Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Perasaan Asing


__ADS_3

Alexa diam, menyentuh dadanya sambil menatap Meera. Ia sedang menunggu sekretarisnya memberi jawaban.


"Bagaimana Meera, apa kau pernah jatuh cinta?" ulang Alexa bertanya.


"Tentu saja, Nona. Aku ini wanita normal," jawab Meera.


"Lalu, apakah menurutmu orang yang tidak pernah jatuh cinta itu berarti dia tidak normal?" tanya Alexa dengan kedua mata menatap tajam.


"Nona, aku tidak mengatakan seperti itu." Meera meringis. Ia mendekati Alexa dan duduk di tepi kasur wanita itu. Jika ia salah memilih kata, bisa-bisa Alexa akan menerkamnya hidup-hidup.


"Aku sedang tidak bercanda, Meera!" seru Alexa kesal.


"Tapi pertanyaanmu lucu, Nona," ujar Meera sambil menutup mulut menahan tawa.


"Kau!" Alexa memukul Meera dengan guling.


"Maaf, Nona. Maaf, aku kan hanya merasa aneh. Apa kau sungguh-sungguh tidak pernah jatuh cinta?" tanya Meera. Ia menatap Alexa tak berkedip.


Alexa terdiam beberapa saat, ia nampak berpikir.


"Entahlah!" Alexa mengangkat bahu. "Aku mencintai diriku sendiri, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya."


"Kau yakin tidak pernah jatuh cinta? Apa kau tidak pernah tertarik dengan teman lelaki atau lelaki asing yang tiba-tiba membuatmu kagum?"


"Apakah orang asing juga bisa membuatmu jatuh cinta?" Alexa balik bertanya.


"Tentu saja, itu namanya jatuh cinta pada pandangan pertama!" terang Meera.


"Apa kau pernah merasakannya?"


"Hmm, tentu saja." Meera mengangguk. "Aku jatuh cinta pada banyak laki-laki."


"What? Banyak laki-laki? Bagaimana bisa kau melakukan itu!" sentak Alexa.

__ADS_1


"Yaaaa, bagaimana lagi, Nona. Mereka semua tampan!" ucap Meera genit.


"Lalu, di antara semua laki-laki itu, mana yang paling kau sukai?" Alexa bertanya penasaran. Jangan-jangan, Meera jatuh cinta pada Evan. Alexa tidak akan membiarkan itu terjadi!


"Park Chanyeol," jawab Meera sambil tersenyum malu-malu.


"Park? Park apa?"


"Park Chanyeol, Nona. Lelaki tampan idaman semua wanita. Ah, aku meleleh dibuatnya," jelas Meera. Ia membuka ponsel dan memberitahu Alexa sebuah foto laki-laki berambut merah muda yang menjadi wallpaper ponselnya.


"Dasar, gila!" gerutu Alexa.


"Aku menyukainya karena aku waras, Nona. Hahaha!" Meera tertawa keras.


Alexa melengos. Ia menghembuskan napas kasar. Bertanya pada Meera tidak ada gunanya, Alexa merasa semakin kesulitan mengartikan perasaannya.


"Nona," panggil Meera.


"Hmm."


"Tidak." Alexa menggeleng. "Maksudku, aku tidak tahu!" lanjutnya.


Meera tersenyum, ia meledek Alexa.


"Apakah jantungmu berdebar dengan cepat saat kau melihat seseorang? Apa kau merasa gugup? Apakah tanganmu berkeringat saat bersamanya meski di ruangan yang dingin?"


"Ya! Ya! Benar! Benar begitu!" jawab Alexa penuh semangat.


"Apakah kau merasa senang saat dia ada di sampingmu?"


"Tidak! Kadang, ya! Tapi lebih sering tidak."


"Apakah kau merasa sedih, bingung, gelisah, khawatir, saat dia jauh darimu?"

__ADS_1


"Dia tidak pernah jauh dariku, dia menempel terus padaku," jawab Alexa. Ia tidak paham, jika Meera sedang memancingnya.


"Apakah laki-laki yang membuatmu bertingkah aneh seperti ini adalah Evan, Nona?" tanya Meera dengan senyum aneh.


"Tidak!" bantah Alexa keras.


"Yes! Kau jatuh cinta pada Evan!" Meera bertepuk tangan senang.


"Tidak!"


"Mengakulah!"


"Tidak, Meera!"


"Ah, Nona. Jika kau tidak mau dengannya, aku pun mau!" goda Meera.


"Hei! Jangan macam-macam!" seru Alexa dengan kedua bola mata melotot lebar.


"Nona, sepertinya ini karma. Kau selalu membenci Evan, mengumpat dan membuat laki-laki itu tidak nyaman. Sekarang, senjata makan tuan!"


"Apa sekarang kau berani menceramahiku? Hah! Apa kau punya nyawa cadangan?" sentak Alexa.


"Tidak, Nona. Tidak! Maafkan aku!" Meera menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil memohon maaf.


"Cepat pergi! Jika kau berani mengatakan sesuatu pada Evan, aku akan memecatmu!" Alexa mengancam.


Meera menelan ludah. Ini sungguh ancaman mematikan baginya. Bekerja untuk Alexa bagaikan menambang batu berlian. Meera bisa menikmati segala fasilitas dengan penghasilan pasti yang fantastis. Mana mungkin ia berpaling dari perintah bos-nya.


"Siap, Bos!" Meera berdiri, ia tersenyum menampakkan barisan giginya yang rapi. "Aku akan pulang! Jaga dirimu baik-baik, Nona."


"Hmm."


Alexa mencebik. Ia memikirkan perkataan Meera setelah wanita itu pergi. Benarkah dirinya telah jatuh cinta? ini sungguh perasaan yang asing. Alexa tidak pernah merasakannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2