
NOT WRONG DESTINY_episode 16_Apakah
dia orangnya?_ (II)
Tatapan yang di
layangkan Arman pada Nur Asyifa membuat wanita itu malu dibuatnya. Belum ada
seorang pria yang menatap Nur Asyifa dengan bahagia selain Paman dan Parman. Dan
kini tatapan itu terjadi pada sosok pria rupawan yang berbeda kasta dengannya,
sungguh ia merasa tak pantas untuk itu.
“Fa, kamu sakit?” tanya
Parman sembari memengang jidat Nur Asyifa dengan tangan kananya- pelan- seperti
berbisik yang hanya di dengar Nur Asyifa yang kini sudah berada di samping
kirinya.
“Ngga lah, emang napa?”
“Masa? Tapi emang jidat
mu ngga angat atau panas sih. Tapi kok, mukamu memerah padam gitu?” tanya
Parman penasaran.
Nur Asyifa memutar bola
matanya- malas, “Dasar tukang kepo, jinjay deh.” Batin Nur Asyifa-ketus.
“Udah aku ngga pa-pa.”
ucap Nur Asyifa lirih karena Arman kini telah menatapnya lagi.
“Masa?” Parman yang
masih tidak percaya kembali memeriksa jidat Nur Asyifa. “Mungkin karena udara
yang panas kali yah.” Ucapnya lagi setelah tak ada tanda-tanda Nur Asyifa akan
demam.
------
------
-------
Bukannya
aku tak mengerti hati ini dan juga hatinya.
Tapi
aku merasa rasa aneh, ketika dirimu di kasih yang lain.
Tapi
aku merasa rasa aneh, ketika tawamu disebabkan yang lain.
Bukan
ingin menjadi yang terlihat di matamu, namun hanya ingin menjadi berarti dalam
bagian hidupmu.
Apakah
ini rasa cemburu? Tapi kita bahkan tak saling paham.
Mengenal,
tak saling sapa. Melihat hanya seyum tanpa kata.
Deretan
detak berdetak tak karuan rasa, apakah ini cinta?
Tapi
hanya sekali bercumpa, itupun karena perantara.
Bimbang
dalam dada, terlukis di dalam rasa. Hingga ketika rasiu menghampiri, doa
bersembah mohon jaga parasaan.
Arman menatap ke
dekatan Nur Asyifa dan Parman dengan penuh tanda tanya, “Apakah kedekatan mereka
sungguh hanya sebatas saudara? Tapi sikap Parman pada Nur Asyifa seperti sikap
laki-laki yang menyayangi wanitanya.” Batinya.
Tak di pungkiri bila
Arman memiliki perasaan seperti itu saat melihat sikap Parman pada Nur Asyifa. Di
suatu saat Parman bisa menjadi seorang bocah manja pada Nur Asyifa, di suatu
saat juga Parman bisa menjadi Pria dewasa yang penuh perhatian pada Nur Asyifa.
“Kakak-kakak ayo dengar
puisiku ini yah!” ucap pipit pada Arman yang membuat laki-laki itu tersadar
dari lamunannya.
“Ah, kenapa dek?” tanya
__ADS_1
Arman linglung.
Huss…
Pipit mendesah, ia
sedih karena Arman ternyata tak memperhatikan ucapannya. Laki-laki itu sibuk
dengan dunianya sendiri. Untuk apa datang bermain, jika memang tak ada niat
untuk ikut bermain.
Nur Asyifa yang melihat
tingkah Pipit langsung mendekati anak itu. Ia menahan bahu gadis kecil itu
seraya menggelengkan kepalanya dan berucap, “Kak Arman hanya kurang focus sebentar.
Pipit tidak boleh mengacuhkan orang seperti itu! Berdosa dan si benci oleh
Allah.”
“Pipit salah, pipit
hanya ingin bermain dengan kak Arman. Tapi kayanya kak Arman sedang sibuk
melamun sendiri.” Tuturnya jujur.
“Kak Arman melamun,
tapi setelahnya kak Arman bertanya pada Pipit untuk mengetahui lebih jelasnya
maksud Pipit saat kak Arman sudah tersadar. Jadi, Pipit tidak boleh punya sifat
suka ngambekan seperti itu.” Nasehat Nur Asyifa.
“Apakah karena kami
anak yatim ka Ifa?” tanya Pipit Lirih dan anak-anak panti yang lainnya juga
menantikan jawaban dari Nur Asyifa dengan senduh.
“Karena kalian manusia.
Manusia yang Allah ciptakan dengan kelebihan dari masing-masing diri. Dan hanya
untuk beribadah pada Allha. Menjalankan perintah, mengamalkan ajarannya dan
memiliki hati yang lapang.”
“Tapi bukannya manusia
itu labil? Bahkan Rasul Allah berkata bahwa manusia adalah perusak?” tanya Sami
menghakimi.
Nur Asyifa terseyum,
setelah itu ia berucap, “Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui.” (QS. Al
Baqarah [2]: 30). Jadi Sami dan adik-adik yang lain, Allah SWT menciptakan
kita sudah dengan perhitungan yang matang. Allah tahu apa yang ia kehendaki,
manusia pada dasarnya adalah baik, terlahir dengan suci. Namun, setelah proses
pendewasaan dirinyalah dan tekanan kehidupan maka akan terbentuk pribadi. Bila baik
akan baik dan bila buruk akan buruk pula perilaku. Makanya, dari sekarang kita
harus bersifat baik, dan Insya Allah akan berlanjut sampai adik-adik dewasa
nanti” Ucap Nur Asyifa menasehati sambil memandang anak-anak panti dengan
panjang lebar.
Arman dan
Parman hanya menatap Nur Asyifa- kagum. Wanita yang terlihat lemah saat di
kampus, namun penuh perhatian pada orang lain, dan juga memeliki hati penuh
kasih.
“Dan
ingat, jangan pernah merasa malu atau salah karena terlahir sebagai anak yatim.
Kalian berhak berpendapat dan bertanya. Karena kalian manusia.” Tambah Arman
setelah puas mengangumi Nur Asyifa.
“Betul
itu.” Timpal Parman.
--------------------------------------
Tak terasa waktu Ashar
telah tiba, Adzan di setiap penjuru mesjid telah berkumandang. Menandakan setiap
umat-Nya untuk berhenti sejenak dari aktifitas dunia dan meluangkan waktu yang
sebentar ini untuk menghadap-Nya. Mengucap Syukur akan segala nikmat-Nya, dan
__ADS_1
kemurahan hati-Nya menjadikan diri merasakan dunia fana.
Arman, Nur Asyifa,
Parman dan anak-anak panti bergegas ke mesjid dekat panti untuk menunaikan
shalat berjamaah. Di mesjid terlihat sedikit jamaah wanita yang shalat, bahkan
bukan sedikit lagi. Namun hanya Nur Asyifa dan anak panti perempuan yang ada. Mungkin
jika mereka tak shalat, bagian perempuan akan kosong melompong.
Sedangkan di bagian
laki-laki hanya terlihat sosok anak-anak muda di bawah tiga puluh tahunan. Mereka
adalah mahasiswa rantau yang ngekos di sekita Mesjid. Dan sisanya adalah
Parman, Arman dan anak laki-laki panti.
Lafad Iqomah telah
terdengar,
اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
أَشْهَدُ اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ
Asyhadu allaa illaaha illallaah
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ
اللهِ
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
Hayya 'alashshalaah
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
Hayya 'alalfalaah
قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ ،قَدْ
قَامَتِ الصَّلَاةُ
Qad qaamatish-shalaah, Qad
qaamatish-shalaah
اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ
Laa ilaaha illallaah
Dan mereka pun shalat
dengan khusyunya.
(bersambung)
-----------------------------
(Hanya hati penulis)
Sebenarnya, kenapa
manusia di lahirkan?
Kenapa manusia memiliki
kepercayaan?
Kenapa manusia tak
memiliki komitmen pasti?
Katanya Khalifa,
katanya untuk jalan hidup, karena separuh manusia adalah jin.
Akan baik jika akhlak
manusia itu baik. Akan hancur bila akhlak itu buruk.
“Hai temanku, marilah
bersama memahami diri, merenungkan kembali hati dan jiwa dalam ikhtiar di jalan
Allah SWT.
Love’u
*********
*********
__ADS_1
Hai Sahabat Mangatoon, terima
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.