
Alexa tidak bisa memahami bagaimana perasaannya saat ini. Alexa ingin mengelak, menepis segala rasa tidak nyaman dalam dadanya.
Namun bagaimanapun, hati tak bisa berpaling dengan mudah. Evan adalah laki-laki pertama yang mampu menggetarkan hatinya. Bahkan di usianya yang sudah berkepala tiga, Alexa sama sekali belum pernah bertingkah aneh hanya karena seorang laki-laki.
Saat sedang melamun, suara ponsel Alexa tiba-tiba berdering. Rupanya Evan memintanya untuk membuka kunci pintu utama agar laki-laki itu bisa masuk dan mengganti perban di kakinya.
"Buka kunci menggunakan tahun lahir dan tanggal kelahiranku," ujar Alexa.
"Baik, aku tahu." Evan menutup telepon bahkan sebelum Alexa memberitahu angkanya.
Alexa bingung, sejauh apa Evan mengetahui semua tentangnya?
Sebelum Evan sampai ke kamarnya, Alexa tiba-tiba gugup. Wanita itu membuka laci lemari kecil yang ada di sampingnya. Ia mengambil sebuah lipstik dan mengoleskannya tipis ke bibirnya. Alexa pun dengan cepat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Masuk!" Alexa sedikit berteriak.
Saat pintu terbuka, Evan datang membawa kotak P3K serta sebuah box pizza di tangan kanannya.
"Apa kau lapar, Nona? Aku membeli pizza," ucap Evan. Ia meletakkan pizza di atas meja lalu duduk di dekat kaki Alexa.
"Bagaimana rasanya, apa kau merasa tidak nyaman? Sakit?" tanya Evan.
"Hmm, sakit." Alexa mengangguk. Entah mengapa tiba-tiba ia ingin Evan lebih memperhatikannya.
"Baik, aku akan mengganti perbannya."
__ADS_1
Dengan pelan-pelan dan hati-hati, Evan mulai membuka perban. Ia membersihkan sisa darah yang mengering di sekitar luka Alexa. Saat hendak menutup luka dengan perban, Evan juga meneteskan obat merah untuk mempercepat proses penyembuhannya.
Alexa hanya diam, perih di kakinya seakan tak terasa karena sentuhan tangan Evan. Alexa lebih tertarik untuk memperhatikan laki-laki itu dengan seksama daripada harus mempedulikan kakinya.
"Sudah selesai, semoga segera membaik," ucap Evan. Ia menatap Alexa sambil tersenyum.
"Sudah?"
"Hmm." Evan mengangguk. "Ini pizza rasa tuna dengan taburan keju yang lezat. Kau pasti menyukainya, Nona," lanjut Evan.
"Ya, aku menyukainya," ujar Alexa tanpa menatap pizza di tangan Evan. Matanya fokus meneliti laki-laki di depannya.
"Kau mau makan di sini atau di mana? Aku akan menggendongmu."
"Apa kau akan makan bersamaku?" tanya Alexa.
"Mau makan bersamaku?" tawar Alexa.
"Kau mau aku menemanimu?"
"Ya." Alexa mengangguk.
"Baiklah. Mari makan bersama." Evan pun setuju. Ia menarik kursi dan duduk di dekat tempat tidur Alexa. Mereka berdua akhirnya menikmati satu box pizza bersama.
Karena Alexa merasa lebih nyaman di kamarnya dan enggan merepotkan Evan, ia memilih untuk tidak berpindah tempat.
Selama menikmati pizza yang Evan beli untuknya, Alexa tidak henti-hentinya memperhatikan Evan. Merasa tingkah Alexa sedikit berbeda dari biasanya, Evan menjadi tidak nyaman.
__ADS_1
"Nona, apakah ada yang salah denganku?" tanya Evan.
"Kenapa?"
"Kau terus memperhatikanku. Aku merasa aneh," ujar Evan.
"Kau tidak suka jika aku memperhatikanmu?" Alexa bertanya.
"Tidak, bukan begitu. Itu lebih baik daripada kau terus marah padaku," jawab Evan. "Kau mau coklat hangat?" tawarnya.
"Hmm." Alexa mengangguk.
Evan tersenyum, ia bangkit dan berlalu ke dapur untuk membuat secangkir coklat hangat untuk Alexa.
Selepas kepergian Evan, Alexa meraba dadanya. Jantungnya seakan memompa darah dengan cepat hingga ia merasakan seluruh tubuhnya berdesir. Suara detak jantung itu terdengar keras hingga Alexa khawatir.
"Apakah dia bisa mendengarnya? Ah, aku benar-benar kacau."
Berselang beberapa menit, Evan kembali ke kamar Alexa dengan secangkir coklat hangat di atas nampan. Ia meletakkannya di atas meja, lalu membantu Alexa membereskan box pizza di atas selimut wanita itu.
"Evan," ucap Alexa.
"Ya?"
"Apa kau punya kekasih?" tanya Alexa to the poin.
...****************...
__ADS_1