NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 17_ Perselingkuhan adalah Kata Lain Cinta _ (I)


__ADS_3

NOT WRONG DESTINY_episode 17_


Perselingkuhan adalah Kata Lain Cinta _ (I)


(Nur Asyifa pov)


Apa yang membenarkan


seseorang menghakimi manusia lain?


Merasa benar? Merasa baik?


Atau merasa tak pernah berbuat dosa?


Ketika jutaan kata


menghakimi menghujam jatung seorang, bukankah yang menghujam itu sama saja


dengan yang terhujam?


Itulah yang aku rasakan


sekarang, ketika bibi bersama selingkuhannya itu berada tepat di hadapan paman,


Parman dan aku.


Terlihat tak ada rona


menyesal tersiratkan di wajah pasangan perselingkuhan itu. Mereka nampak


terlihat bahagia dan adem-adem saja.


Sebagai sesama wanita,


aku mengutuk tingkah bibi. Namun, apa bedanya aku dan bibi bila aku menghujam


bibi dengan berbagai cibiran. Bukankah itu juga salah. Paman pernah menasehati


aku dan Parman saat menyampaikan perihal bahwa beliau akan menceraikan bibi, “Jangan


menyalahkan bibi dan sekaligus ibu kalian, terkadang suatu penderitaan


seseorang tak kasat mata orang lain. Dan orang yang menghujam orang lain, belum


tentu dirinya adalah suci. Manusia penuh dosa sesuai perbuatan dan tindakan. Melihat,


menasehati, hanya itu yang perlu kita ucapkan. Selebihnya, biarkan mereka yang


menentukan pilihan. Kerena setiap manusia akan menanggung segala perbuatannya


di akhirat nanti.”


Sangat terharu dan


bersedih melihat sikap paman seperti itu.


“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia


ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah


antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti


hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu


menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di


akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.


Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Quran


Al-Hadid: 20].


----------


------------


------------


(Author pov)


Suhadi menatap- lekat


istrinya yang hanya tinggal ikatan dunia. Ia telah menalak tiga wanita di


depannya itu sesuai keinginannya. Suhadi akhirnya sadar, bahwa mengikat dia


yang tidak mencintaimu sama saja dengan membunuhnya dalam setiap detik yang ia


lewatkan denganmu.


“Terima kasih karena


melepasku.” Ucap Fatmawati datar.


“Jangan pernah ibu


menyesal dan kembali pada ayah.” Ucap Parman tegas.


Fatmawati terseyum


sinis mendengar ucapan anaknya itu, dan kembali berucap, “tidak ada kata


menyesal dalam cinta anakku.”


“Itu Bukan cinta bu,


tapi dosa. Perselingkuhan adalah dosa besar bu.” Ucap Parman tak mau kalah.


Fatmawati yang tengah


memandang Parman membalikkan pandangannya pada sang pacar dan terseyum manis


seraya berucap, “Perselingkuhan adalah kata lain dari cinta anakku. Kamu akan


sadar nanti saat kamu sudah salah memilih pasangan dan menyesali sebuah


pernikahan yang terjadi.” Fatmawati berhenti berucap sejenak dan memalingkan


pandangannya kearah Suhadi, “dan saat cinta itu muncul pada sosok yang berbeda,


maka perselingkuhan tak akan terelak.” Ucapnya lanjut- masih menatap Suhadi


tajam.


“Oleh sebab itu, aku


melepas dengan seyuman. Agar tak menyiksa yang di kasih dalam genggaman. Berharap


ia akan selalu bahagia dalam hidupnya.” Ucap Suhadi membalas perkataan Fatmawati


dengan seyum dan tulus. Namun, Fatmawati malah terseyum kecut.


“Sudah, jangan terlalu


mendramatisir keadaan. Menyombongkan diri bahwa- lihatlah pria sabar ini,


ikhlas melepas istrinya demi kebahagiannya dengan lelaki lain. Memasang tampang


kolot padahal memiliki seribu akal bulus dalam hati.” Ucap Rama- pacar


Fatmawati kini menyindir Suhadi.


Nur Asyifa dan Parman


terkekeh geli di hati mereka, melihat pria yang seperti tanpa dosa memasang wajah


angkuh meminta utntuk lebih di hormati dengan sikap biadabnya.


“Entah apa yang ibu


lihat darimu, benar-benar salah penglihatan itu.” Ucap Parman sinis.


“Jangan kurang Ajar


Parman! Dia ayah kandungmu!” hardik Fatmawati tanpa malu.


Parman terkekeh- puas,


kemudian dengan memasang tampang mengejek ia berkata, “Ayah? Hahahha, iya


memang ayah. Ayah yang hanya mengandalkan kon***l besarnya.”

__ADS_1


Prakk……


Tamparan di sematkan


Suhadi pada pipi kiri Parman dengan kuatnya. Pria paru baya itu di penuhi


amarah mendengar ucapan Parman yang tidak pantas kepada laki-laki di depan


mereka saat ini.


-------


-------


-------


Mata Nur Asyifa


terbelalak, bukan saja karena tak percaya denga perkataan kasar Parman yang di


dengarnya namun juga keterkejutannya melihat Suhadi yang dengan sadar menapar


pipi Parman- keras.


“Beginikah caraku


mendidikmu! Sebenci apapun kamu pada orang lain, tapi jangan pernah berkata


kasar pada mereka anakku!” ucap Suhadi lirih seraya menatap telapak tangannya


yang telah menampar anak kesayangannya itu.


Parman tak bergeming,


ia hanya menatap tajam dengan penuh amarah pada pacar Fatmawati. “Apa yang


salah dengan ucapanku? Bukankah itu semua kenyataan. Laki-laki biadab yang menghamili


seorang gadis dan meninggalkannya- tak bertanggungjawab. Apa dia pantas di


sebut ayah?” batin Parman tak terima.


“Walaupun kamu


menyangkalnya, tapi ini adalah fakta. Bahwa kamu adalah dara dagingku, anakku


Parman.” Ucap Rama- santai.


Parman yang awalnya


sudah di liputi amarah- kini tak bisa di control lagi. Tamparan ayah, dan


ucapan menjengkelkan yang keluar dari mulut Rama membuat ia bergegas keluar


dari rumah- meninggalkan semua.


Suhadi tertunduk sedih.


Ia terpuruk dengan keadaan ini, sebenarnya orang seperti apa dia yang terlahir


dahulu, hingga ia harus hidup seperti ini pada zaman sekarang.


“Ayah.” Panggil Nur


Asyifa lirih pada Suhadi.


Suhadi mengangkat


wajahnya cepat dan terseyum simpul. “Ayah tidak apa-apa sayang, jangan terlalu


dipikirkan.” Ucapnya pelan seraya mengelus kepala Nur Asyifa untuk menenangkan


anak gadisnya itu yang terlihat mengkhawatirkannya.


“Kamu Ifa kan, kamu


boleh tinggal bersama kami di rumah paman.” Ucap Rama- dengan seyum nakal.


“Maaf, Ifa akan tinggal


bersama saya, ayahnya.” Ucap Suhadi tegas.


“Kamu bisa punya anak


Mata Nur Asyifa kembali


terbelalak. Ucapan Rama sungguh kurang ajar. Tega sekali dia berkata seperti


itu.


Belum sempat Nur Asyifa


ingin menyanggah, Parman sudah melayangkan tonjokkannya tepat di pipi kiri Rama.


Bukk….


“Mati kau!! Ku bunuh


kau!! Teriak Parman histeris seraya meninju Rama membabi buta.


Seketika suasa di dalam


ruang tamu menjadi kacau, entah bagaimana Parman yang sudah pergi keluar bisa secepat itu masuk dan menghantam Rama. Suhadi dan Nur Asyifa pun dengan segera dan kekuatan


penuh- memegangi tubuh Parman agar tidak memukul Rama lagi.


Fatmawati dengan cepat


juga menghadang Parman untuk melindungi Rama yang sudah terpengkal dengan bibir


yang berdarah dan wajah yang lebam dengan cepatnya.


“Anak kurang ajar!! Pukul


ibu!! Bunuh ibu sekalian!!” histeris Fatmawati dengan tangis.


“Kamu wanita murahan! Pantaskah


sebut dirimu sebagai ibu!” seru Parman- marah.


“Kamu bikin malu


keluarga, bikin malu anak dan suamimu! Seru Parman lagi.


Setan telah meraja di


pikirannya. Ia kalut dan tak dapat berpikir jernih.


“Aku menyesali dan


mengutuk diriku yang lebih memilih melahirkan kamu. Aku menyesal!! Meyesal!! Menyesal!!


Seru Fatmawati dengan tagisnya.


Perkataan Fatmawati


sungguh membuat setan di dalam pikiran Parman bahagia, “Loh, memangnya kamu


minta untuk di lahirkan dari ibu sepertinya? Pengkhianat, tukang selingkuh dan


suka jahat sama Nur Asyifa. Ibu seperti itu pantas mati.” Ucap setan dengan


seyuman.


Parman yang kalut,


berusaha melepaskan pegangan ayah dan Nur Asyifa sekuat tenaga dan ia pun


berhasil lepas- hingga membuat Suhadi dan Nur Asyifa terjatuh.


Di saat tak ada


penghalang yang melintang di depan mata Parman pun menampar sang ibu dengan


keras sampai wanita itu terhuyung dan tersungkur di lantai. Tidak cukup melihat


ibunya yang hanya tersungkur dengan satu tamparan keras- Parman hendak kembali


layangkan pukulan pada Fatmawati.


Bukk….

__ADS_1


Pukul Parman,


“Tidak!! AYAH!!” teriak


Nur Asyifa saat melihat yang ternyata di pukul Parman adalah Suhadi.


“AYAH!!” Teriak Parman kaget


sekaligus khawatir dan setan dalam pikiranya kembali bersembunyi.


Pukulan Parman mengenai


Suhadi yang bergegas melindungi Fatmawati. Dan dengan segera Parman dan Nur


Asyifa mendekati Suhadi.


“Ayah.” Ucap Nur Asyifa


lirih seraya memangku Suhadi di pangkuannya.


“Ayah maafkan aku. Aku salah


ayah.” Ucap Parman lirih dengan tangisnya.


Suhadi melihat ke dua


anaknya itu telah terlihat samar. Tinju keras yang di layangkan Parman tepat


mengenai belakang kepalanya- membuat pria itu hampir tak sadarkan diri.


“Bagaimana ini Man?


Ayah, buka mata ayah! Jangan tinggalkan kami ayah!.” Ucap Nur Asyifa lirih


dengan tangis yang sudah terisak.


“Ifa cepat, bantu ayah


naik ke punggungguku! Kita harus bawah ayah ke puskesmas!” suru Parman.


Nur Asyifa mengangguk,


ia membantu Suhadi untuk di baringkan ke Punggung Parman. Namun tangisnya


kembali pecah melihat darah segar yang ternyata berasal dari belakang kepala


Suhadi.


“Oh, tidak!! Ayah!! Histeris


Nur Asyifa membuat tubuhnya melemah.


“Ada, apa Fa? Cepat bantu


aku!” seru Parman.


“Darah Man. Ayah


berdarah!! Seru Nur Asyifa sedih.


“Aku salah Fa, makanya


cepat kita bawah ayah ke puskesmas!” mohon Parman.


Nur Asyifa pun berusaha


menguatkan diri untuk membantu Parman. Setelah Suhadi naik ke punggung Parman


tanpa menunggu lama Parman segera berlari menuju ke Puskesmas.


Sedangkan, Fatmawati


hanya melihat dan menonton- dengan sinis adegan demi setiap adegan yang Parman


dan Nur Asyifa lakukan demi menolong Suhadi. “Biarkan kalian rasakan sedikit


penderitaanku.” Gumamnya tanpa merasa bersalah.


---------


---------


---------


Waktu yang telah


menjelang Magrib namun sang surya masih nampak menerangi bumi. Parman yang


menggendong Suhadi di punggungnya berjalan- cepat dengan kaki yang tak memakai


alas sama halnya dengan Nur Asyifa yang berjalan di sampingnya dengan kecemasan


dan derai air mata tiada henti. Kerikil bahkan akar –akar kayu kecil yang


terbentang di sepanjang jalan dari rumah mereka menuju puskesmas tak terasa


sakit di telapak kaki.


Rumah yang terletak di


gunung, membuat mereka sedikit kesusahan untuk mencapai puskesmas yang ada di


daerah jalan besar. Mereka harus berjalan menuruni gunung dengan jarak tempuh


sekitar setengah jam jika berjalan- berlari kecil seperti mereka itu.


“Paman harus kuat. Jangan


tinggalkan kami!” gumam Nur Asyifa lirih.


Berjalan dengan panic-


tak terasa begitu cepat. Mereka telah sampai di puskesmas BTN Poka. Untunglah sang


suster yang sudah menikah itu tinggal di dalam puskesmas hingga saat Parman dan


Nur Asyifa sampai membawa Suhadi, dengan sigap suster yang bernama suster Ete


tersebut membantu mereka dan merawat luka di kepala Suhadi.


Suster Ete adalah


suster tua yang terampil dan baik hati, kemampuannya sudah tak di ragukan lagi.


Membuat masyarakat di BTN Poka lebih suka pergi ke puskesmas dari pada klinik


jika hanya terserang deman atau penyakit yang tak membutuhkan dokter ahli. Bukan


saja, karena harga obat yang murah, tetapi racikkan dan suntikan obat suster Ete


memang ampuh tak kalah dari dokter praktek.


“Jangan khawatir,


beliau sudah tak apa-apa.” Ucap suster Ete pada Parman dan Nur Asyifa yang


sedang menatap Suhadi- cemas dan sedih.


Suster Ete sudah


selesai memperban kepala Suhadi, kemudian ia bertanya, “Apa beliau ayah kalian?”


Parman dan Nur Asyifa


mengangguk seraya berucap bersamaan, “Iya sus.”


Suster Ete terseyum


simpul, “Jaga ayah kalian dengan baik! Dia pria yang luar biasa.” Ucapnya kemudian


dan berpamitan pergi dengan meninggalkan Parman dan Nur Asyifa yang nampak


bingung dengan maksud ucapannya itu.


(bersambung)


*********


*********


Hai Sahabat Mangatoon, terima

__ADS_1


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.


__ADS_2