OH, MY GHOST

OH, MY GHOST
Who's That.


__ADS_3

Who's that?


.


.


.


.


Aku melihat ada bayangan mahkluk bertanduk yang menatap kearah langit, aku terlalu memperhatikannya hingga dia sadar dan menatap ku kembali. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena lumayan gelap, yang ku lihat selanjutnya adalah, sayap lebar membentang dan mahkluk itu terbang kelangit.


.


.


.


Sungguh, aku tak berbohong, malam ini begitu ramai, sangat sangat ramai, namun bukan ramai karena pesta atau upacara.


Malam ini ramai karena teriakan dan jeritan para roh penduduk desa Diburry yang saling membunuh dan berhubungan intim. Menurut ku ini sangat gila, aku bahkan sempat memuntahkan isi perut ku ketika roh penduduk itu saling menusukan pisau mereka satu sama lain sehingga tubuh mereka mengeluarkan darah dengan organ dalam yang keluar, dan sedetik kemudian, mereka kembali lagi menjadi roh yang utuh dan kembali berkelahi. Begitu seterusnya.


"Hueeekk..." Aku memuntahkan isi perut ku.


"Masih ingin melanjutkan?" Tanya kakek pada ku.


Aku hanya melambaikan tangan ku tanda tak sanggup. Aku tak dapat berkata apa apa karena mulut ku sibuk mengeluarkan isi perut ku.


Anehnya, roh roh penduduk desa itu mendekat kearah ku, sontak aku langsung berdiri dibelakang kakek Dimas. Ku kira mereka ingin membunuh ku atau menyerang ku. Ternyata mereka memakan isi perut ku yang ku keluarkan.


Melihat itu kakek Dimas langsung membawa ku pulang kerumah.


Sampai dirumah, aku tidak kuat lagi. Tubuh ku lemas.


"Ares.." panggil kakek Dimas.


"Kenapa kek?" Jawab ku.


"Istirahat lah dikamar, kakek tau kamu kelelahan." Ucap kakek Dimas yang dengan senang hati aku turuti.


Aku kembali kekamar, sebentar..


Aku merasa aneh..


Tunggu...


Apa ini?..


Astaga!


Aku lupa membasuh wajah ku, wajah ku terasa sangat kotor sekarang, seharian tidak mencucinya dengan sabun muka. Segera aku pergi ketoilet, toilet berada dibelakang rumah.


Aku membuka pintu kamar dan melangkahkan kaki ku ketoilet, namun sebelum itu aku melihat kembali sosok yang membuat ku berteriak sore tadi.


"Hay?" Ucap ku menyapa.


Mengapa aku menyapanya? Begini, ketika aku didapur, dia sudah melihat ku. Tentu karena aku orang baik, aku harus menyapa dirinya.


Dia hanya menatap ku datar. Wait.. aku ingat namanya siapa.


"Iyan?" Panggil ku.


"Cepatlah pergi.." ujarnya.


"Maksudnya?" Sungguh aku tak mengerti apa yang dia katakan.


"Wajah manusia mu sangat mengerikan." Ledeknya.

__ADS_1


"Hiri bilang boss, wajah bak model profesional gini dikatain jelek." Ucap ku bercanda melupakan tujuan ku untuk mencuci muka.


Aku mendekati Iyan yang duduk dimeja makan. Aku juga duduk disampingnya.


"Sore tadi kau menakuti ku.." ucap ku.


"Kau saja yang penakut, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya." Dia membalas dan menoleh kearah ku.


Kemudian dia berkata..


"Kau bisa melihat ku dengan jelas?"


"Tentu, aku dapat melihat mu dengan sangat jelas. Lihat, bahkan aku bisa melihat tahi lalat mu diujung mata." Kata ku sambil menunjuk kearah tahi lalat Dimata sebelah kirinya.


"Omong omong, apa sudah lama kau tinggal disini?" Tanya ku padanya.


"Lumayan lama..sekitar 10 tahun yang lalu."


"Sebenarnya kenapa kamu bisa meregang nyawa?" Tanya ku yang membuat nya menatap tajam kepada ku.


"Aku hanya ingin tahu saja." Ucap ku tersenyum sambil menelan ludah ku karena gugup.


"Bunuh diri." Jawabnya santai.


"Kenapa bisa?" Lagi aku bertanya karena penasaran.


"Kau bisa lihat wajah ku?" Tanya nya dan dengan jelas aku mengangguk.


"Aku selalu dibully karena sebagai pria aku terlihat cantik dan anggun. Setiap hari aku diejek, aku masih dapat bertahan dengan ejekan namun ketika mereka mengerjai ku aku ketakutan." Jelasnya dan ku lihat bahunya bergetar. Memang untuk ukuran pria dia bisa dikatakan sangat cantik, perkataan yang dia ucapkan sangat halus.


"Kau ketakutan?"


"Setiap hari mereka melempari ku dengan kertas dan batu, teman teman ku selalu mengunci ku di toilet. Selain itu aku mendapat tekanan dari keluarga. Aku harus menjadi dokter karena seluruh keluarga ku adalah dokter. Padahal aku ingin menjadi seorang penyanyi." Dia menjelaskannya dengan air mata yang menitik keluar.


"Hei, jangan menangis." Ucap ku menenangkan."


"Tenanglah..." Ucap ku lagi dan terlintas suatu pemikiran.


"Hei, lusa aku akan pulang ke kota, mau ikut dengan ku? Aku punya teman yang bisa membuat mu selalu bahagia." Ujar ku.


"Benarkah?"


"Benar, perkenalkan nama ku Faresta aquilera. Disana aku juga punya teman, namanya Cristy dan dia sama dengan mu, hantu. Tapi dia sangat baik." Ucap ku lalu memperkenalkan diri ku dan cristy.


"Aku mau! Aku mau!" Ucapnya sedikit keras.


"Baiklah, lagian tidak ada gunanya kamu disini, disini hanya ada kenangan buruk dan kamu hanya sendirian, kau boleh bersama ku setiap hari." Ucap ku dan membuatnya tersenyum. Sedetik kemudian dia memeluk ku dengan erat sehingga aku sulit bernafas.


"Ayo tidur, aku sudah mengantuk.." ucap ku dan dia mengangguk, aku melangkah kekamar dan tidur di kasur namun...tak lama..aku berteriak.


"Gue lupa cuci muka!!"


.


.


.


.


Sudah dua hari aku tinggal di desa Diburry, suasana dipagi yang sejuk membuat ku betah disini. Namun sangat disayangkan jika pada malam hari nya penuh teriakan dari arwah warga.


"Kak Eva, hari ini kita pulang?" Tanya ku kepada kak Eva.


"Iya, tapi nanti sore aja."


"Oke kak."

__ADS_1


Aku membereskan pakaian ku, memasukan kedalam tas, aku melihat Iyan sangat senang.


Mungkin tindakan ku kali ini membuat aku semakin dikelilingi oleh para hantu. Tapi aku senang. Senang jika hantu ini tidak menjengkelkan seperti hantu hantu dirumah ku itu.


Waktu berlalu hingga waktunya aku dan kak Eva, plus Iyan akan pulang kerumah kami. Jika kalian penasaran siapa nama Iyan, nama nya adalah Bryan Caramoy, dia adalah anak ke empat, ayah ibu beserta kakak kakaknya adalah dokter. Termasuk orang yang berdompet tebal.


"Sampai jumpa~.." kakek Dimas berucap sambil melambaikan tangan.


Aku dan kak Eva juga demikian. Melambaikan tangan. Brian? Dia duduk di kursi belakang.


Saat meninggal, umur Bryan sudah menginjak 16 tahun.


Kak Eva menyetir mobil dengan kecepatan sedang, jalanan lumayan sepi. Tapi ingat, sepi bukan berarti harus mengebut.


Brian berusaha untuk berkomunikasi dengan ku, namun aku tak menjawab. Karena, jika aku menjawab kak Eva bisa curiga, aku masih merahasiakan tentang mata ku yang dapat melihat mahkluk lain kepada kak Eva, aku akan memberi tahunya ketika aku sudah siap.


sepertinya Brian paham ketika aku menggerakkan tangan ku seakan akan berkata 'aku tidak dapat bicara sekarang."


Brian langsung menampilkan jempolnya dan berkata..


"Oke."


Aku lega dia paham. Aku menatap lurus ke depan dan tak lama aku menutup mata ku karena ada serangan. Aku tidak tau serangan itu berasal dari mana. Serangan itu membuat mata ku perlahan lahan menutup dan tak sadar kan diri.


Serangan itu dikatakan dengan serangan..


Serangan mengantuk.


.


.


.


.


T


B


C


.


.


Please give me a vote, comment, like..


Wkwkw...


Sekedar informasi aja, aku bakalan update 2-4 kali seminggu aja.


Jangan tanya mengapa? Karena aku tak tau..


Aku pun tak ingin bila..


Kau pergi tingga....eh? Maaf..ini melenceng..wkwkwk..


Pokoknya ini adalah alasan pribadi semata.


See you good bye honey~


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2