
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila
ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon
kebijaksanaannya dalam membaca yah…
Cerita ini mengandung unsur dewasa,
tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para
pembaca sekalian.
NOT WRONG DESTINY_episode 1_Nur Asyifa_Pov (I)
Oh MY GOD, jantungku benar-benar hampir
berhenti berdetak bila mengingat kembali masa itu. Masa pertama kali aku
mengenal bangku kuliahan. Agustus 2013, mengikuti masa orientasi kampus yang
mereka singkat OSPEK. Dimana baru hari pertama saja aku sudah di buli sama para
kakak-kakak tingkat yang mereka sebut sebagai HMJ (himpunan mahasiswa jurusan).
Maklum, dulu aku kuliah di Poknik Negeri Ambon. Yang merupakan pendidikan
vokasi yang hanya sampai diploma III studinya.
Dan inilah awal ceritaku………….
-------------------------------
“Hai dekil, berdiri kamu!” Seru seorang
pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Aryan ketua HMJ Akuntansi yang berdiri
di depan para MABA (mahasiswa baru) dengan angkuh.
Mata pria itu menatapku, namun terasa
seperti para maba yang duduk berjejer disana merasa ditatap dan dipanggilnya.
Dan awalnya akupun bingung siapa yang diperintahkannya itu.
“Hai kamu, maba perempuan terjelek di tahun
ini- apa kamu tuli!” serunya lagi yang menunjuk langsung padaku dengan
telunjuknya.
Geram……
Aku sugguh geram dengan perkataan pria
itu, bisa-bisanya seorang mahasiswa berkata seperti itu- tercela. Seperti orang
yang tidak berpendidikan, kasar dan bodoh.
Aku pun hanya diam, toh aku tidak merasa
bernama wanita dekil, ataupun wanita jelek. Biarkan saja pria sok-sokkan itu
teriak sampai mulutnya berbusa.
“Kamu tuli!! Aku manggil kamu dari
tadi!!” Kini pria itu terlihat kesal,
Aku sih masih tetap diam, namun seketika
suasana di dalam auditorium itu mulai riuh. Maba yang lainnya mulai sekali-kali
berpaling dan menatapku, ada tatapan jengkel, kasihan dan mengintimindasi. Dan
tatapan mereka bagai angin lalu bagiku, tatapan itu sudah terlalu biasa aku
alami sampai aku lupa rasa sakitnya.
“Kamu anak baru songong juga yah.” Ucap
pria itu lagi dengan penuh penekanan, dan mulai berjalan mendekatiku.
Aku duduk di baris paling belakang,
dengan jumlah mahasiswa 500 orang. Itu jumlah mahasiswa jurusan Akuntansi sih.
Jurusan yang aku pilih di kampus ini, karena jurusan itu sesuai dengan
jurusanku dulu semasa SMK (sekolah menengah kejuruan).
Pria itu berjalan perlahan demi
perlahan.
Sumpah!!
Benar-benar lebay abis gaya jalannya.
Dan melihat itu, hatiku terkekeh geli.
Kok masih ada yah manusia seperti ketua HMJ itu.
Ia berjalan bukan disamping maba
lainnya, malah sok-sokan berjalan di depan maba lainnya sembari si maba-maba
membuka jalan biar doi bisa lewat.
Iiihhh, cincau deh……
Mau alah filem-filem gitu, biar di
pandang ‘waw’ sama maba cewek yang cantik-cantik. Tapi benar-benar bikin mual
di pandang mata tuh gayanya.
“Kamu benar-benar bernyali tinggi yah.”
__ADS_1
Ucapnya pelan saat sampainya di depanku dan duduk menatapku dengan seyum sinis
yang tersungging di bibirnya.
“Tentu tidak kak, aku tidak punya nyali
yang tinggi.” Jawabku pelan asal ceplos aja tanpa menatapnya.
“Oh, kamu bisa ngomong juga? Aku kira
kamu tul……
“Udah, kasih pelajaran aja maba yang
kayak gitu!” seru salah seorang anggota HMJ wanita yang lainnya-Agnes- memotong
ucapan pria itu.
“Udah jelek, belagu lagi.” Serunya lagi
ketus. “kalian dengar semua! Jangan berani mengacuhkan para senior kalian
terutama para HMJ. Ingat pasal-pasal yang telah kalian pelajari sebelumnya.
Cepat ucapkan!” perintah wanita itu kepada para maba.
Pasal 1, senior tidak pernah salah;
Pasal 2, senior selalu benar;
Pasal 3, jika senior salah, kembali
lihat pasal 1 dan 2.
Ucap para maba bersamaan.
Dan akupun terdiam, pasal-pasal itu
aneh- yang mengharuskan junior selalu salah. Apa bedanya kita dengan militer,
Sersan selalu benar saat bicara dengan prajurit, bahwa letnan selalu benar
saat bicara pada sersan, begitu terus
sampai Jenderal serta Marsekal. Bahkan saat orang berkata 1+1\= 3. Maka, jika
tidak mematuhi atasan, kamu akan diganjar hukuman mati atau bertahun-tahun di
penjara. Ironis…….
“Dengar itu?” ucap pria itu padaku pelan
setelahnya.
“Apa salahku kak?” tanyaku bingung.
Karena akupun nggak tahu apa salahku sehingga harus diberi pelajaran alias di
hukum.
mengarah tajam padaku. Tatapan merendahkan, yang seharusnya tidak pantas bagi
seorang manusia berpendidikan sepertinya.
“Teman-teman sekalian. Wanita ini
menanyakan apa kesalahannya padaku, maka siapa yang bisa mengatakan kesalahan
wanita cantik ini?” serunya dengan seyum mencemooh.
Aku tak ambil pusing dengan hanya
sekedar seyuman sinis ataupun cemoohan orang lain. Nggak guna, bikin penyakit.
“Dia salah nggak ngebalas panggilan
kakak.” Ucap salah satu maba wanita dengan suara manja.
“Kamu yang jawab silahkan berdiri!”
perintah Aryan pada wanita itu.
Wanita itu berdiri dengan keayuannya,
tubuh yang ramping dengan rambut panjang lurus sepinggang, mata elang dengan bibir
tipisnya dengan kening yang hitam namun kecil sungguh membuat semua hati pria
meleleh di buatnya.
Aryan melihat wanita itu dengan tatapan
penuh arti, bahkan sampai ia menelan salivanya sendiri
“Perkenalkan namamu!” perintah Aryan
lagi setelahhnya dengan nada di bikin penuh wibawa.
Iihhh…. Sumpah, aku jijik deh dengan
pria bernama Aryan ini. Di depan wanita cantik saja baru deh ngumbar-ngumbar
kewibawaan yang dibuat-buat.
Malas.
“Namaku Ayu Lestari kak.” Jawab maba itu
dengan suara manjanya.
Yah, pantas sih kalau Ayu memiliki suara
manja seperti itu. Kecantikkan memang selaras dengan sikap. Aku yang seperti
ini, bila bersuara manja seperti itu, maka akan ditertawakan dunia deh.
“Ayu Lestari, nama yang sesuai dengan
__ADS_1
orangnya.” Puji Aryan sok ke gantengan. “Dan kamu!” liriknya padaku, “berdiri
dan sebutkan namamu!” perintahnya kemudian padaku.
Aku berdiri, “namaku Nur Asyifa kak.”
Ucapku kemudian memperkenalkan diri.
Dan kedelapan HMJ jurusan akuntansi itu
saling menatap dan tertawa sampai terbahak-bahak. Aku sadar mereka menertawakan
namaku yang tak sesuai dengan rupaku.
Tapi apa hak mereka menertawai nama
pemberian almarhum kedua orang tuaku. Apa-apaan HMJ seperti itu. HMJ (himpunan
mahasiswa jurusan) haruslah berdasarkan prinsip dari, oleh dan untuk mahasiswa.
Mengembangkan pola pikir, potensi, dan kepribadian yang berakhlak untuk
disiplin ilmu atau merangkul orang-orang yang tertindas. Namun mereka malah
sebaliknya- menindasku tanpa sebab.
--------------------------
Tawa mereka yang begitu keras, membuat
HMJ dari jurusan lain yang bersama dengan kami di ruang auditorium itu ikut
kepo. Ada beberapa yang datang menghampiri jurusan kami dan menanyakan perihal
alasan tawa anak-anak HMJ Akuntansi.
Manusia dalam hal kerohanian, mereka
dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi- makhluk sempurna dan mulia,
makhluk yang bertanggungjawab, khalifah dan hamba Allah SWT., makhluk
berakhlak, dan makhluk kontroversial.
Dan untuk manusia-manusia di depanku
ini, aku bisa sebut mereka munusia kontroversial. Dimana ketika manusia tidak
mempergunakan akalnya dan diperbudak oleh hawa nafsu, maka akan menjadi makhluk
yang paling hina dan rendah.
Aku melihat mereka dengan tatapan
kasihan, ada yah pemimpin seperti mereka. “Semoga negaruku ini tidak di pimpin
oleh orang-orang seperti ini.” Bantiku.
“Sudah, suruh dia lari aja mutarin
kampus 10 kali biar kapok.” Celetuk salah seorang HMJ dari jurusan lain yang
telah mengetahui cerita asal-muasal tawa renyah HMJ Akuntansi.
Mereka menatapku kembali,
“Kamu dengar itu, kamu harus lari
mutarin kampus ini 10 kali tanpa berhenti.” Ucap Aryan dengan penuh penekanan
pada kalimatnya.
“Maaf kak, apa salahku sehingga aku
perlu lari?”
Pertanyaan yang seharunya tak perlu ku
tanyakan itu- menghancurkanku. Aryan terlihat emosi, walau seyum masam
tersungging terus di bibirnya.
“Hei anak baru!! Lancang sekali mulutmu
bertanya seperti itu!!” seru HMJ akuntansi yang perempuan- Arti, yang katanya
adalah sekertaris HMJ.
‘Lancang?’ apa ia bertanya kesalahan
kita yang tidak kita ketahui adalah sebuah kelancangan?
“Kamu cepat lari!!” perintahnya degan
kasar padaku.
Akupun tak habis pikir dengan sikapku
hari itu, kenapa bisa-bisanya aku wanita yang menurutku sangat penurut,
bisa-bisanya melawan perintah senior apalagi mereka adalah HMJ yang
mengospekku.
Dan aku malah tetap bersekukuh, diam di
tempat tanpa mengikuti perintah mereka untuk lari.
(bersambung)
***********
***********
Hai Sahabat Mangatoon, terima
kasih sudah membaca Novelku ini_ Salam Hangat_ Jamaludin M.
__ADS_1