Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Berjuta Rasanya


__ADS_3

Keesokan harinya, Alexa nampak lebih ceria dari hari-hari biasanya. Wanita itu mulai merombak cara berpakaiannya. Ia yang biasa berpakaian sangat berani, dengan berbagai model gaun berbelahan dada rendah hingga transparan dan menerawang, kini Alexa mulai berpakaian lebih baik meskipun tidak bisa dikatakan sopan.


Alexa adalah penggila fashion. Apapun yang ia kenakan, harus selalu terlihat mewah dan istimewa. Maka dari itu, wanita itu tidak pernah kehabisan ide dalam berpenampilan layaknya model papan atas.


"Nona, kau akan pergi bekerja hari ini?" tanya Evan. Ia terkejut mendapati Alexa sudah siap berangkat pukul tujuh pagi.


"Hmm, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Alexa.


"Apa kau sudah makan?" tanya Evan.


"Bagaimana denganmu? Kau sudah makan?" Alexa balik bertanya.


"Ah, aku ... belum. Aku akan makan saat kita tiba di hotel," jawab Evan.


"Baguslah. Jadi kita bisa sarapan pagi bersama," ucap Alexa sambil tersenyum. Ia berjalan menenteng tas jinjing berwarna merah muda, senada dengan gaun dan sepatu yang ia kenakan.


Evan terdiam beberapa saat, lalu berjalan mengikuti langkah kaki Alexa mendekati mobil.


"Aku mau duduk di depan, di sampingmu!" pinta Alexa.


"Tentu." Evan mengangguk. Meski sikap Alexa nampak lain, Evan tidak terlalu terkejut. Ia sudah dikejutkan berkali-kali.


Dalam perjalanan menuju salah satu hotel yang Alexa kelola, wanita itu terus melirik Evan. Alexa memperhatikan dengan seksama, ia terus mengamati setiap pergerakan Evan hingga membuat laki-laki itu menjadi gugup dan tidak nyaman.


"Nona, apa ada yang salah denganku?" tanya Evan. Kedua matanya memang fokus menatap jalanan, namun ia menyadari tatapan penuh rasa penasaran dari wanita yang duduk di sampingnya.


"Tidak." Alexa menggeleng.


"Tapi, kau terus memperhatikanku."


"Apa itu tidak boleh?"

__ADS_1


"Ah, itu membuatku tidak nyaman," gumam Evan.


"Tentu, kau harus merasa tidak nyaman. Karena kau sudah mengabaikan perasaanku!" seru Alexa.


Evan menelan ludah. Kini ia tidak bisa berkata-kata. Evan tidak yakin, apakah Alexa sungguh-sungguh dengan ucapannya? Atau wanita itu hanya sedang mengujinya?


"Kenapa? Kau tidak bisa menjawab ku?" tanya Alexa. Bibirnya mencebik.


"Maafkan aku, Nona."


"Kenapa kau tidak menyukaiku? Apakah Karen aku sombong, kasar, tidak berperasaan dan ...."


"Nona, aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu," sela Evan.


"Benar, tapi Meera yang mengatakannya. Mungkin kau berpikiran sama dengannya."


"Tidak, aku tidak memandangku seperti itu."


"Tentu saja tidak!" seru Evan.


"Lalu, apakah kau menyukaiku?" tanya Alexa.


Evan terdiam, suka dalam artian apa yang Alexa inginkan?


Saat Alexa ingin kembali menanyakan kejelasan, mobil yang mereka tumpangi telah berhenti di depan halaman hotel. Evan dan Alexa turun bersamaan, sementara mobil langsung dipindahkan ke tempat parkir oleh seorang sekuriti.


"Mari sarapan pagi bersama," ajak Alexa. Evan mengangguk, mengikuti langkah kaki wanita cantik di hadapannya.


"Jangan berjalan di belakangku! Ayo!" seru Alexa. Ia meminta Evan berjalan di sampingnya.


Sepanjang jalan menuju restoran yang berada di area hotel bintang lima yang memiliki tiga puluh lantai ini, Alexa terus menampakkan aura berbeda.

__ADS_1


Wajah cantik namun datar yang selalu ia perlihatkan, kini berubah menjadi lebih ceria. Setiap pegawai hotel yang melintas pun menatapnya penuh tanda tanya. Apakah terjadi sesuatu pada bos mereka?


Namun, Alexa menyadari sesuatu yang membuat perasaannya terganggu. Yakni sikap para pegawai wanita hingga para tamu hotel yang menatap Evan dengan senyum yang begitu dimanis-maniskan.


Hingga mereka sampai di restoran dan memilih tempat duduk, sudah lebih dari sepuluh wanita yang menyapa Evan dan tersenyum seolah-olah mereka akrab.


"Apa kau senang?" tanya Alexa kesal. Ia duduk di kursi, membanting tubuhnya dengan marah.


"Senang? Kenapa, Nona?" Evan tidak mengerti.


"Apa kau senang karena wanita-wanita itu terus tersenyum padamu? Kau membalas senyum mereka," gerutu Alexa.


"Nona, aku hanya berusaha bersikap ramah. Aku bekerja di sini dan sudah seharusnya aku bersikap baik. Kami yang bekerja untukmu adalah rekan," jelas Evan.


"Mulai saat ini, jangan bersikap ramah pada wanita manapun. Dan jangan perlihatkan senyummu pada wanita lain!" seru Alexa.


Evan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun orang-orang yang duduk tidak jauh dari mereka menatap dengan heran. Mereka pasti mendengar semua perkataan Alexa barusan, dan Evan pun sedang tidak salah dengar.


"Kau mengerti, Evan?"


"Baik, Nona." Evan mengangguk paham.


"Bagus." Alexa tersenyum cantik. Ia menopang dagunya dengan kedua telapak tangan sambil menatap Evan.


Alexa bagaikan anak kecil yang tengah mendapatkan mainan baru. Ia tampak sangat berbeda. Ceria, lucu, namun di saat yang sama ia menjadi menyebalkan dan sensitif.


Namun, ini adalah pertama kali dalam hidupnya. Seseorang telah meluluhkan hati Alexa dan membuatnya merasakan sejuta rasa. Setelah lebih dari tiga puluh tahun usianya, Alexa telah jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Dan cinta membuat semuanya berubah.


..."Jatuh cinta, berjuta rasanya."...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2