
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila
ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon
kebijaksanaannya dalam membaca yah…
Cerita ini mengandung unsur dewasa,
tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para
pembaca sekalian.
NOT WRONG DESTINY_episode
4_Arman_Pov (II)
Akhirnya, cecok mereka
terselesaikan juga. Dan Arianti, kembali mengerjakan pekerjaan awalnya yang
tadi. Walaupun aku tahu sih, wanita itu masih nampak kesal sama si Parman ini.
Aku dan Parman akhirnya
pergi meninggalkan ruangan dewan mahasiswa- berjalan menuju ke auditorium.
“Sudahkah kita terbebas dari korupsi?
Merdeka tapi koruptor berkeliaran
Hari-hari gelap
Di mana cahaya itu?
Hari-hari gelap
Orang miskin tersenyum padamu”
Lagu penyanyi legendaries Iwan Fals bersuara
di hpku, pertanda bahwa ada message masuk. Aku mengambil hpku dari saku celana
dan membuka message tersebut.
Tertulis di layar hpku satu pesan dari ‘my
father dear’, akupun segera membaca message ayah.
“My boy, bantu ayah dong!”
“Tolong buatkan ayah puisi sekarang juga untuk
ibumu.”
“Soalnya ibumu sedang gambek nih.”
“Taulah ayah ada sedikit bikin masalah.”
“Ketahuan ngerokok.”
“Wkwkwkwkkwk”
*
*
“Ihh, ayah ini benar-benar deh. Udah tahu
kalau ibu udah larang ngerokok demi kesehatannya sendiri, masih aja ngerokok
sembunyi-sembunyi.” Batinku menggerutu saat membaca sms ayahku.
Emang ayahku tuh bandel, dokter udah melarang
ayah untuk merokok karena punya penyakit paru-paru. Namun, kebiasaan buruk itu
emang sulit dihilangin. Beda sama kebiasaan baik, kalau kebiasaan baik mah,
gampang aja di tinggalin. Aku kemudian berhenti berjalan dan membalas message
ayah.
“Ayah nih, nggak sayang badan yah?”
“Biarin aja ibu ngambekin ayah.”
“Ayah emang pantes sih.”
“Ibu marah tuh karena sayang.”
“Ibu mau ayah tetap sehat.”
“Jadi berusahalah sendiri.
“Ok.”
*
*
Hahhhaaa, aku emang
anak durhaka. Nggak mau bantuhin ayah yang sedang kesusahan. Habisnya sih aku
juga sebal sama ayah. Aku sayang sama ayah, aku nggak mau ayah sakit karena tu rokok
yang ayah isap.
Tak lama message ayah kembali masuk berurutan.
“Tega kamu my boy.”
“Ayah akan jadi duda karenamu.”
“I hate you.”
“Biarkan kita berdua mengakhiri hubangan ini.”
“Bahagialah kamu melihat ayah bersedih.”
“Entar malam tidur sendiri.”
“Sofa yang keras.”
“Nyamuk yang ganas.”
“Bandan akan sakit semua.”
Hahahhaha….
Ayah lebay abis. Kalian pasti bingung, kok ayahku bisa message aku dengan akrab
gitu? Seperti message ke temannya aja.
Yaps, kami sekeluarga emang begitu, ayah dan
ibu memperlakukan kami layaknya adik mereka. Namun dalam batas kewajaran yah.
Karena bagi mereka orang tua yang berteman dengan anak itu akan lebih
memudahkan anak membagi cerita kesehariannya, dari sedih, senang ataupun
perasaan cintanya tanpa perlu risih karena takut sama kedua orang tuanya. Dan
ayah serta ibuku berhasil menerapkan hal itu di keluarga besar kami.
Aku kembali membalas pesan ayah.
“Itu emang ganjarannya Ayah, bagi ayah yang
melawan ibu.”
“Aku mau bantu.”
“Tapi ayah harus janji dulu.”
“Janji bahwa cukup kali ini saja ayah
ngerokok.”
“Ayah sayang kami kan?”
“Karena kami sayang ayah.”
Balasan ayah.
“Iya my boy.”
“Ayah janji.”
“Ini yang terakhir.”
“Ayah kapok, di ngambekkin ibu.”
“Nggak mau terulang kembali.”
“Ayah juga sayang kalian.”
“Love you all so much.”
Aku terseyum simpul-
membaca message dari ayah. Entah berapa puluh kata janji yang telah ayah janjikan
untuk tidak merokok, namun selalu ayah ingkari.
Aku kembali membalas
pesan ayah,
“Hmm, baiklah ayah,
kali ini aku maafkan.”
“Beli buket bunga lili
kesukaan ibu.”
“Ditaruh di depan pintu
kamar ayah dan ibu.”
“Dan tulis puisi ini di
kertas pesannya.”
“Judulnya Bidadariku
surgaku.”
Kau
tahu kasihku, mencintaimu adalah hadia terindah dari Allah SWT untukku.
Mentari
pagi yang bersinar saat fajar menyongsong dan menjadi rembulan malam yang
bersinar saat senja berganti.
Terima
kasih kekasih halalku, karena telah menerimaku dalam duniamu. Sujudmu telah
terukir namaku dalam doamu.
Keberuntunganku,
keberlangsungan hidup bersamamu.
Kau
__ADS_1
bagai laut Bali, luas cintamu dengan kebersihan hati mencintaiku karena Allah
SWT.
Kau
bagai hutan Kalimantan, luas kasihmu dengan hati yang terbuka untuk menerimaku
karena Allah.
Keindahanmu
tak dapat ku lukiskan dengan kata-kata dari mulut ini, karena kau lebih indah
dari segalanya.
Bidadari
surgaku, yang menemani hidupku sepanjang masa. Melahirkan malaikat-malaikat
penerang jalan.
Thank
you love, thank you. I love you for the sake of Allah.
Angelina
Khumairah Sidik.
Love’u
“Semoga beruntung
ayah.”
Balasan ayah,
“Thanks my boy.”
“Semoga beruntung
ayah.” Gumamku sembari memasukkan hpku kembali ke dalam saku celana jeans yang
ku pakai.
“Maaf yah Parman. Saya
tadi berhenti sebentar. Soalnya ada message emergency tadi.” Ucapku pada Parman
tak enak hati juga.
“Tidak apa-apa ketua.”
Jawabnya singkat sembari mengeleng-gelengkan kepala.
Kami pun kembali
melanjutkan perjalanan- menuju auditorium. Sepanjang jalan aku membahas masalah
yang akan kami tuju nantinya.
“Nanti saat sampai
disana kamu tidak usaha masuk ke dalam yah!” ujarku pada parman.
Parman menatapku-
heran- tetapi tidak bertanya. Mungkin ia merasa sukar untuk membantah atau
mempertanyakan perintahku. Walau kebingungan melanda pikirannya.
Aku mengetahui itu
semua, makanya aku kembali menjelaskan alasan ujaranku tadi.
“Kamu tidak usaha ikut
masuk karena itu akan mempersulit dirimu sendiri. Bagaimana jika mereka tahu
bahwa kamu mengadukan kelakuan mereka padaku. Nanti mereka akan membuat
perhitungan denganmu. Lebih baik biarkan saya masuk sendiri, anggap saja saya
sedang datang memantau mereka. Jika ada kegaduhan yang terjadi, saya akan
menuntaskannya. Dan untuk sepupumu, saya akan memanggil dia dan ketua HMJ
jurusannya secara pribadi dulu untuk lebih menghormati privasi mereka berdua.
Dan untuk selanjutnya tergantung perkataan dan saksi diantara keduanya. Kamu
juga harus siap saat saya menjadikanmu saksi nantinya.”
Parman menganggukkan
kepalanya, mengiyakan perkataanku sembari berucap, “Iya ketua.”
--------------------------
Aku dan Parman telah
sampai di bagian depan auditorium, Parman menghentikan langkah kakinya
sedangkan aku meneruskan langkahku menaiki lima anak tangga yang menuju pintu
utama auditorium.
Dan saat aku baru
memasuki pintu auditorium yang memang sudah terbuka, suara Aryan telah menggema
di seisi ruangan.
“Eeeh….
malah melototin aku, mau aku tampar lagi ha?!” seruan kasarnya pada seorang
gadis maba yang tengah menatapnya.
Benar-benar
si Aryan ini bikin malu saja. Aku tidak melarang para HMJ keras dengan para
maba. Tetapi haruslah di batas kewajaran, jangan merusak reputasi jurusan hanya
diikuti tangannya yang hendak menampar gadis itu.
“Apa
disini tempatnya para preman pasar!! Seruku dengan tegas.
Dan
suasana auditorium seketika menjadi hening, Aryan begitu terkejut melihat
kedatanganku. Hingga secara reflek ia segera menurunkan tangannya dan terdiam.
Aku
melangkahkan kakiku dengan sedikit cepat menuju kearah mereka.
“Apa-apaan
tadi yang barusan saya lihat?” tanyaku setelah sampai di depan Aryan dan maba
itu.
Aryan menunduk sopan-
memberi hormat padaku.
“Maaf ketua dewan, tadi saya ingin
memberi pelajaran pada maba yang kurang ajar ini.” Jawab setelah selesai memberi
hormat.
Aku melihat gadis maba itu, persis seperti
yang dikatakan sepupunya Parman. Gadis ini sungguh biasa. Bukan mau menilai
orang sih, cuman maba itu lucu banget. Bentuk alisnya hanya setengah yang
hitam, seperti di gunduli yang setengahnya. Hidungnya biasa, tapi mukanya
berminyak dan hitam. Pasti dia nggak pake bedak ataupun pelembab wajah.
Bibirnya sih bagus, tebal tapi cantik. Matanya besar, tapi bulu matanya pendek.
Anaknya tinggi, cukup tinggi bagi perawakkan gadis Indonesia. Kalau rambut dan
lainnya sih, aku nggak liat soalnya ketutupan jilbab.
Eh, tunggu sebentar. Astagfirullah
hal’azim…. Ampuni aku yah Allah SWT. Hamba sudah seperti laki-laki cabul.
Bisa-bisanya aku memperhatikan wanita yang bukan halalku sampai seperti ini.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku-
kecil, menyadarkan diriku atas kesalahan yang sudah ku perbuat. Aku kembali
memandang Aryan dan bertanya,
“Tapi kenapa mesti dengan
kekerasan?”
“Karena dari tadi anak ini terlalu
ngeyel, di perintah tidak pernah menurut. Tidak menghormati senior. Bahkan
sampai mengatai saya yang sebagai ketua HMJ jurusannya.”
Aku berfikir sejenak. Masalah ini
tidak bisa diselesaikan secara pribadi lagi. Ide awalku yang ingin memanggil
mereka berdua secara pribadi, aku batalkan. Aku harus menyelesaikan
permasalahan ini disini, dan mengetahui kebenarannya.
Aku tidak ingin ada senioritas
apapun dan siapapun yang tidak baik di wilayah kekuasaanku sekarang ini.
Aku menatap gadis maba itu dan
bertanya padanya, memberi ia ruang untuk menjelaskan masalah ini sesuai
versinya.
“Apa benar yang diceritakan ketua
HMJ jurusanmu ini?”
“Ah, tidak benar kak.” Jawabnya-
membantah pernyataan ketua HMJ itu.
“Kamu jangan bohong? Jawab yang
jujur! Aku punya banyak saksi mata yah.” Seru Aryan padanya.
Memang si Aryan ini kurang ajar
sekali, aku yang sedang bicara dengan gadis maba itu. Eh, malah ia yang dengan
kasar berseru langsung pada gadis itu tanpa membiarkan aku berkata sedikitpun.
Dan yang lebih menjengkelkan lagi,
gadis maba itu malah meladeni seruan Aryan. Dan mereka sama sekali tak
memperdulikanku yang berada di depan mereka.
“Dari tadi aku merasa tidak
memiliki kesalah kak, apa salahku? Karena kakak senior, ketua HMJ jadi kakak
boleh memanggil orang sembarangan. Siapa yang kakak panggil sebagai wanita
dekil dan wanita jelek? Aku tidak menjawab karena itu bukan namaku. Namaku Nur
Asyifa, kalian menertawainya karena tidak sesuai dengan rupaku. Kakak tega
mengatai aku lebih baik mati dari pada memiliki wajah yang jelek ini. Kakak
tega menamparku dengan keras tanpa ada sebab. Aku yang meratapi nasib dengan bergumam
menggunakan bahasa inggris, kakak pikirkan sendiri sebagai aku tengah mengatai
__ADS_1
kakak. Apa yang kakak harapkan? Aku memang terlahir seperti ini. Jika memang
kakak memiliki Tuhan yang dapat menciptakan makhluk hidup sesuai keinginan
makhluk hidup itu sendiri, maka beritahu aku. Aku akan menyembahnya, berlutut
dan berdoa, meminta kelahiran yang sempurnah melebih Tuhan itu sendiri.”
Wah… wah.. wah… gadis ini gila
banget, ngomong tanpa pake koma, titik, ambil nafas, nelan ludah, lapin iler
kek. Ini ngomongnya laju terus… gaspol mas…. Gaspol… wkwkwkkwk…. mungkin udah
terlalu sakit hatinya kali yah. Dan akhirnya ia berhenti mengoceh setelah
nafasnya terasa telah habis dan perlu di isi kembali.
“Kamu jangan fitnah yah!” Aryan
masih bersikukuh dengan ucapannya, dan menganggap gadis itu masih menfitnahnya.
Aku sih bisa lihat, bagaimana gadis
itu memandang Aryan dengan tatapan merendahkan. Mungkin, ia berfikir masih ada
yah laki-laki semunafik Aryan. Itu masih mungkin sih, aku kan bukan paranormal
yang bisa menerawang isi hati seseorang. Wkwkwkkw….
Dan aku juga nggak bisa terus jadi
penonton.
“Apa kalian ada bukti atau saksi
dari setiap pernyataan kalian berdua?” tanyaku akhirnya, agar dapat mempercepat penyelesaian
pertengkaran mereka berdua ini.
“Ada.” Jawab Aryan dengan cepat.
Sedangkan gadis maba itu hanya
menundukkan kepalanya- diam. Ia pasti sudah pustus asa, karena pasti akan sulit
untuknya mencari saksi. Maba yang lainnya pasti akan pilih cari aman dari pada
membatu dirinya yang tidak mereka kenal.
Tapi aku mau lihat, bagaimana jiwa
maba baru jurusan akuntansi tahun ini. Bagaimana jiwa kemanusiaannya dan
kejujuran yang tertanam pada diri mereka. Apakah mereka akan memiliki sikap
jujur dan membela teman atau lebih memilih cari alam dan membela senior mereka.
Karena tanpa perlu mendengar cerita
Parman sebelumnya, aku bisa menebak dari ekspresi muka kedua anak manusia ini,
bahwa Aryan memang telah melakukan sesuatu yang salah pada gadis maba itu.
----------------------------
Aku mengumpulkan seluruh anak-anak
HMJ Akuntansi dan mabanya. Sedangkan anak-anak HMJ jurusan lain beserta mabanya
ku perintahkan untuk tidak turut campur. Aku ingin melihat bagaimana jurusan
akuntansi dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
Apalagi, aku telah melihat sisa
permen yang belepotan dengan liur di dalam baskom kecil itu. Sungguh membuatku
naik pitam. Aku tidak suka penindasan seperti itu. Bagaimana jika salah satu
dari maba itu punya penyakit menular? Dan malah terjangkit ke orang yang
mengisap permen itu lagi. Dasar anak-anak ini, hukuman yang sudah di larang
masih saja di gunakan. Aku paling benci sama orang yang tidak menghargai
kesehatan orang lain. Benar-benar membuatku murka.
“Adik-adik sekalian, jawab yang
jujur yah! Siapa yang salah antara kak Aryan dan mahaiswa baru ini?” Tanya
Aryan pada maba yang duduk bersila di lantai.
“Kalain tak perlu takut, saya
berharap kalian dapat menjawabnya dengan jujur.” Ujarku pada maba.
Tak lama salah seorang maba
laki-laki berdiri, “Gadis maba itu yang salah kak.” Ucapnya kemudian yang mendapat
anggukkan setuju dari maba yang lainnya.
“Maba itu nggak sepenuhnya salah
kak.”
Terdengar suara salah seorang maba
wanita- membantah ucapan maba laki-laki itu dan anggukan maba lainnya. Wanita
itu berdiri dari duduknya dan kembali berucap,
“Nur memang salah karena
mengacuhkan senior Aryan. Namun semua itu karena senior Aryan sendiri yang
melakukan hal yang tak pantas. Apa salahnya menjadi jelek atau dekil?
Sebenarnya senior Aryan mempertanyakan ukirannya atau pengukirnya?”
Ya Allah SWT. Nih bocah perempuan
bikin aku jadi dosa deh. Wkwkwkkw, bukan dosa apanya, tapi karena ucapannya
langsung membuat hatiku tersentuh. Ayu parasnya, merdu suaranya dan baik
hatinya.
Upss… lagi-lagi aku zalim ya
Rabb….. maafkan hamba, hamba kembali hilaf. Soalnya dalam waktu yang bersamaan
ini aku di kejutkan dengan dua wanita yang berbeda kepribadian. Yang membuat
hati dan fikiran ini menjadi jahil dan salah.
“Kita bukan Tuhan, jangan sombong
karena terlahir lebih dari orang lain. Rupa nggak di bawa mati. Ingat, ketika
kita menghadap Tuhan, hanya amal baik kita di dunia ini yang bisa menolong kita
di akhirat nanti.”
Hmm…. Ternyata wanita itu emang
kesal sama ulahnya Aryan.
“Sumpah, sedari tadi aku kesal
dengan segala sikap senior Aryan pada Nur. Sikap seorang manusia yang seperti
tidak ada Tuhan dan agama dalam jiwanya. Dan aku nggak akan pernah bisa
menenggelamkan jiwaku dalam pusaran dosa yang akan merundung jiwaku menjadi
sesat bila membatu kak Aryan.”
Hahahha…. Si Aryan
gelabakkan coy….. inalillahi, bisanya ketua HMJ mempermalukan dirinya sendiri
sampai seperti ini. Bahkan anggotanya hanya jadi ‘kerbau tusuk hidung’ (istilah
bagi anggota yang hanya bisa mengikuti perintah atasan salah ataupun benar.)
--------------------
Akupun menatap Aryan- lekat “apa
ini kesungguhanmu mendidik para juniormu?” ucapnya kesal padanya.
Aryan lagi-lagi hanya dapat menundukkan kepalanya- diam.
“Dan kamu junior baru.” Ucapku pada
gadis maba yang dihukum Aryan itu, “bila kamu merasa tidak terima dipanggil
jelek dan dekil, seharusnya kamu katakan. Jangan diam hingga membuat orang
kesal dan mengintimindasi dirimu sesukanya.” Ucapku lagi memberi nasehat
padanya.
Aku kembali melihat baskom berisi
pereman itu,. Dan setelahnya kembali melirik para maba baru akuntansi. Aku akan
memberi mereka pelajaran, agar tidak akan ada jiwa yang tersesat lagi.
“Perpetual! Sebutkan arti namamu!”
ucapku tegas kepada gadis maba yang dihukum yang tengah memakai papan
nama ‘perpetual’.
“Sistem dimana setiap persediaan
yang masuk dan keluar dicatat di pembukuan.” Jawabnya dengan tegas.
“Apa arti pembukuan?”
“Pencatatan transaksi keuangan.”
“Apa itu keuangan?”
“Ekonomi.”
“What is economics?
“Is an area of the production,
distribution, or trade and consumption of goods and services by different agents.”
“What is different agents?”
“Distributor of goods that are
different from the needs of one agent to another agent.”
“Kamu lulus.” Ucapku setelah
memberi lima pertanyaan padanya.
“Kalian semua akan ditanyai lima
pertanyaan dari setiap kata terakhir dalam jawaban yang kalian berikan. Bila
kalian tak mampu menjawab, maka kalian akan mengisap abis permen sisa yang ada
di baskom ini.” Ucapku lagi kemudian menjelaskan alasan aku bertanya kepada
gadis maba baru itu.
“Aku tahu sekarang sudah dilarang
seperti ini, namun karena kalian yang sudah mengumpulkan ini semua. Maka kalian
harus mempertanggungjawabkannya. Itu sebagai hukuman karena kalian mematuhi
perintah yang salah.” Ucapku lagi kemudian.
‘Bagaimana ditanam begitulah dituai’
aku akan memberi mereka ganjaran sesuai perbuatan mereka. Dan sekaligus
mengasah otak mereka kan. Apalagi wajah para maba seketika terlihat pucat,
sembari bergumam-gumam seperti sedang membacakan mantra. Tapi aku tahu, itu
pasti mereka lagi ngafalin jawaban yang harus mereka jawab.
(bersambung)
****************
****************
Hai Sahabat Mangatoon, terima
__ADS_1
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.