
π»
π»
π»
π»
π»
Setelah tiga hari di rawat, Bunga pun di perbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Ma, Mawar mau ke rumah Ilham dulu ya."
"Mau ngapain? Mama takut kamu kenapa-napa lagi."
"Tidak akan Ma, Mawar yakin."
"Memangnya kamu mau ngapain ke rumah Ilham?"
"Mawar mau belajar, Ma. Sebentar lagi ujian paket c biar Mawar cepat-cepat masuk kuliah."
"Ya sudah, tapi kamu hati-hati ya."
"Iya Ma, kalau begitu Mawar pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Bunga pun masuk ke dalam taksi yang sudah dia pesan sebelumnya. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke rumah Ilham.
Di saat Bunga turun dari taksi, Bunga berpapasan dengan Akbar yang baru saja keluar dari rumahnya.
Seketika tubuh Bunga menegang, tangannya bergetar, kakinya lemas, dan bibirnya seakan kaku. Bunga yakin kalau orang yang sudah memukul kepala Bunga itu adalah Akbar.
"Apakabar Bunga!"
Bunga membelalakkan matanya..
"Kenapa dia tahu kalau aku Bunga?" batin Bunga.
Akbar melangkah mendekat ke arah Bunga, tepat di hadapan Bunga, Akbar menghentikan langkahnya. Akbar mencondongkan tubuhnya ke arah Bunga.
"Kita akan bertemu lagi, Bunga," bisik Akbar.
Lagi-lagi tubuh Bunga bergetar hebat, keringat mulai muncul di wajahnya. Ilham dengan santainya menaiki motornya dan segera melajukan motornya meninggalkan Bunga yang terdiam membeku.
"Bunga..."
"Ilham.."
"Kamu kenapa? kok wajah kamu pucat, kamu sakit?" tanya Ilham khawatir.
"Aku ga apa-apa, ya sudah ayo kita belajar."
__ADS_1
Ilham dan Bunga pun masuk ke dalam rumah petak milik Ilham. Bunga tampak melihat semua sudut rumah Ilham dengan senangnya.
"Wah, aku sangat rindu dengan rumah ini. Ternyata masih sama tidak ada yang berubah," seru Bunga.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan wajah Wahid yang baru saja selesai mandi. Bunga dengan perasaan takutnya langsung bersembunyi di balik punggung Ilham.
"Bukannya kamu Mawar ya?" seru Wahid.
"I--iya."
"Kamu kenapa? takut padaku?"
Bunga terdiam tidak menjawab pertanyaan Wahid, Wahid dengan perasaan bingung pun langsung duduk di depan televisi dan menyalakannya.
"Kamu kenapa? sekarang kan kamu bukan hantu, jadi tidak usah takut kepada Wahid dia tidak mengenalimu," bisik Ilham.
Bunga menatap Ilham, dia memang selalu lupa kalau saat ini dia bukan hantu lagi.
"Ayo duduk," ajak Ilham.
Ragu-ragu Bunga duduk, Wahid hanya melihatnya dengan tatapan bingung dan berusaha tidak memperdulikan Bunga.
Akhirnya Bunga dan Ilham pun mulai belajar, Bunga sangat antusias dan serius mendengarkan semua yang di ajarkan oleh Ilham.
Dua jam pun berlalu, Ilham dan Bunga menyudahi kegiatan belajarnya. Di saat Bunga merentangkan kedua tangannya, Bunga tidak sengaja menoleh ke arah dinding yang tertempel foto Ilham dan kedua orangtuanya.
Lagi-lagi Bunga terkejut, bayangan dulu kembalu muncul. Seorang pria yang tiba-tiba memberinya sebuah Gelang.
Bunga saat ini sedang menunggu Mawar yang berada di dalam mini market. Bunga tampak berdiri di depan mini market dengan memainkan kakinya karena merasa bosan menunggu Mawar.
Bunga sangat terkejut, tiba-tiba ada seorang pria menghampirinya. Penampilannya yang acak-acakkan dan terlihat ketakutan itu membuat Bunga juga ketakutan.
"Tolong bawa gelang ini dan cepat-cepat musnahkan, aku mohon," seru pria itu dengan nada yang sangat ketakutan.
Tanpa menunggu jawaban dari Bunga, pria itu langsung pergi berlari. Bunga hanya melihat gelang yang bentuknya sedikit aneh menurut Bunga, setelah itu Bunga memasukkannya ke dalam tas kecil yang dia bawa.
"Ayo Kak, kita pulang," ajak Mawar.
"Sudah selesai?"
"Sudah."
Akhirnya gadis kembar itu pun pergi meninggalkan mini market dan bersamaan dengan datangnya Akbar yang sedang mencari keberadaan pria yang tadi berhasil kabur dan tidak lain adalah Ayahnya Ilham.
Flash back off...
"Kamu kenapa?" tanya Ilham dan langsung membuyarkan lamunan Bunga.
"Ah tidak, apa itu Ayahmu?"
Ilham mengikuti arah pandang Bunga..
__ADS_1
"Iya, itu Ayah dan Ibuku. Kenapa?"
"Tidak, dulu pria itu pernah memberikanku sebuah gelang dan dia bilang aku harus memusnahkan gelang itu."
Wahid yang sedang fokus dengan televisi merasa terkejut dan menoleh ke arah Bunga.
"Apa!!"
Wahid dan Ilham menjawab bersamaan mbuat Bunga tersentak karena merasa terkejut.
"Dimana kamu menyimpan gelang itu?" tanya Wahid.
"Aku lupa, tapi sepertinya aku simpan di kamarku tapi aku lupa menyimpannya dimana," sahut Bunga.
"Kamu harus segera menemukannya dan berikan kepadaku," seru Wahid.
"Iya Bunga, gelang itu berbahaya karena para roh jahat sedang mengincar gelang itu untuk membuat mereka hidup abadi. Tolong kamu cari gelang itu sesegera mungkin, kita harus memusnahkannya," sambung Ilham.
"Kenapa gelang itu bisa ada padamu?" tanya Wahid.
Bunga pun menceritakan semuanya dari awal sampai akhir.
"Bunga, aku mohon kamu harus cari gelang itu dan berikan padaku, aku harus segera memusnahkannya," seru Wahid.
"Baiklah, nanti aku akan mencarinya."
Ketiganya tampak terdiam dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, Bunga pun memutuskan untuk pamit pulang dan ingin segera mencari gelang itu.
π»
π»
π»
π»
π»
Mampir yuk guys di karya terbaruku dan jangan lupa minta dukungannyaππ
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU