NOT WRONG DESTINY

NOT WRONG DESTINY
NOT WRONG DESTINY_episode 2_Nur Asyifa_Pov (II)


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila


ada kesamaan nama, tokoh maupun karakter, semuanya bukan kesengajaan. Mohon


kebijaksanaannya dalam membaca yah…


Cerita ini mengandung unsur dewasa,


tidak diperkenankan bagi anak dibawah umur. Mohon kebijaksanaannya dari para


pembaca sekalian.


NOT WRONG DESTINY_episode 2_Nur


Asyifa_Pov (II)


“Wah….. kamu nentang saya!!” seru


Aryan kesal.


Pria itu pun tanpa pikir panjang


menampar pipiku dengan keras.


“Plakk….”


Tangan laki-laki dengan kekuatan


amarah tentu saja penuh kekuatan. Tamparan yang terasa begitu sakit, bukan saja


jiwaku tetapi batinku pun ikut merasakan sakit karena malu.


Semua maba dan HMJ dari berbagai


jurusan menatap lurus padaku, dan aku hanya dapat menahan pipiku bekas tamparan


Aryan dengan air mata yang telah tertumpah ruah membasahi wajah.


“Kamu baru hari pertama ospek aja


udah belagu!! Seru salah seorang HMJ dari jurusan lain padaku.


Dan mulailah drama senioritas


mereka padaku, mengatai dan memperlakukanku dengan kasar. Aku yang hanya


sendiri dan lemah, tak dapat mempertahankan ego lagi. Aku hanya berharap ada


dosen ataupun senior lain yang berhati baik dan dapat menolongku yang sudah tak


sanggup lagi dipojokkan dan di hukum seperti ini.


Aku berlari mengitari halaman


kampus Poknik bukan lagi 10 kali melainkan 20 kali. Dengan nafas yang


ngos-ngosan aku berharap dalam hati agar hari ini cepatlah berlalu.


Bukan sampai disitu saja aku di


permalukan mereka, Aryan memiliki seribu akal bulus untuk membalas


perlawananku. Ia membeli tiga bungkus permen dan menyuruh setiap maba dari


semua jurusan mengisap permen itu sampai beberapa menit di dalam mulut mereka


dan menyuruh mengeluarkan permen yang telah diisap dan di taruh ke dalam sebuah


baskom kecil.


Setelah itu aku di perintahkannya


untuk mengisap permen bekas teman-temanku itu.


“God, is this real? How could I suck


someone’s candy?” bantinku merintih. Aku tak dapat berkata apa-apa melihat


permen teman-temanku yang belepotan di dalam baskom.


“Is this the reward for someone who


maintains his pride? If it is, then the world is cruel.” Gumamku setelah


semenit menatap permen itu.


“Berani sekali kamu mengataiku!!”


seru Aryan kesal.


What? OMG… gumamku bisa di


dengarnya? Apa si Aryan ini punya telinga gajah? Gumam sepelan itu masih bisa di


dengar. Dan lagi siapa juga yang mengatainya. Kalau nggak bisa bahasa Inggris,


nggak usaha langsung menelan mentah-mentah perkataan orang lain yang nggak


dimengerti. Tanya dulu kek, dikasih akal dan otak sama Allah bukan untuk


dipakai malah hanya sebagai pajangan.


“Aku tidak mengatai kakak.” Ucapku padanya


dengan pelan.


“Jadi kamu ngomong pake bahasa


inggris tadi itu apa, kalau bukan untuk mengataiku?! Kamu kira aku nggak bisa bahasa


inggris?! Seru Aryan kesal.


Tuhan….. nyolot sekali laki-laki


ini, dosa apa aku di masa lalu sampai akhirnya dipertemukan dengannya.


“Kakak salah mengerti, aku berani


bersumpah kalau aku nggak ngatain kakak.” Aku masih bersikukuh dengan ucapanku


itu. Emang iya kan, kalau aku nggak ngatain si Aryan itu pake bahasa inggris. Aku


hanya meretuki nasibku yang sial ini aja.


“Kamu itu sudah jelek, HIDUP LAGI. Apa


kamu nggak pernah ngaca? Punya kaca kan di rumah? Kalau aku dilahirkan dengan


rupa sepertimu aku lebih memilih mati dari pada hidup dengan rupa itu.” Hardiknya


langsung padaku dengan sinis.


Terpukul…..


Yah, jiwaku terpukul dengan


kata-kata itu. Aku memang sudah biasa di tatap hina, ataupun di katain jelek


sama orang-orang. Namun, mereka belum pernah mengatai sampai membawa kematian.


Apa aku pernah meminta dilahirkan


seperti ini? Apa semua makhluk hidup di dunia ini diciptakan mengikuti


keinginannya sendiri? Bila iya, aku mohon bawa aku pada pencipta yang seperti


itu. Aku ingin memohon padanya untuk menghapus jejakku sebagai manusia di dunia


kotor ini. Dan ciptakanlah aku sebagai batu, benda yang tak memiliki hati,


hingga tidak perlu merasakan sakit.


“Kenapa masih diam?! Cepat isap


permen itu!! Perintah Aryan padaku dengan kasar. Diikuti dengan tangan kanannya


yang mendorong bahu kiriku dengan kasar juga.


Aku akhirnya beranikan diri menatap


wajah Aryan. Aku ingin melihat dengan sejelas-jelasnya rupa laki-laki yang


tengah menindasku ini.


Ekspresi wajah yang mengintimindasi


dan angkuh. Rupa yang hanya biasa-biasa saja, namun penuh kesombongan.


Akhirnya aku mengerti, apa karena


rupanya yang juga biasa-biasa saja inikah yang membuat dirinya tega


merundungku. Menjadikanku mainannya agar ia merasa lebih baik dariku.


“Eeeh…. malah melototin aku, mau


aku tampar lagi ha?!” seru Aryan padaku tak terima ku tatap wajahnya. Ia mengangkat


tangannya bermaksud ingin kembali menampar pipiku, namun nasib baik akhirnya


menghampiriku.


“Apa disini tempatnya para preman


pasar!! Seru seorang pria dari depan pintu auditorium sembari melangkah maju

__ADS_1


mendekati kami.


Aku melihat Aryan sedikit gugup. Tangannya


dengan cepat di turunkan dan berdiri dengan tegap. Saat itulah hatiku mulai


tenang, setidaknya ada jeda yang berarti di hari yang panjang dan melelahkan


ini. Dan juga semoga aku di beri anugerah untuk tidak mengisap abis permen


bekas itu.


---------------------------


Pria itu telah berada di depan


kami, suara yang tadi riuh seketika tenang. Sosok pria itu membawa wibawa yang


kuat, setiap mata tak mampu memandangnya berlama-lama karena sosok pemimpin


yang terlalu mengintimindasi pada jiwanya.


“Apa-apaan tadi yang barusan saya


lihat?” tanyanya pada Aryan.


Aryan menunduk sopan, sepertinya memberi


hormat, dan aku pun mulai melirik pria itu.


‘W..A…W..’ pake banget, pria itu


benar-benar tampan. Aku hampir meleleh melihat wajahnya. Perasaan sedihku


terhempas hilang. Jantungku berdetak kencang tak karuan. Badan yang tinggi dan


tegap dengan otot lengan yang sesuai di tambah wajah oval, bulu mata panjang,


rambut cepak, alis tebal dan bibir tipis. Satu lirikan saja sudah mampu


membuatku menggambarkan keindahan pria itu.


“Maaf ketua dewan, tadi saya ingin memberi


pelajaran pada maba yang kurang ajar ini.” Jawab Aryan pada pria itu.


“Tapi kenapa mesti dengan kekerasan?”


“Karena dari tadi anak ini terlalu


ngeyel, di perintah tidak pernah menurut. Tidak menghormati senior. Bahkan sampai


mengatai saya yang sebagai ketua HMJ jurusannya.”


Jawaban yang benar-benar asal,


Aryan- lelaki dengan mulut penuh fitnah. Sumpah, kalau mukaku hari ini di


ilustrasikan dalam gambar komik, sudah keluar asap dari mata, dan telingaku deh


karena saking kesalnya.


“Apa benar yang diceritakan ketua


HMJ jurusanmu ini?”


Pertanyaan pria itu membuatku


tersadar dari lamunan kekesalanku.


“Ah, tidak benar kak.” Jawabku,


membantah.


Yaiyalah, ngapain aku mengaku salah


kalau emang aku nggak salah.


“Kamu jangan bohong? Jawab yang


jujur! Aku punya banyak saksi mata yah.” Seru Aryan padaku kesal dengan menahan


amarah.


“Dari tadi aku merasa tidak


memiliki kesalah kak, apa salahku? Karena kakak senior, ketua HMJ jadi kakak


boleh memanggil orang sembarangan. Siapa yang kakak panggil sebagai wanita


dekil dan wanita jelek? Aku tidak menjawab karena itu bukan namaku. Namaku Nur


Asyifa, kalian menertawainya karena tidak sesuai dengan rupaku. Kakak tega


mengatai aku lebih baik mati dari pada memiliki wajah yang jelek ini. Kakak tega


bergumam menggunakan bahasa inggris, kakak pikirkan sendiri sebagai aku tengah


mengatai kakak. Apa yang kakak harapkan? Aku memang terlahir seperti ini. Jika memang


kakak memiliki Tuhan yang dapat menciptakan makhluk hidup sesuai keinginan


makhluk hidup itu sendiri, maka beritahu aku. Aku akan menyembahnya, berlutut


dan berdoa, meminta kelahiran yang sempurnah melebih Tuhan itu sendiri.”


Akhhh….. aku mengoceh terlalu


banyak, diriku yang tidak suka banyak omong, kini malah berbicara panjang kali


lebar tambah tinggi sama dengan mines abissss…….. habisnya aku sudah


benar-benar geram dengan si Aryan itu.


Dan saat aku menarik nafas, disaat


itulah aku akhirnya berhenti bicara.


“Kamu jangan fitnah yah!” seru


Aryan sembari menunjukku dengan telunjuknya dan melotot tajam padaku.


Aku hanya dapat


menggeleng-gelengkan kepalaku- heran. Kok ada yah, manusia sepertinya. Tidak mengakui


perbuatannya sendiri dan mengatakan bahwa aku menfitnahnya.


“Apa kalian ada bukti atau saksi


dari setiap pernyataan kalian berdua?” Tanya ketua dewan mahasiswa itu pada


kami berdua.


“Ada.” Jawab Aryan dengan percaya


diri.


Dan aku termenung, apa maba baru


yang lain akan membantuku? Kami bahkan tak saling kenal, bagaimana kalau mereka


memilih cari aman dan membantu kak Aryan dari pada membelaku yang benar. Akupun


mulai pasrah, semoga masih ada cahaya di dalam kegelapan dunia fana ini.


---------------------------


Ketujuh HMJ akuntansi yang lainnya


ikut bergabung dengan kami, mereka tentu saja mendukung ketua HMJnya. Dan untuk


HMJ dari jurusan lain tidak diperkenankan turut campur, itulah perintah ketua


dewan mahasiswa.


Aryanpun mencari kebenarannya


sendiri dengan bertanya pada maba akuntansi.


“Adik-adik sekalian, jawab yang


jujur yah! Siapa yang salah antara kak Aryan dan mahasiswa baru ini?”


Maba yang lainnya menundukkan


kepala mereka, aku tahu mereka pasti dilema. Antara memilih kebenaran tetapi


akan kesusahan kedepannya atau memilih kebohongan tetapi menekan jiwa


kemanusiaan mereka.


Aku juga mau melihat, bagaiamana


jiwa maba lainnya. Apakah mereka sama dengan para senior HMJ atau memang mereka


masih memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi untuk dapat membela yang lemah.


“Kalain tak perlu takut, saya


berharap kalian dapat menjawabnya dengan jujur.” Ujar ketua dewan mahasiswa.


Salah seorang maba laki-laki


berdiri, “Gadis maba itu yang salah kak.” Ucapnya kemudian yang mendapat

__ADS_1


anggukkan setuju dari maba yang lainnya.


Mataku terbelalak, kedua tanganku


secara reflek bergerak menutupi mulutku- tak percaya. Walau jawabannya itu


sudah bisa ku prediksi. Namun hati masih merasa sakit mendengarnya. Hingga kristal


bening jatuh membasahi pipi.


“Maba itu nggak sepenuhnya salah


kak.” Terdengar suara manja yang tidak asing di telinga.


Yah, itu suara Ayu Lestari, wanita


cantik yang tadi. Tapi bukannya awalnya ia menganggap aku salah, kenapa ia


malah berkata seperti itu untuk membantuku? Mungkin akhirnya ia sadar kali


kalau Aryan memang sudah keterlaluan.


Ayu berdiri dari duduknya, matanya


menatap tanjam ke arahku. “Nur memang salah karena mengacuhkan senior Aryan.” Ucapnya


kemudian. “Namun semua itu karena senior Aryan sendiri yang melakukan hal yang


tak pantas. Apa salahnya menjadi jelek atau dekil? Sebenarnya senior Aryan


mempertanyakan ukirannya atau pengukirnya?” ucapnya lanjut sembari memandang


Aryan.


Jlebbb…. Ucapan Ayu bagai anak


panah yang di lepaskan langsung ke dada Aryan- tepat di jantungnya. Laki-laki


itu terdiam seribu bahasa. Dan yang lainnya pun ikut terdiam.


“Kita bukan Tuhan, jangan sombong


karena terlahir lebih dari orang lain. Rupa nggak di bawa mati. Ingat, ketika


kita menghadap Tuhan, hanya amal baik kita di dunia ini yang bisa menolong kita


di akhirat nanti.”


“………..”


“Sumpah, sedari tadi aku kesal


dengan segala sikap senior Aryan pada Nur. Sikap seorang manusia yang seperti


tidak ada Tuhan dan agama dalam jiwanya. Dan aku nggak akan pernah bisa


menenggelamkan jiwaku dalam pusaran dosa yang akan merundung jiwaku menjadi


sesat bila membatu kak Aryan.”


Setiap unek-uneknya ia keluarkan,


rasanya seperti semua hal itu sudah di pedamnya sedari tadi dan menyesakkan


dada hingga harus dikeluarkan agar hati menjadi lebih tenang. Aku sih, sangat


bersyukur, setidaknya ada jiwa baik yang mau membela diriku yang benar ini.


--------------------


Ketua dewan mahasiswa itu menatap


Aryan- lekat. “apa ini kesungguhanmu mendidik para juniormu?” ucapnya. Ucapan yang


terasa mengintimindasi lawan bicara, hingga mereka yang mendengar merasa kecil


hanya dengan perkataan.


Aryan menundukkan kepalanya- diam.


“Dan kamu junior baru.” Ucapnya padaku,


“bila kamu merasa tidak terima dipanggil jelek dan dekil, seharusnya kamu katakan.


Jangan diam hingga membuat orang kesal dan mengintimindasi dirimu sesukanya.” Ucapnya


lanjut padaku.


Aku hanya menunduk diam, sebernanya


bukan aku nggak mau menjawab, namun awalnya aku hanya ingin cari aman. Aku fikir


kalau aku jelek, berarti aku akan kuliah dengan nyaman tanpa perlu ada pria


yang mengganggu. Ternyata jelek juga menyusahkan. Menjadi pusat perhatian untuk


diejek oleh laki-laki yang sok kegantengan.


“Perpetual! Sebutkan arti namamu!”


ucapan tegas ketua dewan mahasiswa padaku yang tengah memakai papan nama ‘perpetual’.


“Sistem dimana setiap persediaan


yang masuk dan keluar dicatat di pembukuan.” Jawabku tegas.


“Apa arti pembukuan?”


“Pencatatan transaksi keuangan.”


“Apa itu keuangan?”


“Ekonomi.”


“What is economics?


Anjer…. Gila ni ketua Dewan


Mahasiswa, aku di Tanya nggak ada henti-hentinya.


“Is an area of the production,


distribution, or trade and consumption of goods and services by different


agents.”


“What is different agents?”


“Distributor of goods that are


different from the needs of one agent to another agent.”


“Kamu lulus.” Ucapnya padaku.


Ahh… aku sempat berfikir sejenak,


sebenarnya apa maksud ketua dewan mahasiswa itu.


“Kalian semua akan ditanyai lima


pertanyaan dari setiap kata terakhir dalam jawaban yang kalian berikan. Bila kalian


tak mampu menjawab, maka kalian akan mengisap abis permen sisa yang ada di


baskom ini.”


Astaga…. Jadi seperti itu, akhirnya


aku konek juga. Syukur-syukur aku mampu menjawab pertanyaan dari ketua dewan


mahasiswa, kalau tidak- habis deh aku. Bisa muntah-muntah kalau harus mengisap


tu permen sisa.


“Aku tahu sekarang sudah dilarang


seperti ini, namun karena kalian yang sudah mengumpulkan ini semua. Maka kalian


harus mempertanggungjawabkannya. Itu sebagai hukuman karena klian mematuhi


perintah yang salah.”


Ucapan laki-laki sejati, namun aku


hanya mengagumi. Tak mau sampai terbawa perasaan suka sampai jadi bucinnya. Nggakk….


Laki-laki setampan dia mana mau denganku.


Iih, mikir apaan aku ini, baru aja


pertama liat, udah mikir kejauhan. Aku menatap Ayu, dan wanita itu terseyum


manis padaku sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Memberi pertanda bahwa aku


nggak perlu khawatir, dia baik-baik saja. Sungguh wanita yang sempurna, cantik


dan berkepribadian baik.


(bersambung)


****************


****************


Hai Sahabat Mangatoon, terima

__ADS_1


kasih sudah membaca Novelku ini Salam Hangat Jamaludin M.


__ADS_2