
NOT WRONG DESTINY_episode 31_ Cinta? Keberadaannya Tak Terduga _ (I)
Bukan mengharuskan risalah hidup dalam hembusan waktu mengalun dalam setiap dinding pembatas.
Tapi hanya ingin menatap dan tak berpaling walau sepersekian dalam jarak tanpa dinding.
Jangan lari! Jangan bersembunyi dan menciptakan jarak yang membuat kesekian kali hati meratap.
Tidak salah mencoba melupakan, namun jangan membuat dinding pemisah.
Karana diri tak akan menyakiti, hanya akan menatap dan berterima kasih karena pernah ada mengisi hari.
Walau memilih mengakhiri, jangan lah memilih untuk menjahui!
-----------
-----------
-----------
(Nur Asyifa POV)
Tatapan dalam itu ada di mata Parman, seyum manis itu tersungging di bibir tebalnya. Akhirnya aku dapat melihat seyum itu lagi, seyum tulus penuh kebahagiaan. Sudah lama rasanya kami bergelut dengan kesedihan, meratapi takdir yang akan mempermainkan garis kehidupan kami. Keluarga berantakan, yang dari dulu memang sudah memiliki pondasi yang rapuh.
“Ayah dan Parman darimana?” tanyaku dengan seyum simpul.
“Habis dari kebun sayang, terus lanjut mandi di ma’aji (ma’aji adalah nama mata air yang sering di gunakan warga batu pagar untuk keperluan sehari-hari.)” jawab ayah dengan seyum.
Namun Parman masih terdiam dengan tatapan penuh mengarah pada Nike sahabatku itu. “Jangan terus menatapnya intens seperti itu! Matamu akan copot nanti!” cerocosku menggoda Parman.
Aku melihat Parman memutar bola matanya kesal, tapi aku tak perduli. Aku hanya terkekeh geli. Sedang paman hanya terseyum simpul melihat dan mendengar tingkah kami.
Aku pun segera bergelayut manja di lengan paman sambil ikut duduk di sampingnya. “Yah, Nike akan menginap malam ini di sini. Boleh kan?” tanyaku dengan penuh harap.
Paman menatap Nike sekilas dan kembali lagi padaku, “apa dia udah ijin sama orang tua?” tanya paman serius.
“Orang tua ku tidak akan perduli aku sekarang tidur dimana. Mereka malah senang, aku tidak pulang kerumah. Bahkan mereka berdoa semoga aku tidak pulang selamanya.” Celetuk Nike sinis.
Aku melihat paman menatap Nike dengan sedih, “apa kalian sudah makan?” tanyanya kemudian.
__ADS_1
-----------------------------
(Arman Pov)
Magrib telah usai dan sekarang kami bertiga sedang duduk manis di kamarku, aku kak Karman dan Angga. Angga malam ini memilih menginap disini. Dan kami sekarang sedang duduk termenung seperti orang yang beru pertama kali bertemu, malu-malu kucing.
Jangan menyalahkan diri bila dia bukan jodohmu! karena cinta sejati akan datang tanpa perlu di cari.
Kekuatan utuh diri, adalah pria yang bisa menerima keadaan yang terjadi. Menjadikan semua sebagai pelajaran akan kekal abadi.
“Behenti lah dengan kata-kata mutiara laut emasmu itu! telingaku sakit mendengarnya!” gerutu Karman yang mulai jemu dengan kata-kata mellow dramaku.
Aku terseyum simpul, “syukurlah sudah kembali!” seruku dan merangkul Karman.
Kak Karman awalnya adalah tipe laki-laki cool yang tidak terlalu suka kata-kata indah, tetapi saat berpacaran dengan kak Ana ia berubah. Aku pun tak menyangka dengan perubahan itu. ia terlihat berbeda dengan segala diri yang di buat sedemikian romantic. Yah, tentunya akulah yang jadi korbannya. Ia selalu merengek meminta lagi dan lagi di buatkan puisi atau kata-kata mutiara yang membuat hati wanita meleleh.
Dan sekarang ia kembali seperti dirinya dahulu. Laki-laki cool yang malas dengan kata-kata indah yang katanya hanya laki-laki mewek yang menyukai hal itu.
Dasar…
“Hahahhaa, kak Karman. Abis isya hangout di kafe Jepara yuk!” nimbrung Angga yang mau mengajak kami keluar.
“Aku mau ke mesjid Al-Fatah.” Ucap Karman yang menolak ajakan Angga secara halus.
Aku menatap kak Karman penuh tanda tanya, “ngapain?” tanyaku yang penasaran.
“Mau membuat hati tenang.” Celetuknya dan berdiri dari duduknya.
Angga juga ikut berdiri, “kita boleh ikut?” tanyanya meminta persetujuan.
“Ngga.” Jawab Karman singkat- menolak.
Aku mengerutkan dahi, “Loh kok ngga boleh? Kita nih tiga serangkai, hari bersama-sama terus dong.” Protesku tak terima di tolak.
“Iya.” Celetuk Angga membenarkan ucapanku.
Kak Karman memutar bola matanya malas, “kalian sudah terlalu banyak melihat kelemahanku. Jadi jangan ganggu aku lagi.” Ocehnya yang membuat aku dan Angga menatapnya jail.
__ADS_1
“Bisa malu juga ternyata kak Karman ini. Hahahahaa.” Tawa Angga dan aku pun menganguk dengan tawa yang keluar dari mulut.
Tertawa dan menjaili seseorang yang patah hati adalah cara aku dan Angga untuk dapat sedikit mengurangi kesedihan itu. walaupun kami sendiri tak yakin bila itu hal yang benar, tapi kami selalu mencoba dan berusaha yang terbaik.
-----------------------------------
(author pov)
Malam panjang dengan langit hitam yang pekat tanpa cahaya bulan dan bintang, seakang sedang bersedih. Mungkin langit juga ikut merasakan kesedihan Nur Asyifa, gadis sederhana yang dulunya penuh energih, namun sekarang seperti sudah hilang kepercayaan diri itu di telan masa yang terus maju.
Di degu-degu beranda, Nur Asyifa berada di antara Nike dan Parman dengan membalutkan diri dengan selimut tebal karena udara pegunungan saat malam sangat dingin.
“Sudah lama yah kita ngga ketemu.” Ucap Parman yang mulai membelah sunyinya malam.
“Yah, sudah dua tahun lamanya kita tak saling jumpa.” Ujar Nike juga menimpali Parman.
“Lebih tepatnya dua tahun tiga bulan sepuluh hari tujuh jam lima menit.” Tutur Parman yang tengah menengadahkan wajahnya menatap langit hitam.
Nike terseyum simpul, “lama juga yah ternyata.” Ucapnya.
Nur Asyifa hanya terdiam dengan dahi yang mengerut, dia tidak habis pikir dengan saudaranya yang bikin malu aja. Ngapain juga sampai ngomong sedetai gitu hitung kapan ngga bertemunya.
“Yah sangat lama, sangat lama hanya untuk bisa melihat seyum jail itu.” ucap Parman lirih.
Kini tatapannya sudah ia arahkan pada Nike, namun terhalang Nur Asyifa. “mundur dikit! Kamu nih hanya jadi setan aja deh.” Gerutu Parman.
Hah…
Setan?
O M G…….
Gila nih Parman, maksudnya Nur Asyifa setan karena menjadi orang ketiga di saat seorang laki-laki dan perempuan yang bukan halal saling bertemu maka yang ketiga adalah setan.
“Wahat?!! Are you crazy boy?! Your devil knee! I'm an angel who guards you both from sin. You now!!” ketus Nur Asyifa dengan membela dirinya sendiri.
Nike dan Parman terkekeh geli, “Ini baru Nur Asyifa yang aku kenal. Gadis yang optimis yang selalu menganggap dirinya benar.” Ujar Nike dengan seyuman sembari merangkul Nur Asyifa.
__ADS_1
(bersambung)