OH, MY GHOST

OH, MY GHOST
Prolog (Market)


__ADS_3

Prolog (Market)


.


.


.


Suatu hari aku menemani kakak ku ke pasar. nama kakak ku Eva, dan ngomong- ngomong nama ku sendiri adalah Faresta Aquilera, biasa dipanggil Ares


suasana pagi yang sejuk, bahkan ada butiran embun yang turun dari langit membuat tubuh ku sedikit bergetar kedinginan.


"Ares, kamu tunggu disini ya. kakak mau beli wortel dan kentang." ucap kak Eva kepada ku.


"oke kak, tapi jangan lama lama ya." aku menjawab.


Dan kakak ku hanya mengangguk, aku menunggu tak jauh dari kak Eva berada. aku yang cukup mudah bosan malah pergi menjauh dari kak Eva. pada waktu itu umur ku masih berusia 9 tahun, aku punya banyak teman disekolah.


aku yang merasa terlalu jauh dari kak Eva langsung kembali menemuinya yang masih menawar harga.


"kak!, Ares tunggu diparkiran aja Yaa!" ucap ku lalu berlari kecil kearah parkiran dimana motor yang kami gunakan untuk ke pasar berada.


Aku menaiki motor tersebut, lalu duduk dan menunggu kak Eva, kak Eva sesekali melirik kearah ku dan menatap tajam seolah berkata 'jangan kemana mana!" begitulah arti dari tatapan kak Eva.


aku melanjutkan menunggu diparkiran sembari berkhayal aku ingin terbang dan punya kekuatan sihir. aku berkhayal aku dapat menguasai berbagai elemen,seperti air, udara, tanah, atau yang lainnya.


tapi khayalan ku terganggu ketika ada suara tangisan anak kecil, dan ketika aku menoleh kearah kanan ku. ternyata ada anak kecil, aku tebak umurnya baru 6 atau 7 tahunan.


dia menangis, aku yang melihat pun langsung turun dari atas motor dan menemui anak kecil itu.


"Hay adik, kamu kenapa menangis?" tanya ku sambil memegang bahunya.


"Mama, aku mau sama mama." ucap nya.


"Ih adik jangan sedih, kakak tolong adik ya buat cariin mamanya." tawar ku dan adik kecil ini hanya mengangguk sambil mengusap lelehan air matanya.


Aku menuntun adik itu dan menanyakan kepada orang orang, apakah mereka kehilangan anaknya.


tapi mereka malah menatap ku aneh dengan kerutan di dahi mereka.


Aku kesal!


Dasar orang dewasa yang enggak punya perasaan!


Aku sumpahin kalo kesusahan enggak ada yang mau nolongin mereka!


Aku melanjutkan kembali membantu adik yang berada di samping ku ini.


Aku berjalan sendiri sambil menggandeng tangan sang adik, entah udaranya yang mendingin. tapi telapak tangan ku yang ku gunakan untuk menggenggam tangan si adik kecil ini terasa dingin sekali.

__ADS_1


Aku terus berjalan dan bertanya pada setiap orang yang ku temui, tapi hasilnya nihil. Aku juga sudah terlalu jauh dari kak Eva.


"Adik kecil, ikut kakak aja ya dulu. Nanti kakak bantuin lagi cari mama kamu." ucap ku menenangkan adik kecil yang belum ku ketahui namanya itu.


"Nama kamu siapa?" tanya ku kepadanya.


"Deden kak." dia berucap sambil menghapus sisa air mata pada wajahnya, suaranya begitu lirih.


"Oke, Deden ikut kakak ya?" Dan selanjutnya aku bersama Deden pergi ketempat kak Eva berada.


Aku tidak melihat kak Eva lagi, tapi setelah aku keparkiran, aku melihatnya sedang panik sambil meneriaki nama ku.


"Ares!!" teriak kak Eva melengking.


"Kakak!" aku berteriak sambil melambaikan tangan ku kepadanya.


kak Eva mendengar teriakan ku dan langsung mencari dari mana suara ku berasal. kak Eva pun mendatangi ku, wajahnya terlihat panik dan sepintas juga terlihat kesal.


"KAKAK KAN SUDAH BILANG JANGAN KEMANA- MANA! NANTI KAMU HILANG!" bentak kak Eva kepada ku.


aku kaget karena kak Eva berteriak kepada ku, bahkan berapa orang yang mendengar suara kak Eva mulai memperhatikan kami.


aku menunduk untuk menahan cairan bening hangat hangat yang akan jatuh dari mata ku. Tapi itu tak bisa, air itu mengalir deras bersamaan dengan isakan kecil ku.


"Hiks..m..ma..maaf..." ucap ku sambil menangis.


kak Eva yang melihat itu pun berhenti menatap ku dengan wajah marahnya. kini wajahnya menjadi lembut kembali, segera dia berjalan berjalan kearah ku dan memeluk ku sambil mengusap punggung ku.


"aku cuma bantu adik kecil buat cariin mamanya kak." ucap ku jujur.


kerutan di dahinya terlihat, seolah- olah bingung dengan apa yang aku katakan.


"siapa yang kamu bantu?" tanya Kaka Eva kepada ku.


"Namanya Deden Kak, dia kehilangan mamanya." ucap ku.


"Sekarang dia dimana?" tanya kak Eva.


Aku yang mendengar pertanyaan dari kak Eva langsung menoleh kebelakang. aku terkaget ketika Deden tidak ada dibelakang ku.


apakah dia sudah menemukan ibu nya?


atau dia mencari ibu nya sendiri?


aku berpikir keras, namun aku berusaha positif thinking.


Mungkin saja dia sudah menemukan ibu nya.


"Mana Deden nya?" kata kak Eva.

__ADS_1


"Hilang kak, mungkin dia udah bertemu dengan mamanya. kak ayo pulang! Ares capek kak." ucap ku bergelayut ditangan kak Eva.


"iya iya, ini kita pulang." ucap kak Eva lalu kami menuju kearah dimana motor kami diparkir. kak Eva menaikinya dan dibantu oleh penjaga parkir, setelah itu kak Eva membayar nya.


Aku menaiki motor itu, kak Eva mengendarai motornya dengan pelan karena keadaan pasar yang masih ramai.


Setelah keluar dari pasar, kak Eva langsung menaikan kecepatan menjadi normal.


Aku memeluk pinggang dan perut kak Eva karena takut terjatuh, ku peluk erat erat. Baru saja beberapa meter keluar dari pasar, Keadaan kembali ramai dan tampak macet.


Setelah beberapa menit jalanan kembali normal dan ternyata yang menyebabkan macet itu adalah kecelakaan yang menimpa satu keluarga, mereka mengenakan mobil, dan tampak mobil itu ringsek di bagian depan, akunmenyadari jika kecelakaan itu hasil dari mobil yang bertabrakan dengan sebuah truk, pasalnya tak jauh dari mobil ada sebuah truk yang tampak ringsek. Tapi tidak terlalu parah.


Aku menutup mata karena takut, tapi terbuka kembali ketika ada anak kecil yang mirip dengan Deden diangkat dari dalam mobil, aku tau karena teringat pakaian. Aku tertegun melihat tubuh Deden diangkat. Detik kemudian ada Deden lain yang berada disamping mobil sambil tersenyum kepada ku dan dia berkata sesuatu yang tak dapat ku dengar, tapi aku bisa membaca dari pola mulut yang di hasilkan.


"Makasih.." ucap nya ketika ku melihat gerakan dari mulutnya.


Dan secepat kilat tubuh Deden yang lain itu berubah, ada lumuran darah di bagian kepalanya, tangan kirinya tampak seperti patah.


"Makasih karena sudah menemani ku..." dan itulah yang terakhir kali yang ku baca dari gerakan mulut Deden.


Dan sedetik kemudian.


Tubuh ku terpaku dalam posisi duduk.


Karena melihat banyak mahluk yang bukan tampak seperti manusia, ada yang berbentuk setengah hewan, ada yang bergigi panjang, ada yang bertanduk dan berekor, hingga ada yang bertubuh tinggi besar, terlalu tinggi sehingga terlihat akan menggapai Kangin.


Dan kini aku sadar.


Aku di anugrahi mata yang mempunyai kelebihan.


Dan ini adalah awal dari perjalanan ku berdampingan dengan mahluk yang disebut....Hantu.


.


.


.


.


T


B


C


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2