NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 23_ Bersama Sahabat Seharian _ (I)


__ADS_3

NOT WRONG DESTINY_episode 23_


Bersama Sahabat Seharian _ (I)


(Nur Asyifa Pov)


Kerinduan ku pada Nike


masih belum tercurahkan sepenuhnya, sudah dua jam lebih kami mengobrol dan


sesekali kami berpelukkan. Namun terasa saja sangat kurang.


Adzan zuhur yang


berkumandang membuatku menghentikan aktivitas kerinduan pada Nike dan


menjalankan kewajiban ku dulu. Aku pergi ke Mushola kampus di temani Nike, Nike


menunggu ku di luar mushola dan aku pun masuk untuk shalat.


Deg……


Aku begitu malu dan


terkejut setelah masuk ke dalam mushola dan mendapati kak Arman di dalam. Ia


melihat kearah ku dengan seyuman. Sungguh menggetarkan hati, lesung pipinya


dapat aku lihat dengan jelas.


Astagfirullah Haladzim…


Innalillahi….


Hatiku beristigfar, aku


sudah melakukan zina mata. Aku segera memalingkan pandangan dari kak Arman.


Namun begitu tak


terduga, kak Arman malah berinisiatif untuk melakukan shalat berjamaah. Yah,


walaupun itu memang bagus. Tapi aku sedikit malu dan hatiku deg-degan takaruan.


Di dalam mushola bagian


perempuan ada Ayu Lestari dan Aisya yang juga akan menunaikan shalat, mereka


sangat gembira dan langsung menerima ajakan kak Arman untuk shalat berjamaah.


Dan akupun ikut setuju mengikuti mereka.


Kami mulai menunaikan


shalat setelah laki-laki yang bersama kak Arman melafalkan iqomah.


------------------------


Setelah selesai shalat


zuhur, aku menyempatkan diri untuk mengaji surah al- luqman.


“Wahai


manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu)


seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula)


menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah


sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu


teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah. Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari


Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.


Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan


dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi


mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Q. S. Al-


Luqman ayat 33-34)”


Hatiku


sangat damai ketika selesai melantukan ayat Allah SWT. ada obat penenangnya


sendiri yang membuat hati teduh dan hilang rasa gundah.


Setelah


selesai mengaji, aku merapikan mukena dan al- qur’an ku dan memasukkannya ke


dalam tas. “beres.” Batinku. Aku berdiri dan hendak keluar dari mesjid namun


langkah ku terhenti setelah ada suara yang menyapaku.


“Assalamu’alaikum


Fa.”


Deg……


Jantungku


berdegup kencang, siapakah yang mengenaliku di kampus ini? dan lagi hanya ada sua laki-laki di dalam mushola. apakah? Aku memalingkan


pandangan pada suara yang menyapaku itu, dia ternyata kak Arman. Seperti yang ku duga. Yang sudah


terseyum dengan sangat tampannya. Aku segera memalingkan pandanganku lagi dari


kak Arman dan menjawab salamnya.


“Wa’alaikum


salam.”


Jantungku


terasa ingin lompat keluar. Ya ampun, kak Arman yang adalah ketua dewan


sekaligus pria terpopuler dan sangat tampan ini menyapaku duluan. Mimpi apa aku


semalam?


Dan


lagi-lagi aku di buat shock olehnya, kini ia malah mengajakku makan di kantin.


Aku menatapnya heran. “Apa ia sedang sakit? Atau hilang ingatan?” batinku.


“Wah, kakak mau ke


kantin? Kami juga hendak ke kantin, ayo pergi sama-sama!” suara kegirangan Aisya


membuatku tersadar dari lamunan.


Aku melihat Ayu dan


Aisya begitu bahagia dengan ajakkan kak Arman, yang sebenarnya untukku. What


ever lah. Aku ngga mau ambil pusing, dan malah berpamitan untuk keluar duluan


karena Nike sedang menungguku di luar.


--------------------------


(Author POV)


Nike yang melihat Nur


Asyifa keluar dari mushola terseyum simpul. Di dekati sahabatnya itu dan


merangkulnya yang di balas seyuman dan salam dari Nur Asyifa.


“Assalamu’alaikum, maaf


lama.” Ucap Nur Asyifa.


“Wa’alaikum salam, ngga


pa-pa.” jawab Nike.


“Kita ke kantin yuk! I


am hungry.” Ucap Nike lagi dengan manja.


“ok, we fill the stomach first. After that just


continue other things!” Seru Nur Asyifa dengan seyuman.


“Ya…


ya… ya… aku make bahasa inggris se kata kamu se kalimat. Ora ngerti aku.” Ucap


Nike yang membuat Nur Asyifa terkekeh.


“Maaf


beb. Naluri alamiah.” Ucap Nur Asyifa menggoda.


Nike


memanyunkan bibirnya kesal, “Kamu selalu hebat seperti dulu, walaupun udah dua


tahun ngga sekolah, kamu masih tetap pintar.” Ucapnya kemudian.


“Aku


ngga pintar Ke.” Ucap Nur Asyifa.


“Tapi


rajin belajar.” Celetuk Nike.


Dan


keduanya saling menatap dan terkekeh. Itulah kalimat yang sering Nur Asyifa


ucapkan dulu saat anak-anak yang lain terlalu memuji kecerdasannya. Ia dengan


senyum ramah akan mengatakan “Aku bukan anak pintar, tapi aku hanya rajin


belajar.”


-------------------------


Arman, Angga, Ayu dan


Aisya keluar dari mushola. Arman keluar paling pertama, di susul Angga, Ayu dan


terakhir Aisya.


Dan saat sudah di luar


mushola, mata Arman menangkap sosok Nur Asyifa yang tengah merangkul dan


tertawa riang dengan seorang wanita lagi yang tidak berhijab. Ke duanya nampak


sangat akrab.


Dan hati Arman terasa


lega, setidaknya ia sekarang sudah tahu bahwa yang di temui Nur Asyifa adalah


seorang wanita juga, dan pasti wanita itu juga yang sedang menunggu Nur Asyifa


tadi.


“Hei bro, kenapa


bengong? Ayo jalan ke kantin!” bisik Angga pada Arman yang terdiam dan melamun,

__ADS_1


yang sudah ada di samping kiri Arman.


Bisikkan Angga membuat


Arman menatapnya kesal. Angga yang di tatap seperti itu oleh Arman, seketika


merinding. “Menakutkan” batinya.


“Kak Angga dan kak


Arman, ayo kita jalan ke kentin!” ucap Ayu dengan suara manjanya.


“Hehehhehe……. Kita


duluan aja! Nanti kak Arman nyusul dari belakang.” Seru Angga yang mau kabur


dari tatapan Arman.


Terlihat wajah tak


senang dari Ayu mendengar ucapan Angga, “Ihh, siapa juga yang mau bareng kamu?


Aku mau ke kantin hanya untuk kak Arman.” Batin Ayu kesal.


“Jangan gitu kak Angga,


kita harus setia kawan. Masa kita ninggalin kak Arman.” Ucap Ayu menatap Arman


dengan seyum.


Angga menggaruk


tengkuknya yang tak gatal, “Eh, dek. Kita jalan aja duluan! Kak Arman lagi ada


urusan yang lain.” Ucapnya kemudian. “Iya kan bro?” tanyanya pada Arman dengan


menyiku perut Arman pelan.


Arman menatap mereka


bertiga bergantian, “Kita pergi sama-sama aja.” Ucap Arman kemudian dan


melangkah duluan.


Angga mengikuti Arman,


kemudian Aisya dan Ayu. Ayu terlihat sangat bahagia dengan sikap Arman yang


tidak menolak dirinya untuk makan bersama.


Sepanjang jalan menuju


kantin, Angga yang mendominasi percakapan. Arman hanya menjawab singkat, iya


atau tidak.


“Kita belum kenalan,


nama ku Angga dan dia Arman.” Ucap Angga dalam perjalanan.


“Aku Aisya kak, dan dia


Ayu temanku.” Ucap Aisya memperkenalkan diri.


“Kak Arman yang ketua


dewan itu kan?” tanya Ayu pada Arman.


“Iya.” Jawab Arman.


“Hehehhehe….. Yu, kamu


salah bertanya pada Arman. Jangan menanyakan yang udah jelas. Tanya yang lain


kek. Seperti, kak Arman udah punya pacar?” ucap Angga menggoda.


Arman menatap Angga


kesal. Dan yang di tatap mempunyai keberanian yang entah dari mana untuk


terkekeh.


“Ayu sama Aisya udah


punya pacar belum?” tanya Angga.


“Belum.” Jawab Aisya


dan Ayu menggelengkan kepala pertanda ‘belum juga’.


“Wah, ada kesempatan


nih.” Celetuk Angga yang membuat wajah Ayu dan Aisya memerah.


“Udah tahu kelasnya


belum?” taya Angga.


“Udah kak, tadi pagi.


Dan kami sekelas.” Jawab Aisya.


“Ooooo, eh, Ayu kamu


anaknya pendiam ya?” tanya Angga pada Ayu.


“Tidak kak.” Jawab Ayu


singkat.


Ayu bukannya anak yang


pendiam, tetapi ia hanya malas untuk ngobrol dengan Angga. Kalau saja yang dari


tadi mengoceh adalah Arman, mungkin Ayu sudah berbicara panjang lebar dengan


penuh seyuman. Ayu juga ngga mungkin harus bertanya terus pada Arman yang hanya


menjawab, iya kalau benar dan tidak kalau salah.


Ayu mendengus, ia


sedikit sebal dengan Angga yang terus mengoceh dan ia pun melirik kearah Arman,


“aku akan memilikimu kak.” Batinya.


-------------------------


Entah Arman dan yang


lainnya yang berjalan lambat, atau Nur Asyifa dan Nike yang berjalan cepat.


Namun yang pasti, waktu Arman, Angga, Ayu dan Aisya sampai di kantin, sudah


terlihat Nur Asyifa bersama Nike yang tengah memilih-milih gorengan.


“Nustri sari dingin 2


ya bu.” Seru Nike memesan minuman dan mereka mulai duduk di tempat yang kosong.


“Hallo beb Nike, kita


gabung yah! Seru Aryan yang langsung duduk di samping Nike. Diikuti kedua


temannya.


Deg……


Uhukkk….


Nur Asyifa begitu kaget


melihat Aryan yang berada di depannya, hingga ia tersedak pisang goreng yang sedang


di kunya dalam mulutnya.


Nike yang melihat


sahabatnya tersedak, segera memberinya minum. Nur Asyifa memegang gelas dengan


tangan yang gemetar. Walaupun ia berusaha tak gugup, namun ketakutan yang


teramat menghancurkan pondasi yang akan di bangun itu. Ia menaru gelas setelah


meminum air, dan menundukkan kepala. “Apa aku bermimpi?” batinya.


“Oh, siapa ini?” seru


Aryan bertanya pada Nur Asyifa dengan seyum sinis.


“Dia sahabat ku Yan.”


Jawab Nike terseyum tanpa tahu apa-apa.


“Oh, sahabatnya Nike


toh. Kok kamu mau berteman sama dia sih Ke?” tanya Aryan sinis.


Nike mengkerutkan


dahinya- heran dengan pertanyaan Aryan. Ia juga menatap Nur Asyifa yang telah


diam seribu bahasa. “Ada apa ini?” batinnya mulai enggah.


“Kenapa kamu bertanya


begitu?” Nike balik bertanya pada Aryan tak senang, tanpa menjawab pertanyaan


Aryan sebelumnya.


“Emang salahkah


pertanyaanku?” tanya lagi Aryan sembari diikuti gerak bahunya yang dinaikkan.


“Salah. SALAH BESAR.”


Seru Nike kesal.


“Lo….”


“Ni non nutria sari


dinginya.” Ucap ibu kantin yang membuat Aryan tak melanjutkan perkataannya.


“Makasih bu.” Ucap Nur


Asyifa lirih.


Dan Nike hanya diam dan


menatap Aryan kesal.


Setelah bu kantin pergi


Aryan mulai kembali bersuara.


“Kenapa menatapku begitu?


Apa salah aku menganggap bahwa dia, (tunjuk Aryan pada Nur Asyifa) tak pantas


berteman sama kamu. Apalagi sampai dikatakan bersahabat.” Seru Aryan langsung


pada inti.


Mata Nike terbelalak


tak percaya mendengar ucapan yang Aryan lontarkan seakan menghakimi Nur Asyifa.


“APA HAK KAMU BERKATA


SEPERTI ITU!” Hardik Nike penuh amarah.


Sontak semua orang yang

__ADS_1


ada di kantin menatap kearah mereka.


“LOH, KOK KAMU JADI


KASAR SIH.” Seru Aryan tak kalah kerasnya.


Melihat Aryan dan Nike yang sudah mulai tersulut emosi, membuat ke dua teman Aryan sedikit mejauh dari kegaduhan itu.


Sedangkan, saat mendengar ucapan Aryan, membuat Nike terseyum sinis


pada Aryan, dengan tatapan merendahkan Nike berkata, “Maaf yah ARYAN, yang


seharusnya tak pantas berteman dengan aku tu kamu. Kamu ngga selevel sama kami,


junior aja belagu, muka pas – pasan, kantong pas – pasan, otak pas – pasan. Apa


ada yang bisa kamu banggakan? Hahahhhahaa…. Ngga nyadar.”


Deg…..


Jantung Nur Asyifa


kembali berdegup kencang, kali ini karena ia mendengar ucapan sinis dari Nike


pada Aryan yang dianggap sudah keterlaluan.


“Ke, jangan seperti


itu!” ucap Nur Ayifa lirih seraya memegang tangan Nike.


“Kita ngga bisa biarkan


orang macam dia ngelunjak Fa?” seru Nike kesal.


Nur Asyifa berdiri dari


duduknya dan kembali memegang tangan Nike.


“Iya, tapi kita juga


ngga di perbolehkan untuk menghujat dia. Apa bedanya kita dengan dia, jika


kembali menghujat? Kata-katamu itu kasar Ke!” ucap Nur Asyifa lirih.


“Kamu aja yang terlalu


baik Fa, orang kaya dia harus diginiin supaya kapok!” seru Nike kesal.


Hus…


Nur Asyifa mendengus


kesal dengan Nike yang terus kukuh dengan ucapannya. “Apa kamu senang


mempermalukan orang lain seperti ini Ke? Di sini banyak orang, kamu ngga mikir


bagaimana perasaan orang yang kamu sakitin.” Ucap Nur Asyifa lirih.


Huhhh….


Nike melongo, sekarang


apa dia yang menjadi penjahat dan Aryan korbannya? Nur Asyifa benar-benar telah


menyakiti hatinya. Ia hanya tak suka mendengar Aryan yang merendahkan Nur


Asyifa, sahabat yang sudah seperti saudara kandung baginya. Sudah bertahun-


tahun ia merindukan Nur Asyifa, dan bahagia saat akhirnya dapat di pertemukan


kembali dengan Nur Asyifa. Namun, Aryan muncul mengusik kebahagiaannya. Dan Nur


Asyifa malah terlihat lebih membela Aryan dari pada dirinya.


“Kamu berubah Fa.” Seru


Nike sedih dan melepas pegangan tangan Nur Asyifa seraya berlari keluar kantin.


“Nike…”


Nur Asyifa hendak


mengejar Nike, namun terhenti saat mendengar ucapan Aryan.


“JANGAN SOK SUCI KAMU! Berpura-


pura menjadi malaikat agar orang lain terkesan? ****!!!!” seru Aryan dan


langsung berjalan keluar kantin.


Mata Nur Asyifa


terbelalak, “paru-parunya terasa telah di ikat ribuan tali yang membuat nafasnya


sangat sesak, kakinya keluh. Dan terduduk lemas di bangku. Pertama kali ada


yang memakinya, dan entah mengapa makian itu lebih sakit dari pada tertikam


pisau di sekujur tubuh, atau bahkan beribu-ribu kata hinaan atau celaan orang


padanya.


“Ayah, Ifa harus apa?


Ifa benar-benar buta sekarang.” Batinya berkata dengan air mata yang sudah


berlinang dari sarangnya.


---------


--------


---------


Saat Arman, Angga, Ayu


dan Aisya sampai di kantin, Arman segera memilih tempat duduk yang dekat dengan


Nur Asyifa, ada tempat yang kosong dekat sebelah belakang meja Nur Asyifa dan


Nike. Dan mereka duduk di sana.


Awalnya Arman sangat


bahagia bisa berada tepat di belakang Nur Asyifa, jarak mereka bahkan sangat


dekat. Sesekali Arman bisa merasakan belakangnya terdempet dengan belakang Nur


Asyifa. Walau kemudian mereka memberi jarak karena rasa risi yang tak dapat


tergambarkan.


Namun semua itu hanya


sementara, kedatangan Aryan membuat moment indah itu seketika lenyap dan hanya


kekesalan Arman yang terlihat saat mendengar kata-kata Aryan yang merendahkan


Nur Asyifa. Untung Nike bisa menangani Aryan dengan baik, membuat hati Arman


kembali lega. Tapi kebaikkan hati Nur Asyifa membuat Arman kembali kesal.


“Ngapain membela laki-laki seperti Aryan?” batin Arman.


Tiba-tiba suasana


semakin mencekam kala Nike menghina Aryan dan Nun Asyifa malah terus berdebat


dengan Nike untuk membela Aryan, dan membuat Nike memilih pergi meninggalkan


Nur Asyifa.


Aryan yang di bela


bukannya merasa bersalah dan berterima kasih, malah berkata kasar pada Nur


Asyifa sampai memakinya. Arman berdiri dengan kesal seraya mengikuti Aryan yang


sudah berjalan keluar kantin.


-------


------


-------


(Arman pov)


Aku sangat kesal dan


marah saat Aryan memaki Nur Asyifa. Aku mengejar Aryan yang sudah berjalan


keluar kantin duluan.


“Berhenti ARYAN.”


Teriakku yang membuat Aryan berhenti berjalan dan mahasiswa lainnya menatap


kearah kami.


Aku tak memperdulikan


tatapan itu, aku yang sudah kalut dengan terbawa emosi langsung menonjok Aryan


tanpa aba-aba.


Sontak Aryan tersungkur


dan bibirnya terluka. Aku kembali hendak memukul Aryan namun di cegat oleh


Angga dan yang lainnya.


“Kamu gila ya Man?”


seru Angga kelimpungan.


“Lepaskan aku Ngga!


Biarkan aku menghanjar laki-laki kurang ajar ini!” seruku marah.


Emosi? Ya. Kesal? Ya.


Benci? Ya. Marah? Ya.


Berbagai amarah aku


rasakan dalam dada pada Aryan, rasanya aku ingin meninju Aryan sampai amarah


ini hilang.


“Kamu mau membunuhnya?


Kamu sinting?! Ada apa denganmu? Dimana Armna yang bijaksana?!” tanya Angga


kesal.


Mendengar pertanyaan


Angga yang seperti pernyataan membuatku terdiam, amarah berkurang. Aku berfikir


keras, “ini bukan diriku?” batinku.


Ya Allah, aku sungguh


hilang akal kalau sudah menyangkut tentang Nur Asyifa.


(bersambung)


*********


*********


Hai Sahabat Mangatoon, terima

__ADS_1


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.


__ADS_2