
NOT WRONG DESTINY_episode 18_
Perselingkuhan adalah Kata Lain Cinta _ (II)
“Maafkan aku, ini semua
terjadi karena kesalahanku.” Ucap Parman lirih- merasa bersalah saat menatap
Suhadi yang terbaring di ruang rawat puskesmas.
“Entalah siapa yang
harus disalahkan. Semua benar-benar terjadi dengan cepatnya.” Balas Nur Asyifa
lirih yang juga sedang menatap Suhadi.
Tindakan yang rumit di
pahami Nur Asyifa dan Parman atas semua yang terjadi pada Suhadi. Mengapa pula
Suhadi mau melindungi Fatmawati yang jelas tidak pernah menganggapnya ada
sedemikian lama. Perselingkuhan di lakukan, tetapi masih tetap ada kasih yang terus
meraja untuk Fatmawati dari Suhadi.
Nur Asyifa terduduk
lemas, di lantai ruang rawat. Memikirkan kejadian barusan membuat beban di
pikiran yang menyiksa.
Tak lama berselang
adzan magrib berkumandang, dan suster Ete kembali ke dalam ruang rawat.
Tok… tok…
“Malam…”
Suster Ete mengetuk
pintu, memberi salam seraya masuk ke dalam ruangan.
“Malam sus.” Jawab Nur
Asyifa dan Parman bersamaan.
Saat suster Ete
melangkahkan kaki dari depan pintu masuk ia terkejut setelah mendapati bercak
darah yang seperti dari telapak kaki orang. Tadi sebelum ia keluar, ia memang
tidak sempat memerhatikan ruangan itu dengan baik.
“Ini darah atau apa?”
tanyanya dan langsung membungkukkan badan untuk melihat lebih dekat.
Untuk lebih jelas, ia
mencolek jejak tersebut dengan tangan dan menciumnya.
“Oh Tuhan, ini darah!”
ucapnya terkejut.
Nur Asyifa dan Parman
saling menatap- mereka juga terkejut. Darah siapakah itu? Apa itu bercak darah
Suhadi?
Suster Ete melirik kaki
Nur Asyifa kemudian kaki Parman. “Tuhan, ternyata bercak ini berasal dari kaki
kedua anak ini.” Batinya.
Huss…
Suster Ete mendesah,
kemudian ia kembali berdiri dan menatap Parman dan Nur Asyifa secara
bergantian.
“Apa kalian tak sayang
dengan diri kalian sendiri?”
Pertanyaan suster Ete
membuat Parman dan Nur Asyifa- bingung.
Sedari tadi setiap
ucapan yang di ucapkan suster Ete selalu membingungkan keduanya.
“Memangnya kenapa sus?”
tanya Nur Asyifa.
Hus…
Suster Ete kembali
mendesah. “Apakah tidak sakit?” batinya bertanya.
“Kalian sadar tidak,
kalau kaki kalian terluka?” ucap Suster Ete.
Parman dan Nur Asyifa
kembali saling menatap, setelahnya Parman segera berjalan kearah Nur Asyifa dan
membungkukkan badan. Dilihatnya telapak kaki Nur Asyifa, “Kenapa bisa begini
__ADS_1
Fa?” tanyanya lirih diikuti linangan air mata.
Telapak kaki Nur Asyifa
telah penuh sayatan-sayatan kecil dengan butiran pasir kecil yang telah
bertengger di dalamnya.
Yang melihatnya saja begitu perih, apalagi yang merasakannya. Namun Nur Asyifa malah tak bergeming atau meringis kesakitan. Wanita itu malah terlihat penuh kekhawatiran pada sosok Suhadi seorang tanpa memperdulikan dirinya sendiri.
“Kenapa tidak memberitahuku?”
tanya Parman lagi.
“Aku tidak merasakan
sakitnya Man.” Jawab Nur Asyifa lirih, sakitnya sama sekali tak terasa
menyakitkan bila dibandingkan dirinya yang takut kehilangan sosok ayah untuk ke dua kalinya.
“Bukan saja wanita ini
yang harus memerhatikan dirinya, tapi
kamu juga ?” ucap suster Ete menunjuk Parman dengan membawa peralatan untuk
mengobati luka ke duanya.
Kini giliran Nur Asyifa
yang melihat telapak kaki Parman, sungguh tak jauh beda dengan punyanya. Luka sayatan-sayatan
kecil yang sudah di penuhi pasir di dalamnya.
"Apa yang terjadi dengan kalian berdua? Sesedih atau semenderita apapun kalian, jangan menyiksa diri dengan tidak memperdulikan kesehatan sendiri. Jika kalian tidak merawat tubuh kalian, jika kalian tidak kuat dan sehat, bagaimana kalian bisa membantu ayah kalian menjadi sehat. Pikirkan saja, bagaimana sedihnya ayah kalian bila melihat ke dua anak yang disayanginya terluka seperti ini." ucap suster Ete lagi menasehati.
Dan hanya linangan air mata yang bisa di suguhkan Parman dan Nur Asyifa- mengingat semua perhatian Suhadi yang begitu tulus dan sayang pada mereka.
-----------------------------------
“Hari ini aku senang
banget, makasih Fa. Sudah membawaku ikut main ke panti.” Seru Parman yang masih
melajukan sepedanya.
“Iya… bawel.” jawab Nur Asyifa sedikit jutek.
“Makasih juga karena
kamu sudah terseyum tanpa beban untuk hari ini. Aku sangat bahagia.”
deh.”
“Apaan yang gila. Aku tuh
lagi beryukur, bisa lihat seyum indahmu yang mengambang di bibir lagi. Udah beberapa
hari ini kita terlalu tegang di rumah. Rumah sudah seperti neraka ke dua di
dunia saja.”
Kali ini Nur Asyifa tak menjawab
ucapan Parman, wanita itu hanya mempererat pelukkannya dan menyandarkan
kepalanya di belakang Parman.
Parodi
hidup yang tersematkan, membuat diri lunglai meringis kehidupan.
Fajar
datang dan senja pergi, menjadikan hari berputar dan kematian semakin mendekat.
Termenung
dan penuh sesal bisakah menghilangkan derita?
‘Tidak’
itulah jawaban singkatnya yang terlampau jelas.
Lalu
seberkas cahaya datang pada hati yang gelap. Menerangi yang tak terlihat mata.
Awalnya
masih terlihat samar, hati enggan untuk menerima cahayanya.
Namun
cahaya itu malah menerangi seisi jiwa, membuat diri akhirnya terbuka.
Seyum
dan kesyukuran yang selalu tersemat dalam rintihan keseharian cahaya, membuat
diri lambat laun terjerumus dalam akal.
Ternyata
hidup itu indah, karena kesedihan adalah bumbu manis lahirnya kebahagiaan.
Dan
setiap senja berganti fajar, penuh syukur karena masih di berikan waktu untuk
__ADS_1
melihat cahanya. Menemani hari hingga waktu yang di tentukan akan berakhir.
Dan
penyesalan hilang, menggantikan syukur Alhamdulillah.
“Karya Parman” ucap
Parman menyelesaikan puisi yang diucapkannya sekarang.
Nur Asyifa tarseyum,
seraya berucap “kamu udah ketularan Pipit sama kak Arman deh Parman. Hihihihi.”
“Hehehehehe…. Ketularan
yang baik dong. Akhirnya aku bisa mengutarakan isi hati dengan kata indah.” Ucap
Parman cengengesan.
“Ya….. ya…. Ya…. Keindahan
yang sedikit membingungkan otak dengan kiasan yang tak sampai nalar orang kampung
ini.” Ucap Nur Asyifa merendah.
Parman terkekeh- geli. “Jelas
bohong banget kalau kamu ngomong merendah gitu. Nggak sampai nalar atau kiasan
yang terucap emang salah? Anak pintar kaya kamu mana ngga ngerti hal gituang.”
“ Maaf yah, kami anak
logika, malas bermain kata pujangga yang merangkai kata primitive jaman old. Understand!
Yes or no?”
“Yes.” Jawab Parman
yang membuat keduanya tertawa riang di atas sepeda yang dikemudikan Parman.
-------
-------
------
Kumandang adzan subuh
menyadarkan Parman dari tidurnya, dengan mata yang masih berat, ia membuka
mata. Terlihat Nur Asyifa masih terpejam di samping kirinya. “mengulang hal
indah hanya dalam mimpi.” Batinnya berucap diikuti seyum sinis dari bibirnya.
Bagaimana ia
melanjutkan harinya, bila cahaya yang datang kehilangan sinarnya.
Baru sejenak
merilekskan jiwa dengan melepas penat, kini datang gelombang derita menghantam
jiwa.
Siapa yang harus di
salahkan?
Siapa yang harus
menyalahkan?
“Perselingkuhan adalah
kata lain cinta? An**ng semua. Wanita biadab, laki-laki kurang ajar. Semoga kalian
selalu bahagia, dan tidak ada derita dalam hidup untuk selamanya. Semoga Allah
tidak mengambulkan itu semua.” Umpat Parman dalam hatinya kembali.
Sesal terlahir sebagai
anak Fatmawati dengan selingkuhannya itu, membuat setan kembali meraja dalam
pikirannya. “katanya Allah itu maha adil, kebaikan di balas kebaikan. Kejahatan
di balas kejahatan. Kenyataannya mana? Malah kejahatan yang selalu bahagia. dan
penderitaan selalu saja menderita. Ngapain selama ini kamu shalat, bersyukur,
bersedekah, bila kebaikkan itu terbalaskan penderitaan. Allah itu ngga adil,
kembali tidur saja. Ngapain bangun untuk shalat, kamu lagi sakit, Nur Asyifa
juga sakit bahkan ayah yang kamu sayangi juga sakit. Percuma juga kamu shalat. Ujung-ujungnya
menderita.” Ucap setan dengan seyuman.
“Benar, dunai kejam ini
hanya orang jahat yang selalu bahagia. Orang yang melupakan Allah hidup
bergelimang harta, orang yang selalu mengingat dan bertasbih pada Allah hidup
dalam kemiskinan. IRONIS.” Batin Parman membenarkan pemikiran setan yang
terbesik di benak.
(bersambung)
*********
*********
Hai Sahabat Mangatoon, terima
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.
__ADS_1