
NOT WRONG DESTINY_episode 30_ Bukan Jodoh_ Bukan Kiamat _ (II)
Mesjid Al- Ikhlas adalah saksi bisu kisah cinta Karman, dimana ia akhirnya melamar sang kekasih hati disana untuk dijadikan istri yang akan menemaninya sampai akhirat.
Arman dan Angga menaiki beberapa anak tangga untuk masuk ke dalam mesjid. Mereka awalnya menuju barisan laki-laki, namun tak tampak Karman disana.
Arman melihat sekililing, “Dimana kak Karman? Apa dia sudah pulang? Mungkin aku terlalu lama datang.” Batinnya.
“Eh, Man. Ada orang di barisan perempuan. Mungkin itu kak Karman.” Bisik Angga yang berada di belakang Arman.
Arman mengangguk – angguk kan kepalanya, dan mulai mendekati barisan perempuan diikuti Angga dari belakang. Ia membuka tirai pemisah antara barisan laki-laki dan perempuan.
Benar dugangan Angga. Di barisan perempuan, Arman menemukan kakaknya itu yang sedang bersujud di samping tembok mesjid. Arman mengingat cerita Agnes, bahwa di saat Karman melamar Ana di mesjid itu. Ana berada di samping tembok. Persis di tempat Karman sekarang bersujud.
Arman menatap kakaknya sedih. Lima tahun jalinan kasih yang terjalin, putus dalam waktu sehari. Apa cinta begitu tak berarti, dari sebuah hubungan keluarga dan bisnis?
“Man, apa yang akan kita lakukan?” tanya Angga berbisik pada Arman.
Arman memalingkan pandangan dan menatap Angga, “Kita duduk saja dibelakang kak Karman sampai dia selesai shalat.” Jawab Arman yang juga berbisik pada Angga.
Keduanya pun berjalan dengan pelannya menuju ke belakang Karman dan duduk disana. Pertama kali dalam hidup Arman mendengar tangis sang kakak. Saingatnya, Karman tak penah menangis, bahkan saat waktu kecil ia penah terjatuh dari pohon mangga yang membuat kedua kakinya patah. Tapi ia tak melihat tangis sang kakak. Namun, saat ini pria jail yang selalu ceria itu, kini terisak di sela doanya.
Mungkin saat ini, air mata yang dibutuhkan Karman untuk melegakan hatinya. Membuang pedihan hati dengan mengeluarkan air mata. Karena cinta tulusnya kini hanya kenangan. Kenangan indah dan sedih terukir bersama dalam ingatan. Dan berdoa semoga menjadi pelajaran hidup yang berharga.
__ADS_1
Karman menyudahi doanya, menghapus air mata di pipi walau isak masih terdengar sesekali. Sekarang beban itu lebih ringan, setelah seharian ini merintih pada sang Pencipta. Mengeluarkan unek-unek, bertanya dan berdoa serta berterima kasih. Membuat hati lebih tenang dan pundak terasa lebih ringan.
Karman mulai menegakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk- berdoa. Ia berencana kembali pulang ke rumahnya karena sang adik- Arman tak kunjung datang. “Arman mungkin sedang sibuk.” Batinnya.
Kini Karman telah berdiri dari duduknya dan ingin beranjak pulang, yang tiba-tiba terhenti oleh suara seseorang di belakangnya. Yaitu Arman.
“Kakak, mau kemana?” tanya Arman yang mulai berdiri dari duduknya diikuti Angga.
Karman membalikkan badannya, dan langsung di leburi pelukkan hangat dari Armand an diikuti oleh Angga kemudian.
Sensasi keharuan pun terasa, ketiga pria itu saling mendekap dan Karman melepaskan kembali air matanya. Arman merasakan basah di lehernya yang terbenam wajah Karman. Ia tahu kakaknya kini kembali meneteskan air matanya, ia pun mengeratkan pelukkannya.
----------------------------
Kemudian langkah kaki terdengar masuk ke dalam rumah, dua orang itu duduk di degu-degu ruang tamu.
“Loh, Ifa dimana?” tanya Suhadi setelah bersandar di dinding.
“Di kamarnya mungkin yah.” Jawab Parman yang juga menunjuk pintu kamar Nur Asyifa.
Mendengar suara ke dua orang yang familiar ditelinganya, dari dalam kamar, membuat Nur Asyifa segera membangungkan badannya. “Ke, ayah dan Parman udah pulang. Ayo kita keluarnya!” ucapnya senang dengan seyum manis yang tersungging cantik di bibir tebalnya.
Berbanding terbalik dengan Nike yang masih berbaring dengan diam membisu. Entah apa yang ada di pikirannya sampai ia mau menginap di rumah ini. Sudah memutuskan untuk berpisah, namun selama ini ia berusaha menghindari Parman sebisa mungkin. Dan sekarang bila harus kembali bertemu pandang, apa yang bisa diucap bibir ini? Apa yang akan di pikirkan hati ini?
__ADS_1
Melepaskan bukan melupakan, dan cinta itu masih tertata rapi di hati yang masih hanya miliknya. Benar-benar kebodohan, hingga dirinya bisa berada di rumah ini.
“Hei! Ayo kita ke luar! Ngamunin apa?” tanya Nur Asyifa lagi yang membuat Nike menatapnya datar.
“Apa? Kenapa lagi? Jangan mellow deh! Bukan gayanya Nike.” Ucap Nur Ayifa bercanda.
Huss….
Nike mendesah lirih, “Aku ragu dengan hatiku Fa? Aku raku dengannya untuk dapat berdiri tegak bila bertemu pandang dengan Parman lagi.” Ucapnya lirih.
Nur Asyifa menatap Nike dalam, “Apa selama dua tahun setelah kepergianku, kalian tidak pernah saling bertemu lagi?” tanya Nur Asyifa kemudian.
Nike menggeleng pelan, matanya menghindari tatapan Nur Asyifa dan menatap langit-langit kamar. “untuk apa bertemu bila itu hanya untuk menyiksa? Jika memang pilihannya cuman berpisah, lebih baik saling menghindari agar tak ada hati yang tersakiti.” Ucapnya lirih.
“Bodoh.” Ucap Nur Asyifa dengan tangannya yang mengetok jidat Nike pelan. “Jika memilih berpisah demi kenyakinan kalian, maka seharusnya kalian harus saling bersahabat. Jangan seperti sekarang, kalian seperti manusia yang menyalahkan Tuhan karena agama yang berbeda hingga cinta tak bisa bersama. Apa gunanya lebih memilih agama dan Tuhan dari pada cinta, bila hati kalian terus merasa sakit? Semuanya akan sia-sia. Cinta tak dapat, kepercayaan hanya akan memudar.” Tutur Nur Asyifa menasehati.
Nike kembali menatap sahabatnya itu, seyum manis tersungging di bibirnya. Itulah mengapa ia sangan senang bisa berteman dengan Nur Asyifa. Sifatnya yang baik, dan tidak memaksa kepercayaannya. Selalu menjadi dewasa, dan memberikan nasehat tulus yang menguatkan hati. Pandangan yang luas, dan tidak memilih dalam bersahabat. Wanita yang selalu terseyum ramah pada semua orang, dan selalu memberi salam pada semua orang yang berpapasan dengannya.
Kebaikkan kecil yang baginya tampak luar biasa, yang tak pernah di dapat dari ibu tirinya bahkan ayahnya. Jangan tanya soal sang kakak yang kini telah hancur di makan nerakanya dunia. Ia beruntung bertemu Nur Asyifa saat SMK yang bisa membuatnya menjadi orang normal, jika tidak mungkin sekarang ia juga akan seperti kakaknya itu.
Nike pun membangunkan badannya, di tatapnya kembali sahabatnya itu. “terima kasih ibu.” Ucapnya dengan seyum mengejek namun penuh kebahagian.
Nur Asyifa mengertutkan dahinya kesal, kemudian ia memutar bola matanya malas. “Whatever.” Serunya ketus sembari berdiri dengan seyum miring pada Nike.
Nike terkekeh geli, persahabatan itu begitu nyata. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada hidup mereka. Tapi yang ia tahu pasti, ia takkan meninggalkan Nur Asyifa. Sampai gadis itu sendiri yang lelah dan meninggalkannya, ia akan selalu menempel disisinya. Ataupun sampai maut yang memisahkan.
__ADS_1
(bersambung_