OH, MY GHOST

OH, MY GHOST
Go To The Village.


__ADS_3

Go To The Village.


.


.


.


.


Menjelang siang, aku bersama kak Eva ingin mengunjungi rumah kerabat, bisa dikatakan keluarga jauh dari mendiang mama.


Setelah ujian aku meminta izin kepada guru untuk tidak mengikuti kegiatan class meeting. Yang biasanya berisi pertandingan olahraga tersebut.


Aku sudah menyiapkan semua barang yang harus dipersiapkan, anggaplah kami ingin liburan untuk menenangkan pikiran. Lagian sudah lama tidak berjumpa dengan kerabat lain di desa.


Menyiapkan Snack dan minuman. Kak Eva sudah masuk kedalam mobil, dia menunggu ku untuk memastikan rumah terkunci dengan benar, karena aku dan kak Eva akan berangkat pergi selama dua hari.


Selamat bersenang senang wahai hantu hantu menyebalkan.


Setelah mengunci pintu, aku segera bergegas masuk kedalam mobil.


"Udah siap?" Tanya kak Eva.


"Udah kak.." ujar ku sambil membenarkan posisi duduk.


Perjalanan kami pun dimulai. Kak Eva yang mengendarai mobil dengan kecepatan normal, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat. Lama kelamaan kami sudah keluar dari keramaian, sisi jalan hanya dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun.


Sebenarnya pada siang hari pun hantu tetap menampakan dirinya, terlihat jika dibeberapa pohon masih ada beberapa mahkluk yang tidak bisa dijelaskan bentuknya.


Tempat yang kami tuju adalah Desa Diburry. Desa yang terletak cukup jauh dari perkotaan, butuh waktu kurang lebih 5 jam lebih untuk sampai ke desa tersebut.


Aku sudah merasa lelah karena terlalu lama duduk. Bahkan beberapa Snack dan 2 botol air mineral sudah ku habiskan.


Pemandangan ketika diperjalanan lumayan menyenangkan, terkadang kami melihat hamparan sawah yang luas.


3 Jam waktu yang sudah kami habiskan dalam perjalanan ini, kami menepikan mobil dipinggir jalan dekat pepohonan.


Kak Eva berkata sedikit lelah karena terlalu lama menyetir, jadi kami beristirahat dahulu.


Aku membuka pintu mobil dan keluar, terlalu lelah duduk, jadi kupikir lebih baik aku keluar.


Beberapa burung beterbangan, entah burung jenis apa itu, aku tidak mengetahuinya. Yang jelas burung itu memiliki warna putih dengan ekor berwarna hitam.

__ADS_1


Burung itu terbang keatas menuju hutan, aku mengikutinya, tidak masuk terlalu jauh. Namun burung yang terbang itu tiba tiba jatuh, seperti tertusuk sesuatu.


Dia jatuh ketanah dalam keadaan masih hidup. Ketika aku hendak menangkap burung itu. Mahkluk halus dengan mulut besar yang dihiasi ratusan taring langsung menangkap burung tersebut dan memasukannya kedalam mulutnya.


Aku terkejut dan hendak berteriak. Segera aku menutup mulut ku agar tidak menimbulkan suara. Tubuhnya sangat kurus, bentuknya seperti manusia namun sangat sangat kurus, bisa dikatakan dari leher hingga kakinya hanya ada tulang dan kulit. Kecuali kepalanya.


Mulutnya di buka lebar dan burung itu langsung masuk secara utuh kedalam perutnya. Mengerikan bahkan perutnya yang kurus itu langsung sedikit besar dan tercetak seperti gumpalan yang memberontak. Burung itu ditelan dalam keadaan hidup. Jelas dia akan bergerak dan memberontak. Demi menyelamatkan diri ku sendiri, aku segera berlari menuju mobil dan memasukinya.


Kak Eva juga sudah tampak tidak lesu lagi, bergegas kami langsung melanjutkan perjalanan.


Lihatkan? Sebenarnya hantu itu tidak muncul dimalam hari saja, bahkan dia juga muncul disiang hari. Hanya saja kebanyakan dari mereka akan beraktivitas pada malam hari.


Kebanyakan dari mereka lebih menyukai tempat ya gelap, lembab dan sunyi.


Terkadang hantu sudah banyak bermunculan pada senja. Mereka akan bertambah banyak ketika hujan turun. Sehingga membuat tanah lembab. Oleh karena itu jika sudah sore, segeralah pulang kerumah jika tidak memiliki urusan yang penting.


Pada akhirnya kami sampai di desa Diburry. Terlihat dengan gerbang yang bertulisan nama desa tersebut menyambut kedatangan kami.


Kak Eva terus mengendarai mobilnya hingga ia berhenti disebuah rumah kayu. Aku tau persis siapa pemilik rumah ini. Pemiliknya adalah kakek dan nenek ku, mereka sudah lama meninggal sehingga sekarang rumah itu hanya ditempati oleh adik kakek dan nenek yang paling kecil.


Dia hanya tinggal sendiri, diumurnya yang sudah hampir menginjak 50 tahun, dirinya belum menemukan pasangan.


"Selamat datang, akhirnya setelah bertahun tahun kalian datang juga. Eh ini Faresta?" Dia adalah adik kakek dan nenek ku. Kami biasanya memanggil dia dengan panggilan kakek juga.Namanya Adimas.


"Udah gede ya? Kuliah dimana sekarang?" Tanya kakek Dimas.


"Kuliah gimana? Dia masih kecil, badannya aja yang tinggi. Dia baru aja masuk SMA." Ujar kak Eva menjelaskan. Aku bukannya tidak mau menjawab, hanya saja kak Eva meminta ku mengambil beberapa barang di dalam mobil.


"Ayo masuk, kalian langsung aja kekamar. Kakek tau kalian kecapean." Kami dipersilahkan masuk, kak Eva langsung kekamar Nye setelah berbincang kecil dengan kakek Dimas. Aku pun juga izin untuk istirahat, lagian kakek Dimas mau pergi ke kebun jeruk miliknya.


Suasana desa sangat menyenangkan.


Sangat sejuk.


Dan jangan cocok untuk pikiran yang stress.


Dikamar milik ku terdapat sebuah jendela yang langsung berhadapan dengan pepohonan rimbun.


Kakek dimas bilang, semua perabotan disini sudah ada sejak kakek dan nenek ku baru menikah, sudah sangat lama sekali. Kenapa tidak lapuk? Padahal Terbuat dari kayu. Karena kayu yang digunakan adalah kayu jati.


Memang benar, bahkan aroma tua memasuki hidung ku. Sapuan angin menerpa tubuh ku. Angin masuk melalui jendela dan celah celah ventilasi.


Aku keluar dari kamar. Rumah ini sangat luas, aku ingin menuju dapur karena merasakan tenggorokan ku kering.

__ADS_1


Aku kira hanya ada kakek Dimas yang tinggal di rumah ini.


Ternyata ada orang lain.


"Hallo." Sapa ku.


"Hai.." ucapnya tanpa menoleh kearah ku.


"Aku Faresta..kamu?" Aku memperkenalkan diri.


Terlihat dari belakang dia adalah seorang pria dengan rambut yang lumayan panjang. Untuk ukuran pria, dia lumayan tinggi. Baju yang digunakan adalah baru kaos dengan celana pendek selutut. Dia terlihat sedang mengaduk cangkir, mungkin dia sedang membuat teh hangat.


"Iyan.." jawabnya dingin.


"Apa kau sedang membuat teh?" Tanya ku mendekati dan sekarang aku berada tepat dibelakang nya sekarang.


"Bukan.." hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Ketika aku hendak membalas, tiba tiba kepalanya berputar 180 derajat.


"Aku hanya mengaduk darah tikus agar semakin kental." Ujarnya lalu meminum gelas yang dia aduk, setelah selesai terlihat noda merah dan ekor tikus disudut bibirnya.


Dan itu membuat ku berlari ketakutan. Buka. Takut, tapi kaget. Ternyata pria itu adalah hantu! Bodohnya aku, aku baru sadar ketika kepalanya berputar seperti burung hantu. Sangat menyeramkan! Aku berlari kearah luar rumah hingga ditetaskan rumah.


"Eh Faresta? Ada apa?" Seseorang memanggil nama ku sambil menepuk bahu ku.


"AAAAAAAHHHHKKKKK!!!!!" teriak ku kencang dan nyaring.


.


.


.


.


T


B


C


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2