NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 15_Apakah dia orangnya?_ (I)


__ADS_3

NOT WRONG DESTINY_episode 15_Apakah


dia orangnya?_ (I)


“Assalamu’alaikum..”


sapa Arman setelah sampai di depan Parman, Nur Asyifa dan anak-anak panti.


“Wa’alaikum salam.” Jawab


mereka bersamaan.


Arman menyunggingkan


seyum manis dari bibirnya seraya bertanya, “apa aku boleh bergabung dengan


kalian?”


“Sangat boleh ketua.” Sergap


Parman segera dengan sumbringah.


“Wah, rasanya seperti


mimpi saya bisa di sini bersama ketua.” Ucap lanjut Parman malu-malu.


Arman hanya terseyum


menanggapi ucapan Parman yang seakan dirinya bagaikan seorang raja yang sulit


di gapai. Padahal ia hanyalah manusia biasa, sama seperti Parman dan yang


lainnya.


“Jangan terlalu


sungkan, ngapain sebut pakai saya, cukup pakai aku saja supaya lebih akrab. Dan


panggil saja saya Arman. Jangan panggil ketua.” Ucap Arman tulus.


“Ok. Arman, hehehhe…”


ucap Parman canggung. “Oh ya Arman, kamu suka ke sini juga?” tanya Parman


lanjut.


“Aku suka, tapi


jarang-jarang aku ke sini. Dan baru pertama kali juga sih aku ikut main dengan


anak panti.” Jawab Arman berterus terang.


“Kalau gitu, welcome to


our event.” Ucap Parman diikuti gerakan tangannya menyambut ke datang Arman di


acara main-main mereka.


---------


---------


---------


Sejak kedatangan Arman


sampai sekarang, Nur Asyifa enggan untuk ikut bercengkrama dengannya seperti


Parman yang terus nyerocos ini itu. Pikirnya kenapa pula Arman harus datang ke mari di saat ada dirinya disini. Ia masih merasa malu dan bersalah karena sikapnya saat ospek itu. Padahal Arman sudah membantunya, tetapi ia malah memilih menyerah dan merendahkan dirinya untuk memohon maaf pada Aryan yang memang salah.


Tetapi Anak-anak panti sangat


merasa bahagia seperti Parman dengan kedatang Arman ke sana yang ingin ikut bermain dengan


mereka. Setidaknya ada orang-orang yang mempunyai hati untuk hanya sekedar


mengajak mereka bermain bersama. Menikmati hari ini dengan gembira dan saling


berbagi emosi.


Nur Asyifa pun duduk


dan tidak memperdulikan Parman dan Arman.


“Fa! ngapain duduk. Cepat


kenalan sama Arman dan kenalkan anak-anak panti pada Arman.” Perintah Parman


saat melihat Nur Asyifa hanya diam dan malah duduk tak memperdulikan dia dan


Arman.


Nur Asyifa menahan


kesal dalam hatinya, “Ihh, Parman bikin malu deh. Apaan sih pake nyuruh-nyuruh


aku. Kan dia bisa sendiri, untuk memperkenalkan Arman.” Batin Nur Asyifa. Ia pun


memiringkan kepalanya ke sisi kiri yang tak dapat terlihat oleh Arman dan Parman


dan mengerutkan wajahnya kesal.


“Fa ayo berdiri!”


perintah Parman lagi.


Nur Asyifa pun pasrah


mengikuti perintah Parman dan berdiri, walaupun dengan hati yang jengkel sama


Parman. Ia tidak ingin berdebat dengan Parman disini, karena ada Arman serta


anak-anak panti. Ia tidak enak hati pada mereka, takutnya mereka akan salah


pamah. Mengira Nur Asyifa tidak menyukai mereka, padahal ia hanya malu saja


karena pesona Arman yang menggetarkan hatinya.


“Aku Nur Asyifa kak.” Ucap


Nur Asyifa memperkenalkan diri namun tidak mengulurkan tangannya untuk berjabat


tangan.


“Aku Arman.” Ucap


Arman.


Nur Asyifa kemudian


mengahadap anak-anak panti dan berucap, “adik-adik, kakak ini namanya kak


Arman.”


“Assalamu’alaikum kak


Arman.” Salam anak-anak panti.


“Wa’alaikum salam


semua.” Jawab Arman.


“Sebagai kawan baru, Kak


Arman harus apa adik-adik?” tanya Nur Asyifa.


“Berikan satu


persembahan istimewa!” seru mereka gembira.


“Arman dengar kan yang

__ADS_1


mereka katakan. Kami disini selalu menyambut anak baru dengan memintanya untuk


menyuguhkan satu penampilan istimewa mereka. Terserah apapun bisa, mau mengaji,


mau baca puisi atau mau makan juga bisa.” Terangkan Parman panjang lebar.


“Aku mau membaca puisi.


Kebetulan hari ini aku lagi pengen mengenal seseorang yang sangat penting untukku.”


Ucap Arman.


“Oooohhh. Siapa yah


orang beruntung itu. Ok silahkan !” ucap Parman mempersilahkan.


“Puisinya tak ada judul,


mungkin ini bukan di bilang puisi tetapi seperti kata hati. Dan semoga kalian


semua senang mendengarnya.” Ucap Arman sebagai pembuka dan selanjutnya ia


membacakan puisinya itu.


Lantunan


merdu surah Al-baqarah tak sengaja terdengar di telinga.


Mengetuk


pintu hati, menginginkan diri mengenal sosok di balik pintu tertutup.


Darah


mendidih mengalir ke jantung yang berdegup kencang tak kala sosok itu tak


terlihat mata.


Siapa


gerangan dirinya? Sosok wanita yang telah mengaburkan pandangan dari yang


lainnya dan hanya terlihat terang pada sosoknya yang tak terbayang.


Perasaan


apa yang membelenggu jiwa? Hingga mengejar dan mencari sosok yang tak di kenal.


Siang


yang di terangi matahari dan malam yang di terangi bulan. Namun sosok itu masih


menjadi bayang semu yang tak dapat teralihkan dari pikiran.


Tuhan


ku pencipta dunia, hati ini engakau yang cipta, rasa ini engakau yang beri dan


pikiran ini engakau yang tahu.


Dengan


tubuh penuh harap, siang dan malam menjadi saksi bisu suatu harapan.


Menunggu


dia yang semu hanya dengan ridho Allah SWT.


“Terima kasih sudah


mendengarkan.” Ucap Arman sebagai penutupan.


“Wahh…. Siapa wanita


beruntung itu. Hehehehe.” Goda Parman yang membuat anak-anak panti juga ikut


tertawa dan seyum-seyum menggoda.


bicara. Di sini ada anak kecil.” Ucap Nur Asyifa pada Parman dengan mata yang


melotot tajam padanya.


“Berarti giliran kak


Ifa yang harus menunjukan bakat.” Seru Pipit antusias.


“Hhahaha iya, benar. Nona


Ifa silahkan giliran anda.” Ucap Parman dengan senang karena berhasil mengelak


dari tatapan membunuh Nur Asyifa.


“Kalian mau kak Ifa


ngapain?” tanya Nur Asyifa pasrah.


“Hari ini ngaji aja


kak. Udah lama ngga dengar suara kak ifa ngaji. Kita kangen.” Seru Sami senang


dan manja.


“Iya kak ifa.” Ucap yang


lainnya juga.


Nur Asyifa menarik


nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, “Ok.” Ucapnya menyetujui.


“Kak ifa akan bacakan Surah


Al- Baqarah ayat 152-157.” Ucapnya lagi.


“Dan kak Parman yang


akan membacakan artinya dengan bahasa inggris.” Ucap Parman melanjutkan ucapan


Nur Asyifa dengan bangga.


“Setujuh.” Jawab anak-anak


senang.


Semuanya pun duduk


membuat lingkaran dan Nur Asyifa berada di tengahnya. Ia pun mulai membacakan


surah Al- baqarah dengan suaranya yang merdu dan enak di dengar. Diikuti dengan


Parman yang membacakan arti ayat-ayat itu dengan bahasa inggris di setiap akhir


ayat yang Nur Asyifa bacakan.


الرَّحِيم الرَّحْمَنِ اللَّهِ بِسْمِ


 


 


In the name (of)


Allah, The Most Gracious, The Most Merciful;


تَكۡفُرُونِ  وَلَا


لِى وَٱشۡڪُرُواْ أَذۡكُرۡكُمۡفَٱذۡكُرُونِىٓ


So


remember Me; I will remember you. And be grateful to Me and do not deny Me.

__ADS_1


ٱلصَّـٰبِرِينَ مَعَ ٱللَّهَ


إِنَّ ‌ۚ وَٱلصَّلَوٰةِ


بِٱلصَّبۡرِ ٱسۡتَعِينُواْ


ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ يَـٰٓأَيُّهَا


O you who


have believed, seek help through patience and prayer. Indeed, Allah is with the


patient. 


تَشۡعُرُونَ لَّا وَلَـٰكِن أَحۡيَآءٌ۬بَلۡ ‌ۚ  أَمۡوَٲتُۢ ٱللَّهِ سَبِيلِ فِى يُقۡتَلُ لِمَن


تَقُولُواْ وَلَا


And do


not say about those who are killed in the way of Allah, "They are


dead." Rather, they are alive, but you perceive [it] not. 


وَٱلثَّمَرَٲتِ وَٱلۡأَنفُسِ


ٱلۡأَمۡوَٲلِ مِّنَ وَنَقۡصٍ۬ وَٱلۡجُوعِ ٱلۡخَوۡفِ مِّنَ بِشَىۡءٍ۬ وَلَنَبۡلُوَنَّكُم


ٱلصَّـٰبِرِينَ وَبَشِّرِ  ‌ۗ


And We


will surely test you with something of fear and hunger and a loss of wealth and


lives and fruits, but give good tidings to the patient, 


جِعُونَ رَٲ إِلَيۡهِ وَإِنَّآ


لِلَّهِ إِنَّا قَالُوٓاْ مُّصِيبَةٌ۬ أَصَـٰبَتۡهُم إِذَآ ٱلَّذِينَ


Who, when


disaster strikes them, say, "Indeed we belong to Allah, and indeed to Him


we will return." 


ٱلۡمُهۡتَدُونَ هُمُ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ  ‌ۖ  حۡمَةٌ۬وَرَ  رَّبِّهِمۡ مِّن صَلَوَٲتٌ۬ عَلَيۡہِمۡ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ


Those are


the ones upon whom are blessings from their Lord and mercy. And it is those who


are the [rightly] guided. 


 


Dan setelah


Parman selesai berkata pada ayat terakhir, Arman pun kembali membacakan arti


ayat yang di bacakan Nur Asyifa dengan menggunakan bahasa Indonesia.


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah


lagi Maha Penyayang. 


Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat [pula]


kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari [nik’mat]


-Ku. (152) 


Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan [kepada


Allah] dengan sabar dan [mengerjakan] shalat, sesungguhnya Allah beserta


orang-orang yang sabar. (153) 


Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur


di jalan Allah, [bahwa mereka itu] mati; bahkan [sebenarnya] mereka itu hidup,


tetapi kamu tidak menyadarinya. (154) 


Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit


ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah


berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (155) 


[yaitu] orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka


mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". (156) 


Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat


dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (157)[1]


Ucap Arman


dengan seyuman di akhir katanya. Pria itu menatap Nur Asyifa- dalam. “Apakah


dia orangnya?” batinnya.


Saat mendengar


lantunan ayat yang di ngajikan oleh Nur Asyifa- hati Arman bergetar. Suara yang


sama yang pernah menggetarkan hatinya, membuat ia menjadi linglung dan mencari


ke segala arah untuk mengetahui sosok di balik suara itu. Dan bila sungguh itu


adalah Nur Asyifa, maka akhirnya Arman menemukannya. Ia sudah menemukan sosok


wanita yang selama ini ia inginkan. Membuat dirinya yang malas dengan urusan


wanita, menjadi gila mencari-cari wanita itu.


“Aku


menemukanmu Nur Asyifa.” Batinya kembali berucap dengan seyum puas yang


tersungging dari bibirnya.


(Besambung)


*********


*********


Hai Sahabat Mangatoon, terima


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.


‌(Bahasa arabnya di baca dari samping yah. soalnya ngga bisa diatur di sini.)


 


 


 


 


 


 


[1]


http://www.thedancingrain.com/2017/02/blog-post.html

__ADS_1


__ADS_2