Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Singa Lapar


__ADS_3

Meskipun ada puluhan bahkan ratusan pertanyaan di benak Alexa mengenai Evan. Wanita itu enggan terlalu larut dalam pikirannya dan terlalu memikirkan Evan. Karena masih banyak hal-hal yang lebih penting yang harus ia lakukan.


"Kau sudah mendapatkannya, Meera?" tanya Alexa sambil berjalan cepat memasuki gedung hotel.


"Sudah, Nona," jawab Meera. Ia membawa setumpuk kertas beserta pernak-pernik yang membuat tangannya sibuk.


Sementara Evan, berjalan dengan gagah di belakang dua wanita di hadapannya.


"Bagus, apa saja yang kau dapatkan?" tanya Alexa lagi saat mereka bertiga memasuki lift.


"Latar belakang pendidikan, keluarganya, orang tuanya, bahkan mantan pacarnya. Aku juga menelusuri akun sosial medianya dan berusaha menyimpulkan tentang laki-laki itu, Nona," terang Meera. Ia menyerahkan sebuah map ke tangan Alexa.


Karena melihat Meera kerepotan, Evan berinisiatif membantu wanita itu membawa beberapa barang yang bisa ia bawa.


"Kerja bagus, Meera," puji Alexa. "Kau berbakat jadi detektif," seloroh Alexa sambil tersenyum senang.


"Wah, benarkah. Nona? Senang sekali kau memujiku," ucap Meera gembira. Mendapatkan pujian dari Alexa adalah hal yang langka. Karena Alexa adalah tipe orang yang pelit pujian namun bisa memberikan kritik yang sangat pedas dan menyakitkan.


Saat keluar dari lift, Alexa berjalan mendahului, namun karena ia tidak fokus, Alexa menendang sebuah bak berisi air dan membuat wanita itu hampir terjatuh.


Beruntung, Evan dengan sigap menangkap tubuh wanita itu sebelum ia terjungkal ke lantai.


"Ah, sial!" seru Alexa kesal. Ia segera menjauhkan diri dari Evan dan menatap seorang petugas kebersihan dengan tatapan tajam.


"Maaf, Nona. Maaf," ucap petugas kebersihan dengan nada gemetar. Terlihat dengan jelas bahwa ia sedang ketakutan. Ia tahu betul sifat Alexa yang sangat sulit memaafkan.


"Kau! Apa kau tahu kesalahanmu?" tanya Alexa.

__ADS_1


"Maafkan saya, Nona. Ini karena ...."


"Aku tidak membenarkan alasan apapun! Kemasi barangmu dan keluar hari ini juga. Meera akan mengurus gaji dan pesangonmu!" seru Alexa. Ia melangkah cepat menuju ruangannya.


Saat Meera dan Evan hendak menyusul Alexa, petugas kebersihan itu lantas memegang tangan Meera dan memohon pertolongan. Hal itu membuat Evan menghentikan langkahnya.


"Tolong, Nona Meera. Saya masih ingin bekerja," ucapnya.


"Maaf, Bu. Nona Alexa sudah membuat keputusan. Anda pasti tahu jika tidak ada seorangpun yang bisa membujuknya," jelas Meera pada petugas kebersihan wanita yang sudah paruh baya.


"Nona, ini satu-satunya pekerjaan yang membuat saya bisa membayar biaya kuliah anak saya, Nona. Bantu saya, saya mohon ...."


"Tapi, Bu ...."


"Baik, Bu. Kami akan membantu, tapi jangan terlalu berharap, ya," sela Evan. Ia merangkul kedua pundak wanita paruh baya itu sambil berusaha menenangkan suasana.


Evan menggeleng pelan, memberi isyarat pada Meera untuk diam.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih." Petugas kebersihan itu berterima kasih dan membungkukkan badan berkali-kali.


Meera dan Evan pun menyusul Alexa, namun Meera menghentikan Evan saat hendak membuka pintu ruangan Alexa.


"Apa yang akan kau lakukan? Kita tidak bisa membantu petugas kebersihan itu. Nona sudah membuat keputusan!" seru Meera kesal. Evan hanya akan membuat Alexa marah dan menambah beban pekerjaan Meera.


"Kita harus menjelaskannya dan membujuknya," jawab Evan.


"Membujuk Nona Alexa? Aku tidak mau!"

__ADS_1


"Kita akan melakukannya."


"Hei, apa kau tidak tahu? Nona tidak mentolerir kesalahan apapun pada pegawainya. Terlebih, petugas kebersihan itu melakukan kesalahan besar. Pertama, ia tidak menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, artinya ia sudah datang terlambat, atau lambat dalam bekerja. Pukul delapan seharusnya semua pekerjaannya sudah beres. Kedua, dia hampir membuat Nona celaka karena kecerobohannya meletakkan bak berisi air sembarangan!" terang Meera menjelaskan.


"Pasti ada alasan," ujar Evan tidak mau kalah.


"Kau hanya akan membangunkan singa yang lapar dan membuatnya menerkammu dengan ganas!" ucap Meera. Ia segera meninggalkan Evan dan masuk ke dalam ruangan Alexa.


Evan pun menyusul, meletakkan beberapa barang milik Meera yang ia bawa.


"Nona," sapa Evan sambil mendekati Alexa yang tengah duduk di kursi kebesarannya sambil membaca laporan pemberian Meera.


"Hmm." Alexa mengangkat wajahnya dan menatap Evan.


Meera yang sudah mengetahui niat Evan, segera mengalihkan perhatian Alexa.


"Nona, ini tentang bisnis serta saham dan kekayaan yang di miliki oleh anak sulung keluarga Cameron," ujar Meera menyerahkan map lainnya.


"Hmm." Alexa mengangguk. Ia lalu kembali menatap Evan. "Jika tidak ada yang ingin kau katakan, silahkan tunggu di luar," ucap Alexa.


"Aku perlu bicara, Nona. Ini tentang pertugas kebersihan yang kau pecat. Bukankah seharusnya kau mendengarkan alasannya dan memberikan teguran atau hukuman. Jadi kau tidak perlu langsung ...."


PLAK!!!


Alexa memukul mejanya dengan map yang berisi lembaran kertas, membuat Meera terkejut dan memegang dadanya.


Seketika, Meera menarik napas panjang dan memejamkan matanya sesaat. Evan telah mengusik ketenangan singa yang telah dijinakkan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2