang kosong tanpa ada bawahan.


 


 


 


 


“Aduh! Itu sudah. Mulut mama udah lelah mengomel dan mengoceh setiap harinya untuk Irsan, Sina dan Anto supaya mencuci pakaian mereka sendiri. Tapi masih tetap saja mereka menumpuk pakaian kotornya sampai segudang. Semua ini adalah pakaian seminggu tiga orang dewasa pemalas di rumah.” Gerutu Mama Bria menceritakan tentang ketiga anaknya.


 


 


Aku terseyum kecut, “Apa aku juga akan seperti itu bila ayah dan ibuku masih hidup.” Batinku pun berangan.


 


 


Beryukurlah yang masih memiliki kedua orang tua lengkap. Kalian harus sayangi dan cintai mereka dengan tulus, jangan pernah sia-siakan mereka. Karena saat ini kamu belum sadar bahwa setiap tindakan dan ucapan mereka padamu sangatlah berarti dan penuh kebaikkan. Namun, kamu akan barulah sadar tentang semua itu setelah semuanya telah hilang. Setelah kematian menjemput mereka dan kehilangan merasuk jiwamu. Menangis hanyalah percuma, dan penyesalan telah terlambat.


 


 


“Aku bantu yah.” Ucapku dan mulai membantu mama Bria.


 


 


Wah, pakaian yang sungguh banyak. Dari pinggang, punggung, lengan dan jari-jari tanganku pada pegal semua. Namun itu ada baiknya juga. Aku akhirnya telah melupakan amarah dan kesedihan yang tadi meraja dalam otakku. Percakapan, tawa dan canda bersama mama Bria membuat hatiku lebih lega.


 


 


Aku bersyukur bertemu mama Bria di bak, karena aku akhirnya dapat menceritakan kesedihaku kerena teman –teman kampus yang selalu menjahiliku. Aku juga menceritakan rusaknya sepatu baruku dan sampai aku harus marah pada Parman. Mama Bria mendengarkan semua itu, dan memberikan nasehat yang baik. “Kamu harus melawan Fa! Jangan biarkan mereka menganggapmu lemah dan terus menindasmu. Kamu wanita cantik dan baik hati, mereka semua hanya iri padamu. Maka kamu ngga boleh sampai mau terus di permalukan mereka atau di kasari mereka.” Nasehatnya dengan belaian lembut di pipiku.


 

__ADS_1


 


“Parman mengatakan itu semua karena dia sangat sayang padamu Fa. Dia hanya ngga mau melihat kamu terus mengalah pada teman-teman kampusmu yang bar-bar itu, sampai kamu terus dijaili mereka. Hatinya pasti sangat sedih melihat kamu menangis, kalian sudah bersama dari bayi. Sudah seperti saudara kembar dengan cinta ayah yang sama. Makanya ia juga bisa merasakan kesedihan dan kesakitan yang kamu rasakan.” Tutur lembut lagi mama Bria menasehatiku.


 


 


Aku mengangguk paham dengan apa yang di nasehati mama Bria padaku, “Terima kasih mama Bria.” Ucapku dengan seyum haru.


 


 


Mama Bria juga mengangguk, dan kami pun melanjutkan kegiatan selanjutnya yaitu mandi. Tak ada laki-laki yang datang, aku membuka jilbab dan pakaianku menggunakan kain sarung punyanya mama Bria.


 


 


“Oh, hampir saja lupa.” Seru mama Bria teringat akan seseuatu di sela mandinya.


 


 


“Ada apa mama Bria?” tanyaku yang masih terus mengguyur tubuhku dengan air.


 


 


Mama Bria menghentikan mandinya dan menatapku, “Katanya kamu mau cari kerja sambilan yah?” tanyanya padaku.


 


 


“Iya.” Jawabku singkat.


 


 


“Kalau gitu, kamu mau ngga jadi tukang cuci?”


 


 


“Mau! Dimana? Nyujinya bisa pas aku pulang kuliah ngga?” tanyaku yang sudah berhenti mandi dan mengarahkan perhatian penuh pada mama Bria.


 


 


“Kalau kamu mau, ada tetangga disamping rumah majikan mama di Perumnas lagi nyari 2 orang kerja. Yang 1 untuk tukang masak, yang 1 nya lagi untuk nyuci pakaian. Mama udah nanya-nanya sih, apa bisa kalau tukang nyucinya mahasiswa yang bisa nyuci pas sore atau hari libur doang. Trus katanya boleh, yang penting kamu ngga masalah kalau harus nyuci banyak. Soalnya mereka keluarga besar, ada nenek, kakek, ayah, ibu, dan tiga anaknya yang satu udah kerja, yang satu mahasiswa juga yang satu baru SMA.”


 


 


“Ngga masalah mama Bria. Aku siap untuk bekerja. Terima kasih.” ucapku girang dan memeluk mama Bria.


 


 


“Sama-sama. Besok sore kamu temui mama di tempat mama bekerja, nanti mama antarkan Ifa ke rumah itu.


 


 


“Iya mama Bria. Terima kasih banyak.”


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


(bersambung)


__ADS_2