
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila
ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon
kebijaksanaannya dalam membaca yah…
Cerita ini mengandung unsur dewasa,
tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para
pembaca sekalian.
NOT WRONG DESTINY_episode 2_Nur
Asyifa_Pov (II)
“Wah….. kamu nentang saya!!” seru
Aryan kesal.
Pria itu pun tanpa pikir panjang
menampar pipiku dengan keras.
“Plakk….”
Tangan laki-laki dengan kekuatan
amarah tentu saja penuh kekuatan. Tamparan yang terasa begitu sakit, bukan saja
jiwaku tetapi batinku pun ikut merasakan sakit karena malu.
Semua maba dan HMJ dari berbagai
jurusan menatap lurus padaku, dan aku hanya dapat menahan pipiku bekas tamparan
Aryan dengan air mata yang telah tertumpah ruah membasahi wajah.
“Kamu baru hari pertama ospek aja
udah belagu!! Seru salah seorang HMJ dari jurusan lain padaku.
Dan mulailah drama senioritas
mereka padaku, mengatai dan memperlakukanku dengan kasar. Aku yang hanya
sendiri dan lemah, tak dapat mempertahankan ego lagi. Aku hanya berharap ada
dosen ataupun senior lain yang berhati baik dan dapat menolongku yang sudah tak
sanggup lagi dipojokkan dan di hukum seperti ini.
Aku berlari mengitari halaman
kampus Poknik bukan lagi 10 kali melainkan 20 kali. Dengan nafas yang
ngos-ngosan aku berharap dalam hati agar hari ini cepatlah berlalu.
Bukan sampai disitu saja aku di
permalukan mereka, Aryan memiliki seribu akal bulus untuk membalas
perlawananku. Ia membeli tiga bungkus permen dan menyuruh setiap maba dari
semua jurusan mengisap permen itu sampai beberapa menit di dalam mulut mereka
dan menyuruh mengeluarkan permen yang telah diisap dan di taruh ke dalam sebuah
baskom kecil.
Setelah itu aku di perintahkannya
untuk mengisap permen bekas teman-temanku itu.
“God, is this real? How could I suck
someone’s candy?” bantinku merintih. Aku tak dapat berkata apa-apa melihat
permen teman-temanku yang belepotan di dalam baskom.
“Is this the reward for someone who
maintains his pride? If it is, then the world is cruel.” Gumamku setelah
semenit menatap permen itu.
“Berani sekali kamu mengataiku!!”
seru Aryan kesal.
What? OMG… gumamku bisa di
dengarnya? Apa si Aryan ini punya telinga gajah? Gumam sepelan itu masih bisa di
dengar. Dan lagi siapa juga yang mengatainya. Kalau nggak bisa bahasa Inggris,
nggak usaha langsung menelan mentah-mentah perkataan orang lain yang nggak
dimengerti. Tanya dulu kek, dikasih akal dan otak sama Allah bukan untuk
dipakai malah hanya sebagai pajangan.
“Aku tidak mengatai kakak.” Ucapku padanya
dengan pelan.
“Jadi kamu ngomong pake bahasa
inggris tadi itu apa, kalau bukan untuk mengataiku?! Kamu kira aku nggak bisa bahasa
inggris?! Seru Aryan kesal.
Tuhan….. nyolot sekali laki-laki
ini, dosa apa aku di masa lalu sampai akhirnya dipertemukan dengannya.
“Kakak salah mengerti, aku berani
bersumpah kalau aku nggak ngatain kakak.” Aku masih bersikukuh dengan ucapanku
itu. Emang iya kan, kalau aku nggak ngatain si Aryan itu pake bahasa inggris. Aku
hanya meretuki nasibku yang sial ini aja.
“Kamu itu sudah jelek, HIDUP LAGI. Apa
kamu nggak pernah ngaca? Punya kaca kan di rumah? Kalau aku dilahirkan dengan
rupa sepertimu aku lebih memilih mati dari pada hidup dengan rupa itu.” Hardiknya
langsung padaku dengan sinis.
Terpukul…..
Yah, jiwaku terpukul dengan
kata-kata itu. Aku memang sudah biasa di tatap hina, ataupun di katain jelek
sama orang-orang. Namun, mereka belum pernah mengatai sampai membawa kematian.
Apa aku pernah meminta dilahirkan
seperti ini? Apa semua makhluk hidup di dunia ini diciptakan mengikuti
keinginannya sendiri? Bila iya, aku mohon bawa aku pada pencipta yang seperti
itu. Aku ingin memohon padanya untuk menghapus jejakku sebagai manusia di dunia
kotor ini. Dan ciptakanlah aku sebagai batu, benda yang tak memiliki hati,
hingga tidak perlu merasakan sakit.
“Kenapa masih diam?! Cepat isap
permen itu!! Perintah Aryan padaku dengan kasar. Diikuti dengan tangan kanannya
yang mendorong bahu kiriku dengan kasar juga.
Aku akhirnya beranikan diri menatap
wajah Aryan. Aku ingin melihat dengan sejelas-jelasnya rupa laki-laki yang
tengah menindasku ini.
Ekspresi wajah yang mengintimindasi
dan angkuh. Rupa yang hanya biasa-biasa saja, namun penuh kesombongan.
Akhirnya aku mengerti, apa karena
rupanya yang juga biasa-biasa saja inikah yang membuat dirinya tega
merundungku. Menjadikanku mainannya agar ia merasa lebih baik dariku.
“Eeeh…. malah melototin aku, mau
aku tampar lagi ha?!” seru Aryan padaku tak terima ku tatap wajahnya. Ia mengangkat
tangannya bermaksud ingin kembali menampar pipiku, namun nasib baik akhirnya
menghampiriku.
“Apa disini tempatnya para preman
pasar!! Seru seorang pria dari depan pintu auditorium sembari melangkah maju
__ADS_1
mendekati kami.
Aku melihat Aryan sedikit gugup. Tangannya
dengan cepat di turunkan dan berdiri dengan tegap. Saat itulah hatiku mulai
tenang, setidaknya ada jeda yang berarti di hari yang panjang dan melelahkan
ini. Dan juga semoga aku di beri anugerah untuk tidak mengisap abis permen
bekas itu.
---------------------------
Pria itu telah berada di depan
kami, suara yang tadi riuh seketika tenang. Sosok pria itu membawa wibawa yang
kuat, setiap mata tak mampu memandangnya berlama-lama karena sosok pemimpin
yang terlalu mengintimindasi pada jiwanya.
“Apa-apaan tadi yang barusan saya
lihat?” tanyanya pada Aryan.
Aryan menunduk sopan, sepertinya memberi
hormat, dan aku pun mulai melirik pria itu.
‘W..A…W..’ pake banget, pria itu
benar-benar tampan. Aku hampir meleleh melihat wajahnya. Perasaan sedihku
terhempas hilang. Jantungku berdetak kencang tak karuan. Badan yang tinggi dan
tegap dengan otot lengan yang sesuai di tambah wajah oval, bulu mata panjang,
rambut cepak, alis tebal dan bibir tipis. Satu lirikan saja sudah mampu
membuatku menggambarkan keindahan pria itu.
“Maaf ketua dewan, tadi saya ingin memberi
pelajaran pada maba yang kurang ajar ini.” Jawab Aryan pada pria itu.
“Tapi kenapa mesti dengan kekerasan?”
“Karena dari tadi anak ini terlalu
ngeyel, di perintah tidak pernah menurut. Tidak menghormati senior. Bahkan sampai
mengatai saya yang sebagai ketua HMJ jurusannya.”
Jawaban yang benar-benar asal,
Aryan- lelaki dengan mulut penuh fitnah. Sumpah, kalau mukaku hari ini di
ilustrasikan dalam gambar komik, sudah keluar asap dari mata, dan telingaku deh
karena saking kesalnya.
“Apa benar yang diceritakan ketua
HMJ jurusanmu ini?”
Pertanyaan pria itu membuatku
tersadar dari lamunan kekesalanku.
“Ah, tidak benar kak.” Jawabku,
membantah.
Yaiyalah, ngapain aku mengaku salah
kalau emang aku nggak salah.
“Kamu jangan bohong? Jawab yang
jujur! Aku punya banyak saksi mata yah.” Seru Aryan padaku kesal dengan menahan
amarah.
“Dari tadi aku merasa tidak
memiliki kesalah kak, apa salahku? Karena kakak senior, ketua HMJ jadi kakak
boleh memanggil orang sembarangan. Siapa yang kakak panggil sebagai wanita
dekil dan wanita jelek? Aku tidak menjawab karena itu bukan namaku. Namaku Nur
Asyifa, kalian menertawainya karena tidak sesuai dengan rupaku. Kakak tega
mengatai aku lebih baik mati dari pada memiliki wajah yang jelek ini. Kakak tega
bergumam menggunakan bahasa inggris, kakak pikirkan sendiri sebagai aku tengah
mengatai kakak. Apa yang kakak harapkan? Aku memang terlahir seperti ini. Jika memang
kakak memiliki Tuhan yang dapat menciptakan makhluk hidup sesuai keinginan
makhluk hidup itu sendiri, maka beritahu aku. Aku akan menyembahnya, berlutut
dan berdoa, meminta kelahiran yang sempurnah melebih Tuhan itu sendiri.”
Akhhh….. aku mengoceh terlalu
banyak, diriku yang tidak suka banyak omong, kini malah berbicara panjang kali
lebar tambah tinggi sama dengan mines abissss…….. habisnya aku sudah
benar-benar geram dengan si Aryan itu.
Dan saat aku menarik nafas, disaat
itulah aku akhirnya berhenti bicara.
“Kamu jangan fitnah yah!” seru
Aryan sembari menunjukku dengan telunjuknya dan melotot tajam padaku.
Aku hanya dapat
menggeleng-gelengkan kepalaku- heran. Kok ada yah, manusia sepertinya. Tidak mengakui
perbuatannya sendiri dan mengatakan bahwa aku menfitnahnya.
“Apa kalian ada bukti atau saksi
dari setiap pernyataan kalian berdua?” Tanya ketua dewan mahasiswa itu pada
kami berdua.
“Ada.” Jawab Aryan dengan percaya
diri.
Dan aku termenung, apa maba baru
yang lain akan membantuku? Kami bahkan tak saling kenal, bagaimana kalau mereka
memilih cari aman dan membantu kak Aryan dari pada membelaku yang benar. Akupun
mulai pasrah, semoga masih ada cahaya di dalam kegelapan dunia fana ini.
---------------------------
Ketujuh HMJ akuntansi yang lainnya
ikut bergabung dengan kami, mereka tentu saja mendukung ketua HMJnya. Dan untuk
HMJ dari jurusan lain tidak diperkenankan turut campur, itulah perintah ketua
dewan mahasiswa.
Aryanpun mencari kebenarannya
sendiri dengan bertanya pada maba akuntansi.
“Adik-adik sekalian, jawab yang
jujur yah! Siapa yang salah antara kak Aryan dan mahasiswa baru ini?”
Maba yang lainnya menundukkan
kepala mereka, aku tahu mereka pasti dilema. Antara memilih kebenaran tetapi
akan kesusahan kedepannya atau memilih kebohongan tetapi menekan jiwa
kemanusiaan mereka.
Aku juga mau melihat, bagaiamana
jiwa maba lainnya. Apakah mereka sama dengan para senior HMJ atau memang mereka
masih memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi untuk dapat membela yang lemah.
“Kalain tak perlu takut, saya
berharap kalian dapat menjawabnya dengan jujur.” Ujar ketua dewan mahasiswa.
Salah seorang maba laki-laki
berdiri, “Gadis maba itu yang salah kak.” Ucapnya kemudian yang mendapat
__ADS_1
anggukkan setuju dari maba yang lainnya.
Mataku terbelalak, kedua tanganku
secara reflek bergerak menutupi mulutku- tak percaya. Walau jawabannya itu
sudah bisa ku prediksi. Namun hati masih merasa sakit mendengarnya. Hingga kristal
bening jatuh membasahi pipi.
“Maba itu nggak sepenuhnya salah
kak.” Terdengar suara manja yang tidak asing di telinga.
Yah, itu suara Ayu Lestari, wanita
cantik yang tadi. Tapi bukannya awalnya ia menganggap aku salah, kenapa ia
malah berkata seperti itu untuk membantuku? Mungkin akhirnya ia sadar kali
kalau Aryan memang sudah keterlaluan.
Ayu berdiri dari duduknya, matanya
menatap tanjam ke arahku. “Nur memang salah karena mengacuhkan senior Aryan.” Ucapnya
kemudian. “Namun semua itu karena senior Aryan sendiri yang melakukan hal yang
tak pantas. Apa salahnya menjadi jelek atau dekil? Sebenarnya senior Aryan
mempertanyakan ukirannya atau pengukirnya?” ucapnya lanjut sembari memandang
Aryan.
Jlebbb…. Ucapan Ayu bagai anak
panah yang di lepaskan langsung ke dada Aryan- tepat di jantungnya. Laki-laki
itu terdiam seribu bahasa. Dan yang lainnya pun ikut terdiam.
“Kita bukan Tuhan, jangan sombong
karena terlahir lebih dari orang lain. Rupa nggak di bawa mati. Ingat, ketika
kita menghadap Tuhan, hanya amal baik kita di dunia ini yang bisa menolong kita
di akhirat nanti.”
“………..”
“Sumpah, sedari tadi aku kesal
dengan segala sikap senior Aryan pada Nur. Sikap seorang manusia yang seperti
tidak ada Tuhan dan agama dalam jiwanya. Dan aku nggak akan pernah bisa
menenggelamkan jiwaku dalam pusaran dosa yang akan merundung jiwaku menjadi
sesat bila membatu kak Aryan.”
Setiap unek-uneknya ia keluarkan,
rasanya seperti semua hal itu sudah di pedamnya sedari tadi dan menyesakkan
dada hingga harus dikeluarkan agar hati menjadi lebih tenang. Aku sih, sangat
bersyukur, setidaknya ada jiwa baik yang mau membela diriku yang benar ini.
--------------------
Ketua dewan mahasiswa itu menatap
Aryan- lekat. “apa ini kesungguhanmu mendidik para juniormu?” ucapnya. Ucapan yang
terasa mengintimindasi lawan bicara, hingga mereka yang mendengar merasa kecil
hanya dengan perkataan.
Aryan menundukkan kepalanya- diam.
“Dan kamu junior baru.” Ucapnya padaku,
“bila kamu merasa tidak terima dipanggil jelek dan dekil, seharusnya kamu katakan.
Jangan diam hingga membuat orang kesal dan mengintimindasi dirimu sesukanya.” Ucapnya
lanjut padaku.
Aku hanya menunduk diam, sebernanya
bukan aku nggak mau menjawab, namun awalnya aku hanya ingin cari aman. Aku fikir
kalau aku jelek, berarti aku akan kuliah dengan nyaman tanpa perlu ada pria
yang mengganggu. Ternyata jelek juga menyusahkan. Menjadi pusat perhatian untuk
diejek oleh laki-laki yang sok kegantengan.
“Perpetual! Sebutkan arti namamu!”
ucapan tegas ketua dewan mahasiswa padaku yang tengah memakai papan nama ‘perpetual’.
“Sistem dimana setiap persediaan
yang masuk dan keluar dicatat di pembukuan.” Jawabku tegas.
“Apa arti pembukuan?”
“Pencatatan transaksi keuangan.”
“Apa itu keuangan?”
“Ekonomi.”
“What is economics?
Anjer…. Gila ni ketua Dewan
Mahasiswa, aku di Tanya nggak ada henti-hentinya.
“Is an area of the production,
distribution, or trade and consumption of goods and services by different
agents.”
“What is different agents?”
“Distributor of goods that are
different from the needs of one agent to another agent.”
“Kamu lulus.” Ucapnya padaku.
Ahh… aku sempat berfikir sejenak,
sebenarnya apa maksud ketua dewan mahasiswa itu.
“Kalian semua akan ditanyai lima
pertanyaan dari setiap kata terakhir dalam jawaban yang kalian berikan. Bila kalian
tak mampu menjawab, maka kalian akan mengisap abis permen sisa yang ada di
baskom ini.”
Astaga…. Jadi seperti itu, akhirnya
aku konek juga. Syukur-syukur aku mampu menjawab pertanyaan dari ketua dewan
mahasiswa, kalau tidak- habis deh aku. Bisa muntah-muntah kalau harus mengisap
tu permen sisa.
“Aku tahu sekarang sudah dilarang
seperti ini, namun karena kalian yang sudah mengumpulkan ini semua. Maka kalian
harus mempertanggungjawabkannya. Itu sebagai hukuman karena klian mematuhi
perintah yang salah.”
Ucapan laki-laki sejati, namun aku
hanya mengagumi. Tak mau sampai terbawa perasaan suka sampai jadi bucinnya. Nggakk….
Laki-laki setampan dia mana mau denganku.
Iih, mikir apaan aku ini, baru aja
pertama liat, udah mikir kejauhan. Aku menatap Ayu, dan wanita itu terseyum
manis padaku sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Memberi pertanda bahwa aku
nggak perlu khawatir, dia baik-baik saja. Sungguh wanita yang sempurna, cantik
dan berkepribadian baik.
(bersambung)
****************
****************
Hai Sahabat Mangatoon, terima
__ADS_1
kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.