
Evan tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan mendengar perkataan Meera. Memangnya, apa yang wanita itu pikirkan?
"Kenapa kau tersenyum? Jangan-jangan, kau ...."
"Silahkan, Tuan dan Nona," ucap seorang pelayan datang membawa makanan mereka.
"Terima kasih," jawab Meera. Evan hanya tersenyum dan mengangguk pada pelayan.
Sambil menikmati makan siangnya, Meera terus memperhatikan Evan. Wanita itu menjadi curiga, apakah Alexa memilih gaun yang lebih sopan karena Evan? Karena Meera ingat, jika Evan pernah menegur Alexa saat hendak menemui kandidat pertama beberapa waktu lalu.
"Jadi, karena aku harus mencari gaun untuk Nona. Katakan padaku, gaun yang sopan menurutmu." Meera meminta pendapat.
"Gaun yang sopan, jelas menutup bagian-bagian penting tubuh. Bagian yang sensitif dan privat," jawab Evan.
"Jangan bilang jika ka akan memintaku membeli abaya untuk Nona?" tanya Meera.
Evan tertawa, ia hampir tersedak.
"Tentu saja jika Nona bersedia," jawab Evan.
"Kau gila! Dia akan memotong leherku jika aku membeli abaya untuknya!" gerutu Meera kesal.
"Kau sekretarisnya, Meera. Kau jelas tahu seleranya. Hanya saja, pilihlah gaun yang sedikit tertutup untuk menjaga tubuhnya dari tatapan mata yang jahat," terang Evan.
"Baiklah, baik." Meera mengangguk. "Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa mengenal keluarga Nona, bahkan Tuan Vincent. Aku penasaran sekali, kau terlihat sangat mengenal Nona," lanjut Meera. "Kau tahu, kan, keluarga Nona bukanlah keluarga sembarangan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa dekat dengan mereka."
"Itu rahasia," jawab Evan sambil membersihkan mulutnya. Ia bangkit dari kursi dan meninggalkan Meera yang masih belum menghabiskan makanannya.
"Dasar! Tidak sopan!" gumam Meera.
__ADS_1
Setelah meninggalkan Meera, Evan membeli satu cup jus strawberry murni tanpa tambahan gula. Laku-laki itu lalu membawanya kembali ke ruangan Alexa dan memberikannya untuk wanita itu.
"Untukku?" tanya Alexa.
"Ya, Nona. Sepertinya hari ini kau sangat sibuk sampai tidak menyempatkan diri untuk makan siang."
"Aku hanya tidak makan untuk menjaga berat badanku," jawab Alexa.
"Kau sudah sangat cantik, Nona," puji Evan. Ia tersenyum menatap Alexa. "Kau harus makan makanan sehat dan teratur. Kesehatan adalah hal yang paling penting," lanjutnya.
Alexa terdiam, ia merasakan wajahnya yang memanas. Kedua pipi wanita itu merona merah. Kecantikannya sering dipuji, bahkan kemanapun ia pergi, orang-orang selalu mengaguminya dengan tatapan terpesona. Namun saat mendengar pujian dari sosok Evan, dada Alexa berdesir.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini?" batin Alexa. Ia salah tingkah.
"Aku akan menunggu di luar sampai kau selesai. Selamat menikmati jusnya," ucap Evan pamit.
Alexa hanya diam, membiarkan laki-laki itu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia bahkan tidak sempat berterima kasih.
"Kenapa tiba-tiba gerah, ya?" batin Alexa. Ia langsung menancapkan sedotan ke atas cup dan menikmati jus strawberry pemberian Evan.
Tidak berselang lama, Meera pun masuk ke dalam ruangan Alexa. Ia terkejut melihat Alexa menikmati jus di tangannya.
"Dari mana kau mendapatkan jus itu, Nona?" tanya Meera.
"Ada apa?"
"Apa Evan yang memberikannya untukmu?"
"Hmm." Alexa mengangguk.
__ADS_1
"Waaaah, aku semakin curiga. Dia bahkan tahu betul seleramu, Nona," ucap Meera. Di dalam kepalanya penuh dengan tanda tanya.
"Apa ada yang salah saat seorang bodyguard membeli jus untuk bos-nya?"
"Tidak, sih. Hanya saja ...."
"Cukup, Meera. Selesaikan pekerjaanmu atau aku akan menjahit mulutmu!" seru Alexa.
"Ah, Nona." Meera berbalik dan berjalan ke arah sofa dengan malas.
Pekerjaan dua wanita itu hari ini hanya mengurus banyak berkas. Menyelesaikan pembukuan dan menyimpannya sebagai arsip. Meski begitu, semua tidak akan selesai dengan cepat, karena hotel yang dikelola oleh Alexa adalah hotel bintang lima yang terkenal dan mahal.
"Kau lupa menandatangani ini, Nona." Meera memberikan secarik kertas.
"Hmm." Alexa mengangguk dan segera membubuhkan tanda tangan di atas namanya.
"Ngomong-ngomong, sepertinya karyawan hotel ini sangat menyukai Evan, Nona. Ah, mereka selalu menatap Evan sampai bola mata mereka hampir copot!" seru Meera. Ia berusaha memancing reaksi Alexa.
"Lalu?" Alexa bersikap tidak peduli.
"Bukankah menurutmu Evan terlalu tampan untuk jadi bodyguard?" tanya Meera.
"Kenapa kau peduli?"
"Apa menurutmu kami cocok, Nona? Aku, kan, tidak punya pacar."
Alexa menarik napas dalam-dalam dan menatap Meera dengan tajam.
"Bergosiplah di tempat lain! Pergi atau aku benar-benar akan memasukkan kertas-kertas ini ke dalam mulutmu!"
__ADS_1
...****************...