
NOT WRONG DESTINY_episode 14_Dia
Yang Mengetuk Pintu Hati_ (II)
(Arman pov)
Lantunan ayat al-
qur’an yang tadi ku dengar sungguh mengusik hati. Aku sangat penasaran dengan
sosok wanita yang telah melantunkannya dengan indah. Entalah apa yang sudah terjadi
pada diriku ini. Pertama kalinya hatiku digetarankan oleh seorang wanita yang
tak pernah ku lihat dan ku kenal.
Seperti orang bodoh,
aku terus mencari sosok itu. Berharap menemukan dirinya saat ini juga. Aku
bahkan tak tahu apa yang akan aku lakukan jika menemukan wanita itu. Namun entah
mengapa aku masih terus mencari.
“Man! Kenapa?” tanya
Angga- sahabat baikku yang sedang duduk di bangku koridor sebelah kolam renang
yang juga dekat mushola.
“Kamu dari tadi duduk
di sini yah Nga?” tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaan awal Angga padaku.
“Belum lama juga sih,
baru sekitar lima belas menit gitu. Emang kenapa Man?”
“Kamu tadi lihat cewek
yang keluar dari mushola tidak?”
Angga menggeleng
kepalanya, namun ada orang lain yang menjawab pertanyaanku itu.
“Oh, si jelek itu. Dia sih
kearah gedung putih tadi.” Jawab salah seorang laki-laki.
Aku yang tidak terlalu
mendengarkan ucapan pria itu dengan seksama hanya berlari mengikuti ucapannya
ke gedung putih yaitu gedung jurusan akuntansi.
---------------------
Percuma aku berlari dan
mencari sosok yang aku sendiri tidak mengenali. Apa aku begitu bodoh? Mencari sosok
yang tidak mungkin ku dapati.
Keramaian jalan yang ku
lewati, keramaian gedung yang ku masuki hanya sebatas untuk menghilangkan gunda
hati.
Seharusnya tak mencari,
tapi terus ku cari.
Pertama kali aku
melakukan hal gila yang tak ku ketahui alasannya. Pertama kali aku merasakan
aliran darah ku mendidi dan jatung yang berdegup kencang tanpa sebab pasti.
Dan setelah lama
mengitari serta mencari hal yang tak pasti- aku menyerah. Dengan penuh
kekecewaan aku mengendarai sepeda motor ku- menuju jalan pulang.
--------
--------
--------
(Nur Asyifa pov)
Melihat seyum anak-anak
yang bernasib sama denganku- setidaknya dapat menghilangkan gunda di hati.
Hidup mereka lebih
rumit dari hidupku. Namun senyum mereka tak pernah pudar dari bibir mungil itu.
Anak-anak yatim yang hidup di panti asuhan, yang hanya mengandalkan belas
kasihan orang lain hanya untuk sekedar bertahan hidup.
“Apa sudah lebih baik?”
tanya Parman padaku di sela-sela tawa kami yang sedang bermain dengan anak-anak
panti.
Aku membalas pertanyaan
Parman dengan seyum lebar dari bibirku. Setelahnya aku kembali dengan aktifitas
yang sedang aku lakukan.
“Kak Ifa, dengarin
puisi yang aku baca ini yah.” Ucap pipit- salah satu anak panti.
“Wah, cepat bacakan! Kak
Ifa ngga sabar ingin dengar?” ucapku antusias.
Dan pipit pun mulai membacakan puisinya.
Hari
ini aku membuka mata kecil yang menjadi salah satu organ tubuh ku pada fajar
hari.
Telinga ku
mendengar riang-riang yang sendiri bersuara memecah kesunyian yang masih
terliput gelap.
Tubuh
enggan beranjak, malas masih menyelimuti diri yang sudah tertidur kurang lebih
tujuh jam malam tadi.
Sedetik,
dua detik dan beberapa detik hingga menjadi menit dan berlangsung akan hitungan
jam berganti. Yah, tak terasa sudah 30 menit diri masih bergelut dengan bantal
di kasur, dan enggan untuk beranjak.
Telingaku
kembali mendengar ayam berkokok sahut menyahut menunjukkan bahwa gelap akan
berganti terang.
Ku
paksakan diri dan bangun dari nyamannya kasur keras tempat beristirahat waktu
malam tiba.
Ku
__ADS_1
kerjakan rutinitas subuh hingga pagi menjelang. Ku kerjakan rutinitas pagi
hingga siang menjelang. Dan ku kerjakan rutinitas siang hingga malam kembali datang.
Apa
arti subuah kehidupan? Subuh, pagi, siang, senja, ataukah malam?
Apa
arti manusia? Bernafas, mandi, makan, minum, ataukah beristirahat?
Kelahiran
yang akan membawa kematian. Kenapa terciptakan?
Aku
di sini bertanya pada diri. Sebenarnya pantaskah kamu terlahirkan, jika kamu
hanya mengikuti takdir. Apa arti sebuah perubahan, jika manusianya masih
bergelut dalam pikiran garis takdir kehidupan.
“Selesai. Aneh kah
puisinya kak Ifa?” tanya pipit padaku setelah menyelesaikan puisinya.
“Sungguh indah puisimu
gadis manis. Apa sih judulnya?” tanya Parman pada pipit
“Bukan takdir tapi
suatu tindakkan.” Jawabnya tegas.
Aku hanya terseyum-
bingung. Melihat gadis berumur delapan tahun ini berkata demikian sungguh
dirinya harus memaksakan dewasa sebelum waktunya. Kata-kata puisi yang
sederhana, tapi jika di cerna dengan baik. Puisi itu mengandung kritikan pada
setiap manusia yang menggantungkan hidupnya pada takdir. Karena takdir
menjalani hidup itu tidak ada, yang ada adalah suatu tindakan dalam menjalani
hidup kita yang menjadi takdir hidup. Dan untuk apa kita meratapi arti sebuah
kehidupan dan kelahiran jika kematian akan juga datang. Itu semua karena kita
punya kepercayaan, dan orang yang percaya Tuhannya tidak akan mempertanyakan
kehidupannya.
“Fa, baguskan puisinya
pipit.” Ucap Parman yang membuatku tersadar dari lamunan.
“Ah, iya. Bangus sekali
puisimu Pipit.” Ucapku dengan penuh seyuman. Hingga membuat pipit menghembuskan
nafas lega dengan seyum ceria dari bibir mungilnya.
“Kak Ifa, Pipit itu mau
jadi penulis puisi loh.” Ucap Titi- salah satu anak panti juga yang berumur
sama dengan pipit. “Dan aku mau jadi polwan.” Ucapnya lanjut dengan seyuman.
“Kalau aku jadi guru.”
“Aku jadi superman,
pahlawan dunia.”
“Aku batman.”
“Aku mau jadi kaya kak
Ifa.”
“Aku juga jadi kak Ifa.”
lainnya- mengutarakan cita-cita yang di inginkan- Andi, Sami, Baim, Tina dan
Asi.
“Insya Allah cita-cita
kalian akan terwujud. Yang penting jangan tinggalkan shalat, mengaji dan terus
bersyukur pada Allah SWT. dan juga terus berkerja keras untuk mencapai semua
itu.” Nasehatku pada mereka panjang lebar.
--------
--------
--------
(Author pov)
Arman yang sedang
mengendarai sepeda motornya berhenti di depan sebuah panti asuhan yang terulis
di depan papan nama ‘Panti Asuhan Asih’. Laki-laki itu memarkirkan motornya di
halaman depan panti. Sebenarnya semalam kakaknya Karman memintanya untuk
memberikan sumbangan ke panti ini, karena ia sudah bernazar jika Ana menerima
lamarannya maka ia akan menyedekahkan sepuluh persen dari tabungannya untuk
anak yatim. Walaupun selama ini, ayah dan ibu mereka selalu mengajarkan untuk
menyedehkakan sepuluh persen dari setiap penghasilan yang mereka dapatkan untuk
kaum yang kurang mampu.
Arman melihat
sekeliling panti dari depan- nampak sunyi. ia pun mengetuk pintu depan sembari
mengucapkan salam.
Tok…tok… “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.” Terdengar
balasan salam dari dalam.
Tak lama pintu pun di
buka dari dalam. Dan terlihat sosok wanita paru baya keluar.
“Ada yang bisa saya
bantu nak.” Tanya wanita yang berumur kisaran lima puluh tahun itu.
“Perkenalkan saya Arman
bu.” Ucap Arman memperkenalkan diri seraya memberikan tangannya untuk
bersalaman yang diikuti juga dengan uluran tangan wanita itu bersalaman
dengannya.
“Saya bu Astrid,
pengasuh di panti ini.” Ucap juga ibu itu memperkenalkan diri yang masih
bersalaman dengan Arman.
“Saya ke mari
sebenarnya ada kepeluan. Saya mau memberikan sumbangan dari kakak saya untuk
panti ini.” Ucap Arman langsung pada intinya.
“Oh begitu, kalau gitu
nak Arman masuk ke dalam dulu saja bersama ibu.” Ajak Astrid.
__ADS_1
Mereka berdua pun masuk
ke dalam rumah dan menuju ke ruangan Astrid. Di sana mereka berbincang panjang
lebar, Astrid juga menerangkan bahwa Arman bisa meminta di doakan oleh
anak-anak panti. Ia juga di suru mengisi formulir donatur sebagai tanda bahwa
keluarga Arman sudah membantu panti asuhan itu secara tertulis. Namun Arman
menolak itu semua.
“Bu, kakak saya ikhlas
memberi sumbangan atas nama Allah. Kami tidak butuh ketenaran dunia, ibu katakanlah
saja bahwa sumbangan ini dari hamba Allah yang bersyukur atas segala nikmat
yang telah Allah limpahkan padanya. Dan untuk doa, tolong mintalah doa pada
anak-anak semoga akan ada donatur-donatur lainnya yang datang memberi sumbangan
kepada panti ini setelah kepergian saya. Dan semoga anak-anak di panti ini
menjadi anak-anak yang bermasa depan baik.” Ucap Arman dengan tulus.
Astrid terseyum penuh
syukur. Doa yang terbaik selalu ia panjatkan kepada para donatur panti agar
sehat dan selalu bahagia. kebaikan mereka tiada tara, dengan pemberian mereka
yang dianggap tak seberapa itu. Namun sangap berharga dan membantu kehidupan
serta pertumbuhan anak-anak panti.
“Apa nak Arman ingin
bertemu dengan anak-anak panti disini?” tanya Astrid.
“Apa boleh bu?” Arman
balik bertanya.
“Tentu sangat boleh
dong nak Arman.” Jawab Astrid dengan seyum.
“Syukurlah. Saya memang
ingin bermain dengan adik-adik di panti ini.” Ucap Arman senang.
Pikirnya, lebih baik ia
menghangatkan perasaannya dengan bermain bersama anak-anak panti. Dari pada terus memikirkan
wanita yang tidak di kenalnya itu.
“Mari saya antarkan nak
Arman. Mereka ada di halaman belakang.” Ucap Astrid.
“Biarkan saya pergi
sendiri bu. Ibu silahkan mengerjakan hal yang lainnya saja.”
“Yah udah, nanti saat
nak Arman keluar dari ruangan ini. Nak Arman belok kiri dan jalan lurus sampai
pada belokkan dan belok kanan di situ ada pintu besar yang menuju halaman
belakang.” Ucap Astrid menjelaskan arah.
Arman mengangguk paham.
Setelah itu ia berpamitan untuk pergi ke halaman belakang.
-----------------------
Sesuai arahan dari Astrid-
Arman berjalan dan sampailah ia di halaman belakang panti. Di sana terlihat
kerumunan anak-anak yang sedang duduk betengger di bawah pohon rindang sembari
tertawa riang. Di depan mereka ada sosok wanita yang lebih besar dari anak-anak
itu, yang sedang memperagakan hal-hal menarik yang membuat tawa anak-anak itu
pecah.
Arman yang juga melihat
wanita itu dari belakang- ikut seyum-seyum sendiri. Ia berjalan mendekati
anak-anak itu dan sebelum ia sampai di sana, wanita itu telah berbalik dan Arman
bisa melihat wajah wanita itu sepenuhnya.
“Man, cepat!” panggil
wanita itu diikuti dengan gerakan tangannya yang ikut memanggil.
Deg….
Hati Arman tersentak, kakinya
berheti melangkah. Wanita di depannya itu adalah Nur Asyifa. Gadis maba yang
sudah di kasari Aryan yang membuat dirinya selalu kasihan kepada wanita itu hingga
terbayang-banyang terus sosoknya di pikiran Arman.
Dan lagi sekarang,
dengan penuh seyuman wanita itu memanggil namanya dengan akrab. Sungguh membuat
hatinya menjadi tak karuan.
Arman mulai mengancang
untuk melangkah maju namun tiba-tiba terhenti oleh suara seorang pria di
belakangnya
“Sorry lama, beser beberapa
kali tadi di belakang.” Ucap pria itu dan berlari hingga mendahuluinya yang
tadi di depan.
“Makanya jaga
kesehatan!” celetuk Nur Asyifa
“Iya bawel.” Ucap pria
itu malas.
Deg….
Sekali lagi hati Arman
tersentak, kali ini karena rasa sedih yang telah menyelimuti hatinya. Ada rasa kecewa, yang terselip dalam
dirinya karena ternyata bukan dirinya laki-laki yang di tunggu wanita itu. Melainkan
orang lain.
Namun Arman masih
enggan menanggapi perasaannya itu. Ia kemudian melangkahkan kakinya untuk tetap
maju menemui Nur Asyifa dan pria itu yang sudah di ketahui adalah Parman yang
di ketahuinya sebagai sepupu dari Nur Asyifa.
(bersambung)
*******
*********
Hai Sahabat Mangatoon, terima
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.
__ADS_1