
Diburry Village.
.
.
.
"AAAAAAAHHHHKKKKK!!!!!" teriak ku kencang dan nyaring.
"Ada apa?!" Tanya seseorang yang membuat ku berteriak.
"Ah..eh?" Aku baru sadar bahwa yang menepuk bahu ku adalah kakek Dimas.
"Kamu kenapa teriak teriak begitu?" Tanya nya kepada ku sambil memasang wajah yang heran.
"Ah..itu..tadi..tadi ada anu.." jelas ku terbata bata.
"Anu apa?.." tanya nya lagi.
"Ada hantu!!" Ucap ku.
"Pffttt...." Dan anehnya kakek Adimas tertawa mendengar penjelasan ku.
Tunggu, bisa saja kakek Adimas menganggap ku orang yang aneh. Bisa saja dia menganggap ku gila.
"Udah, jangan terlalu begitu. Kita disini berdampingan sama mereka. Jadi usahakan dalam beberapa hari ini kamu harus terbiasa berpapasan dengan mereka. Jika kamu melihat kakek dimalam hari usahakan untuk tidak memanggil ya." Jelas kakek Adimas. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban bahwa aku mengerti.
"Kamu paham?" Tanya kakek Adimas.
"Paham kok.." jawab ku.
"Apa yang kamu pahami?" Ujarnya kepada ku, sebelumnya dia duduk di kursi yang berada di teras rumah.
Aku pun ikut duduk disalah satu kursi yang lain.
"Maksud kakek, aku harus berusaha tetap tenang ketika berpapasan dengan salah satu dari mereka kan? Karena kita hidup berdampingan." Jelas ku kepada kakek.
"Memang benar, tapi bukan berdampingan itu yang kakek maksud." Dan disinilah aku tidak mengerti.
"Kamu tau, selain kita berdampingan dengan mahkluk gaib. Ada satu rahasia dari desa ini." Kakek memberitahu ku.
"Apa itu kakek? Ouh iya kakek bilang saat malam jika bertemu kakek, jangan memanggil. Kenapa?"
"Karena, bisa jadi itu adalah kakek yang lain. Kamu tahu? Desa Diburry itu memiliki rahasia, dimana desanya memiliki dua sisi." Ujar kakek.
"Dua sisi gimana?"
"Disisi yang lain, atau bisa dibilang pada siang hari, maka penduduk desa Diburry adalah orang yang baik, selalu menyapa. Tau alasannya?" Tanya kakek kepada ku.
Aku tidak tau apakah penduduk desa Diburry adalah orang yang baik, karena ini pertama kalinya aku datang setelah bertahun tahun tidak kesini. Aku pernah kesini, tali waktu aku masih balita. Kak Eva memberi tahu ku ketika perjalanan ke desa ini.
"Ga tau, lagian aku kan baru kesini kakek." Ucap ku jujur kepada kakek Adimas.
"Kakek bisa pastikan seratus persen bahwa penduduk desa Diburry adalah orang baik. Jika kamu mau, minta emas pada salah satu penduduk, maka kamu akan diberikan emas." Ujar kakek yang tampak seperti kebohongan.
"Boleh kamu beranggapan kakek berbohong, mereka sangat baik. Namun ketika mereka sudah tidur pada malam hari, maka akan ada diri mereka yang lain, dan mereka yang lain itu akan beraktivitas pada malam hari. Sisi lain yang mereka keluarkan adalah sisi jahat mereka."
__ADS_1
Jujur aku saat ini tidak mengerti apa yang dikatakan kakek.
"Aku tidak mengerti, bisa beri contohnya?"
"Hahaha, pokoknya kalo kamu pengen tau, kamu boleh ikut bergadang dengan kakek." Ujar kakek dan tau bodohnya aku? Aku berniat untuk bergadang.
.
.
.
Sekarang sudah jam sembilan malam, suasana sudah sangat sepi. Hantu hantu bermunculan namun hantu itu tampak seperti manusia biasa.
Kakek saat ini berada di kamarnya, dia bilang ada yang harus diambil.
Jadi dia meninggalkan ku sendirian diteras rumah dengan secangkir kopi, namun tak lama dia kembali dengan membawa.... Keris?
"Keris? Buat apa keris kek?" Tanya ku.
"Keris ini peninggalan kakak ku, yang menjadi kakek mu."
Aku hanya ber 'ohh' ria.
"Emangnya kita mau apa kek sama keris itu?" Tanya ku penasaran.
"Buat jaga jaga aja." Ujar kakek kepada ku.
Kami minum kopi bersama, pemandangan cukup indah ketika malam, apalagi ditambah dengan sinar bulan yang sangat terang.
Aneh, hantu hantu disini lebih seperti manusia. Pakaian mereka, bentuk mereka, semua bagai manusia
"Apa kamu sudah melihat mereka?" Tanya kakek.
Aku mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan kakek. Aku terkejut bahwa kakek Dimas bisa melihat mereka juga.
"Coba kamu tebak mereka berasal dari mana?" Tanya kakek lagi.
"Dari hutan?"
"Apa mereka terlihat seperti dari hutan? Mereka adalah penduduk asli desa Diburry." Ucap kakek.
"Tapi berhati hatilah, mereka bisa saja membunuh mu, karena saat penduduk desa Diburry tidur, roh mereka akan beraktivitas layaknya seperti siang hari. Yang membedakan hanyalah perilaku mereka yang sangat jahat, licik, dan kejam." Ujar kakek.
"Mau ikut kepasar malam penduduk Diburry?" Ajak kakek dan tentu saja aku terima ajakannya.
Kami turun dari rumah, berjalan menjauh dari rumah dan berpapasan dengan mereka.
Tangan kanan kakek selalu memegang keris yang berada di pinggangnya. Tatapan hantu yang kakek bilang adalah roh penduduk Diburry selalu menatap kami dengan pandangan kebencian. Aku menoleh kearah lain ketika mereka berusaha meludah kearah kami.
Namun ketika aku menoleh, aku malah menyaksikan dua roh perduduk desa Diburry saling mengacungkan pisau dan saling membunuh.
Aku segera menggenggam tangan kakek Adimas sambil menutup mata.
"Masih ingin melanjutkan?"
Tanya kakek kepada ku yang kelihatan takut, memang aku takut hingga tubuh bergetar, namun aku masih penasaran sehingga berkata 'ya'
__ADS_1
Kami terus berjalan, sesekali ku buka mata ku. Namun aku malah kaget ketika mereka ingin menusuk dengan pisau yang sudah sangat berkarat.
Refleks kakek langsung menangkisnya dengan keris. Mereka yang melihat keris kakek, langsung berlarian.
"Kok mereka kabur?" Tanya ku.
"Keris ini dibuat dari sebelum kakek mu lahir, keris ini diturunkan oleh generasi mereka, kakek saja adalah generasi ke 9. Sebenarnya keris ini diturunkan kepada ayah mu. Namun karena ayah mu sudah tidak ada, akulah yang mewarisinya, nanti jika kamu besar maka kamu akan mendapatkannya. Dari cerita yang ku dengar tentang keris ini, pembuatannya sangat rumit, kerisnya diisi oleh ratusan mahkluk halus, pembuatannya menghabiskan seratus hari dimana seharinya memakan korban puluhan orang." Jelas kakek.
Ternyata keris miliknya sangat berbahaya, dan apa? Aku pewarisnya? Oh tidak..jangan sampai.
Kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba dipasar, pasarnya sangat ramai, mereka berkomunikasi dengan bahasa yang tidak ku mengerti. Mereka hanya mengeluarkan suara berupa huruf Vocal saja.
Aku menelisik lagi pasar tersebut. Desa Diburry ini berbatasan langsung dengan hutan.
Aku melihat ada bayangan mahkluk bertanduk yang menatap kearah langit, aku terlalu memperhatikannya hingga dia sadar dan menatap ku kembali. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena lumayan gelap, yang ku lihat selanjutnya adalah, sayap lebar membentang dan mahkluk itu terbang kelangit.
.
.
.
T
B
C
.
.
.
Namun sebelum ke bagian selanjutnya..
Aku udah gambarin tokoh Faresta nih..
Karena aku tak dapatkan foto yang pas..
Jadi aku melukisnya sendiri menggunakan aplikasi menggambar digital..
ini adalah tokoh Faresta Aquilera didalan novel The Ghost.
dan berikutnya adalah gambar Cristy.. ketika cantik..dan ketika menjadi monster.
ini adalah foto cristy menjadi ratu yang cantik...
nah kalo ini adalah Cristy dalam mode monster,dikeempat tanduknya terdapat batu berwarna hijau yang selalu dia lindungi...
ku tau gambar ku jelek..jangan hina..hiks...
__ADS_1