NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 21_ Terlalu Baik Makanya Tersakiti _ (I)


__ADS_3

NOT WRONG DESTINY_episode 21_ Terlalu


Baik Makanya Tersakiti _ (I)


Mentari pagi telah


menampakkan kecerahannya, kini Suhadi yang telah sadar bersiap kembali pulang


ke rumah bersama Nur Asyifa dan Parman.


“Kalian ke kampus saja


nak! Biar ayah pulang sendiri.” Ucap Suhadi.


“Hari ini ngga ada


kelas Yah, jadi aku ngga ke kampus.” Tutur Parman.


“Aku juga sih Yah, hari


ini hanya ada pengumuman pembagian kelas. Jadi esok saja baru aku pergi ke


kampus.” Ucap Nur Asyifa.


“Tapi apa guru kalian


ngga marah?” tanya Suhadi polos.


“Ngga ayah, kampus itu


beda sama sekolah. Kalau di kampus kita hanya di kelas saat ada kuliah saja,


setelah itu kita bebas mau kemana saja. Beda sama sekolah, dari pagi sampai


siang kita harus duduk di kelas. Entah ada mata pelajaran atau pun tidak.” Jawab


Parman menerangkan.


“Oh, gitu. Berarti kuliah


itu menyenangkan ya.” Ucap Suhadi.


“Menyenangkan yah,


menyenangkan bagi kami yang menyukurinya.” Timpal Nur Asyifa.


Tak lama berselang


suster Ete pun masuk.


“Pagi semua.” Sapanya.


“Pagi sus.” Jawab mereka.


Dengan seyum suster Ete


bertanya pada Suhadi, “udah enakkan mas?”


Pertanyaan yang akrab,


membuat Parman dan Nur Asyifa saling menatap- heran.


“Udah dek.” Jawab Suhadi.


Jawaban Suhadi menambah


kebingungan yang melanda Nur Asyifa dan Parman.


“Ayah dan suster saling


kenal?” tanya Nur Asyifa yang sudah tak sanggup menahan kebingungan.


Suster Ete dan Suhadi


terseyum simpul, “Iya.” Jawab mereka bersamaan.


“Ayah kalian adalah


kawan lama sekaligus mantan terindah suster.” Ucap suster Ete dengan malu-malu.


Hah….


Parman dan Nur Ayifa


melongo- saking terkejutnya.


“Nggak usah alay gitu! Ayah


dan adek Ete hanyalah kawan lama.” Ucap Suhadi.


Parman dan Nur Asyifa


menatap suster Ete, dan suster Ete yang di tatap terseyum seraya berucap, “Suster


yang tergila-gila pada ayah kalian. Suhadi pria yang baik dan penuh perhatian. Kasihnya


tulus pada semua orang, selalu membantu yang lemah dan terseyum walau hidupnya


sendiri susah.” Ucap suster Ete memberi jawaban untuk tatapan Parman dan Nur


Asyifa.


“Kenapa ayah tidak


bersama suster Ete saja?” tanya Nur Asyifa.


“Sudah, jangan bicara


ngasal.” Ucap Suhadi.


“Karena perbedaan


kepercayaan diantara kami, cintaku itu pupus tak terbalas oleh ayah kalian yang


jahat ini.” Ucap suster Ete menatap Suhadi.


“Dek! Kamu sekarang

__ADS_1


sudah bahagia. Untung kamu tidak menikah denganku, kalau tidak hidupmu akan


sengsara.” Ucap Suhadi balas menatap suster Ete.


“Ya, aku bahagia.


karena sakit hati yang kamu berikan, aku hidup dengan penuh syukur. Dan berdoa


semoga kamu mendapatkan wanita kejam yang tidak mencintaimu, hingga kamu


merasakan bagaimana sakitnya perasaan yang aku rasakan.” Ucap suster Ete masih


menatap Suhadi.


“Dan doamu terkabul


dek, aku pria jahat, memang sudah mendapat azabku karena menyakiti hatimu yang


tulus itu.” Ucap Suhadi- seyum.


Namun suster Ete malah


menitikan air matanya, “Kenapa kamu yang harus menderita? Aku yang jahat,


istrimu yang jahat. Kenapa orang baik sepertimu yang selalu tersakiti?” tanya


suster Ete lirih- entah siapa yang diperuntukkan untuk dapat menjawab


pertanyaannya itu.


Suhadi menarik nafas


panjang dan menghembuskannya perlahan- kembali ia menatap suster Ete seraya


berucap, “Tak ada yang salah, dan tak ada yang tersakiti dek. Aku seperti ini


karena takdir, karena Allah masih sayang denganku. Dan sayangNya yang berlebih


itu, diberikan dengan sedikit pemanis buatan agar aku selalu sadar bahwa Ia


ada dan masih sayang padaku, hingga akan selalu menemaniku dalam sujud dan setiap hembusan nafasku.”


“Kamu terlalu baik


Suhadi, makanya kamu tersakiti.” Ucap suster Ete seraya memalingkan tatapannya


dari Suhadi.


---------


--------


---------


Sungguh hanya satu kata


yang bisa menggambarkan situasi di depan mata Parman dan Nur Asyifa sekarang


ini adalah kecanggungan. Mereka merasa canggung dan tak tahu harus bagaimana


yang dengan tenangnya menanggapi semua itu dengan seyuman.


Terlihat kesedihan dan


penyesalan pada wajah suster Ete.


“Aku benar-benar menyesal


karena tak memperjuangkan mas dulu. Kalau aku tahu mas akan diperlakukan


seperti ini oleh wanita kejam itu. Aku akan bersujud di kaki mas untuk lebih


memilih menikah denganku dari pada denganya.” Tutur suster Ete lirih lagi dengan


tangan yang masih memasukkan obat-obatan Suhadi dalam pembungkus.


Ucapan suster Ete


sakali lagi membuat Parman dan Nur Asyifa saling menatap dengan kecanggungan. Mereka


takut jikalau nanti suami suster Ete mendengar pengakuan suster Ete pada


Suhadi, ia akan marah. Dan akan berdampak pada rumah tangga suster Ete sendiri.


“Itu takdir dek! Karena


Tuhanmu tahu mana yang terbaik untukmu.” Ucap Suhadi.


-------------------------------


Pukul 07.00 WIT (Waktu


Indonesia Timur), Arman telah siap untuk berangkat ke kampus. Sebagai ketua


dewan mahasiswa, mengharuskan dirinya untuk memikul tanggungjawab besar dan


tugas untuk memimpin mahasiwa di kampusnya dan berbagai lembaga kampus yang di


pimpin oleh mahasiwa lain di bawah wewenangnya.


Berangkat pagi, akan


mempercepat menyelesaikan tugasnya yang menumpuk. Hingga tidak perlu berkutat


dengan pekerjaan saat melaksanakan kewajibannya pada sang Pencipta.


Setelah menyalami orang


rumah, Arman menuju kampus dengan sepeda motor kesayangannya. Suasana pagi yang


menyegarkan. Walaupun berada di jalan besar, tetapi pepohonan yang berdiri


kokoh di sepanjang jalan membuat udara terasa segar di hirup. Itulah Maluku,


itulah Ambon dan itulah desa Poka. Yang membuat Arman dan keluarganya betah


hidup disana.

__ADS_1


Anak-anak sekolah dari


TK, SD, SMP dan SMA terlihat berlalu lalang dengan segaram sekolah. Ada yang


menyebarang jalan, ada yang menghentikan kendaraan umum, ada yang membawa


kendaraan pribadinya sendiri dan ada yang berjalan kaki dengan berkerumunan dan


tawa yang menghiasi wajah mungil mereka.


Selain anak sekolah,


ada juga para pekerja dan warga lain yang berlalu lalang. Ada yang menenteng


tas belanjaan ada pula yang berjalan tanpa tentengan.


Pagi yang sibuk,


masing-masing orang dengan ritualnya sendiri. Arman terseyum simpul. Bersyukur ia


terlahir di dunia. Dimana ia akhirnya dapat melihat berbagai ciptaan Allah


dengan keindahan masing-masing.


“Sungguh, nikmat Allah


manakah yang engkau dustakan wahai manusia!” ucap Arman pada dirinya sendiri


dengan seyum.


Tak terasa ia telah


sampai di kampus, memarkirkan sepeda motor di parkiran dan menuju ke ruangan


dewan mahasiswa.


Hari ini ada rapat


dengan para BEM- mereka harus mengevaluasi kinerja dari BEM sehingga


pengelolaan dana keuangan dan pemberian anggaran untuk keperluan Ospek


mahasiswa baru kemarin dipertanggungjawabkan dengan benar.


---------------------------


“Ayah! Apakah yang


diucapkan suster Ete di puskesmas tadi itu benar?” tanya Nur Asyifa lirih pada


Suhadi yang tengah berbaring di degu-degu ruang tamu rumah mereka- istirahat


setelah pulang dari puskesmas.


“Ya. Tapi semua itu


masa lalu.” Jawab Suhadi.


“Apa ayah memiliki


perasaan pada suster Ete dulu?”


“Ya, tapi semua itu


masa lalu.”


“Kenapa ayah


meninggalkan suster Ete dan lebih memilih menikah dengan bibi?”


“Karena Allah.”


“Maksudnya?” tanya Nur


Asyifa bingung.


“Karena kami berbeda


keyakinan.”


“Tapi sepertinya suster


Ete sangat mencintai ayah, mungkin ia rela dan siap mengikuti keyakinan ayah.”


Suhadi terseyum pada


anaknya itu dan kemudian berucap, “Itu bukan cinta namanya Fa, itu setan. Agama


bukan permainan Fa, bila kamu memang ingin berpindah keyakinan janganlah karena


mencintai manusia. Cinta manusia itu sementara, bagaimana jika saat ayah


menikah dengan suster Ete dan suster Ete merasa susah dan sedih hingga membuat


ia menyesal. Ayah akan berdosa anakku. Ayah masih belum mampu menuntun diri


ayah, ayah tidak ingin menyesatkan anak orang untuk hidup bersama ayah.”


Nur Asyifa menatap


Suhadi- dalam. Hatinya di penuhi rasa syukur memiliki seorang ayah yang luar


biasa seperti Suhadi.


Ia juga berharap semoga


ia di berikan jodoh yang seperti Suhadi. Ikhlas dan sabar hanya demi Allah SWT.


(bersambung)


*********


*********


Hai Sahabat Mangatoon, terima


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.

__ADS_1


__ADS_2