
NOT WRONG DESTINY_episode 22_
Terlalu Baik Makanya Tersakiti _ (II)
“Pagi bos!”
“Assalamu’alaikum
Angga.” Ucap Arman memberi salam tanpa membalas sapaan sahabatnya Angga.
“Hehehhee….. wa’alaikum
salam Man.” Jawab Angga cengengesan seraya memegang tengkuknya- malu.
“Tumben Pagi?” tanya
Arman seraya terseyum dan kembali berjalan dari depan ruang akademik menuju
ruangannya.
“Biasa, ada kelas
pagi.” Sahut Angga dengan seyum dan merangkul Arman.
Angga dan Arman
bersahabat dari SMP, Arman yang sempat sakit kurang lebih satu tahun harus
terlambat sekolah dan masuk di kelas yang sama dengan Angga yang dulunya adik
kelasnya. Dengan sifat Angga yang bersahabat dan Arman yang berwibawa di
sekolah dan jail di rumah dan teman dekatnya, membuat meraka akhirnya menjadi
sahabat baik sampai sekarang.
“Kamu mau rapat lagi?”
tanya Angga lanjut.
“Iya, hari ini ada
rapat tentang pembahasan penggunaan anggaran oleh BEM.” Ucap Arman.
“Hmm, semangatlah ketua
dewanku! Adik di sini akan mendukungmu dengan doa dari belakang.” Ucap Angga
menggoda.
Arman memutar bola
matanya malas.
“Oh iya, kenapa kemarin
kamu pulang ngga ngajak-ngajak?” tanya Angga lanjut.
Arman menghentikan
langkahnya dan menatap Angga yang berada di samping kirinya. Iya baru sadar,
karena hatinya yang sedih- tak bisa mendapati sosok sang qari’ yang di carinya.
Ia akhirnya memilih pulang, dan singgah di panti asuhan yang membuatnya dapat
melihat sosok Nur Asyifa yang diyakini sebagai sang qari’. Ia bersyukur akan
hal itu, tapi ia sampai lupa pada sahabatnya.
“Melamun apa? Kamu
pasti ngga ngecek hp kan?!” seru Angga yang terlihat nampak kesal.
Arman mengerutkan
dahinya dengan kedua alisnya terangkat, “Hmm, mulai ngambekkan nih. Kaya cewe
yang lagi bulanan aje sih!” ucap Arman menggoda.
“Bukannya ngambek, aku
hanya khawatir dan kesal dengan kamu yang ngga balas-balas message aku. Di
telepon- di luar jangkauan. Kamu benar-benar udah lupa sama aku Man.” Oceh
Angga.
Arman terkekeh,
“hahahhaa… ih nggak deh. Stop ngomong gitu! Kalau di dengar orang, bisa ada salah
paham. Di kirain kita jeruk makan jeruk lagi.” Celetuk Arman.
Tak selang tiga puluh
detik ada dua mahasiswa yang berjalan dan menatap Arman dan Angga- aneh.
“Tuh kan! Baru aja di
omongin udah kejadian aja.” Seru Arman saat dua mahasiswa itu berlalu sembari
melepas rangkulan Angga darinya.
“Biarin, emang aku
pikirin tanggapan orang!” celetuk Angga yang kembali merangkul Arman.
Keduanya pun saling
manatap dan mulai tertawa.
“Maaf ya kawan, udah
bikin kamu khawatir kemarin.” Ucap Arman saat menghentikan tawanya.
“Iya, tapi ada apa
kemarin? Kamu kelihatan panic gitu?” tanya Angga- penasaran.
“Entar siang aku
ceritain. Kita ketemuan di mushola nanti.” Ucap Arman.
“Ok, message aku ya.”
“HP ku mati dari
kemarin.” Ucap Arman.
“Kebiasaan, emang ya.
Kalau jomblo tu bikin orang malas lihat hp.” Oceh Angga.
“Kebalikkan kale. Jomblo
itu yang ngga bisa lepas dari hp. Karena pengen eksis biar di kenal, agar dapat ceweknya gampang.” Celetuk Arman
“Ngga untuk kamu. Kau
manusia aneh. Jadi hidupmu selalu terbalik dengan orang normal.” Celetuk Angga.
Arman terkekeh
mendengar ucapan Angga dan Angga pu ikut tertawa.
“Ya udah, aku ke
ruanganku dulu. Entar siang jangan lupa di mushola!” ucap Arman seraya melepas rangkulan Angga dan
melangkah pergi.
“See you later afternoon bro! Don't leave me rich again yesterday! Aku tungguin dengan hikmat di mushola nanti! Seru Angga.
---------------------------
Waktu menunjukan pukul
09.30 WIT. Nur Asyifa terlah selesai
membersihkan piring kotor bekas makan pagi dirinya, Parman dan Suhadi. Ia pun
pergi ke ruang tamu dan menghidupkan hpnya yang sudah ia charger pas pulang
dari puskesmas.
Saat hp menyala, dan
sinyal tertangkap- sederetan message pun menggetarkan hpnya berlomba-lomba
memenuhi memori hp batako merek Nokianya itu.
Di buka dan dilihatnya
satu per satu isi message yang ternyata dari sahabat SMKnya Nike- yang sekarang
telah menjadi seniornya di Poknik.
“Pagi Fa, kamu dimana?
Aku ada di kampus sekarang. Ketemuan yuk! Kangen nih, udah dua tahun kamunya
ngga ada kabar. Dasar wanita jahat.”
“Kamu ngga ke kampus
Fa? Aku tanyain maba jurusan akuntansi tapi mereka katanya ngga kenal kamu.”
“Kok gitu sih,
seharusnya cewek super duper cerewet dan bawel serta welcome kaya kamu pasti
udah banyak kenalannya. Apa pamor kamu udah menghilang karena dua tahun
menganggur dan lenyap tak ada kabar.”
“Ihh.. bales dong. Kok
hpnya ngga aktif. Kangenn!!!!!!!!!”
“Ingat ya, kalau udah
baca message aku kamu harus bales.”
“Awas ngga bales. Aku
ngga mau ngomong lagi sama kamu.”
“Udah hilang kontok
selama dua tahun. Pas nongol ngga ngasih kabar sama sekali.”
“Aku bakalan marah kali
ini kalau kamu ngga respon message aku.”
“Dah, ingat kalau udah
di baca, harus dan kudu di balas. Wajib!!!!!!!!”
Membaca message dari
Nike membuat air mata Nur Asyifa mengalir tanpa di sadari. Kenangan
persahabatan yang mereka rajuk selama tiga tahun di SMK sangat berarti bagi Nur
Asyifa.
Mereka adalah sahabat
dengan perbedaan keyakinan masing-masing. Namun, persahabatan yang terjalin
bahkan sudah seperti saudara. Duduk di bangku yang berdekatan, pergi makan di
kantin bersama, ke wc bersama, ke mushola di temani Nike, ke perpus bersama,
dan berbagai hal lain yang selalu mereka kerjakan bersama.
Nike sudah seperti
saudara perempuan bagi Nur Asyifa dan sebaliknya, mereka bahkan saling berbagi
cerita tentang kehidupan keluarga mereka.
Nur Asyifa ingat,
dimana suatu hari Nike memintanya untuk bolos sekolah pada siang hari yang
terik. Dengan memanjat tembok mereka berhasil bolos dari sekolah. Walaupun
alhasil Nike harus membuka baju saragamnya dan hanya memakai kaos putih oblong
__ADS_1
yang sudah di pakai mengantikan kaos kutangnya. Dan baju seragam itu di pakai
untuk menutupi roknya yang robek terkena kawat duri yang terpasang di tembok
pagar sewaktu menaiki tembok.
Mereka bolos karena
Nike yang sedang sedih dan tak mood untuk belajar. Waktu itu ia sedang
bertengkar hebat dengan ibu tirinya yang hanya suka sang ayah dan membeci ia
dan kakaknya. Nike kecewa dengan ayahnya yang malah menyalahkan dirinya atas
pertengkaran itu. Dan untuk menghilangkan stress, melakukan hal gila dengan Nur
Asyifa akan membuat moodnya kembali membaik.
Mengingat kenangan itu
membuat Nur Asyifa merasa sedikit buruk. Pasalnya setelah kelulusan mereka dua
tahun lalu, Nur Asyifa di bawah ke Seram oleh bibinya tanpa sempat berpamitan
atau sekedar memberi kabar pada Nike.
Ia juga heran bagaimana
Nike bisa tahu kalau ia sudah kembali ke Ambon.
Bagaimana Nike bisa
tahu kalau ia juga masuk ke Poknik?
Entahlah, yang
terpenting sekarang ia harus bertemu Nike. Ia juga sangat merindukan sahabatnya
itu. Ia ingin sekali memeluk dan menangis dalam dekapan sahabatnya itu seperti
dulu, untuk dapat meringankan kesedihan di hati.
Ia
menatap Parman dan Suhadi yang tengah duduk di degu-degu ruang tamu, “Ada
Parman yang menjaga ayah. Kalau gitu aku pamit keluar sebentar deh. Kangen, mau
bertemu Nike.” Batinnya.
Ia
pun mengutarakan niatnya untuk ke kampus pada Parman dan Suhadi.
“Yah,
Man. Aku mau ijin ke kampus dulu ya?” ucapnya dengan nada bertanya.
Suhadi
dan Parman pun mengalihkan pandangan mereka ke arah Nur Asyifa,
“Bukannya
ngga ada kegiatan di kampus katamu tadi.” Ucap Parman.
“Ya
udah, kamu ke kampus aja sana.” Ucap Suhadi.
Nur
Asyifa menahan tengkuknya dengan wajah mengkerut, “aku mau ketemu Nike di
kampus.” Ucapnya gagu.
“Oh,
Nike teman SMKmu itu?” tanya Parman.
“Iya.”
“Oh,
ya udah kamu ke kampus aja ketemu dia. Tenang, disini ada aku yang jagain
ayah.” Ucap Parman.
“Kamu
ke kampus aja Fa. Ayah sudah sehat.” Ucap Suhadi.
“Ok
Yah, Man. Ingat jangan lupa makan! Nasi ada di panci, sayur dan ikan di tutup
di atas meja.” Ucap Nur Asyifa menerangkan seraya masuk ke kamarnya untuk
berganti pakaian.
“Iya
bawel. Kamu kira kita anak kecil! Kita bisa cari sendiri!” seru Parman.
“Ya,
ingetin aja kan. Jangan sampe si kecil Parman lupa. Parman kan adik kecil Ifa.
Hahahahha…” Celetuk Nur Asyifa menggoda- yang masih ada di dalam kamar.
“Ya,
akhirnya mood kakakku Ifa kembali ceria. Nike memang obat yang mujarap.” Seru
Parman seyum.
Suhadipun
ikut terseyum, setidaknya ketegangan dan kesedihan ini berkurang dengan seyum
yang dilihatnya tersungging dari bibir ke dua bocah kesayangannya itu.
“Ya…..
ya… ya…. Thanks you my dear brother. Aku pergi ya Ayah.” Ucap Nur Asyifa yang
sudah keluar dari kamarnya dan menyalami tangan Suhadi dan Parman.
“Assalamu’alaiku.”
“Wa’alaikum
salam.” Jawab Suhadi dan Parman bersamaan.
---------------------------
“Assalamu’alaikum,
beb, gimana kabarnya?” tanya Nur Asyifa mulai memessage Nike.
Balasan
message Nike musuk dengan cepat.
“Baik
bebebku Ifaaaaaaaa… . ”
“Wanita
JAHAT!!! wanita KEJAM!!!! Dimana kamu sekarang???? ”
Nur
Asyifa hanya seyum-seyum membaca message Nike yang membombardir dirinya dengan
sebutan wanita jahat.
“Kenapa
Ngga balas??????????????? DASAR JAHAT!!! JAHAT!!! JAHAT!!!”
Message
Nur Ayifa,
“Bagaiman
aku mau balas, kalau kamunya message terus. Ngga ngasih aku kesempatan untuk
membalas.”
Message
Nike.
“Penipu,
penjahat!!!!! DIMANA??? KANGEN!!!!!”
Message
Nur Asyifa,
“Aku
lagi di jalan menuju kampus. Kenapa ngga telpon aja sih, message kan lama.”
Message
Nike,
“Dasar
pelit, dari dulu maunya aku yang nelpon duluan. Hari ini aku ngga mau nelpon
duluan, kamu wanita jahat, kamu yang harus berkorban untuk dapat maaf dariku.”
1
detik, 2 detik, 3 detik, 4 detik, 5 detik
Ber….
Ber…. Ber……
Hp
Nur Asyifa bergetar, dan Nike telah menelponnya duluan. Dengan seyum Nur Asyifa
mengangkat telponnya Nike.
“Ass….”
Belum
sempat Nur Asyifa mengucap salam, dari seberang sudah gaspol deretan kata-kata
menjadi satu kalimat dan bertumpuk menjadi sebuah wacana.
Nur
Asyifa loudspeaker hpnya dan membiarkan Nike menjadi ratu dalam pembicaraan
melalui hp itu.
Setelah
panjang kali lebar kali tinggi sama dengan rumus volume balok, akhirnya Nike
mulai memberi jeda dari pertanyaan dan ucapannya untuk Nur Asyifa jawab.
“Kenapa
tak ada kabar?” tanya Nike setelah lelah mengomel.
“Maaf,
aku ngga punya alasan untuk itu.” Jawab Nur Asyifa.
“Kamu
kejam Fa! Tahu tidak, betapa sedihnya aku kehilangan kamu yang ngga ada kabar
beritanya sama sekali. Aku kaya orang gila, mencari-cari alamatmu dan ternyata
kamu udah pergi ke Seram tanpa pamit ke aku.” Ucap Nike lirih dari seberang.
“Maaf
Ke, maafkan aku. Aku ngga tahu harus bagaimana? Aku sendiri sedih dan kecewa di
__ADS_1
suru tinggal di Seram.” Ucap Nur Asyifa lirih.
“Kamu
tahu, bagaimana kesepian dan kesedihannya aku disana tanpa kamu dan keluargaku
di Ambon? Aku terpuruk. Tapi aku berusaha kuat untuk bangkit, aku bekerja siang
dan malam dan terus berdoa serta shalat. Agar di beri kesempatan bertemu kalian
lagi.” Ucap Nur Asyifa lagi.
“Aku
ingin bertemu!” ucap Nike.
“Aku
juga, makanya aku dengan segera ke kampus pas melihat messagemu yang banyaknya
minta ampun.” Ucap Nur Asyifa.
“Ya,
soalnya kamu wanita jahat. Udah pulang ke Ambon dari beberapa bulan lalu, tapi
ngga pernah kasih kabar ke aku. Mungkin kamu udah lupa sama aku, aku udah ngga
penting seperti dulu.” Ucap Nike lirih.
“Bukan
begitu, aku hanya bingung mau bicara apa. Malu juga sih, aku pergi tanpa pamit.
Dan saat kembali, aku harus seperti apa denganmu?” ucap Nur Asyifa.
“Dasar
bodoh, ngapain bingung dan malu. Kalau kangen ya beri kabar. Kita sahabat kan?
Aku ngga akan …..” ucapan Nike terhenti, terdengar helaan napas berat- menangis dari
seberang.
“Maaf
Ke, maaf…. Aku janji ngga akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.” Ucap Nur
Asyifa yang juga sudah berderai iar mata.
Tut..
tut…
Panggilan
pun putus,
“Pasti
ia sedang menagis sekarang.” Batin Nur Ayifa.
Tak
lama berselang message dari Nike pun masuk.
“Aku
tunggu di tempat duduk koridor depan pintu masuk gedung akademik ya Fa. Jangan
lama-lama, aku kangen.”
----------------------------
Pukul
12.22 WIT, Nur Asyifa yang sudah bersama dengan Nike selama kurang lebih 2 jam
telah mengobrol panjang lebar dan melepas rindu. Kini Nur Asyifa harus
menunaikan kewajibannya shalat Zuhur setelah adzan berkumandang tadi.
Di
temani Nike, Nur Asyifa pergi menuju mushola kampus, ia mengambil wudhu dan
masuk ke mushola. Sedangkan Nike menunggunya di luar mushola.
--------
--------
--------
(Arman pov)
Takdir
yang manis, saat aku hendak menunaikan salat zuhur bersama Angga, tiba-tiba ada
seorang wanita masuk mushola dan ternyata adalah Nur Asyifa. Hatiku pun begitu
gembira.
Aku
pun beranikan diri mengajak Nur Ayifa dan dua wanita lainnya di dalam mushola
untuk shalat berjamaah dan mereka setuju.
Akhirnya,
aku menjadi imam mereka dalam menunaikan shalat zuhur ini.
Setelah
empat rakaat dan diakhiri dengan salam, shalat pun selesai. Aku melirik Nur
Asyifa sekilas dan ternyata ia tengah membuka Al-qur’an dan mulai membacanya.
Seperti
yang ku dengar sebelumnya di tempat ini, dan di panti. Suara merdu yang
menggetarkan hati. Tapi kali ini terasa ada kebahagiaan yang tersirat dari
lantunan ayat yang dibacakannya itu surah Luqman, terdengar syahdu dari
mulutnya yang melantunkan.
“Ya
Allah, aku benar-benar sudah banyak dosa hanya dengan seorang wanita bernama
Nur Ayifa ini.” Batinku.
“Bro,
kamu lagi lamunin apa?” tanya Angga berbisik di telingaku yang membuatku
tersadar.
Aku
menatap Angga yang juga menatapku sembari menaikkan bahu dan alisnya sebagai
gerak tanya untuk pertanyaan yang sudah dibisiknya tadi.
“Aku
ngga lamunin apa-apa bawel.” Ucapku berbisik pada Angga.
Yah,
kami berbisik karena ngga mau mengganggu Nur Asyifa yang sedang mengaji.
“Adem
banget ya ati ini mendengar ngajian wanita itu.” Bisik Angga lagi.
Aku
hanya menganggukkan kepala setuju. Kami di mushola sampai Nur Asyifa selesai
mengaji. Awalnya aku bermaksud mengajak di makan di kantin saat keluar mushola
nanti. Bukannya kami sudah dekat kan pas di panti. Jadi ku pikir ngga masalah
lah kalau aku ajak dia makan sama aku dan Angga.
Tak
berapa lama, Nur Asyifa berdiri hendak ke luar mushola dan aku pun memanggil
namanya.
“Assalamu’alaikum
Fa.” Salamku
Dia
membalikkan pandangan dan menatapku sekilas dan mengalihkan pandangannya lagi.
“Wa’alaikum
salam kak.” Jawabnya.
“Kita
ke kantin yuk?” ajaku to the point.
Nur
Ayifa kembali menatapku- heran.
Eh, kenapa tatapannya begitu? Apa aku ada salah ucap?
“Wah,
kakak mau ke kantin? Kami juga hendak ke kantin, ayo pergi sama-sama!” nimbrung
salah satu gadis yang ikut shalat berjamaah tadi denganku.
Aku
menatap wanita itu- bingung. Ngapain sok akrab gitu. Ngga kenal juga, bikin
malas.
Tapi
si kutu kupret Angga ini malah bikin hancur usahaku mendekati Nur Asyifa.
“Ok,
kita pergi bersama mereka saja Man.” Ucap Angga bersemangat dan aku menatapnya
kesal tapi tak di gubrisnya.
“Aku
duluan ya kak, kakak pergi bersama mereka saja. Aku lagi bersama teman.” Ucap
Nur Asyifa dengan seyum dan berlalu pergi.
Akhh….
Hatiku
berteriak kesal, entah mengapa penolakkan darinya membuatku sedih dan katanya ada
teman yang menunggu membuat hatiku sakit.
Siapakah
yang sudah menunggunya? Siapakah yang sudah membuatnya terseyum saat berkata ada
yang menunggunya?
Berbagai
pertanyaan bergelantungan berbesik di benak yang aku sendiri tak sadar mengapa
aku sampai seperti ini?
(bersambung)
*********
*********
__ADS_1
Hai Sahabat Mangatoon, terima
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.