
Kembalinya ingatan Alexa membuat semua orang menjadi sangat bahagia. Kini, Alexa tidak lagi bersikap kasar serta berpura-pura menjadi orang lain di depan Evan.
Bagaikan sebuah keajaiban, Alexa bisa kembali mengingat semua kisah masa kecilnya bersama Evan. Mereka tumbuh bersama hingga sama-sama saling memiliki rasa suka sejak keduanya masih remaja.
"Jadi, apa itu cinta lama bersemi kembali?" tanya Meera terkejut. Ia benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang baru saja Alexa ceritakan padanya. Jadi, Alexa sudah lebih dulu menyukai Evan bahkan sejak mereka masih remaja, lima belas tahun silam? Dan rasa itu benar-benar tidak berubah hingga kini. Bahkan saat Alexa tidak mengingat apapun tentang Evan.
"Bisa di bilang begitu," jawab Alexa sambil tersenyum malu-malu.
Karena kondisi Alexa belum benar-benar pulih dan dokter masih menyarankan agar wanita itu beristirahat dengan cukup, maka kedua orang tua Alexa memaksa agar putri mereka tinggal di rumah utama selama beberapa hari.
"Ah, so sweet. Kalian lucu sekali. Apa Evan juga menyukaimu?" tanya Meera lagi.
Alexa terdiam, ia berpikir. "Emm, entahlah. Dia tidak pernah mengatakan apapun padaku, tapi dia sangat menyayangiku sejak kami kecil," jawabnya.
"Jadi bagaimanapun, hatimu tetap akan kembali pada pemiliknya. Sejak dulu hatimu milik Evan, meski terpisah lima belas tahun, tetap saja hanya Evan yang sanggup menaklukkan hatimu, Nona."
__ADS_1
"Hmm, benar begitu." Alexa mengangguk cepat.
Sembari memulihkan diri, Alexa menikmati hari libur panjang di rumah orang tuanya. Kini ia bisa lebih nyaman berada di rumah ini sejak ingatannya kembali. Jadi, ia bisa mengingat setiap kenangan masa kecilnya di rumah ini.
Setiap pagi dan sore, Meera datang mengunjungi Alexa. Ia datang sebelum pergi mengurus pekerjaan di hotel, lalu kembali datang sebelum pulang ke apartemennya.
Setelah Meera pergi bekerja, Asmita mendatangi sang putri yang duduk sendirian di balkon rumah mereka. Alexa terlihat menikmati jus strawberry kesukaannya sambil mendengarkan musik dari ponselnya.
"Alexa," sapa Asmita. Ia membawa beberapa biskuit di atas piring.
"Bagaimana? Kau merasa lebih baik?" tanya Asmita.
"Hmm, sekarang aku merasa sangat baik dan sangat nyaman."
"Sebelumnya kau tidak betah tinggal di rumah ini. Sekarang Mama senang, kau nyaman di sini."
__ADS_1
Alexa mengangguk. "Sekarang aku sangat ingat, Mama sering menyuapiku makan di sini saat aku sedang marah atau kesal. Aku juga ingat, pesta ulang tahun ke dua belasku yang diadakan di halaman depan sana. Aku mengundang semua teman sekolahku," ujar Alexa.
"Kau selalu marah setiap kali Papamu tidak menuruti permintaanmu, dan akhirnya kau mogok makan. Mama selalu membujukmu dan menyuapimu di sini. Mama senang kau mengingat semuanya," tutur Asmita senang.
Meski semua ingatan itu terlambat pulih, namun Alexa sangat senang. Ia masih bisa mengingat semuanya. Dan ia tidak lagi merasa cemas karena melupakan orang-orang baik yang ada dalam hidupnya.
"Mama." Alexa merentangkan tangannya dan memeluk Asmita dengan erat. Di usianya yang sudah menginjak kepala tiga, Alexa masih seperti anak-anak bagi Asmita. Karena seberapa besar dan seberapa dewasa seorang anak, di mata seorang ibu mereka tetaplah anak-anak.
"Hmm." Asmita memejamkan mata dan mencium kening putrinya.
"Ma, katakan pada Papa bahwa aku tidak ingin lagi berkencan dengan siapapun. Karena aku sudah memutuskan untuk mengencani satu laki-laki saja," ujar Alexa.
"Benarkah? Siapa dia?" tanya Asmita.
"Evano Xavier," jawab Alexa.
__ADS_1
...****************...