NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 24_ Masih Bersamanya _ (I)


__ADS_3

Bukan maksud hati mengingkari terjadi, tapi nalar ini sadar mana kenyataan dan angan.


Mendengar ucapan cinta, melihat kesalan di raut wajah. Sempat menggetarkan hati walau hanya sepintas mata.


Mungkin, kesadaran diri terlalu nampak nyata, hanya untuk sekedar merasakan khayalan.


Hingga akhirnya mengangap semua angin, yang datang menyejukkan dengan hebusan sepintas dan berlalu kearah lainnya kemudian.


 


 


 


 


NOT WRONG DESTINY_episode 24_ Masih Bersamanya _ (I)


 


 


 


 


hummmm…..


 


 


Suara nasaf Nike menghirup udara sejuk di pantai Natsepa, dengan menutup ke dua matanya. Ia merasakan hembusan angin yang meniup pelan di pipi. Benar-benar memberikan sensasi kesejukkan yang luar biasa.


 


 


“Nyaman banget ya kan Fa?” tanya Nike masih menutup mata.


 


 


“Tentu. Karena masih asrih dan belum terlalu terjamak oleh tangan kotor manusia yang tidak bertanggung jawab.” Jawab Nur Asyifa.


 


 


“Ihh, kamu bikin moment ini jadi ngga asyik.” Ketus Nike sembari membuka matanya.


 


 


“Lah, emang kenapa?” tanya Nur Asyifa bingung.


 


 


“Tinggal jawab iya aja. Ngga usah panjang lebar untuk nerangin.” Ucap Nike kesal.


 


 


“Ampun ni orang. Cuman hanya karena jawaban gitu, kenapa sampai jadi kesal sih? Tanya Nur Asyifa bingung.


 


 


“Kenapa? Emang aku ngga boleh kesal? Emang hanya kamu yang bisa semenang-menang?


 


 


“Kamu kenapa sih Ke? Kenapa ngomong gitu? Aku….


 


 


“Stop!” Celetuk Nike memotong ucapan Nur Asyifa. “Kamu ngga usah banyak ngomong, bikin malas.” Serunya kesal.


 


 


Nur Asyifa menaruh gelas tehnya di samping tempat duduknya, “ada apa? Tolong cerita kalau aku ada salah?” tanyanya perhatian.


 


 


“Bukankah tadi kita baik-baik saja, bahkan kita sempat tertawa riang bersama. Lalu kenapa hanya dalam sekejap jadi berubah begini?” tanya lagi Nur Asyifa lirih.


 

__ADS_1


 


Nike berdiri dari duduknya, dengan memandang laut ia berucap, “entalah, entah kebodohan apa yang telah ku lakukan ini. Menyiksa diri hanya untuk dapat membantumu.” Seru Nike kesal.


 


 


Nur Asyifa menatap punggung Nike dalam. Terbesik kebingungan dan kesedihan dengan sifat sahabatnya itu. kenapa hanya dalam sedetik sikapnya berubah? Apa salahku? Bukannya tadi kami baik-baik saja? Berbagai pertanyaan berebut memenuhi isi kepalanya. Yang dia sendiri tidak tahu harus mencari jawaban itu di mana dan oleh siapa.


 


 


“Maaf, maafkan aku yang sudah mengacaukan hidupmu. Maafkan aku yang sudah menyakiti hatimu.” Ucap Nur Asyifa lirih.


 


 


“Hahh.. maaf? Lucu!” seru Nike sinis.


 


 


Perkataan Nike seketika mengingatkan Nur Asyifa tentang kejadian tadi, perkataan sinis dan merendahkan Aryan yang menjawab ucapan Arman yang mengatakan bahwa ia adalah wanitanya.


 


 


“Apa kamu juga menganggap ku rendah Ke?” Tanya Nur Asyifa lirih yang mulai mengumpal cairan bening di pelupuk matanya.


 


 


“Bukan aku yang berkata seperti itu, kamu sendiri kan yang berkata.” Ucap Nike datar.


 


 


Nur Asyifa memegang dadanya, ada rasa sakit yang tak dapat tertahankan dari dalam. “Ini mimpi.” Batinnya menepis kenyataan yang ada.


 


 


Nike membalingkan pandangannya dan menatap Nur Asyifa. Dengan seyum sinis dia berkata, “apa hanya air mata yang bisa kau persembahkan ? jangan terlalu memalukan! Orang susah juga harus punya harga diri! Memuakkan!” serunya.


 


 


 


 


Sebelum langkahnya menjauh dari tempat Nike berdiri, Nike kembali bersuara. “Itulah sifat orang susah, tidak ada sopan santun. Pergi meninggalkan lawan bicaranya tanpa pamit. Dasar miskin! Susah sih kalau terlahir dari keluarga berantakan!”


 


 


Nur Asyifa berhenti melangkah, hatinya begitu terluka. Dengan cepat ia membalikkan badan dan berjalan kearah Nike. Dan berhenti tepat di depan Nike.


 


 


“Apakah tidak cukup kau merendahkanku?! Kenapa membawa-bawa keluargaku?! Jangan pikir karena aku miskin aku tidak bisa membalas semua perkataanmu!!” serunya lirih.


 


 


Nike mengembangkan seyum sinis pada Nur Asyifa, “Lalu apa yang bisa kau lakukan?! Orang miskin tu hanya mainan orang kaya!!” seru Nike sinis.


 


 


“Hah… dasar perempuan jahat!! Kamu!!


 


 


Akhh…


 


 


Nur Asyifa yang sedih, kesal dan marah dengan ganas menarik rambut sebahu Nike. Nike berteriak kesakitan, namun dengan segera juga mencari celah di jilbab Nur Asyifa untuk dapat ikut menarik rambut Nur Asyifa. Dan ia berhasil menarik rambut Nur Asyifa yang panjang menjuntai sebetis itu, yang membuat mereka saling jambak menjambak rambut keduanya.


 


 

__ADS_1


“Lepaskan rambutku!!” seru Nike.


 


 


“Ini pantas untuk perempuan jahat sepertimu!!” seru Nur Asyifa tak kalah keras.


 


 


“Wanita barbar!! Jelek, dan sinting!! Lepaskan aku!! Teriak Nike kesakitan.


 


 


Nur Asyifa hanya terseyum kecut, dan memperkuat pertahanannya. Ia bahkan tak berteriak kesakitan saat rambutnya di tarik Nike, ia malah lebih agresif menjatuhkan Nike ke tanah dengan menggunakan kakinya. Kini mereka telah berguling-guling di pasir pantai, Nike sudah berada di bawah Nur Ayifa. Namun, tak ada yang mau melerai dan ikut campur. Pengunjung pantai hanya melihat mereka berdua sembari seyum-seyum lucu.


 


 


Rambut Nike telah acak-acakkan, kancing baju telah lepas, dan jilbab Nur Asyifa telah miring sana sini berantakan walau belum terlepas dari kepala, rambutnya yang panjang sudah tak terikat dan terlihat mata di bagian yang tak terjangkau jilbab. Namun keduanya enggan untuk mengalah dan saling melepaskan.


 


 


“Apakah kamu senang sekarang!!” Seru Nike.


 


 


“Ya, senang!! Setidaknya aku akan menarik rambutmu sampai botak!!” seru Nur Asyifa.


 


 


“Baguslah! Setidaknya kamu masih memiliki emosi marah sebagai manusia!!” seru Nike masih kesakitan.


 


 


Nur Asyifa melemahkan tarikkannya pada rambut Nike, “Apa yang kamu bilang?” tanyanya menuntut.


 


 


Merasakan Nur Asyifa telah melemahkan tarikkannya, Nike pun melakukan hal yang sama. “aku bersyukur, ternyata kamu masih memiliki pribadi emosional kemarahan sebagai manusia!” seru Nike.


 


 


“Tentu karena aku juga manusia! Walau terlahir di keluarga miskin, aku tetaplah ciptaan yang kuasa. yang terlahir dari seorang wanita bersuami, dan bernafas sama seperti manusia lainnya.” Seru Nur Asyifa.


 


 


Nike melepas cengkramannya dari rambut Nur Asyifa, “Lalu kenapa kamu hanya diam dan bersedih saat dikatai oleh manusia yang sama sepertimu?” tanya Nike .


 


 


Nur Asyifa melepas pegangan tangannya pada rambut Nike dan berdiri dari tubuh Nike yang ditindihnya.


 


 


“Kenapa tak menjawab Fa?” tanya Nike sembari membangunkan tubuhnya.


 


 


“Apa maksud semua ini Ke? Apa ini leluconmu?! Tanya Nur Asyifa.


 


 


"Apa yang kau harapkan Fa? Dunia itu kejam?! jangan naif sahabat! Kenaifan hanya akan menjadikanmu manusia rendah yang akan gampang tersakiti!"


 


 


 


 


(Besambung)

__ADS_1


__ADS_2