NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 10_Aku Tahu tapi Tidak Tahu_ (II)


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila


ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon


kebijaksanaannya dalam membaca yah…


Cerita ini mengandung unsur dewasa,


tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para


pembaca sekalian.


NOT WRONG DESTINY_episode 10_Aku


Tahu tapi Tidak Tahu_ (II)


“Ayah, sebenarnya apa


itu pernikahan?”


Paman terdiam setelah tadi


mengatakan hal yang membuatku tak percaya.


“Ayah, apa itu


pernikahan?” aku kembali bertanya.


Dan paman masih terus


terdiam.


“Ayah mengetahui semua


itu, tetapi pura-pura tidak mengetahui semuanya?”  aku kembali bertanya.


“Ayah? Jawab aku!”


Paman melepaskan


dekapannya- dan memandangku.


“Itu urusan orang


dewasa Ifa, ayah tahu apa yang harus ayah lakukan.”


Ucapan paman


menggelitik di hatiku, ‘urusan orang dewasa’ ‘perselingkuhan’ dan ‘kebodohan’.


Apanya yang menjaga


amanah? Paman hanya menumpuk dosa. Membiarkan bibi terus seperti itu tanpa


menegurnya, bukankah paman sebagai suami juga ikut berdosa?


فانطلقنا فأتينا على مثل


التنور – قال فأحسب أنه كان يقول – فإذا فيه لغط وأصوات – قال – فاطلعنا فيه ،


فإذا فيه رجال ونساء عراة ، وإذا هم يأتيهم لهب من أسفل منهم ، فإذا أتاهم ذلك


اللهب ضوضوا – قال – قلت لهما ما هؤلاء قال قالا لى انطلق انطلق …


و” أما الرجال والنساء العراة


الذين في مثل بناء التنور فإنهم الزناة والزوان


“Kemudian kami berlalu, lalu sampai pada


sebuah bangunan seperti tungku pembakaran.” Perawi hadits berkata, “Sepertinya


beliau juga bersabda, ‘Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dan teriakan.’”


Beliau melanjutkan, “Kemudian aku menengoknya, lalu aku dapati di dalamnya


laki-laki dan perempuan yang telanjang. Tiba-tiba mereka didatangi nyala api


dari bawah mereka, mereka pun berteriak-teriak.” Nabi shallallahu


‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bertanya (pada Jibril dan


Mika’il), ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Adapun laki-laki dan perempuan


yang berada di tempat seperti tungku pembakaran, mereka adalah para pezina.’


(HR.Al-Bukhari no.7047).[1]


“Ayo masuk! Ifa sudah harus tidur, esok hari ke dua Ospek. Harus


jaga kesehatan.” Ucap paman lagi.


Laki-laki pengertian dan perhatian. Sungguh tak habis pikir


apa yang bibi pikirkan sampai tega mengkhianati paman.


-----------


Aku dan paman turun dari degu-degu, dan masuk ke dalam rumah.


“Parman dimana?” tanya paman setelah tak melihat Parman di


degu-degu ruang tamu.


Rumah kami hanya memiliki dua kamar satu ruang tamu dan satu


dapur. Makanya Parman tidur di ruang tamu, karena aku perempuan, jadi aku yang


tidur di kamar.


“Parman di kamarku ayah.” Jawabku.


“Loh…. Kenapa dia tidur di kamarmu? Tunggu ayah bangunkan


dia!”


“Ngga pa-pa ayah.” Ucapku sembari menahan tangan paman yang


hendak masuk ke kamarku.


“Ngga boleh Ifa, biarpun Parman adikmu tapi dia laki-laki. Jangan


biasakan hal yang salah.”


Hah….


Perkataan paman sungguh lucu, kenapa mempermasalahkan hal


kecil tapi melupakan hal besar?


“Ayah…. Aku mohon biarkan saja. Parman sudah tahu juga, dia


butuh ketenangan. Malam ini, jangan racaukan dia. Biar aku yang tidur di degu-degu.”


Ucapku pelan menahan tangis.


Berat bila harus mengatakan kejadian itu. Dan sangat berat


mengetahui bahwa paman juga mengetahui semua itu lebih dulu dari kami.

__ADS_1


Paman menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Yah


sudah, kamu tidurlah.” Ucapnya kemudian.


Aku menganggukkan kepala, kemudian membaringkan tubuhku di


degu-degu ruang tamu. Paman mengambil selimut dan menyelimuti aku. Setelah itu,


paman mencium pucuk kepalaku dan berkata “Jangan pikirkan lagi, itu hanya


mimpi. Tidurlah yang nyenyak anakku sayang.”


-----------------------


(Author pov)


Setelah Suhadi selesai menyelimuti Nur Asyifa, ia kemudian


masuk ke dalam kamar untuk melihat Parman.


“Sudah tidur rupanya.” Batinnya.


Setelah itu Suhadi mencium pucuk kepala Parman sembari


bergumam hal yang sama seperti pada Nur Asyifa. “Jangan pikirkan lagi, itu


hanya mimpi. Tidurlah yang nyenyak anakku sayang.”


Setelahnya Suhadi pergi ke kamarnya.


Malam yang panjang, sangat panjang hingga mata tak juga lelah


dan mengantuk. Perkataan Nur Asyifa tadi terus terngiang dalam benaknya. Sejujurnya


ia memang mengetahui istrinya itu sedang dekat dengan mantan kekasihnya dulu. Namun,


tak pernah ia duga sampai sejauh ini hubungan mereka.


Suami mana yang rela di selingkuhi, rasanya ia ingin marah


dan melabrak istrinya malam itu juga. Menanyakan siapa laki-laki bejat


selingkuhannya itu. Namun saat itu ia bersama Nur Asyifa, ia tak ingin


kesedihannya akan membuat jiwa anak-anaknya terguncang. Lebih baik seperti


tadi, setidaknya anak-anaknya tak bersedih.


Dan sekarang, setelah ia menerung dan berfikir panjang. Ia hanya


dapat menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Hanya itu.


Karena ia sadar.


Dari pertama ia menikahi istrinya, memang hanya cinta


sepihak.


Ia berbeda dua puluh tahun dengan istrinya. Karena istrinya


yang sudah hamil duluan di usia delapan belas tahun, namun sang pacar malah


pergi meninggalkannya dan tak mau bertanggung jawab. Maka ia di minta oleh


orang tua istrinya untuk menikahi wanita itu.


Ia menerima permintaan itu, karena ia juga menyukai wanita


itu. Namun sebaliknya, wanita itu sangat membencinya. Karena ia laki-laki yang


Dan sekarang, ia hanya dapat melihat istrinya yang tengah


berbaring di sisi kananya. Wanita halalnya di akhirat tapi tidak di dunia.


Suhadi mendekati istrinya- dan mencium pucuk kepala wanita


itu sambil berkata, “isnya Allah ayah siap melepas ibu, jika itu yang membuat


ibu bahagia. Maaf selama ini sudah menyusahkan ibu untuk hidup dengan ayah. Maaf


karena ayah sempat marah dan murka tadi saat mendengar ibu berselingkuh. Ayah tahu,


ayah tak pantas seperti itu. Semoga setelah ini, ibu akan bahagia dengan pria


yang ibu sayangi. ‘sayang’ cintaku dan jiwaku akan selalu bersamamu dalam


bahagia dan sedihmu. Aku mencintaimu karena Allah. Dan aku melepasmu juga


karena Allah.”


Setelah berkata seperti itu, Suhadi pun bangun dan duduk


disisi kiri ranjang. Ia harus memikirkan bagaimana cara memberitahu


keputusannya pada Nur Asyifa dan Parman nantinya. Ia sangat berharap ke dua


anaknya itu mau hidup bersamanya.


--------


--------


--------


Parman tak dapat tidur malam itu- ia hanya berpura-pura


tertidur saat Suhadi masuk ke dalam kamar dan mencium puncuk kepalanya.


Kata-kata Suhadi juga mengiris hatinya. Ia sangat takut bila


ayahnya itu akan meninggalkannya.


Parman bangun dari tidurnya, ia berdiri dan keluar dari


kamar. Dilihatnya punggung Nur Asyifa yang sedang berbaring di degu-degu ruang


tamu. Ia pun berbari di belakang Nur Asyifa dan memeluk kakaknya itu.


“Ahh… Parman?” tanya Nur Asyifa yang kaget di peluk dari


belakang.


“Iya kak, ini aku. Aku mohon! biarkan seperti ini untuk


beberapa menit!” pinta Parman dengan sedih.


Nur Asyifa pun terdiam, ia merelakan punggunya sebagai


sandaran adiknya yang sedih saat ini. Walaupun ia juga sedih.


“Kak, aku anak tiri ayah.”


Deg…..


Mata Nur Asyifa terbelalak, pernyataan Parman benar-benar tak


sampai dalam jangkauan nalarnya.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” tanya Nur Asyifa bingung.


“Iyah kak, aku anak tiri ayah. Ayah menikahi ibu setelah


mengandungku buah cintahnya dengan lelaki lain yang tidak bertanggung jawab.”


“Kapan kamu tahu semua itu.” Tanya Nur Asyifa perlahan-


berusaha tidak terpancing emosi.


“Aku tahu, saat usiaku tujuh tahun secara tidak sengaja. Dan aku


juga pernah bertemu pria yang katanya ayah kandungku. Namun pria jahat itu


malah menyakitiku. Membuat aku takut, dan berusaha selalu patuh dan berbuat


baik pada ayahku sekarang, agar ayah tak membawaku ke ayah kandungku yang


jahat. Agar ayah selalu menyayangiku dan menjagaku. Tapi sekarang setelah ibu


mengkhianati ayah, apakah ayah akan meninggalkanku? Untuk apa ayah mau merawat


anak orang?”


“Ternyata seperti itu, Parman juga sama seperti ayah. ‘aku


tahu tapi tidak tahu’.” Batin Nur Asyifa.


“Ayah orang baik, ayah pasti akan membawa kita.” Ucap Nur


Asyifa- hanya sekedar menenangkan Parman. Karena hatinya pun takut, jika


pamannya itu akan meninggalkannya juga.


“Jangan bohong kak, aku tahu kaka juga takut kan ? jika ayah


meninggalkan kita? Tanya Parman dalam kesedihannya.


“Takut.. kakak sangat takut.” Jawab Nur Asyifa jujur. Tapi kakak


tak ingin, ketakutan itu menghantui kakak. Bila memang ayah dan bibi berpisah,


kita akan memohon pada ayah untuk membawa kita bersamanya.”


“Tapi mungkin semua itu tak akan terjadi, karena ayah


ternyata sudah mengetahui perselingkuhan ibu lebih dulu dari pada kita. Ayah tidak


mempermasalahkan itu semua, jadi kita juga tidak akan di tinggilkannya.” Batin Nur


Asyifa.


Sungguh perkataan mulut dan bati yang berbeda.


“Iya kak, bila ayah tak mau, kita harus terus memohon dan


memohon. Hingga luluh hati ayah dan mau menerika kita.”


-----------


-----------


-----------


Parkataan Parman dan Nur Asyifa walau pelan, namu ternyata


tersengar oleh Suhadi dari kamarnya yang hanya berdinding papan yang sudah ada


tambal di berbagai sudut.


Suhadi hanya dapat tertunduk-diam, mendengar ucapan Parman-


menyakiti hatinya.


Selama ini ternyata Parman sudah mengetahuinya semuanya. Anak


itu pasti sangat sedih dan tak berdaya. Padahal Suhadi tak ingin memberi tahu


Parman sampai ajalnya. Karena Parman adalah anak kandungnya, walau apa pun yang


terjadi. Anak yang di besarkannya dengan cinta dan kasih sayang. Anak yang di


banggakannya dan menjadi penyemangat dalam hidupnya.


Dan Parman menurutinya hanya karena takut di tinggalkan atau


di berikan kepada ayah kandungnya yang jahat. ‘apa Parman tak menganggapnya


sebagai ayah kandungnya sendiri?’


Suhadi frustasi pada malam panjang ini, ingin sekali ini


hanyalah mimpi.


Mimpi….


Mimpi…..


Mimpi…..


‘Dan itu hanya harapan tak bertuan’


(bersambung)


*********


*********


Hai Sahabat Mangatoon, terima


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


[1]


https://muslimah.or.id/7885-selingkuh-pengkhianatan-dalam-pernikahan-part-1.html

__ADS_1


__ADS_2